
Rumah Stevent.
Suara sayup-sayup lembut dari mulut seorang ibu yang melantunkan ayat-ayat Alquran melewati celah-celah dinding, hordeng dan jendela kamar telah terbuka sebelum azan subuh berkumandang, angin pagi menyusup ke dalam kamar Azzam dan Azzura memberikan sejuk menukarkan udara yan terkurung.
Pria tampan yang masih terlelap perlahan membuka mata dan meraba tempat tidur kosong, ia ingin memeluk tubuh hangat istrinya untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulang dari sapuan angin yang menggoyangkan hordeng. Pria itu menajamkan telinganya dan dapat mendengarkan lantunan ayat suci Alquran dari kamar anak mereka.
Stevent beranjak dari tempat tidur, ia segera mandi dan menggantikan dengan pakaian yang telah Nisa siapkan diatas kursi santai yang berada di ujung tempat tibur mereka, pria itu berjalan mendekati istrinya mencium dahi dan kepala Nisa dengan lembut. Ia melihat Azzam dan Azzura telah terbangun dan menikmati suara lembut dan indah dari ibu mereka.
Ketika Azan berkumandang, Nisa menyelesaikan bacaanya dan bersiap melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama keluarga kecil bahagia. Stevent dan Nisa menggendong putra dan putri mereka menuju ruangan sholat yang telah di sediakan.
“Sayang, aku akan olah raga di halaman.” Stevent mengganti pakaiannya.
‘Ya.” Nisa tersenyum dan merapikan tempat tidur, Azzam dan Azzura kembali tidur setelah mendapakan asi dari Nisa.
“Aku berangkat.” Stevent memeluk dan mencium bibir Nisa.
“Dah.” Nisa melambaikan tangannya melihat tubuh seksi suaminya yang keluar dari kamar.
Melaksanakan kegiatan rutin di pagi hari, Nisa dan Viona berada di dapur untuk mempersiapkan sarapan sedangkan Salsa membersihkan rumah. Robot pengasuh tetap bersama Azzan dan Azzura di kamar mereka. Stevent melakukan olah raga pagi di halaman rumah.
“Kak, hari ini aku akan melakukan perjalanan dinas.” Viona tersenyum semangat.
“Apakah kamu sudah mulai bekerja?” Nisa melirik Viona dengan senyuman.
“Aku mendapatkan tugas menyelesaikan masalah di kantor cabang.”
“Semangat, kakak yakin kamu pasti bisa.” Nisa menyentuh pipi Viona.
“Aku rasa kerugian bukan hanya karena kebakaran tetapi ada oknum lain yang melakukan kecurangan di dalam perusahaan kecil itu.” Viona duduk di kursi.
“Bisamilah, semoga Allah memberikan kemudahan untuk dirimu dan selalu berhati-hati karena dunia bisnin itu kejam.” Nisa tersenyum.
“Terimakasih Kak.” Viona bahagia mendapat dukungan dari Nisa.
Dulu, ia sempat berpikir akan menyusul Kenzo ke Kairo agar bisa belajar dan bekerja bersama pria pertama yang telah membuat dirinya jatuh cinta dan kini ia harus mengejar seorang pangeran yang jauh lebih tinggi dan tidak tersentuh.
“Hey, apa yang kamu lamunkan?” Nisa melambaikan tangannya di depan wajah Viona.
‘Tidak ada.” Viona tersenyum.
“Siapa yang akan menemani dirimu pergi ke sana?” Nisa terus bergerak mempersiapkan sarapan.
“Jade.” Viona menunggu reaksi Nisa.
“Jade adik Kim.” Nisa melihat kearah Viona.
“Ya, apa boleh?” Viona ragu.
“Apakah kamu sudah meminta izin Stevent?” Nisa balik bertanya.
“Sudah, bahkan kakak telah memberikan surat tugas untuk diriku bersama Jade dan seorang wanita yang akan Jhonny kenalkan kepada diriku masuk ke perusahaan.” Viona tersenyum.
“Seorang wanita, itu bagus karena kamu tidak boleh berduaan saja dengan pria asing.” Nisa duduk di samping Viona.
“Aku tahu bahkan Pangeranku pernah memarahi diriku ketika bersama Valentino, memalukan.” Viona tertawa.
“Pangeran kamu sangat perhatian.” Nisa mencubit hidung Viona.
“Ah, kak Nisa.” Viona malu menutupi wajahnya dengan tangan.
Mereka telah menyelesaikan rutinitas di pagi hari, Viona akan ikut Stevent ke Perusahaan Utama sedangkan Nisa akan bersama putra dan putri mereka di rumah di temani robot cangkih dan serba bisa.
Stevent memeluk dan mencium istri dan anak-anaknya sebelum berangkat bekerja, ia selalu berharap bisa bersama keluarga kecilnya sepanjang hari. Nisa membawakan tas kerja dan mengantarkan suaminya ke depan pintu.
“Sayang, tetap di rumah.” Stevent mencium dahi Nisa.
“Ya, berhati-hatilah dan jangan lupa sholat.” Nisa memeluk suaminya.
“Berikan aku ciuman.” Stevent memancungkan bibirnya.
“Kemarilah.” Nisa memindahkan tangannnya ke leher Stevent agar menunduk dan mencium lembut bibir dingin yang menjadi hangat oleh sentuhan istri.
‘Terimakasih.” Stevent mengecup dahi, pipi, hidung dan bibir Nisa.
Pria tampan itu berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan istana mewah milik keluarga kecil yang bahagia dan harmonis, istrinya sangat lembut sehingga tidak pernah marah dan membuat dirinya marah. Nisa selalu memahami dan mengerti Stevent.
***
Seorang wanita berhijab, dengan stelan tunik panjang berwarna hitam, celana berbahan katun dan menggunakan masker duduk di ruang tunggu bersama dengan Jade. Pria dengan wajah oriental dan berkaca mata mencuri pandang untuk melihat mata indah dari wanita di depannya.
Tubuh tinggi dan ramping indah, duduk dengan elegan tampak cuek dan tidak perduli dengan wajah tampan Jade. Wanita itu memainkan ponselnya, ia bahkan tidak menyapa pria di depannya.
Pintu ruangan terbuka, Jhonny masuk dan melihat dua orang yang berdiam diri duduk daling berhadapan.
__ADS_1
“Selamat pagi Tuan Jhonny.” Wanita berhijab berdiri dan memberi hormat kepada Jhonny.
“Pagi, kamu sudah datang, kita akan menunggu Nona Viona dan Tuan Stevent.” Jhonny melirik Jade.
“Selamat pagi Tuan Jhonny, saya Jade teman Viona.” Jade memberi salam.
“Pagi, silahkan duduk.” Jhonny mempersilahkan Jade dan wanita berhijab duduk.
“Terimakasih.” Jade dan wanita itu menjawab dan duduk bersama.
Viona dan Stevent masuk ke dalam ruangan bersamaan, mereka semua memberi salam, dan kembali duduk di kursi masing-masing.
“Apakah kamu pengawal wanita yang akan menjaga Viona?” Stevent menatap tajam pada wanita itu.
“Iya Tuan.” Wanita itu menjawab tegas dan membalas tatapan Stevent sekilas.
“Aku mau kamu memperkenalkan diri dan memperlihatkan wajah kamu!” perintah Stevent.
“Baik Tuan.” Wanita itu berdiri.
“Assalamualaikum dan selamat pagi, perkenalkan nama saya Ayumi, saya menguasai hampir semua kemampuan bela diri, bisa menggunakan sejata tajam dan mesin, saya kuliah di Jepang dan baru kembali ke Indonesia.” Ayumi membuka masker wajahnya.
Semua terdiam dan terpana akan kecantikan wajah campuran Indonesia-Jepang, hidung mancung dengan kulit putih bersih, pipi merah dan bibir tipis tersenyum cantik dengan tatapan mata yang tajam.
"Bagus, Saya rasa kamu sudah pembaca kontrak kerja yang kamu tanda tangan." Stevent menatap tajam pada Ayumi.
"Tentu saja Tuan." Ayumi menunduk kepala memberi hormat.
"Bagus." Stevent tersenyum.
“Apakah saya boleh menggunakan masker saya kembali?” Ayumi melihat kearah Stevent dengan tatapan tajam seakan melukai setiap orang melihatnya.
“Ya.” Stevent melirik Viona.
“Kamu sangat cantik Ayumi berapa usia kamu?” tanya Viona.
“Terimakasih Nona Viona, saya berusia 22 tahun.” Ayumi tersenyum dari balik maskernya.
“Tidak berbeda jauh dengan diriku, kita bisa menjadi teman.” Viona bersemangat.
“Tentu saja Nona Viona.” Ayumi memberi hormat.
“Panggil aku Viona saja.” Viona duduk di samping Ayumi.
“Baiklah, sebaiknya kalian berangkat.” Stevent keluar dari ruangan bersama Jhonny.
“Ayumi, perkenalkan dia Jade teman satu kampus ku dan akan ikut bersama kita.” Viona tersenyum.
“Halo Tuan Jade.” Ayumi mengulurkan tangannya.
“Halo, panggilkan saya Jade saja.” Jade berjabat tangan dengan Ayumi.
“Baiklah kita berangkat sekarang.” Viona menggandeng tangan Ayumi.
“Viona, kita akan menggunakan mobil siapa?” tanya Jade.
“Apa kamu membawa mobil?” Viona balik bertanya.
“Ya, aku membawa mobil.” Jade tersenyum manis.
“Bagaimana jika kita menggunakan mobil kamu saja?” Viona tersenyum dan melirik Ayumi.
“Dengan senang hati.” Jade tersenyum cool.
“Baiklah, aku akan menemui kakak ku, kalian tunggu di depan.” Viona berjalan menuju ruangan Stevent.
“Jhonny, apa kamu sengaja menerima bodyguard cantik?” Stevent menatap Jhonny.
“Saya tidak tahu jika wanita itu sangat cantik dan masih sangat muda.” Jhonny menunduk.
‘Tapi saya dapat merasakan jiwa pembunuh dan tidak ada rasa takut dimatanya.” Stevent mengingta tatapan tajam Ayumi.
“Anda benar Tuan.” Jhonny melihat kearah Fauzan.
Viona mengetuk pintu dan masuk keruangan Stevent, ia pamit pergi dan meninggalkan mobilnya di perusahaan.
Jade dan Ayumi berdiri di depan pintu Utama perusahaan, menunggu Viona, mereka berdua tanpa bicara sepatah katapun, sesekali pria itu melirik kepada Ayumi yang benar-benar pendiam dan tidak perduli.
“Ayo berangkat.” Viona menggandeng tangan Ayumi dan berjalan bersama Jade menuju parkir mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dua orang wanita cantik duduk di kursi belakang dan Jade sendirian di depan sebagai pengemudi.
“Ayumi kenapa kamu terus menggunakan masker?” Viona menatap wajah Ayumi.
__ADS_1
“Tidak apa.” Ayumi tersenyum dari balik balik masker.
“Pasti untuk menutup kecantikan kamu.” Viona tersenyum.
“Terimakasih Nona, semua wanita pasti cantik dan semua pria tampan.” Ayumi menatap Viona dengan tatapan tajamnya dan Jade melirik dua gadis cantik melalui cermin.
Mobil terus melaju hingga keluar dari pusat kota dan melewati perbatasan dan memasuki kawasan kota kecil dengan penduduk yang cukup padat.
Ayumi memperhatikan setiap jalanan yang mereka lewati, matanya seakan merekam semua yang ia lihat, telinga yang sangat peka dan tajam. Dia sangat terlatih sebagai seorang pengintai dan pengawal. Mereka diam hingga mobil berhenti di depan sebuah perkantoran sederhana.
“Maaf Nona, sudah waktu solat Zuhur, sebaiknya kita mencari musholla atau masjid di sekitar kantor.” Ayumi membuka pintu untuk Viona.
“Kamu benar.” Viona keluar dari mobil.
“Tinggalkan saja barang-barang di mobil, aku akan menjaganya.” Jade melihat dua orang wanita berdiri di depannya.
“Baiklah, terimakasih.” Ayumi menunduk dan berjalan bersama Viona menuju Mushola Perusahaan kecil.
Viona adalah gadis manja yang sedang belajar untuk menjadi mandiri sedangkan Ayumi, gadis yang terdidik dari kecil untuk menjadi wanita kuat, pantang menyerah dan berani.
Ayumi terlahir dari seorang wanita yang lembut asli Indonesia dan Papa adalah mafia jepang, ia pergi ke Indonesia tanpa sepengetahuan orang tuannya. Mereka tidak tahu jika Ayumi telah menyelesaikan kuliah dan pelatihan diri menjadi mafia yang kejam.
Entah apa yang Ayumi cari di Indonesia dan tujuannya kembali ke tanah kelahiran mamanya, ia menyimpan banyak rahasia dari sikap dingin dan pendiamnya, menutupi jati diri dan wajahnya dengan selalu menggunakan masker. Menjadi Bodyguard Cantik.
Jiwa mandiri perempuan sekarang ini sudah makin terasah. Perempuan tak lagi mau dianggap lemah dan tak bisa melakukan apa-apa. Di satu sisi sifat ini baik, tapi di sisi lain kurang menguntungkan juga. Karena ternyata, pria suka perempuan yang mengandalkan atau bergantung pada mereka.
Ketika perempuan mengandalkan pria untuk menyelesaikan masalahnya, berarti mereka punya nilai lebih dan punya kesempatan untuk menunjukkan kejantanan mereka sebagai seorang pria sejati. Pria sangat senang merasa diinginkan dan dihargai perempuan.
Namun, ini tidak berarti Anda boleh terlalu manja dan terlalu mengandalkan pria untuk melakukan segala sesuatu. Pria pasti juga jengah menghadapi perempuan yang terlalu manja dan tidak mau susah.
***
Fauzan duduk di dalam ruangannya, ia telah menyelesaikan semua masalah di perusahaan sehingga seluruh cabang bisa berjalan kembali dan mendapatkan pemasokan bahan baku tepat pada waktunya.
Asraf mengetuk pintu, mengucapkan salam dan masuk ke dalam ruangan Bosnya, ia memberi hormat dan duduk di depan Fauzan.
“Ada apa?” tanya Fauzan tanpa melihat Asraf.
“Nona Viona telah pergi ke kantor cabang,” ucap Asraf.
“Stevent mengizinkan adiknya pergi ke ujung kota.” Fauzan menatap tajam pada Asraf.
“Tuan Stevent memberikan surat tugas untuk Viona dan dua temannya.” Asraf melihat kearah Fauzan.
“Teman? pria atau wanita?” tanya Fauzan.
‘Satu orang pria dan satu orang wanita sepertinya seorang pengawal.” Asraf menyerahkan foto yang ada di layar ponselnya kepada Fauzan.
“Apa kamu yakin dia seorang wanita?” Fauzan menunjukkan foto Ayumi.
“Iya Tuan, dia adalah bodyguard khusu Viona.” Asraf tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum?” Fauzan menaikkan salah satu alisnya.
“Dia pasti wanita yang hebat.” Asraf mengambil ponselnya dari tangan Fauzan.
“Selidiki pria dan wanita itu!” Fauzan mearpikan jasnya.
“Pria itu bernama Jade, teman satu kampus Viona dan wanita itu saya belum mendapatkan informasi tentang dirinya.” Asraf menunduk.
“Baiklah, segera temukan.” Fauzan membereskan semua berkas yang ada di meja.
“Apa anda mau pulang Tuan?” tanya Asraf heran.
“Kita akan mengawasi Viona dari jauh.” Fauzan tersenyum.
“Baik Tuan.” Asraf segera membantu Fauzan dan bersiap untuk melakukan perjalanan keluar daerah.
Fauzan adalah pria dewasa yang memiliki keimanan dan kemampuan luar biasa, telah siap untuk menjalankan kehidupan rumah tangga tetapi ia bahkan tidak pernah memikirkannya.
Seorang pangeran dengan kesempurnaan sebagai seorang manusia tanpa cacat dan celah, ada jutaan wanita yang berharga menjadi istrinya.
Wanita yang dekat terhadap Sang Pencipta punya pegangan kuat yang akan membantunya melangkah menapaki jalan hidup ke depan.
Dia yang punya iman kuat secara otomatis memiliki jiwa spiritual kuat dan perilaku baik terhadap sesama. Pria dewasa sudah tidak mencari wanita yang masih kekanakan, mereka mencari orang yang bisa melengkapi dan menyempurnakan imannya.
***
Untuk yang tidak suka silahkan hapus dari Favorit tetapi jangan menjatuhkan Novel dengan laporan yang tidak benar dan menurunkan Rate. Bukan sesuatu yang mudah dalam menulis Novel. Terimakasih.
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan, jika suka dan ikhlas. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.