
Bijaklah Membaca isi Bab sesuai Judul, Dilarang membaca untuk Reader di bawah umur. Terimakasih.
Afifah membersihkan diri di kamar mandi dan berganti pakaian, ia keluar dari kamar dan melihat Nathan duduk di lantai depan pintu yang hanya menggunakan celana pendek basah. Wanita itu berjalan mendekati suaminya dengan selembar handuk bersih.
“Kenapa kamu duduk di luar dengan celana basah dan tidak berpakaian? Kamu akan masuk angin.” Afifah menutupi tubuh Nathan dengan handuk dari belakang.
“Aku sangat kedinginan.” Nathan menatap Afifah.
“Pergilah mandi, aku akan menyiapkan pakaian ganti, waktu magrib akan tiba.” Afifah berjalan menuju lemari.
“Sayang.” Nathan berjalan mendekati Afifah.
“Jangan memeluk!” Afifah melotot.
“Kenapa?” Nathan terkejut.
“Apa kamu mau membuat pakaianku kembali basah?” Afifah melihat celana Nathan.
“Maafkan aku sayang, aku akan pergi mandi.” Nathan tersenyum dan berjalan menuju kamar mandi.
Afifah meletakkan pakaian ganti untuk Nathan di atas tempat tidur, ia mengeringkan lantai yang basah, menutup semua jendela dan menyalakan lampu. Afifah duduk di depan pintu melihat pemandangan indah di sore hari, menunggu waktu magrib.
“Sayang.” Nathan menyentuh pundak Afifah dari atas membuat wanita itu mendongakkan wajahnya, sebuah kecupan mendarat di bibir dan pria itu duduk di belakang memeluk istrinya.
“Aku sangat bahagia.” Nathan meletakkan dagunya di pundak Afifah, melingkari tangannya pada tubuh mungil yang hanya diam memandang lurus ke depan.
“Aku akan membahagiakan dirimu, mengabulkan semua keinginanmu dan memberikan seluruh hidupku.” Pria itu mengenggam jemari lembut istrinya.
“Nathan, apa keluarga kamu tidak berpikir buruk tentang diriku yang pergi tanpa pamit?” Suara Afifah pelan dan lembut.
“Tidak usah khawatir, aku telah mengatakan pada mereka dan orang tuaku sangat mengerti diriku.” Nathan mencium leher Afifah yang masih tertutup kain hijab.
“Apa kamu hanya membukakan hijab ini ketika tidur?” Nathan memainkan kain yang menjutai menutupi kepala Afifah.
“Ya.” Afifah menunduk.
“Apa Asraf pernah melihat kamu tanpa hijab?” Suara Nathan tertekan, ada cemburu yang berusaha ia tahan.
“Dulu sebelum ia pergi ke Arab.” Afifah tersenyum.
“Sekarang?” Tanya Nathan.
“Karena ia pulang bersama Fauzan, aku tidak melepaskan hijabku jadi, ia tidak pernah melihat aku tanpa hijab lagi.” Afifah menyenderkan punggungnya pada tubuh Nathan.
“Syukurlah.” Nathan sangat senang.
“Matahari sudah tenggelam, sebentar lagi waktu Magrib.” Afifah membuka tangan Nathan dan beranjak dari lantai.
“Setelah salat kita makan malam.” Nathan tersenyum.
“Ya.” Afifah menutup pintu.
Azan Magrib telah berkumandang dari ponsel, pasangan pengantin baru mengambil wudu dan salat berjamaah. Nathan bukanlah pria yang taat agama dan bukan lahir dari keluarga muslim hanya saja dengan kecerdasannya, ia mempelajari semua agama dengan mudah. Ketika ia jatuh cinta pada Nisa, Nathan memperdalami ilmu agama Islam.
“Nathan, kita membaca Alquran bersama.” Afifah mengambil Alguran kecil yang selalu ia bawa di dalam anak tasnya.
“Aku hanya bisa membaca.” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Maksud kamu?” Afifah menatap Nathan dengan lembut.
“Aku hanya bisa membaca.” Nathan mengulangi kalimatnya.
“Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.” Afifah tersenyum dan memegang tangan Nathan dengan lembut.
Wanita cantik itu memulai bacaanya, suaranya indah dan lembut dalam melantunkan ayat-ayat suci Alquran, Nathan terdiam hanyut dalam merdunya bacaan Afifah menambah kekaguman dirinya pada istrinya. Satu surah telah Afifah selesaikan dan ia tersenyum lembut menatap wajah tampan suaminya.
“Sekarang giliran kamu.” Afifah menyerahkan Alquran pada tangan Nathan dengan lembut.
“Aku malu.” Nathan terus menatap Afifah.
“Kenapa malu beribadah? Kamu malu pada siapa?” Afifah menyentuh tangan Nathan dengan lembut dan pria itu masih terdiam.
“Tak apa yang penting kamu bisa membacanya.” Afifah terus menatap Nathan dengan penuh kasih sayang.
Pria itu membaca Alquran dengan suara yang lantang, tidak ada kesalahan dan dengan tatacara yang sebernarnya, setelah selesai ia menterjemakan ke dalam bahasa Indonesia dengan menatap lembut pada Afifah dan tersenyum. Surah itu tentang pernikahan dalam islam.
“Apa kamu sengaja memilih surah ini?” Afifah menutup Alquran dan menyimpannya.
“Tentu saja, agar kita saling mengingatkan.” Nathan mengecup kening Afifah.
“Kamu luar biasa.” Afifah tersenyum.
“Tidak, aku tidak bisa dibandingkan dengan dirimu.” Tangan kekar Nathan meneyntuh pipi kanan dan kiri Afifah.
“Baiklah, ayo kita makan malam.” Afifah membuka mukenah dan meletakkan pada tempatnya.
“Hm, kamu masih menggunakan hijab.” Nathan tersenyum.
“Kamu akan membukanya dengan pelan.” Afifah tersenyum, menyembunyikan kekhawatirannya.
“Baiklah, ayo kita makan malam.” Pria itu menggendong tubuh istrinya keluar dari kamar menuju restoran.
Ruang makan terbuka yang menyediakan menu harian berupa masakan Asia dan Barat, dengan lantai kayu epil Sumbawa, atap bambu yang menjulang tinggi dan pilar dari pohon kelapa. Alat pemanggang diletakkan di tengah ruangan sebagai poin utama.
Menikmati makan malam romantis sebagai pasangan suami istri di pulau tersembunyi dan sangat indah, hanya ada sedikit pengunjung, dunia seakan milik mereka berdua. Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara hingga selesai.
“Sayang, kita kembali untuk salat.” Nathan memandang wajah cantik istrinya.
“Setelah salat kita jalan-jalan di pantai.” Afifah tersenyum.
“Mm, aku mau melakukan sesuatu yang lain.” Nathan melihat bibir Afifah.
__ADS_1
“Apa?” Afifah gugup.
“Menikmati tubuh perawan.” Nathan tersenyum nakal.
“Sudah Azan Isya.” Afifah beranjak dari kursi dan berjalan cepat menuju kamar mereka.
“Dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.” Nathan tersenyum dan segera menyusul Afifah.
“Sayang, tunggu aku.” Nathan memeluk tubuh Afifah dari belakang.
“Kenapa berhenti?” Pria itu memutar tubuh Afifah menghadap dirinya.
“Aku tidak bisa berjalan karena kamu memeluk diriku.” Afifah menatap wajah tampan suaminya yang baru ia sadari, pria itu benar-benar sempurna, bohong jika tidak mempunyai kekasih atau wanita pengagum. Wanita itu yakin ada banyak perempuan yang tergila-gila pada Nathan.
“Kita bisa berjalan berpelukan.” Nathan akan mencium bibir Afifah tetapi wanita itu segera menghindar hingga ciuman mendarat di pipi.
“Hmm.” Nathan tersenyum, ia menggandeng tangan Afifah berjalan bersama kembali ke kamar.
Mereka melaksanakan salat isya bersama, salat sunat witir tiga rakaan dan salat sunnah dua rakaat, membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas tiga kali. Bershalawat tiga kali dan membaca doa agar dapat bergaul dengan baik dan terus saling mencintai penuh kasih dan sayang.
Nathan mencium kening Afifah yang terus menunduk dan bedoa. Pria itu mengangkat dagu istrinya memandang wajah cantik yang tersipu malu dan mengucapkan salam, ia meletakkan tangannya di atas kening Afifah sambil mencium dan membaca doa.
“Apa kamu siap?” Nathan tersenyum.
“Ah.” Afifah terkejut dan menatap Nathan. Ia terlihat sangat gugup dan khwatir.
“Aku sudah sangat serius melakukan ritual ini.” Nathan tersenyum.
“Kapan kamu mempelajarinya?” Afifah tersenyum.
“Ketika kamu mandi.” Pria itu mendekatkan wajahnya.
“Kamu luar biasa.” Afifah mundur dan membuka mukenahnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Nathan.
“Jalan-jalan.” Afifah tersenyum dan berjalan menuju arah pintu.
“Kamu mau melarikan diri.” Nathan tersenyum, ia segera mengangkat tubuh mungil istrinya dan membaringkan dengan lembut di atas tempat tidur.
“Aaah, apa yang kamu lakukan?” Afifah melotot.
“Apa kamu tidak punya pertanyaan lain?” Nathan tersenyum.
“Aku mau jalan-jalan.” Afifah mau beranjak dari tempat tidur tetapi tangannya di tarik Nathan dan tubuhnya kembali terhempas ketempat tidur.
“Kamu mau lari dari malam pertama kita.” Nathan menekan tangan Afifah.
“Nathan, apa kamu tidak lelah?” Afifah tersenyum.
“Sayangku yang cantik, aku adalah dewa obat.” Nathan menyentuh pipi Afifah dengan jarinya.
“Baiklah, aku lelah.” Afifah tersenyum.
“Tidak jadi, aku mau tidur saja.” Afifah memejamkan matanya dengan paksa.
“Sayang, apa kamu tidur dengan hijab?” Nathan berbisik di telinga Afifah.
“Mmm.” Wanita itu membuka matanya dan tersenyum.
“Apa aku boleh duduk?” Afifah tersenyum malu.
“Tentu saja sayang.” Nathan menarik tangan Afifah membantu wanita itu untuk duduk.
“Aku akan membukanya.” Afifah beranjak dari tempat tidur.
“Kamu mau kemana sayang?” Nathan menarik tangan Afifah membuat wanita itu kembali terbaring di atas tempat tidur.
“Membuka hijab.” Afifah tersenyum.
“Duduklah.” Nathan menarik lagi tubuh Afifah yang telah pasrah untuk duduk.
“Aku yang akan membukanya.” Nathan tersenyum memandang wajah Afifah.
“Bagaiman aku membukanya?” Nathan terlihat bingung dan itu membuat Afifah tertawa sehingga menghilangkan sedikit kegugupannya.
“Jika tidak bisa tidak usah dibuka.” Afifah tersenyum lebar.
“Hmm.” Nathan terlihat berpikir.
“Buka saja peniti yang ada di bawah daguku dan bros ini.” Afifah mengangkat dagunya agar Nathan tidak kesulitan.
“Apa ini tidak melukai dirimu?” Nathan memperhatikan peniti di dagu Afifah.
“Aku tidak menusuknya sampai ke kulit.” Affiah kembali tertawa dan sangat menggemaskan.
“Jangan bergerak!” Nathan membuka peniti perlahan, ia takut akan melukai Afifah.
“Berikan padaku!” Afifah mengadahkan tangannya meminta peniti dan meletakkan di atas meja samping tempat tidur.
Perlahan Nathan melepaskan kain segiempat yang menutupi kepala dan dalaman hijab yang melindungi rambut Afifah. Rambut berwarna hitam pekat sedikit bergelombang tergerai melewati pundaknya. Wajah imut itu semakin terlihat muda dengan leher jenjang putih bersih.
Jari-jari Nathan memainkan rambut Afifah dan menyentuh leher yang sangat menggoda, bibir pria itu segera mendarat pada bibir istrinya, ia menikmati untuk yang kesekian kalinya. Nathan bukan pria nakal yang suka bermain dengan banyak wanita, ia sangat menghargai rasa cinta. Jatuh cinta bukanlah hal yang mudah.
Ciuman itu tidak ingin ia hentikan, detak jantung keduanya beradu dan semakin kencang, darah mengalir dengan deras dan semakin memanas. Nathan memindahkan bibirnya pada leher putih menggoda, ia memberikan banyak tanda merah, tangan Afifah mencengkran lengan kekar suaminya untuk menahan gejolak yang memberontak.
“Tunggu sebentar.” Nathan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari, ia mengambil paper bag dan menyerahkan pada Afifah.
“Apa ini?” Afifah menatap Nathan.
“Pakailah!” Pria itu tersenyum, ia berjalan menuju pintu dan menguncinya.
__ADS_1
“Baiklah.” Afifah berjalan menuju bilik ganti.
Nathan melepaskan semua pakaiannya dan hanya menggunakan celana boxer, ia duduk di tepi tempat tidur menunggu bidadari kecilnya keluar dari bilik ganti. Afifah terdiam melihat pakaian yang ada di dalam paperbag.
“Apa ini?” Afifah duduk di lantai, ia terkejut melihat lingerie berwarna hitam dengan renda merah yang tidak bisa menutupi tubuhnya.
“Sayang, apa kamu belum selesai?” Nathan tersenyum melihat bayangan Afifah yang terduduk di bilik ganti, ia yakin wanita itu malu menggunakan lingerie pemberian dirinya.
“Ini bukan pakaian, aku tidak mau memakainya.” Afifah kesal.
“Apa kamu tidak mau membahagiakan suamimu malam ini?” Nathan menahan suaranya agar terdengar kecewa.
Afifah menarik napas dalam dan membuangnya dengan berat, pria itu seakan tahu kelemahan seorang istri yang harus patuh pada suami. Wanita itu membuka gamisnya perlahan dan menggantikan dengan pakaian seksi dan menggoda.
“Aku rasa tanpa pakaian ini dia tetap tergoda.” Afifah melihat malu pada tubuh indahnya.
“Kemarilah sayang.” Nathan tersenyum.
Afifah mengintip dari balik bilik, ia melihat Nathan tanpa baju berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi pinggang hingga kaki.
“Aku malu.” Afifah masih berdiri di balik bilik.
“Apa aku harus menjemput dirimu?” Nathan duduk.
Perlahan Afifah keluar dari bilik, dengan lingerie seksi sebatas paha, tubuh yang terlihat kecil itu ternyata padat berisi dan sangat menggoda, rambut tergerai melewati bahu yang terbuka. Tangan wanita itu menutupi dadanya dan kaki telanjang terlihat tidak tenang dengan kepala terus menunduk. Mata Nathan melotot hampir keluar dari tempatnya.
“Oh Shit, dia sangat seksi dan menggoda, aku ingin memakan habis tubuh itu.” Nathan mengusap kasar wajahnya dan turun dari tempat tidur berjalan mendekati Afifah tanpa suara.
“Sangat sempurna.” Afifah berbisik di telinga Afifah.
“Apa? sejak kapan kamu di sini?” Afifah mendongak.
“Kemarilah.” Nathan menggendong tubuh seksi itu ketempat tidur.
Nathan kembali melakukan serangan ganas pada wajah Afifah, ia tidak terkendali lagi memakan telinga dengan gigitan dan jilatan basah membuat tubuh wanita itu menggeliat menahan rangsangan dari lidah hangat suaminya. Bermain pada bibir dan lidah dengan hisapan kuat.
Nathan memakan sepasang buah lembut yang sangat menantang, kaki Afifah menerjang kasur dan tangannya mengepalkan seprai, berusaha menahan diri yang ingin berontak dan menerjang tubuh Nathan. Pria itu tidak memperdulikan istrinya, ia benar-benar menikmati surga dunia yang ada pada tubuh wanita itu.
Tidak ada yang terlewatkan, perut indah mendapatkan serangan untuk dicium dan dijilat layaknya ice kream vanilla dengan warna putih menggoda, napas Afifah terengah-engah, wajah dan sekuruh tubuhnya telah merah karena gesekan dari wajah Nathan.
Afifah mengunci mulutnya agar tidak mengeluarkan desahan dan erangan, ia sangat malu sedangkan Nathan semakin beringas memakan tubuh istrinya. Napasnya semakin tidak teratur, ia menatap wajah cantik yang terus menahan diri.
“Apa kamu tidak puas dengan perlakuan diriku?” tanya Nathan yang tidak yakin dengan dirinya karena ia tidak mendengarkan desahan dari Afifah.
Wanita itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya karena sudah sangat sulit untuk bernapas, gelora yang semakin membara terhenti tiba-tiba membuat wanita itu memiliki kesempatan untuk memasukkan oksigen yang hampir hilang dari dari paru-parunya.
“Apa kamu menahan diri?” Nathan memperhatikan tubuh Afifah yang berkeringat dan bergetar.
“Apa kamu sudah selesai?” Afifah mendorong tubuh Nathan.
“Hei kenapa kamu marah sayang?” Nathan tersenyum melihat wajah kesal Afifah.
“Aku akan menyelesaikannya.” Nathan berbisik di telinga Afifah.
“Aku akan melakukannya dengan perlahan.” Nathan memperlihatkan junior yang tampak garang siap menerjang masuk dalam lubang jurang terdalam dan sempit untuk mencapai kenikmatan hakiki.
Afifah menutup matanya, jantung kembali berpacu dengan jarum detik jam yang ada pada tangan kirinya. Nathan bermain lagi pada tubuh Afifah dengan tangan, bibir dan lidahnya untuk mengalihkan perhatian wanita itu yang khawatir dengan terjangan junior yang siap menyusup.
“Apa kamu siap?” bisik Nathan di telinga Afifah.
“Ya.” Afifah menjawab dengan desahan yang semakin menggoda dan berhasrat.
Nathan mengambil tangan Afifah dan meletakkan di lehernya, agar wanita itu berpegang kuat pada dirinya ketika menahan sakit akibat dari robekan yang akan ia dan juniornya ciptakan bersamaan dengan kenikmatan.
“Peluk erat diriku jangan lepaskan dan kunci bibir beserta lidah.” Nathan mencium bibir Afifah bersamaan dengan junior yang mulai menyusup perlahan memasuki pintu perawan.
Afifah ingin berteriak ketika ia merasakan sobekan pada bagian sempit seakan ada paksaan dari penyusup nakal, dengan sigap Nathan membungkam mulut Afifah dengan mengunci lidah wanita itu.
Memasuki pintu membuat junior tidak ingin lagi keluar dari mulut bawah dan mulai memberikan goncangan kuat dan dahsyat dari kekuatan sang pejantan dewasa hingga sampai pada muntahan magma hangat yang memberikan efek nikmat tidak tertahankan.
Nathan memeluk erat tubuh Afifah dan menguncinya. Kepuasan luar biasa yang ia rasakan pada jiwa kesepian dan butuh kasih sayang. Kesunyian malam menemani pasangan suami istri yang baru saja menyelesaikan ritual malam pertama mereka di Pulau Moyo. Hanya suara hewan malam, hembusan angin yang menggoyangkan pepohonan dan desiran ombak menghantam pantai terdengar di telinga mereka.
“Terimakasih.” Nathan berbisik di telinga Afifah dan mencium dahi istrinya.
“Hm.” Afifah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan berjalan perlahan menuju kamar mandi.
“Arrg, seluruh tubuhku sakit.” Afifah kesulitan berjalan.
Nathan tersenyum melihat bercak merah yang tertinggal di seprai, ia segera menarik dan membuka seprai meletakkan di dalam keranjang kotor.
“Hah, ini rasanya menikmati indahnya surga dunia bersama istri, benar-benar ingin mengulangnya lagi.” Nathan memakai boxer yang tergeletak di atas lantai.
Afifah keluar dari kamar mandi dengan baju handuk berwarna putih sebatas paha. Ia berjalan menuju meja rias dan duduk di kursi depan cermin. Melihat Nathan dari pantulan kaca.
“Apa kamu tidak mandi?” tanya Afifah.
“Aku akan mandi sayang.” Nathan tersenyum dan pergi menuju kamar mandi.
“Ahh, sakit sekali tubuhku.” Afifah menggunakan vitamin kulit pada seluruh tubuhnya, berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Aku sangat lelah dan mengantuk.” Wanita itu memejamlan matanya dan terlelap dalam mimpi indah.
“Kamu sudah tidur.” Nathan mencium dahi Afifah, ia mengganti pakaian dan kembali ke tempat tidur memeluk tubuh indah istrinya yang kelelahan akibat goncangan.
Perkawinan ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam kebahagian. Membahagiakan pasangan adalah perkara yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya akan banyak sekali kebaikan yang diperoleh jika pasangan kita merasa bahagia.
***Love You All***
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.