Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Makan Malam Keluarga Alexander


Cahaya merah telah hilang di telan kegelapan malam. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani senyuman Bulan yang bersinar terang menebar cahaya berkilau dan udara semakin dingin menyegarkan, angin berhembus dengan lembut mengoyangkan dedaunan dan pohon. Sungguh suasana malam yang indah yang telah Tuhan ciptakan.


Ayumi dan Viona duduk di ruang tengah, mereka akan makan malam di rumah Papa Alexander. Stevent menggendong Azzura dan Nisa menggendong Azzam. Jhonny dan Aisyah turun dari tangga kamar mereka melihat kepergian Stevent dan keluarganya untuk makan malam keluarga.


“Viona, kamu menggendong Azzura dan kakak akan mengendarai mobil.” Stevent menyerahkan Azzura kepada Viona.


“Biar saya saja yang menggendok putri anda Tuan.” Ayumi menunduk.


“Terimakasih.” Stevent membuka pintu untuk Nisa.


“Kita bisa begantian.” Viona tersenyum.


Mobil melaju menuju rumah utama Stevent yang telah lama ia tinggalkan karena mengkhawatirkan keselamatan Nisa dan berhenti tepat di depan pintu. Terlihat Mama Veronika berdiri di depan pintu menunggu anak menantu dan cucunya dengan wajah penuh kerinduan.


“Assalamualaikum Ma.” Nisa tersenyum dan mengukulurkan tangannya.


“Waalaikumsalam.” Mama memeluk Nisa yang sedang menggendong Azzam.


“Assalamualaikum Ma.” Mata Viona terlihat berkaca-kaca, ia segera berlari ke pelukan Mama dan menumpahkan air mata kerinduan di pundak wanita itu.


Ayumi hanya terdiam menggendong Azzura, Nisa terlihat meneteskan air mata melihat Viona dan Mama yang menagis karena rindu, Papa keluar dari rumah dan melihat Stevent beserta keluarga kecilnya.


“Apa kalian akan membiarkan cucuku kedinginan di luar?” Papa Alexan tersenyum tampan.


“Benar sayang, bawa Azzam dan Azzura masuk.” Mama melihat Azzam yang tertidur pulas di gendongan Nisa.


“Apa kabar Pa?” Nisa menyapa Papa dengan senyuman.


“Aku baik, mari masuk, aku mau menggendok cucu laki-laki.” Papa melihat Ayumi yang menatap tajam pada dirinya.


“Siapa dia?” tanya Papa.


“Selamat malam Tuan.” Ayumi menunduk memberi hormat.


“Dia saudara Nisa.” Stevent menatap pada Ayumi.


“Apakah kamu anak Mark?” Papa Alexander menatap tajam pada Ayumi.


“Mereka saudara sepupu.” Stevent menatap Ayumi yang kebingungan dengan ucapan Stevent.


“Mari kita masuk.” Mama menarik tangan Viona.


“Maaf Tuan,mengapa anda tidak mengatakan bahwa saya hanya seorang pengawal.” Ayumi menunduk mendekati Stevent yang sedang mengeluarkan keranjang bayi.


“Aku tidak mau kamu direndahkan Papa Alexander.” Stevent melihat kearah Nisa.


Ayumi segera memaringkan Azzura di dalam keranjang bayi dan mendorongnya masuk ke dalam rumah. Stevent menyusul dengan keranjang bayi yang lain.


“Sayang, baringkan Azzam di keranjang.” Stevent mengambil Azzam dari Nisa.


Semuanya menuju ruang makan, Azzam dan Azzura tidur nyenyak di dalam keranjang mereka sedangkan yang lain telah duduk di kursi makan. Ayumi memilih duduk di samping Nisa karena ia tahu mereka sedang berada di rumah musuh. Stevent melirik wanita Jepang itu.


Makan malam bersama dilalui dengan tenang tanpa ada suara hingga selesai semua berkumpul di ruang keluarga. Mama duduk berdampingan dengan Viona, ibu dan anak itu terlihat sedan melepas rindu. Nisa berada diantara Stevent dan Ayumi. Bayi kembar di dalam keranjang.


“Stevent, apa mama boleh menggendong Azzura?” Mama melihat kearah Stevent.


“Tentu saja Ma.” Stevent tersenyum pada Mamanya.


“Terimakasih sayang.” Mama beranjak dari sofa dan mengambil Azzura dari dalam keranjang.

__ADS_1


“Cucuku sangat cantik dan penurut.” Mama mnecium pipi Azzura yang terlihat menggeliat karena tidurnya yang terganggu.


“Papa mau menggendong Azzam.” Papa menatap tajam pada Stevent.


“Silahkan, tidak mungkin Papa mencelakai darah daging sendiri.” Stevent tersenyum sini.


“Apa maksud ucapan kamu?” Papa terlihat emosi.


“Sayang.” Nisa menyentuh tangan Stevent dengan lembut.


“Dia setampan kamu.” Papa mengendong Azzam dan melirik Stevent.


“Pa, kapan papa akan membicarakan perusahan Viona?” Stevent melirik Viona.


“Apakah Viona telah selesai kuliah?” Papa mencium Azzam dan membaringkan kembali di dalam keranjang.


“Setengah tahun lagi.” Viona melihat Papa sekilas.


“Apa kamu sudah siap menjadi seorang pengusaha?” Papa duduk di sofa melirik Ayumi dan Nisa, ia melihat kemiripan pada dua orang wanita itu.


“Aku sedang belajar.” Viona menunduk.


“Angkat kepala kamu, jangan pernah menunduk.” Pap membentak Viona.


“Papa mengejutkan anak-anakku.” Mata Stevent melotot.


“Kamu harus mengajarkan Viona dengan keras agar ia mampu bersaing di dunia bisnis.” Papa beranjak dari kursi.


“Viona, ikut Papa keruang baca!” Papa berjalan menuju Perpustakaan.


“Kak.” Viona terlihat takut.


“Pergilah!” Stevent menatap tajam pada Viona.


“Tidak usah, biarkan Viona bertemu sendiri dengan Papa, pergilah!” Stevent melirik Nisa yang hanya diam, wanita itu tidak mau ikut campur urusan pembagian harta.


“Baiklah.” Viona berjalan pelan menuju ruang baca.


“Ma, kegiatan apa yang mama ikuti sekarang.” Nisa beranjak dari Sofa dan duduk di samping Mama.


“Masih seperti dulu, ikut papa dan kadang kumpul bersama teman sosialita.” Mama tersenyum.


“Mama bisa datang kerumah kami jika senggang atau merasa bosan.” NIsa menyentuh tangan Mama dengan lembut.


“Apa boleh?” Mama melirik Stevent.


“Tentu saja Ma.” Nisa tersenyum dan Ayumi memperhatikan sekeliling, sesekali Stevent melihat wanita Jepang itu.


Viona berlari dari ruang baca dan langsung memeluk Nisa dengan isakan tangis, entah apa yang telah dibicarakan Papa padanya.


“Ada apa Viona?” Nisa mengusap kepala Viona.


“Sebaiknya kita pulang, Ayumi bawa kernajang Azzam!” Stevent mengambil Azzura dari gendongan Mama.


“Baik Tuan.” Ayumi mendorong keranjang bayi keluar rumah diikuti Stevent yang telah membaringkan Azzura di dalam keranjang.


“Ma, kami permisi.” Nisa menyalami dan memeluk Mama.


“Hati-hati sayang.” Mama mencium dahi Nisa.


“Ma, Viona pulang.” Viona memeluk dan mencium mamanya.

__ADS_1


“Iya Sayang, mama mencintai kamu.” Mama mengusap kepala Viona.


“Ini rumah kamu Nak, kenapa kamu harus pulang kerumah Stevent, Mama adalah orang tua yang gaga.” Air mata mama mengalir membasahi wajahnya melihat kepergian orang-orang yang ia cintai.


Rumahku surgaku adalah ungkapan yang mengandung makna kiasan, mengambarkan suasana rumah yang nyaman, tenteram, damai dam penghuninya diliputi kebahagiaan. Keadaan yang jauh dari resah dan gelisah, tetapi semua itu tidak Viona rasakan lagi sejak Papanya menetap dirumah.


Sejak hari dimana ia hampir dilecehkan oleh Zayn dirumahnya sendiri membuat rasa takut dan tidak amam lagi walaupun berada di rumah. Viona merasa tidak ada lagi kenyamanan dan ketenangan di rumah itu, bahkan Papanya sendiri mengantarkan dirinya pada bahaya. Gadis itu hanya merasa amam ketika berada di samping Stevent.


***


Makan Malam Bersama


Sebuah meja besar dengan sepuluh kursi telah di siapkan khusus di belakang Restoran Abi, mereka akan makan malam di alam terbuka menyambut kedatangan Kenzo dan Ayesha. Abi dan Umi telah mempersiapkan sebuah hadiah pernikahan untuk Kenzo dan istrinya.


Makan malam dengan menu istrimewa layaknya sebuah pesta pernikahan yang telah Abi dan Umi persiapkan sebagai perayaan kebahagian Kenzo dan Ayesha. Taman yang dihiasi dengan lampu indah dan bunga mawar putih.


Berbincang bersama dan bercanda, melepaskan rindu dalam kebahagian cinta kasih sebuah keluarga. Walaupun Ayesha adalah seornag putri tetapi dirinya terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Ia menghargai dan menghormati keluarga suaminya. Wanita itu bisa menerima Kenza yang tidak tahu siapa orang tuanya. Pria yang hanya tumbuh dan besar di pesantren.


“Hey brother, kamu sangat beruntung.” Davit menepuk pundah Kenzo.


“Terimakasih teman.” Kenzo tersenyum dan melirik Ayesha yang sedang berbicara dengan Umi.


“Tuan Fauzan bagaimana dengan anda? Apakah sudah memiliki calon istri?” Davit tersenyum.


“Tidak, aku hany aperlu menunggu lamaran dari banyak putri.” Fauzan tersenyum.


“Apakah seperti itu?” Davit bingung.


“Iya Tuan Davit, itu adalah konsekuensi menjadi calon raja.” Asraf tersenyum.


“Apakah sudah ada yangmelamar anda?” Davit penasaran.


“Jika aku sudah siap maka akan diumumkan pada seluruh dunia.” Fauzan menegukkan minumannya.


“Berarti anda tidak perlu mencari seorang kekasih karena para wanita akan datang sendiri, luar biasa.” Davit menggelengkan kepalanya.


“Ada banyak wanita yang rela mengantri untuk menikahi anda.” Davit sangat kagum pada Fauzan.


Pria itu benar-benar melajang dalam waktu yang cukup lama, ia belum pernah jatuh cinta dan menikmati kesendiriannya dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Aturan kerajaan membuat Fauzan tidak pernah berpikir membuka hatinya. Ia tidak mau memberikan harapan kepada wanita karena belum tentu bisa menjadi istrinya.


“Terimakasih atas pujian anda Tuan Davit.” Fauzan tersenyum.


“Wanita yang melamar diriku harus siap dengan segala konsekuensi menjadi seorang ratu dan itu tidak mudah.” Fauzan melihat Ayesha.


"Apakah sangat sulit menjadi seorang ratu?" tanya Davit.


"Salah satunya harus selalu berada di dalam istana." Fauzan tersenyum.


"Susah mencari wanita yang sanggup bertahan di dalam rumah." David tertawa.


Wanita adalah belahan jiwa dari seorang pria. Ia diciptakan oleh Tuhan secara fitrahnya yaitu bersifat feminin, lembut, dan tidak mempunyai tenaga yang kuat dibandingkan laki-laki. Yang paling dominan, ia mempunyai kelebihan memiliki perasaan yang kuat, penyabar, dan hati yang lembut.


***Selamat Hari Raya Idul Adha***


"Mohon Maaf Lahir dan Bathin"


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2