Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Berkah Ramadhan


__ADS_3

Kenzo dan kedua sahabat sekaligus rekan bisnisnya berada di dalam ruangan yang sama.


"Ken, bagiamana perkembangan kerjasama dengan perusahaan kerajaan Arab?" tanya David.


"Sebentar." Kenzo mencari ponselnya yang berdering dari saku jas yang ia gantungkan di gantungan.


"Umi." Kenzo menerima panggilan dari Umi.


"Assalamualaikum Umi." salam Kenzo.


"Waalaikumsalam, Kenzo kapan kamu pulang?" tanya Umi lembut.


"Jika pekerjaan Kenzo selesai, Kenzo akan segera terbang untuk pulang." jawab Kenzo melihat kedua sahabatnya.


"Umi sangat bahagia, Ada bidadari lain di pesantren." ucap Umi bersemangat.


"Maksud Umi?" tanya Kenzo bingung.


"Tahun ini Kamu dan Nisa tidak pulang ke rumah kita." suara Umi terdengar sedih.


"Maafkan Kenzo Umi." Kenzo merasa bersalah.


"Tidak apa Nak, Allah mengirimkan seorang bidadari dan kakaknya." air mata Umi menetes.


"Dia seperti Nisa, melakukan semuanya dengan tulus, menghabiskan hari-harinya di pesantren bersama anak-anak, ia menjadi pengajar dan Dokter." jelas Umi bersemangat.


"Umi merasa Nisa tetap ada di rumah ini, Umi mendapatkan seorang putri lagi." ucap Umi.


Kenzo hanya terdiam mendengarkan cerita Umi, ia juga sangat penasaran dengan bidadari yang Umi sebutkan.


"Kenzo, dia sangat pantas untuk dirimu, ceria dan lembut." tegas Umi.


"Kenzo tidak pantas untuk dia Umi." Kenzo tersenyum.


"Baiklah Nak, Umi berharap ketika kamu pulang masih bisa bertemu dengan mereka." suara Umi terdengar penuh kebahagiaan.


"Tentu saja Umi, jika Allah berkehendak aku akan bertemu dengan mereka." ucap Kenzo.


Panggilan berakhir, Kenzo melihat layar ponselnya, ia masih berpikir tentang wanita yang diceritakan Umi.


Kenzo tidak percaya ada wanita yang bisa menggantikan posisi Nisa di pesantren ketika Umi merasa kesepian.


Wanita itu bahkan bisa menjadi pengajar di pesantren dan seorang dokter seperti Nisa.


"Apakah ada yang seperti itu?" Kenzo meletakkan ponselnya di atas meja.


"Siapa Ken?" tanya Rolex.


"Umi." Jawaban Kenzo singkat.


"Apa Umi meminta kamu pulang?" tanya David.


"Ya, dan Umi bercerita ada tamu istimewa di pesantren." Kenzo berjalan mendekati sahabatnya.


"Pulanglah, mungkin jodoh kamu ada di sana." David menepuk pundak Kenzo dan tertawa.


"Terimakasih teman, bagaimana dengan jodoh kalian berdua?" Kenzo kembali fokus dengan layar komputer.


Rolex dan David saling berpandangan, mereka menyimpan rapat-rapat tentang berpacaran karena jika Kenzo tahu mereka berdua akan di ceramah sepanjang hari.


Ponsel Kenzo yang tergeletak di atas meja kembali berdering.


Kenzo beranjak dari sofa dan melihat sebuah nama muncul di layar ponselnya.


"Tuan Fauzan." ucap Kenzo.


"Siapa?" tanya Rolex.


"Tuan Fauzan," jawab Kenzo.


"Angkatlah, mungkin berita bagus!" Rolex dan David bersemangat.


"Assalamualaikum, Tuan Fauzan." Kenzo menerima panggilan.


"Waalaikumsalam Tuan Kenzo, Ayesha setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan dirimu, Apa kamu bisa datang ke Indonesia?" tanya Fauzan.


"Kenapa, tidak bisakah kita berbicara di Kairo?" tanya Kenzo heran.


"Jika kamu tertarik, perusahaan kamu juga bisa bekerjasama dengan temanku, aku akan aku akan menambah modal untuk dirimu membuka cabang di sini." Fauzan bersemangat.


"Tetapi kenapa, kita baru saja akan mulai bekerjasama sama, kenapa tuan sudah berani mengeluarkan modal besar untuk perusahaan saya?" Kenzo heran.


"Ini permintaan Ayesha, dengan ketelitian kamu, ia yakin kamu bisa melakukan dengan baik dan mengembangkan perusahaan dengan cepat." jelas Fauzan.


"Ayesha, ia bahkan tidak tahu namaku Kenzo." Kenzo berbicara di dalam hatinya.


"Bagaimana Tuan Kenzo, kita kan langsung membangun cabang perusahaan dirimu di sini, jika kamu setuju?" tanya Fauzan.


"Aku akan berbicara dengan rekan ku dan menghubungi anda lagi." ucap Kenzo.


"Baiklah, aku harus anda bisa segera memberikan jawaban sebelum saya kembali ke Kairo." tegas Fauzan.


Panggilan berakhir, Kenzo masih tidak percaya apa yang ia dengarkan, hanya karena ketelitian dirinya membaca dan memahami berkas kerjasama, ia akan mendapatkan modal saham untuk pembukaan perasaan baru di Negara kelahirannya.


"Masya Allah, ya Allah." Kenzo mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Hey Ken, ada apa?" David melihat ke arah Kenzo yang terdiam di kursinya.


"Ya Allah, ini benar-benar berkah." Kenzo tersenyum kepada dia sahabatnya.


"Ada Apa, apakah tuan Fauzan melamar dirimu untuk adiknya?" Rolex bersemangat.


"Apa hanya itu yang dapat kamu pikirkan, Aku tidak pantas untuk seorang putri seperti dia." Kenzo memicingkan matanya kepada Rolex.


"Baiklah, maafkan aku pangeran Kairo." Rolex mendekap tangannya di depan dadanya.


"Katakan, ekspresi kamu berlebihan, bagaikan bertemu dengan bidadari dari Arab." David tersenyum.


"Kenapa di pikiran kalian hanya ada Tuan putri Ayesha." Kenzo berjalan mendekat dua temannya.


"Hey Ken, sepertinya kamu yang memikirkan dirinya, kami bahka tidak menyebutkan namanya." ucap Rolex dan tertawa bersama David.


Kenzo duduk di sofa dan menyenderkan tubuhnya, ia memejamkan matanya.


"Baiklah teman, katakan berita apa yang tuan Fauzan sampaikan?" Rolex mulai serius.


"Apa kalian setuju, Tuan Fauzan akan menanamkan modal untuk membuka perusahaan kita di Indonesia?" tanya Kenzo tenang.


"Apa?" Rolex dan David berteriak dan berpelukan sehingga membuat Kenzo terkejut.


"Indonesia." Rolex dan David melompat-lompat kegirangan mereka saling berpegangan tangan.


"Apa kamu tahu David, wanita di sana sangat cantik dengan kecantikan yang unik." ucap Rolex.

__ADS_1


"Kamu benar, warna kulit yang eksotis dan senyuman yang manis" lanjut David.


"Apa, mereka berdua memikirkan wanita Indonesia dan perusahaan." Kenzo memperhatikan kedua sahabatnya yang bahagia berlebihan.


"Ya Tuhan, ini adalah berkah Ramadhan." Rolex memeluk David.


"Hey Ken, kemarilah kita berpelukan untuk perusahaan baru kita di Indonesia." Rolex menarik tangan Kenzo untuk berpelukan bersama.


"Aku belum menerimanya." Kenzo tersenyum.


"Kamu akan menghubungi Tuan Fauzan untuk menerimanya." ucap David dan mereka bertiga berpelukan.


Kenzo segera menghubungi Fauzan dan setuju untuk kerjasama berupa penanaman modal untuk perusahaan Kenzo yang akan di buka di Indonesia.


Besok Kenzo akan berangkat ke Indonesia dan bertemu dengan Fauzan, ia sangat senang karena Fauzan menginap di hotel depan pesantren.


Itu membuat Kenzo tidak perlu menginap di hotel karena ia Nisa tinggal di pesantren.


***


Fauzan, Ayesha, Jhonny dan Stevent berada dalam ruangan meeting perusahaan Stevent.


Membicarakan tentang perusahaan yang akan bekerjasama dengan Stevent dan Fauzan hanya akan menanamkan modal pada perusahaan tersebut.


Sebenarnya itu modal Ayesha, tetapi Fauzan yang melakukan transaksi kerjasama.


Stevent tidak tahu jika yang akan mendapatkan modal saham dari Fauzan adalah Kenzo, saingan cintanya dulu.


Mereka telah meninjau gedung yang akan di jadikan kantor untuk perusahaan Kenzo yang akan bekerjasama dengan perusahaan Stevent.


Menunggu kedatangan Kenzo dari Kairo dan melakukan penandatanganan kerjasama.


"Aku akan kembali ke pesantren." ucap Ayesha lembut dan ketiga pria tampan melihat ke arahnya.


"Bagiamana kamu pulang?" tanya Fauzan.


"Aku akan menggunakan mobil Kakak." Ayesha tersenyum dan menadahkan tangannya.


"Tidak, kamu tidak boleh sendirian." Fauzan menurunkan tangan Ayesha.


"Aku akan meminta sopir mengantarkan adik Anda." ucap Stevent memperhatikan Ayesha, ia penasaran dengan wajah di balik cadar.


"Pesantren dan perusahaan ini sangat dekat." Ayesha kembali menadahkan tangannya.


"Karena sangat dekat, Kakak khawatir denganmu." tegas Fauzan.


Jhonny dan Stevent memperhatikan dua bersaudara yang berdebat dengan lembut dan senyuman.


Ayesha mengedipkan matanya dan tersenyum manja kepada Fauzan.


"Jangan mengebut!" Fauzan memberikan kunci mobil dan Ayesha mengangguk Imut.


Fauzan mencium dahi Ayesha dan ia berpamitan dengan semua orang.


Ayesha sangat bersemangat, ia akan jalan-jalan sendirian dan melihat keunikan kota ketika Ramadhan.


"Kenapa kamu sangat mengkhawatirkan adikmu, di sini sangat aman." ucap Stevent.


"Kalian tidak akan percaya, Ayesha adalah seorang pembalap, hanya aku yang tahu semua yang dia lakukan." Fauzan beranjak dari kursi dan melihat ke luar jendela mengamati Ayesha.


Jhonny dan Stevent saling bertatapan, mereka benar-benar tidak percaya.


Wanita anggun dan bercadar itu menyukai olahraga ekstrim.


"Jhonny, Apakah kamu mau berbulan madu." tanya Stevent mengejutkan Jhonny.


"Berbulan madu?" Jhonny bingung.


"Ya, bahagiakan istrimu, muliakan wanita." Fauzan menepuk pundak Jhonny.


"Tuan Stevent, aku mau meninjau lokasi perusahaan baru yang akan kita gunakan untuk kerjasama tiga perusahaan." ucap Fauzan.


"Aku akan menemani dirimu." Stevent beranjak dari kursi.


Jhonny masih diam di kursinya, Stevent dan Fauzan melihat Jhonny.


"Aku rasa asisten kamu butuh liburan, kamu bisa memberikan ia paket bulan madu." Fauzan tersenyum.


"Bagaimana, aku tidak mengerti, bulan maduku saja dia yang mengatur semuanya." Stevent menatap Jhonny.


"Tanyakan pada istrimu, aku akan menunggu kamu di lobby." Fauzan berjalan keluar ruangan.


Para karyawan wanita, berharap Fauzan akan menyapa mereka.


"Lihatlah sudah berapa kali pria itu datang kemari, tetapi dia tidak pernah melihat kita." seorang wanita berbisik.


"Ia lebih dingin dan cuek dari tuan Stevent." ucap seorang lagi.


"Aku merasa pernah melihat wajahnya, sangat tampan dan familiar tapi dimana?" seorang wanita mengetuk dahinya dengan pena berusaha mengingat wajah Fauzan.


Stevent menatap Jhonny dengan tatapan bingung.


"Jhonny ada apa dengan dirimu? katakan jika kamu butuh liburan." ucap Stevent.


"Tuan, maafkan saya, kenapa Aisyah tidak tidur di kamar saya?" tanya Jhonny polos dan membuat Stevent tertawa terbahak-bahak.


Jhonny menatap Stevent kebingungan dan heran kenapa pertanyaan menjadi lucu.


"Jhonny, kamu benar-benar butuh liburan atau nonton film bersama dokter Aisyah." Stevent kembali duduk.


"Film apa yang harus aku tonton, aku memiliki koleksi film di rumah." ucap Jhonny.


"Film romantis, kamu harus menerkam istrimu." bisik Stevent tertawa dan meninggalkan Jhonny yang kebingungan.


"Menerkam, aku bahkan takut mendekati Aisyah, dia akan marah dan lari dari rumah seperti dulu." Jhonny berbicara sendirian.


Fauzan duduk di kursi di lobby depan perusahaan.


Ia tidak mempedulikan tatapan wanita yang terpesona akan ketampanan dirinya dan bentuk tubuh yang sempurna.


Stevent berjalan menuju lobby, dan ia terus tertawa. Fauzan melihat heran kepada Stevent.


"Ada apa dengan dirimu?" tanya Fauzan.


"Aku tidak percaya, jika Jhonny sangat bodoh dalam urusan wanita." Stevent terus tertawa.


Fauzan hanya tersenyum melihat Stevent yang menganggap Jhonny sebagai lelucon.


"Pengalaman hidup seseorang akan menentukan pribadi yang berbeda." tegas Fauzan.


Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil Stevent.


Semua mata melihat dua pria yang diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan yang luar biasa.

__ADS_1


****


Ayesha mengendarai mobil dengan santai, ia melihat sekeliling, saking santainya sehingga seseorang menabrak mobilnya dari belakang.


"Astaghfirullah ya Allah." Ayesha memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan keluar dari mobil.


Seorang pria tampan keluar dari mobil sport milikn.


Ia terpaku melihat seorang wanita bercadar dan keluar dari mobil yang sangat ia kenal.


"Ayesha." gumam Nathan berjalan mendekati Ayesha yang berjalan untuk melihat bagian mobil Fauzan.


"Alhamdulilah, tidak ada goresan." Ayesha tersenyum dan kembali ke menuju pintu depan mobil.


Nathan menarik tangan Ayesha dengan cepat Ayesha menepis tangan Nathan dan menjauhkan diri.


"Ada tidak boleh menyentuh saya!" mata tajam Ayesha bekilau melihat Nathan dengan tatapan tidak suka.


"Maafkan aku, aku hanya ingin memastikan kamu Ayesha." Nathan menatap mata Ayesha.


"Anda benar saya Ayesha, permisi." Ayesha mau membuka pintu tetapi ditahan tangan Nathan.


"Saya mau meminta maaf karena telah menabrak anda." ucap Nathan yang tidak mengalihkan pandangannya.


"Tidak apa, mobil Kakak ku tidak rusak, saya mohon anda bisa menyingkirkan tangan Anda." tegas Ayesha.


Nathan memindahkan tangannya dari pintu mobil Ayesha.


"Terimakasih." Ayesha membuka pintu dan segera masuk ke dalam mobil.


Mobil Ayesha melaju dengan kecepatan sedang, dan Nathan segera mengikuti mobil Ayesha dari belakang.


"Apa yang pria itu inginkan?" Ayesha melihat mobil Nathan dari kaca spion mobil.


Dengan sangat mudah Ayesha mengendarai mobil masuk ke dalam perkarangan pesantren.


"Apa? Dia masuk ke dalam perkarangan tanpa berhenti seperti seorang ahli." Nathan berhenti di depan gerbang pesantren.


Ayesha keluar dari mobil dan masuk ke rumah Umi.


"Ah, ternyata ia tinggal di sini." Nathan tersenyum dan menjalankan mobilnya meninggalkan pesantren.


"Aku akan melarang Kak Fauzan bekerjasama dengan pria itu." Ayesha melihat mobil Nathan yang telah menghilang dari pandangan.


***


Aisyah telah mempersiapkan menu berbuka puasa untuk Jhonny.


Ia tidak berpuasa karena sedang datang bulan, itu adalah keistimewaan wanita.


Pintu terbuka, Aisyah melihat Jhonny berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." salam Aisyah mengambil tas dari tangan Jhonny.


Jhonny tidak menjawab salam Aisyah, ia bingung kenapa Aisyah mengambil tas dari tangannya.


Aisyah tidak pernah melakukan itu sebelumnya, bahkan Aisyah tidak perduli kepada dirinya.


"Jhonny, kenapa kamu tidak menjawab salam ku." Aisyah melambaikan tangannya di wajah Jhonny dan tersenyum.


"Waalaikumsalam." jawab Jhonny melepaskan sepatunya.


Aisyah segera mengambil sepatu dari tangan Jhonny dan meletakkan di tempat sepatu.


"Apa kamu mau mandi, aku telah menyiapkan pakaian ganti untuk dirimu di atas tempat tidur." Aisyah berjalan menuju ruang kerja Jhonny untuk meletakkan tas Jhonny.


"Kenapa dia berubah, apakah karena kami sudah menikah?" tanya Jhonny yang masih mematung di depan pintu.


"Kamu harus menerkam dokter Aisyah." kalimat Stevent terngiang di telinga Stevent.


Jhonny melihat Aisyah keluar dari ruangan kerjanya dan tersenyum cantik.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" Aisyah tersenyum melihat Jhonny.


Jhonny berjalan mendekati Aisyah dan menatap mata Aisyah.


"Apa aku boleh mencium kamu?" tanya Jhonny.


"Apa yang mau kamu cium?" tanya Aisyah tersenyum.


"Bibirmu." Jhonny melihat bibir merah dan basah.


"Tidak boleh." Aisyah tersenyum.


Jhonny segera berjalan menaiki tangga menuju kamarnya meninggalkan Aisyah.


"Eh, Jhonny." sapa Aisyah melihat Jhonny telah masuk kamarnya.


Aisyah kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Jhonny membuka pintu kamarnya dan melihat pakaian ganti dan handuk telah disiapkan Aisyah.


"Kenapa aku tidak boleh mencium bibirnya?" Jhonny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur memejamkan matanya.


Jhonny tertidur tanpa mandi karena kekekalan bekerja dan memikirkan Aisyah.


Pintu terbuka, Aisyah melihat Jhonny tertidur pulas.


"Jhonny bangun, sebentar lagi magrib." Aisyah menyentuh pipi Jhonny dengan lembut.


Jhonny menarik tangan Aisyah hingga Aisyah jatuh di atas tubuh Jhonny.


"Kenapa aku tidak boleh mencium bibir kamu?" tanya Jhonny.


"Karena kamu Puasa." ucap Aisyah, jantungnya berdetak kencang.


Jhonny memindahkan tubuh Aisyah ke tempat tidur, ia beranjak menuju kamar mandi.


Aisyah tersenyum dengan sikap Jhonny yang seakan tidakka tahu apa - apa.


Jhonny menghabiskan hidupnya untuk belajar dan melayani Stevent.


Ia tidak pernah memikirkan dirinya, bahkan tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik.


******


Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2