
Fauzan dan Asraf berjalan bersama menyebrangi jalan, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan pangeran Arab yang jadi idola semua wanita di dunia. Seorang gadis tersenyum dan membuka kaca jendela mobil, menatap wajah dingin melihat kearah Viona yang hampir menabrak pria yang sangat ia sukai.
“Apa kamu mau membunuhku?” Fauzan mendekati kepalanya pada Viona yang berada di dalam mobil.
“Ya, agar kamu tidak pulang ke Arab.” Viona tersenyum, ia berusaha menenangkan diri untuk tetap kuat menghadapi Fauzan, walaupun seakan jantungnya hampir keluar dari dada karena wajah pria itu sangat dekat.
“Gadis kecil yang nakal.” Fauzan berjalan masuk ke perkarangan rumah Abi, Viona segera keluar dari mobil dan melepar kunci mobil pada Asraf, ia mengejar Pria idolanya.
“Tuan Fauzan, apa anda akan pulang ke Arab?” Viona berlari dan menghalangi Fauzan dengan membentangkan tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Bertanya.” Viona tersenyum, entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk menaklukkan Fauzan.
“Apa kamu tahu tidak pantas seorang wanita membentangkan tangannya di depan pria dewasa.” Fauzan memperhatikan Viona.
“Aku hanya mau berbicara dengan kamu.” Viona menurunkan tangannya.
“Ada perlu apa? Katakan saja.” Fauzan duduk di bawah pohon depan perkarangan.
“Apa kamu akan kembali ke Arab?” Viona menatap Fauzan dari dekat.
“Apa yang kamu lakukan?” Fauzan mendorong kepala Viona dengan satu jarinya agar menjauh.
“Aku bertanya, kenapa kamu tidak menjawab?” Viona menyatukan kedua tangannya, ia merasa jari-jari yang dingin dan jantung yang berdetak tidak teratur.
“Ya, aku akan pulang.” Fauzan memundurkan tubuhnya, menghindari Viona.
“Kenapa kamu pulang?” tanya Viona lagi dan terus menatap Fauzan.
“Karena aku harus plang dan perkerjaanku telah selesai.” Fauzan mengalihkan pandangannya.
“Aku mau ikut, boleh?” tanya Viona manja.
“Untuk apa?” Fauzan melihat Viona.
“Hanya mau ikut.” Viona tersenyum.
“Gadis ini terlihat cantik.” Fauzan berbicara dalam hati dan mengalihkan pandanganya, ia melihat Asraf yang memasukan mobil Viona ke dalam halaman rumah Abi.
“Kamu harus menyelesaikan kuliah kamu.” Fauzan melirik Viona dan memalingkan wajahnya.
“Aku sudah selesai kuliah, hanya menunggu ijazah saja.” Viona tersenyum dan tidak mengalihkan pandangannya dari Fauzan, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati wajah tampan yang pria itu.
“Apa kamu mau liburan ke Arab?” Fauzan menatap Viona.
“Ya, aku mau berkeliling dan melihat Istana kamu.” Vioan tersenyum cantik.
“Kenapa dia terlihat semakin manis dengan mata biru bagaikan lautan yang tenang.” Fauzan terdiam menatap Viona.
“Apa dia menatapku, ya Tuhan pria ini sangat tampan, jantungku seakan mau berhenti berdetak ketika bertatapan dengannya.” Viona dan Fauzan saling bertatapan.
“Nona Viona, ini kunci mobil anda.” Asraf memegang kunci mobil di depan wajah Viona dan Fauzan.
“Terimakasih.” Viona gugup.
“Aku akan menemui Abi dan Umi.” Fauzan beranjak dari kursi, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan masuk ke rumah dengan mengucapkan salam.
“Apa yang aku lakukan, dia hanya gadis kecil yang masih sangat muda.” Fauzan menoleh kearah Viona sekilas.
“Nona Viona, apa yang anda lihat?” Asraf tersenyum.
“Tak ada.” Viona tersenyum.
“Asraf kapan kalian akan kembali ke Arab?” tanya Viona pada Asraf.
“Secepatnya, pesawat pribadi kerajaan telah berada di bandara untuk menjemput Tuan Fauzan.” Asraf duduk di samping Viona.
“Apakah kalian kembali ke Arab karena pekerjaan telah selesai?” Viona memainkan kunci mobilnya.
“Tuan Fauzan pulang untuk menunggu lamaran karena ia harus menikah di usia tiga puluh tahun.” Asraf menatap Viona, ia tahu gadis itu sangat menyukai Fauzan.
“Apa Tuan Fauzan akan segera menikah?” tanya Viona lagi, kekuatan yang ia pertahankan dari tadi seakan hilang begitu saja.
“Saya tidak tahu, munkin keputusan ada di tangan Tuan Fauzan.” Asraf menatap wajah sedih Viona.
“Siapa yang akan menikah dengan seorang pangeran? Pasti putri yang cantik, dewasa dan mandiri.” Viona menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Nona, saya pamit masuk ke dalam rumah, apa anda mau ikut?” Asraf berdiri.
“Tidak aku di sini saja.” Suara lembut Viona terdengar tidak bersemangat.
__ADS_1
“Saya permisi.” Asraf berjalan masuk ke rumah.
“Ayumi, apa yang harus aku lakukan?” Viona memejamkan matanya.
“Viona.” Suara lembut Ayesha memanggil Viona.
“Putri Ayesha.” Viona tersenyum.
“Apakah Umi di rumah kamu?” tanya Ayesha.
“Ya, Umi menjaga Azzam dan Azzura.” Viona beranjak dari kursi.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Kenzo.
“Aku, aku hanya mau bertemu Putri Ayesha.” Viona melirik Fauzan yang berdiri di samping Ayesha.
“Benarkah?” Ayesha tersenyum dan melihat Fauzan.
“Kami mau bertemu Umi untuk pamitan.” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Baiklah, mari kita kerumah Kak Stevent.” Viona segera berjalan menuju mobilnya.
“Viona, kenapa kamu mau bertemu dengan diriku?” tanya Ayesha memegang tangan Viona dengan lembut.
“Apa kita bisa berbicara di rumah?” Viona tersenyum.
“Tentu saja.” Ayesha tersenyum.
“Sayang, ayo kita ke mobil.” Kenzo menggandeng tangan Ayesha.
“Kakak dan Asraf ikut kita atau bawa mobil sendiri?” Ayesha melihat Fauzan.
“Satu mobil saja.” Fauzan berjalan menuju mobil Kenzo dan membuka pintu belakang.
Mobil Viona segera keluar dari perkarangan menuju rumah Stevent yang tidak terlalu jauh dari pesantren diikuti mobil Kenzo dari belakang. Mobil melaju dengan santai dan memasuki perkarangan rumah mewah milik Stevent dan Nisa.
Viona memasukan mobilnya ke garasi, sedangkan mobil Kenzo berhenti tepat di depan rumah Stevent. Gadis itu masih terdiam di dalam mobilnya, ia memikirkan cara agar bisa pergi ke Arab. Ponsel Viona bordering, panggilan dari Valentino dan sebuah pesan dari David.
“Halo Valen.” Viona menerima panggilan.
“Viona, apa kamu ada dirumah?” tanya Valentino dari sebrang ponsel.
“Rumah baru kakak kamu.” Valen tersenyum, mobilnya telah masuk gerbang rumah Stevent mengikuti mobil Kenzo.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Viona.
“Tuan Stevent memberikan alamat rumah ini padaku.” Mobil Valentino berhenti di belakang mobil Viona. Pria tampan itu segera keluar dari mobil dan mengetuk kaca mobil Viona.
“Apa?” Viona mematikan ponsel dan keluar dari mobilnya.
“Bagaimana kamu sudha masuk kemari?” Viona menatap Valentino.
“Kenapa? Apa tidak boleh?” Valentino tersenyum tampan dan sangat manis. Ia menundukkan kepalanya menggoda Viona.
“Boleh.” Viona menunduk.
“Viona, apa kamu tidak masuk?” Kenzo memanggil Viona.
“Ya, sebentar lagi,” jawab Viona dan kembali berbicara dengan Valentino. Fauzan melihat Viona dan Valentino dari kejauhan.
“Aku rasa itu kekasihnya.” Fauzan berjalan masuk mengikuti Kenzo dan Ayesha ke dalam rumah yang telah di tunggu Umi di depan pintu.
“Apa kamu tidak mengajakku masuk?” Valentino melihat ke arah pintu.
“Tentu saja, ayo.” Viona tersenyum dan berjalan menuju pintu belakang.
“Apa aku juga akan lewat belakang?” Valentino menatap Viona dari belakang.
“Kamu bisa lewat depan.” Viona memutar tubuhnya menghadap Valentino.
“Aku mau ikut dengan dirimu dari belakang saja.” Valentino tersenyum sangat mempesona kaum hawa yang melihatnya.
“Terserah dirimu.” Viona kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah.
***
Mobil Sport hitam berhenti di samping mobil Nisa, pria itu benar-benar pergi ke rumah sakit sebelum jam makan siang tiba dan meninggalkan Jhonny dengan banyak pekerjaan di kantor. Stevent kembali menghubungi nomor istrinya dan menunggu di dalam mobil.
“Assalamualaikum, sayang.” Suara lembut Nisa memberikan semangat untuk Stevent.
“Waalaikumsalam, kamu dimana sayang?” Stevent segera keluar dari mobilnya dan melihat sekeliling berharap istrinya sudah keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
“Aku masih di ruanganku untuk melihat jadwa operasi dan jumpa pasien.” Nisa membuka berkas yang tergeletak di atas meja.
“Apa aku boleh masuk?” tanya Stevent dengan kaki yang telah melangkah menuju runagan Nisa.
“Tentu saja sayang.” Nisa tersenyum sendirian, ia mengira suaminya masih di kantor.
“Baiklah.” Stevent memutuskan panggilan dan mempercepat langkah kakinya.
Pintu ruangan Nisa terbuka seorang pria tampan tersenyum, wajah putih bersih Oppa Korea yang jadi Dokter bedah hanya mau dekat dengan Nisa sejak kuliah.
“Halo, My Angel.” Kim masuk keruangan Nisa, ia melihat wanita itu baru saja melepaskan ponsel dari tangannya.
“Halo Oppa Kim, silahkan masuk ada perlu apa?” Nisa beranjak dari kursi kerjanya dan pindah ke sofa.
“Halo Oppa Kim.” Dini tersenyum pada Kim Min Jook.
“Halo Dini.” Kim duduk di depan Nisa dan Dini mengambilkan minuman untuk Kim.
“Silahkan.” Dini kembali ke kursi kerjanya.
“Terimakasih.” Kim tersenyum.
“Nisa, apa kamu sudah melihat jadwal dirimu?” tanya Kim.
“Aku baru saja akan membukanya.” Nisa tersenyum.
“Kamu akan sangat sibuk.” Kim meneguk air mineral yang tergeletak di atas meja.
“Ya, aku rasa karena terlalu lama liburan.” Nisa mengambil satu botol air mineral dan meminumnya.
“Banyak sekali buket bunga untuk kamu.” Kim melihat ruangan yang masih dipenuhi buket bunga dan parcel buah.
“Ya, aku bahkan belum sempat melihat pengirimnya.” Nisa tersenyum, melihay Kim mengambil satu buket mawar merah yang sangat indha dan masih terlihat segar.
Pintu ruangan Nisa terbuka Stevent langsung melihat Kim yang sedang duduk di depan Nisa dan memegang satu buket mawar merah, seakan sedang memberikan kepada istrinya. Pria itu sangat cemburu, ia segera masuk ruangan dan menarik kerah jas putih Kim.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” Nisa memegang tangan Stevent.
“Kenapa kamu memberikan mawar merah kepada istriku?” Mata Stevent memerah.
“Sayang, itu bukan dari Kim, lihatlah ada banyak bunga menyambut kedatangan diriku.” Nisa menarik tangan Stevent agar melepaskan Kim yang hanya tersenyum melihat kecemburuan suami pria di depannya.
“Tuan, itu bunga dari para keluarga pasien.” Dini mendekat, ia tidak mau Stevent berpikir Nisa hanya berdua dengan Kim.
“Maafkan aku.” Stevent melepas tangannya.
“Tak apa.” Kim merapikan Jasnya.
“Aku akan pergi, permisi.” Kim tersenyum.
“Aku akan mengantar Anda.” Dini berjalan mengikuti Kim.
“Ada apa?” Nisa memeluk pinggan Stevent.
“Ada tamu di rumah kita, apa kamu akan pulang?” Stevent menyentuh pipi istrinya.
"Siapa?" Nisa tersenyum memandang wajah tampan Stevent.
"Kenzo dan Ayesha." Stevent menatap Nisa.
“Aku akan berkemas.” Nisa melepaskan pelukannya dan membereskan berkas ke dalam tas agar bisa di pelajari di rumah.
“Banyak sekali bunga dan buah.” Stevent melihat ruangan Nisa.
“Ya, bahkan aku tidak tahu dari siapa?” Nisa menggandeng tangan Stevent.
“Sayang, kenapa kamu suka membuat diriku cemburu?” Stevent memeluk tubuh Nisa.
“Aku tidak melakukannya.” Nisa tersenyum.
“Benarkah?” Stevent mecium bibir Nisa untuk meredam rasa cemburunya, ia selalu berhasrat ketika bersama istrinya. Kemesraan dapat meredakan emosinya.
Cemburu adalah emosi yang kamu rasakan terhadap sesuatu atau seseorang yang kamu miliki dan ingin kamu pertahankan. Cemburu tidak berbeda jauh dengan keposesifan dan ketakutan bahwa sesuatu yang berharga untuk kamu bisa direbut darimu kapan saja. Tentunya cemburu sering dibilang adalah tanda cinta, tetapi tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Bila cemburu dilakukan secara berlebihan bisa mengakibatkan sikap buruk yang dapat menganggu keharmonisan hubungan kamu, dan berujung kepada posesif atau overprotektif.
***LoveYouAll***
Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.
Baca juga Novel Author yang ada di Innovel berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.
__ADS_1