Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kasih Sayang


__ADS_3

(Like 👍)


Rumah Stevent


Selesai Sholat Subuh, Stevent menemani Nisa jalan - jalan di taman rumah yang sangat luas.


Stevent menggandeng Nisa keluar dari kamar, Mereka menggunakan kamar bawah, Stevent tidak mau Nisa kecapean turun naik tangga dan Stevent takut Nisa jatuh.


Kamar bawah tidak seluas kamar atas, tetapi Stevent telah merombaknya sebagus dan senyaman mungkin.


Mengganti Semua isi kamar dengan produk terbaru, terbaik, terbagus dan termahal.


Merubah dinding dengan warna yang teduh dan dingin.


Nisa sangat senang pindah ke kamar bawah, terasa, tidak capek lagi turun naik tangga.


Rumah sebesar dan seluas Istana hanya di huni 3 orang saja, sedangkan para pelayan, pembantu, pengawal, penjaga keamanan memiliki rumah sendiri yang dibangun oleh Stevent.


Stevent masih menggandeng tangan Nisa dan menggenggam jari - jemari dengan erat.


"Sayang ku, kapan kamu bisa mulai olahraga jika tidak melepaskan tangan ini" Nisa mengangkat tangan mereka.


Stevent tersenyum, Pria tampan berotot yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana olahraga sampai lutut sangat sempurna.


"Baiklah Cintaku, Aku akan melakukan pemanasan, jangan jauh-jauh dari pandangan ku" Stevent melepaskan tangannya dan mencium dahi Nisa.


Ia mulai melakukan pemanasan dengan gerakan ringan, berlari mengelilingi taman dan kembali lagi kepada Nisa yang hanya melakukan peregangan otot tubuh dan jalan santai.


Sebagai seorang atlet olahraga dan atlet bela diri, tubuh Nisa terawat baik dan Indah dengan stemina yang bagus.


Stevent melakukan gerakan yang biasa ia lakukan, gerakan yang dapat menjaga bentuk otot agar tubuh terlihat seksi dan sehat.


Keringat telah membanjiri wajah dan tubuh Stevent, begitu seksi dan menggoda.


Nisa tidak memperhatikan Stevent yang juga fokus dengan dirinya sendiri.


Matahari pagi telah beranjak dari peraduannya, memberikan kehangatan yang lembut ditemani angin sepoi-sepoi sehingga menggoyangkan dedaunan dari pohon dan bunga yang mulai tersenyum bermekaran.


Keindahan alam menyambut pagi dengan dengan rasa syukur pada Tuhan. Embun pagi mulai memuai terkena hangatnya Matahari merubah tetesan air menjadi gas berwarna putih dan terbang menuju langit.


Burung-burung berkicau memuji kuasa Tuhan atas Indahnya Dunia yang telah diciptakan tanpa ada kekurangan.


Kupu-kupu dan lebah berterbangan mencari madu dari Indah dan manisnya bunga.


Nisa dan Stevent tersenyum bersama menyambut pagi bersama alam, di bawah sinar Matahari dan tubuh penuh keringat Stevent mencium mesra bibir Nisa.


Ciuman pagi yang menjadi kebiasaan Stevent ketika cahaya Matahari menyentuh Bumi.


Stevent merasakan sesuatu yang berbeda ketika ia mencium Nisa di alam terbuka dengan pemandangan dan suasana yang indah.


Puas dengan ciuman pagi, Nisa dan Stevent duduk di bawah pohon untuk menikmati segarnya oksigen gratis yang Tuhan berikan.


Menunggu lebih santai dan keringat kering dari tubuh agar mereka bisa membersihkan diri, mengganti pakaian, melaksanakan sholat Duha dan sarapan bersama Viona.


"Sayang, Aku sangat bahagia bisa memiliki dirimu" Stevent mencium kepala Nisa yang tertutup jilbab.


"Aku juga bahagia, memiliki suami yang sangat mencintai diriku" Nisa mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah tampan Stevent.


Ciuman lembut kembali mendarat di bibirnya, membuat Nisa menahan tawa dengan tingkah Stevent yang terus-menerus mencium dirinya.


"Sayang, hari ini aku akan ke Rumah Sakit" Nisa membersihkan wajah Stevent dengan handuk kecil.


"Kenapa?" Stevent menahan tangan Nisa.


"Sayang, aku harus melakukan pemeriksaan kandungan setiap bulan, dan ketika umur kandungan sudah memasuki 7-8 bulan, pemeriksaan di lakukan setiap dua Minggu sekali" Jelas Nisa dan mencubit pipi suaminya karena gemas dengan Stevent yang tidak paham.


"Baiklah Cintaku, hari ini aku tidak akan pergi ke kantor sebelum selesai menemani dirimu ke rumah sakit" Stevent mencium bibir Nisa sekilas.


"Terimakasih Sayangku" Nisa menggesekkan kedua hidung mereka.

__ADS_1


"Kemana Sayangku akan memeriksa kandungan?" tanya Stevent.


"Rumah Sakit tempat aku bekerja" jawab Nisa merebahkan kepalanya di pangkuan Stevent.


Stevent terkejut, Jhonny dan Aisyah baru saj di bawa ke rumah sakit itu.


"Cintaku, bisakah kita ke rumah sakit lain?" tanya Stevent.


"Apa Sayangku mau kerumah sakit swasta milik seorang Ahli kimia?" Nisa tersenyum dan sengaja tidak menyebutkan nama Nathan.


"Ah, kenapa mereka semua ada di profesi yang sama dengan cintaku?" Stevent kesal.


"Sayang, aku sudah terbiasa dan nyaman dengan Dokter Nada, dia temanku, dan seorang muslimah" jelas Nisa dan Stevent mengangguk.


Sebenarnya Stevent khawatir, Nisa akan bertemu Jhonny dan Aisyah, Nisa akan banyak bertanya.


Nisa beranjak dari pangkuan Stevent dan menarik tangan Stevent berjalan bersama kembali ke kamar untuk membersihkan diri, mengganti pakaian dan sholat Dhuha.


Stevent memperhatikan Nisa yang sedang memberikan pelembab di wajahnya untuk melindungi dari sengatan Matahari dan merapikan jilbab di depan cermin.


"Kenapa Wanita hamil semakin hari semakin cantik?" gumam Stevent dan memeluk Nisa dari belakang.


"Sayang, tidak usah dandan" bisik Stevent di telinga Nisa yang tersenyum karena Nisa memang tidak pernah dandan.


Nisa memutar tubuhnya, menatap wajah Stevent.


"Apakah Sayangmu sedang berdandan?" tanya Nisa tersenyum dan Stevent menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah lapar" Nisa beranjak dari kursi dan menggandeng tangan Stevent keluar dari kamar menuju ruang makan.


Viona telah duduk di kursinya, tersenyum Cantik menyambut kedua kakaknya.


Wajah lembut dengan bola mata biru, sangat serasi dengan jilbab Merah muda, dan Tunik panjang sampai ke lutut berwarna Biru langit, di padu dengan celana jeans hitam.


"Assalamualaikum Viona" Nisa melepaskan tangan dari Stevent memeluk dan mencium dahi Viona.


Stevent menatap Viona, ini pertama kalinya ia melihat Viona berjilbab, karena ketika di rumah Viona tidak menggunakannya.


Mereka segera memulai makan pagi bersama, tanpa ada yang berbicara hingga selesai.


Viona pamit berangkat ke kampus, dengan menyalami tangan Nisa.


Nisa memeluk erat tubuh Viona, memberikan kekuatan setiap pagi untuk memulai hari dan mencium dahi Nisa.


"Jangan lupa baca doa dan tersenyum" ucap Nisa dan mendapatkan anggukan dari Viona.


"Sayang, berikan pelukan dan ciuman untuk Viona, lihatlah Viona sangat cantik" ucap Nisa manja.


Stevent masih terdiam dan membeku, ia tidak pernah memeluk dan mencium Viona.


Nisa menarik tangan Viona dan mendekati Stevent.


"Peluklah Kakakmu" bisik Nisa di telinga Viona yang masih terdiam.


"Lakukanlah!" perintah Nisa lembut.


Viona berjalan perlahan dengan perasaan ragu ia memeluk Stevent, melingkarkan tangannya di pinggang Stevent dan meletakkan wajahnya di dada Stevent.


Stevent masih terdiam, ia merasakan pelukan yang berbeda dengan Nisa, pelukan kerinduan kasih sayang hubungan sedarah.


Nisa mengambil tangan Stevent meletakkan di kepala dan punggung Viona dan memberi isyarat agar mencium kepala Viona dan memejamkan matanya.


Stevent melakukan sesuatu gerakan yang diperintahkan Nisa.


Butiran bening mengalir tanpa perintah melewati sudut mata indah Viona, untuk pertama kalinya ia memeluk Stevent.


Viona memejamkan matanya, menikmati pelukan dari seorang Kakak yang sangat ia cintai dan rindukan.


Kehangatan dengan penuh perlindungan, Viona merasakan pagi yang begitu membahagiakan.

__ADS_1


Dua orang bersaudara yang tinggal satu rumah tapi tidak pernah mencurahkan kasih sayang, karena kesibukan masing-masing.


Didikan keras yang Stevent dapatkan di terapkan Kepada Viona walaupun tidak seperti yang Stevent alami karena ia berpikir wanita adalah makhluk yang lemah.


"Terimakasih Kak, selalu menjagaku" ucap Viona lembut dan serak.


Stevent masih terdiam, orang pertama yang ia peluk dan cium adalah Nisa, tetapi pelukan Viona berbeda.


Viona melepaskan pelukannya, menyalami dan mencium punggung tangan Stevent.


Nisa tersenyum melihat pemandangan yang indah diantara dua bersaudara.


Viona kembali memeluk Nisa.


"Terimakasih Kak, kamu selalu membawa kebahagiaan bagi semua orang" Viona berjalan menuju pintu.


Sebuah Mobil telah menunggu, dengan pintu telah terbuka.


Mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah Stevent.


Pandangan Nisa dan Stevent saling bertemu, Nisa berjalan mendekati Stevent dan melingkari tangannya di pinggang Stevent.


"Bagaimana rasanya bisa memeluk adikmu?" Nisa tersenyum.


"Apa Sayang ku tidak cemburu?" Stevent menatap tajam ke arah Nisa dan membuat Nisa tertawa.


Stevent emosi, ia mencium bibir Nisa dengan kasar.


"Aw" Nisa memelototi Stevent.


"Kenapa aku harus cemburu pada adik sendiri?" Nisa menyentuh bibirnya.


"Benarkah? tapi aku cemburu pada dirimu" tegas Stevent.


Nisa bingung bagaimana menjelaskan kepada Stevent, apa yang telah di pelajari Stevent tentang rasa cemburunya.


"Baiklah Sayangku, Kamu boleh cemburu tapi tidak berlebihan" Nisa tersenyum.


"Aku tidak cemburu berlebihan, tapi karena kamu adalah milikku dan tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh milikku" ucap Stevent serius tanpa senyuman.


"Suamiku benar - benar keras kepala dengan prinsip mencintai" Nisa berbicara dalam hatinya.


"Baiklah aku adalah milikmu" Nisa memeluk Stevent, ia tidak mau memancing emosi Stevent dengan perdebatan tentang cemburu dan hak milik.


"Kenapa Sayangku diam?" Nisa melihat wajah Stevent.


"Maafkan Cintaku" Stevent memeluk erat Nisa.


"Maafkan Sayangku" Ucap Nisa.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like, Komentar, Vote dan Bintang 5, Terima kasih 😘


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Love You Readers 💓 Thanks for Reading ♥️

__ADS_1


__ADS_2