Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Tolong Jaga Kakakku


__ADS_3

Selesai sarapan, Stevent mencium dahi istrinya dan pamit ke ruangan kerja.


"Sayang, Aku kerja dulu" Stevent akan berjalan meninggalkan Nisa yang masih duduk di kursi makan.


Nisa menarik tangan Stevent.


"Ke kantor?" tanya Nisa menatap lembut pada Stevent.


"Tidak Cintaku, aku akan kerja di ruangan itu, kamu juga boleh ikut bersamaku" Stevent meletakkan dagunya di atas kepala Nisa.


"Apakah kamu akan mengunci pintu?" tanya Nisa lagi, karena Viona selalu bilang Stevent akan mengunci pintu ketika berada di ruang kerja.


"Kamu bisa mengetuk pintu dan aku akan membukakan untuk Cintaku" ucap Stevent lembut dan Nisa mengangguk.


Stevent berjalan menuju ruang kerjanya, Jhonny telah kembali masuk kantor. Jadi Stevent hanya perlu memantau dari rumah.


Nisa menikmati buah Anggur hitam di depannya.


"Bibi, apakah Viona sudah ke kampus?" tanya Nisa kepada seorang pelayan yang sedang merapikan meja.


"Belum Nyonya, hari ini Non Viona masuk siang" ucap Bibi pelayan.


"Oh Terimakasih Bi" Nisa beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar Viona.


Nisa mengetuk pintu kamar Viona, tetapi tidak ada jawaban, perlahan Nisa mendorong pintu yang tidak dikunci.


Nisa tersenyum hingga butiran bening mengalir membasahi pipinya yang merona.


Viona sedang berada di depan cermin besar, belajar memakai jilbab segiempat.


Celana Jeans panjang warna biru langit dan Tunik warna navy sampai Lutut dan jilbab biru langit senada dengan celananya.


Nisa berjalan perlahan dan memeluk Viona dari belakang.


"Kak Nisa" Viona malu hingga kain segiempat berukuran 115 x 115 jatuh ke lantai.


Nisa mengambil jilbab dari lantai, tersenyum, ia merapikan daleman berwarna hitam di kepala Viona.


Dengan membaca bismillah, Nisa memakaikan jilbab di kepala Viona, menutupi rambut dan melewati dada dengan sangat rapi.


Terlihat wajah cantik dan imut tertuduk malu di depan Nisa.


"Semoga Istiqomah" Nisa memeluk erat tubuh Viona, air mata kebahagiaan mengalir.


"Terimakasih Kak" Viona terisak.


" Apakah sudah siap ke kampus?" tanya Nisa mengusap pipi Viona.


"Ya" Viona mengangguk.


"Jangan perdulikan Omongan orang yang menyakitkan, doakan semoga mereka mendapatkan hidayah" Nisa memberikan penguatan untuk Viona.


Akan ada banyak cobaan yang menunggu Viona, berada di lingkungan Elit dan pergaulan bebas, ia akan mendapatkan cemoohan untuk perubahan ekstrim di mata orang lain.


Untungnya Viona memiliki Stevent yang selalu menjaga Viona dan melarang bergaul dengan sosialita yang tidak berguna di mata Stevent.


"Kamu akan baik-baik saja, ada Allah dan Kakak mu yang selalu bersama dirimu" Nisa kembali memeluk Viona yang menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu mau Aku temani ke kampus?" tanya Nisa lembut.


"Tidak tidak, Aku lebih takut menghadapi Kak Stevent daripada orang-orang di kampus" ucap Viona melepaskan pelukan Nisa.


"Tapi aku tidak takut kepada Kakak mu" ucap Nisa duduk di tempat tidur Viona.


"Karena Kakakku takut kehilangan dirimu, dan Aku juga takut" Viona duduk di samping Nisa.


"Kenapa?" Nisa merapikan jilbab Viona.

__ADS_1


"Aku rela melakukan apapun asalkan Kak Nisa selalu berada di samping Kak Stevent" Air mata mulai mengalir di wajah Viona.


"Hey, kenapa menangis, cantik kamu hilang" Nisa mengusap air mata Viona.


"Aku mohon selalu bersama Kak Stevent, jangan pernah tinggalkan Kakak ku" Viona menatap sedih kepada Nisa.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku, hanya kematian dan takdir yang akan memisahkan kami" Nisa tersenyum.


"Terimakasih, Kak Nisa adalah kebahagiaan Kakakku, Dia sangat menderita sebelum bertemu Kakak, hidupnya di penuhi rasa benci, tidak ada orang yang benar-benar ia percayai" jelas Viona.


Papa Alexander mendidik Stevent dengan membuang rasa cinta dan mengganti dengan rasa benci.


Menjadikan Stevent seakan tidak membutuhkan orang lain disisinya.


Dimatanya wanita adalah penggoda yang datang hanya untuk menghancurkan kesuksesan seorang pria.


Wanita dengan pakaian seksi adalah *******, Stevent hanya perduli pada satu orang wanita yaitu Viona.


Mama Veronika, berkat Papa Alexander, Stevent tidak pernah merasakan kasih sayang dari Mama Veronika.


"Kak, Aku selalu menuruti Kak Stevent karena aku menyayangi dirinya dan dia keras kepada diriku karena dia menyayangi aku" Viona puas bisa mencurahkan isi hatinya.


"Aku tidak pernah tersiksa dengan aturan yang telah Kak Stevent berikan, Aku bahagia" ucap Viona.


"Kak, Tolong jaga Kakakku" Viona menatap sedih.


Nisa tidak bisa berkata-kata, ia memeluk Viona, jika tidak mendengarkan langsung dari Viona, orang akan berpikir Stevent adalah Kakak yang Jahat.


"Aku mencintai kakakmu" bisik Nisa di telinga Viona.


"Terimakasih" Viona bahagia, ia tahu Nisa mencintai kakaknya dengan tulus, tidak seperti wanita di luar sana yang datang untuk menggoda dan tergoda oleh ketampanan dan kekayaan Stevent.


"Berangkatlah, nanti kamu terlambat, ingat jangan lupa sholat" tegas Nisa.


"Aku lagi dapat" Viona tersenyum.


"Ini terharu" Viona tersenyum berjalan menuju cermin dan merapikan bedak di wajahnya.


"Sudah cantik dan akan lebih cantik dengan akhlak yang mulia" Nisa menepuk pundak Viona yang tersenyum manis.


Nisa dan Viona berjalan bersama menuruni tangga, menuju pintu depan.


Seorang sopir dan bodyguard telah menunggu di samping mobil, seorang membukakan pintu untuk Viona.


Nisa melambaikan tangannya hingga mobil Viona hilang di balik gerbang rumah.


Nisa kembali ke rumah, ia menuju dapur dan membuatkan just buah untuk Stevent.


Jus buah segar tanpa gula dan air, dalam gelas kaca yang tinggi dan besar.


Nisa berjalan menuju ruang kerja, ia mengucapkan salam dan mengetuk pintu


Mendengar suara lembut Nisa, Stevent segera menutup layar komputer, memutuskan sambungan telepon dan beranjak dari kursi berjalan menuju pintu.


"Waalaikumsalam Sayang" Stevent membuka pintu dan menjawab salam dengan manja.


"Apakah kamu lelah?" tanya Nisa mengangkat nampan yang ada gelas berisi jus di dalamnya.


"Aku sangat lelah" Stevent menarik Nisa masuk ke dalam.


"Minumlah" Nisa memberikan jus Kepada Stevent yang telah duduk di sofa.


"Kemarilah" Stevent menepuk pahanya agar Nisa duduk di pangkuannya.


Nisa menuruti perintah Stevent, dan memberikan jus langsung ke mulut Stevent.


"Bagaimana, Apa kamu suka" tanya Nisa meletakkan jus di atas meja.

__ADS_1


"Aku lebih suka jus ini" Stevent menikmati bibir Nisa membagikan segarnya rasa jus yang masih ada di mulut.


"Habiskan Jus dan kembalilah bekerja, aku tidak mau mengganggu dirimu" Nisa tersenyum dan mencubit hidung Stevent.


"Aku akan pergi ke kantor, ada meeting penting, apa kamu mau ikut?" tanya Stevent.


Nisa meletakkan tangannya di leher Stevent dan menggelengkan kepalanya.


"Aku percaya, kamu akan menjaga cintamu untukku" Nisa mendekat hidung mereka berdua.


"Tentu saja, semua wanita di luar sana adalah sampah" Stevent menyentuh pipi Nisa dan kembali menikmati lembutnya bibir istrinya.


Ciuman yang tidak pernah bisa memberikan kepuasan, tetapi harus segera dihentikan, Stevent harus segera berangkat ke kantor, seorang Klien yang hanya ingin bertemu dengan Stevent telah menunggu.


"Sayang, aku harus pergi, jangan menggodaku" ucap Stevent melepaskan ciumannya.


Nisa tertawa, yang menggoda siapa? yang terus menyerang siapa? .


"Baiklah, aku tidak akan menggoda lagi" Nisa turun dari pangkuan Stevent dan tersenyum.


"Aku akan mempersiapkan pakaian kamu" Nisa meninggalkan ruangan kerja Stevent dan berjalan menuju kamar mereka.


"Ah, kenapa Klien ini mau bertemu dengan diriku, Jhonny saja sudah cukup" gerutu Stevent yang tidak ingin meninggalkan Nisa.


Stevent berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar mereka.


Nisa telah mempersiapkan pakaian kerja Stevent.


Dengan senyuman Nisa membantu Stevent berganti pakaian.


"Ikutlah denganku" Stevent melingkari tangannya di pinggang Nisa.


"Aku tidak mau mengganggu kerjaan kamu Sayang" Nisa menggigit sedikit dagu Stevent.


"Oh No, jangan lakukan itu" Stevent mencubit pipi Nisa.


"Iiihh sakit" Nisa mengusap pipinya yang merah.


"cup cup" Stevent mencium bekas cubitannya.


Stevent mengambil tas kerjanya dan berjalan bersama menuruni tangga.


Di depan pintu, Stevent mencium semua bagian wajah Nisa sebelum ia masuk ke mobil.


"Jangan lupa baca doa" Nisa melambaikan tangannya hingga mobil Stevent tidak terlihat.


Nisa mendoakan agar suaminya selalu dalam lindungan Allah.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


**Selalu Dukung Author dengan tinggalkan Like komentar dan Vote, bintang 5 juga 😘


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Thanks for Reading 😊 Love You Readers ♥️**

__ADS_1


__ADS_2