
Stevent tidak tenang, ia segera mengakhiri meeting yang belum selesai, Papa bingung melihat Stevent yang tidak fokus.
Stevent segera meninggalkan ruang meeting yang sempat tegang, meeting akhir bulan, pelaporan hasil kerja masing-masing Divisi, jika mengalami kegagalan maka akan mendapatkan sanksi, seperti pemotongan gaji, penghapusan bonus, penurunan jabatan dan yang paling parah pemecatan.
Semua kepala Divisi menarik nafas lega, Tuan Alexander dan Jhonny mengikuti Stevent menuju ruangannya.
" Steve " sapa Papa menghentikan langkah Stevent dan berbalik menatap tajam Papanya.
" Ada apa Pa?" tanya Stevent sinis
" Kenapa dengan dirimu, ini pertama kalinya Papa ikut meeting di kantor kamu !" Alexander melihat kelemahan pada diri Stevent.
Stevent tidak menjawab pertanyaan Papanya, ia segera membuka pintu ruangannya dan masuk diikuti Jhonny yang memberi hormat kepada Alexander.
Tidak ada yang boleh masuk ruangan Stevent kecuali dirinya dan Jhonny.
" Jhonny hubungi lagi pelayan di rumah !" perintah Stevent merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Jhonny segera menghubungi kepala pelayan, menanyakan keberadaan Nisa, Pelayan mengatakan Nisa masih di taman, bahkan belum masuk kerumah sejak dari ia menelepon seseorang.
Jhonny mengatakan informasi yang ia dapatkan dari pelayan. Stevent segera beranjak dari sofa, meninggalkan Ruangan masuk lift khusus dan menuju parkiran mobil Jhonny selalu sigap mengikuti langkah Stevent.
Mereka telah berada di dalam mobil masing-masing. Stevent menghidupkan mesin dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumahnya.
Sesampai di rumah Stevent langsung menuju taman tempat Nisa menyendiri.
Stevent melihat Nisa merebahkan kepalanya di atas meja menatap layar ponsel yang masih menyala dan butiran bening mengalir dari sudut matanya.
Nisa tidak menyadari kedatangan Stevent menatapnya dengan tajam berdiri di samping Nisa.
Stevent mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan melihat sebuah nama di layar.
" Kenzo" panggilan masih berlangsung namun tidak ada yang berbicara.
" Apa dia tidak menerima panggilan dariku karena berbicara dengan Kenzo " Stevent Emosi matanya memerah, ingin Sekali membanting ponsel yang baru saja ia belikan untuk Nisa.
Nisa mengangkat kepalanya menatap sedih ke arah Stevent. Melihat mata Nisa yang basah karena air mata seketika mematikan api kemarahan, ia tidak pernah melihat Nisa serapuh saat ini.
" Apa yang terjadi?" tanya Stevent lembut, duduk di depan Nisa.
" Bisakah kamu menolong ku ?" Nisa memohon kepada Stevent
" Tentu saja, apa pun" jawab Stevent
" Tolong, cari tahu kecelakaan yang terjadi di kota A, Tolong cari tahu keadaan dan keberadaan Kenzo" Nisa menahan Isak tangisnya.
" Apa ? Mencari keberadaan Kenzo" sebuah nama yang Stevent anggap sebagai saingan Cinta lebih berat dari Nathan.
Stevent menatap tajam ke arah Nisa, ingin rasanya ia memarahi Nisa yang telah berani menyebutkan nama pria lain di depannya dan membuat darah cemburu mendidih di hatinya.
Namun lagi-lagi tatapan sedih dan wajah khawatir Nisa membuat Pria berhati baja itu luruh begitu saja. Stevent hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Nisa.
__ADS_1
Stevent segera menghubungi Jhonny. Memerintahkan untuk segera mencari informasi tentang Kenzo dan kecelakaan yang terjadi di kota A pada jam yang telah di sebutkan.
Stevent memutuskan panggilan, ia merasa kesal bercampur sedih melihat Nisa memikirkan pria lain dan begitu khawatir.
" Ayo kita masuk kerumah, aku tidak mau kamu sakit" Stevent menatap Nisa yang beranjak dari kursi mengikuti Stevent menuju rumah.
" Oh Kenzo, kamu bisa membuat kekacauan pada hati calon Istriku " Stevent mengumpat di dalam hati.
Nisa sangat khawatir, Kenzo adalah orang yang selalu ada untuknya, walaupun mereka berpisah ketika Kenzo telah menjadi pengusaha sukses, namun setiap hari mereka selalu bertanya kabar.
Sesibuk apapun Kenzo akan menyempatkan diri untuk menghubungi Nisa, walau hanya dengan berkirim pesan.
Nisa berjalan menuju kamarnya, Ia meninggalkan Stevent yang semakin kesal karena tidak dipedulikan, Nisa mengambil wudhu membaca Alquran.
" Wanita ini benar-benar telah merusak ku, aku memikirkan dirinya setiap detik, bahkan ketika di kantor pikiranku ada dirumah ini, tapi yang dia lakukan adalah sebaliknya mengkhawatirkan pria lain" Stevent berbicara sendiri, Jhonny mendekati Stevent.
" Tuan, Kenzo mengalami kecelakaan beruntun ketika melakukan perjalanan menuju bandara " jelas Jhonny
" Bagaimana keadaannya ?" Tanya Stevent
" Ia belum sadarkan diri, kepala terbentur, sepertinya terjadi pendarahan " Jelas Jhonny lagi.
" Di Kota A , Kenzo tidak punya keluarga, ia tinggal di apartement miliknya seorang diri, keluarga Kenzo hanyalah Keluarga Nisa " lanjut Jhonny
" Segera Urus keperluan Kenzo, aku tidak mau dia mengganggu pikiran Nisa !" Perintah Stevent berjalan menuju kamar Nisa, ia melihat pintu Nisa terbuka sedikit, Stevent dapat mendengarkan suara lembut dan merdu Nisa membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Stevent mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar, ia menyenderkan tubuhnya di dinding kamar menikmati lantunan ayat suci Al-Quran dari mulut Nisa yang terasa menyejukkan hati dan menenangkan jiwa.
Stevent mengetuk dan membuka lebar pintu kamar Nisa.
" Bagaimana apa kamu sudah mendapatkan kabar Kenzo?" tanya Nisa ketika melihat Stevent masuk.
" Melihat wajah ku tapi menanyakan pria lain, dia sangat senang menghancurkan hatiku" suara hari Stevent.
" Sudah" jawab Stevent ketus
" Bagaimana keadaan Kenzo?" Air wajah Nisa terlihat bahagia.
" Oh Tuhan, lihat wajahnya, ia bahagia mendengar kabar pria lain dari calon suaminya " Stevent menatap Nisa Kesal ketika berbicara di dalam hatinya.
" Jhonny akan menjelaskan kepada kamu" Stevent tidak mau menceritakan tentang pria lain kepada calon istrinya tentu akan sangat menyakitkan.
" Dimana Jhonny?" Nisa berlari ke luar kamar menuruni tangga meninggalkan Stevent kembali sendirian di kamar.
" Apa " Stevent menepuk jidatnya, ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Aku benar-benar sudah gila, haruskah aku melenyapkan Kenzo dari muka bumi ini " Stevent menekan batang hidung diantara dua matanya. Pusing yang ia rasakan Tidak ada obatnya. Stevent segera beranjak dari tempat tidur, ia tidak akan membiarkan Jhonny berduaan dengan Nisa.
Nisa berlari menuruni tangga, menemui Jhonny yang sedang berdiri di depan pintu.
" Jhonny, katakan padaku, bagaimana keadaan Kenzo?" tanya Nisa yang kesulitan bernapas.
__ADS_1
Sebelum menjawab Jhonny melihat Stevent di lantai atas yang mengawasi dirinya, dari sorotan mata Stevent seakan mengatakan.
" Jangan Lihat Istriku!"
Jhonny segera menundukkan kepalanya dan menjelaskan keadaan Kenzo, agar Nisa Tidak khawatir, Jhonny juga telah menghubungi pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan terbaik untuk Kenzo.
Nisa terduduk di kursi, Ia merasa sangat kasian kepada Kenzo yang sendirian di negeri orang.
Stevent berjalan menuruni tangga memperhatikan wajah Nisa yang ditekuknya.
" Oh , aku sudah tidak tahan lagi " kesal Stevent. Ia berjalan mendekati Nisa.
" Apa kamu sangat mengkhawatirkan Kenzo ?" tanya Stevent menyelidiki.
" Aku kasihan kepada kak Kenzo, dia sendirian di sana, tidak ada keluarga " ucap Nisa lembut.
" Benarkah hanya kasihan? atau kamu mencintainya?" pertanyaan yang hanya berani Stevent ucapkan di dalam hati.
" Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mengirimkan orang untuk merawat dan melaporkan keadaan Kenzo " ucap Stevent menenangkan dirinya sendiri.
" Terimakasih, tapi aku akan pergi ke Kairo untuk merawat kak Kenzo " ucap Nisa
" Apa ?" Seakan petir di siang bolong menyambar telinga Stevent, kalimat itu sungguh menyakitkan, lebih sakit dari tusukan pedang.
Stevent merasa Istana yang megah dan kokoh ini telah runtuh dan menimpa dirinya hingga tenggelam ke dalam lubang terdalam.
Ia mengepalkan tangannya, Matanya memerah, Jhonny mulai khawatir.
Stevent mendekatkan dirinya pada Nisa, ia meletakan kedua tangannya di kiri kanan tangan sofa tunggal tempat Nisa duduk hingga membuat Nisa terkejut.
" Apa kamu sangat mengkhawatirkan Kenzo " Wajah Stevent begitu dekat dengan wajah Nisa yang telah membeku karena tidak ada lagi ruang untuk bergerak .
" Jika kamu berani melangkah kaki dari rumah ini, dan memenuhi Kenzo, sebelum kamu sampai Bandara kamu akan mendapatkan berita kematiannya " Stevent menatap lekat mata Nisa dalam jarak yang sangat dekat.
Nisa dapat melihat mata merah penuh kemarahan dari Kenzo.
" Jhonny kembali ke kantor?" Stevent berjalan menuju pintu dan menghentikan langkah kakinya.
" Kamu harus makan siang, jika aku mendengar kamu tidak makan, makan koki hari ini akan aku pecat !" Stevent kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil dan diikuti Stevent yang tidak pernah berani melihat Nisa.
Nisa hanya terdiam ia bingung dengan perubahan sikap Stevent dari pertama kali datang.
" Apakah dia cemburu pada Kenzo ?" pikir Nisa
********************************************
♥️ Thanks for Reading ♥️
Jangan lupa tinggalkan komentar dan Like tas,, Sebagai PENYEMANGAT AUTHOR 😍
terimakasih 😍 Love You Readers ♥️ Love
__ADS_1