
Perusahaan Stevent Lu Alexander
Mobil sport hitam telah memasuki area parkir khusus. Stevent keluar dari mobil dan menuju lift miliknya yang akan langsung membawa dirinya berada di depan ruangannya.
Seorang sekretaris menyambut Stevent dengan ramah dan sopan, tetapi jangan berharap untuk mendapatkan balasan dari Stevent, melirik saja tidak.
Bahkan jika Stevent bertemu dengan karyawan perusahaannya di jalanan, ia tidak akan mengenalinya karena pernah melihat wajah para karyawan.
Jhonny menunggu Stevent di depan pintu dengan wajah yang kusut.
Stevent mengangkat sebelah alisnya dan memandang aneh kepada Jhonny.
"Ada apa dengan dirimu?" tanya Stevent.
"Klien telah menunggu" Jhonny membukakan pintu untuk Stevent.
Seorang wanita dengan tubuh proporsional dan pakaian sangat seksi yang hanya menutupi sedikit dari bagian tubuh yang terlihat.
Kemeja merah terang, dengan belahan dada sangat rendah hampir memaksakan dua gunung kembar meloncat keluar.
Rok mini berwarna putih sampai lutut dan belahan hampir menampilkan semua bagian paha.
Sepatu high heels 17 cm menampilkan kaki jenjang yang Indah.
Tubuh putih bersih dan mulus, memberikan kenikmatan untuk dipandang oleh kaum Adam.
Seorang Model dan chef Internasional, nona Tania, tersenyum menggoda dan puas bisa berjumpa dengan Stevent lagi.
Sayangnya, Stevent tidak mengenali Tania sama sekali, pertemuan yang tidak berkesan sehingga tidak memberikan bekas dan kenangan bagi Stevent.
Berbeda ketika ia bertemu dengan Nisa, Wanita Cantik bersayap putih yang datang ketika Stevent berada di ambang kematian.
Wajah itu selalu terbayang di ingatan Stevent hingga ia berambisi untuk memiliki Nisa bagaimanapun caranya.
Cinta pada pandangan pertama di ambang kematian.
Stevent tidak memperhatikan Tania, bagi Stevent semua wanita sama kecuali Istrinya.
"Silahkan duduk" ucap Jhonny kepada Tania yang terus memandang Stevent.
Stevent telah di duduk di kursi paling ujung dan melihat ke arah wanita yang masih berdiri.
Jika Ia duduk, maka keseksian tubuhnya akan tertutup oleh meja.
"Apa yang anda tunggu?" tanya Stevent menatap tajam kepada Tania.
"Ah maaf, senang bisa bertemu lagi dengan Anda Tuan Stevent" Tania tersenyum, menundukkan dadanya berusaha duduk, dua gunung kembar benar-benar ingin meloncat keluar dari kemeja tanpa bra.
"Bacakan Kerjasama Nona ini!" perintah Stevent Kepada Jhonny.
"Ah tidak Usah, saya sendiri yang akan menjelaskan kerjasama ini" suara manja Tania yang kembali berdiri.
Tania berjalan berlenggak lenggok menuju layar monitor. Ia tersenyum dan mulai menjelaskan Kerjasama yang akan di lakukan dengan perusahaan Stevent.
Stevent hanya memperhatikan layar tanpa melihat Tania yang berusaha mendapatkan perhatian Stevent.
Kenapa Pria Cuek dan sedingin es begitu menggoda di mata wanita kelas atas?
Tania sedang asyik mempresentasikan, rencana kedepan proyek kerjasama, ponsel khusus panggilan dari Nisa berdering.
Stevent tersenyum, senyuman menggoda yang tidak bisa dilihat Semua orang.
Jhonny memperhatikan Stevent dan Tania.
"Wanita itu berharap bisa menggoda Stevent" gumam Jhonny dan tersenyum, ia sangat yakin wanita itu akan gagal, jika ia berlebihan terhadap Stevent, maka proyek kerjasama akan gagal.
__ADS_1
Stevent menggeser kan icon hijau.
"Assalamualaikum Sayang" ucap Stevent manja, mengehentikan persentasi Tania.
"Waalaikumsalam, Sayang waktunya Sholat Zuhur dan Makan Siang" suara lembut Nisa membuat Stevent melupakan dua orang yang memperhatikan dirinya.
"Sayang, apakah aku harus pulang untuk makan siang?" Stevent merebahkan tubuhnya di kursi dan menaikan kakinya di atas meja.
"Tidak Sayang, kamu baru saja sampai kantor, pergilah sholat dan makan siang di kantin" tegas Nisa.
"Aaah, Aku mau memakan dirimu" Suara Stevent membuat iri Tania kepada wanita yang sedang berbicara di ponsel.
Begitu lembut dan manja, berbeda ketika ia berbicara dengan Jhonny dan orang lain, kasar, dingin dan langsung.
"Sayang, pergilah sholat dan makan siang" Perintah Nisa lagi.
"Baiklah Cintaku, muuuuuuuaaaccch" Stevent beranjak dari kursinya dan keluar meninggalkan ruangan meeting tanpa sepatah kata.
"Nona Tania, sebaiknya meeting kita hentikan dan dilanjutkan setelah makan siang" ucap Jhonny sopan.
Tania tersenyum kepada Jhonny menahan emosinya, ia sedang serius mempresentasikan rencana proyek tetapi di tinggalkan begitu saja oleh Stevent.
"Baiklah Tuan Jhonny" ucap Tania tersenyum.
"Mari saya temani Anda untuk makan siang di kantin" Jhonny berjalan bersama Tania Menuju kantin.
Tania melihat sekeliling Kantin tetapi ia tidak menemukan Stevent, ia berharap bisa makan siang satu meja bersama Stevent.
"Mmm Tuan Jhonny, Dimana Tuan Stevent?" tanya Tania.
"Sepertinya Tuan Stevent masih sholat Zuhur" jawab Jhonny singkat dan membuka buku menu.
"Oooh" Tania mengangguk, ia berpikir apakah Stevent seorang muslim?
"Silahkan Anda pilih menu untuk makan siang" Jhonny menyerahkan buku menu kepada Tania dan memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
Jhonny dan Tania menyantap makanan mereka.
Tania masih mencari keberadaan Stevent yang tidak segera muncul.
Jhonny tahu kegelisahan Tania yang berharap kehadiran Stevent di Kantin.
"Apakah Tuan Stevent tidak makan siang" tanya Tania meyelesaikan makan siangnya.
"Tuan Stevent makan siang di ruangnya" Jawab Jhonny.
"Apakah dia membawa bekal?" tanya Tania lagi.
"Saya tidak tahu, tapi Tuan Stevent tidak pernah makan di Kantin, kecuali ada Nyonya Nisa, mereka suka makan di luar" jelas Jhonny yang membuat sakit hati Tania.
"Apakah Tuan Stevent sangat mencintai istrinya?" Tanya Tania penasaran.
"Tentu saja Nona, hanya ada satu wanita di dunia ini yang dicintai oleh Tuan Stevent" tegas Jhonny.
"Tenyata selera Tuan Stevent kampungan" Gumam Tania tetapi dapat di dengar Jhonny.
"Bagaimana Anda bisa mengatakan Nyonya Nisa kampungan? Apakah Anda pernah bertemu?" tanya Jhonny tidak suka.
"Tentu saja, Mereka makan di restoran milikku dan aku melihat Istri Tuan Stevent yang kampungan" Tania tersenyum menghina.
"Anda hanya melihat Nyonya Nisa sekilas tetapi tidak mengenalinya" Jhonny balas tersenyum menatap Tania dengan hina.
"Anda harus mencari tahu lebih jauh tentang Nyonya Nisa, dan saya akan memberikan nama lengkap untuk memudahkan Anda mendapatkan informasi tentang Nyonya Nisa, Dokter Annisa Salsabila" tegas Jhonny panjang lebar.
"Anda juga perlu menghitung ada berapa banyak pria yang tergila-gila dan patah hati karena Nyonya Nisa menikah dengan Tuan Stevent" Lanjut Jhonny.
__ADS_1
"Selamat Siang, Nona Tania" Jhonny tersenyum puas dan meninggalkan Tania yang diam kebingungan di kantin.
"Ah, tapi Anda akan kesulitan menemukan informasi tentang Nyonya Nisa" Jhonny tersenyum lagi.
Jhonny tahu benar perjuangan Stevent untuk mendapatkan cinta Nisa.
Bahkan Jhonny bisa melihat kehancuran Stevent ketika hampir kehilangan Nisa.
Tania mengepalkan tangannya, ia segera mengeluarkan ponsel dari tas mahal luar biasa dan mencari informasi tentang Nisa.
Annisa Salsabila, Mahasiswi dan dokter bedah termuda. Wanita berjilbab dengan julukan Bidadari berhati malaikat.
Hanya itu informasi yang Tania dapat, selebihnya telah terkunci dan hilang dari peredaran.
Sejak menikah dengan Stevent, informasi tentang Nisa telah di hapus Stevent.
"Dia seorang Dokter" gumam Tania.
Tania segera merubah pencarian, ia segera mengetik " Kisah Cinta Stevent Lu Alexander"
Ada ribuan berita yang muncul, Stevent menutupi tentang Nisa tapi tentang dirinya.
"Dia begitu melindungi istrinya, Kenapa" pikir Tania.
"Stevent melindungi Istrinya dari Siapa? ia malahan memamerkan kemesraan di manapun berada, dan mengumumkan pada Dunia Annisa Salsabila adalah istri dari Stevent Lu Alexander" Tania kebingungan.
Tania tidak tahu Stevent melindungi Nisa dari banyak lelaki yang terobsesi untuk memiliki Nisa, salah satunya Stevent sendiri dan Nathan.
"Dia benar-benar membuat Iri wanita di seluruh Dunia" ucap Tania mengepalkan tangannya.
***
Stevent berbaring di kamar pribadi yang ada di ruangannya dan melakukan Video call.
Stevent mengunci pintu kamar dan melihat Nisa yang menggunakan mini dress di dalam kamar melalui layar ponselnya.
"Aaah" Stevent menahan Junior yang mulai bergerak ke atas.
"Sayang, apa kamu sakit" Nisa memperhatikan wajah Stevent yang memelas dari layar ponselnya.
"Iya Sayang, Sakit sekali" Stevent menatap sedih.
"Apa yang sakit?" Nisa khawatir.
"Di bawah sana, kamu sangat seksi hingga junior mengeras" Stevent memindahkan kamera ke bawah.
Nisa Tertawa dan menutup panggilan.
"Aaah, Teganya dirimu Cintaku, kamu selalu menyiksaku" Stevent bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan menidurkan junior yang sempat terbangun.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
**Selalu Dukung Author dengan tinggalkan Like, Komentar, Bintang 5 dan Vote.
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊**