
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan pintu pagar rumah Stevent dan Nisa, sepasang suami istri paruh baya terdiam memperhatikan rumah mereka yang telah berubah warna dan jauh lebih mewah.
“Apakah ini rumah kita yang dibeli Tuan Stevent?” tanya Istrinya kepada Pak Budiman.
“Ya, mereka telah mengganti warna dan tatana taman dengan sempurna.” Tuan Budiman keluar dari mobil dan berjalan menuju pos satpan gerbang.
“Permisi, apakah Tuan Stevent ada di rumah?” tanya Pak Budiman kepada petugas keamanan.
“Ada Tuan, apakan anda telah buat janji untuk bertamu?” tanya petugas keamanan.
“Saya akan menghubungi Tuan Jhonny, terimakasih.” Tuan Budiman kembali ke mobil.
“Bagaimana?” tanya istrinya yang khawatir.
“Kita harus buat janji terlebih dahulu.” Tuan Budiman menghubungi nomor ponsel Jhonny.
***
Rumah Stevent sangat ramai, ada Umi, Abi, Papa Mark dan Viona, mereka semua berkumpul di ruang tamu yang didesain sangat luas oleh Stevent.
Azzam dan Azzura berbaring di dalam keranjang bayi bermain bersama Viona dan Umi, dua robot pengasuh berdiri di samping bayi kembar. Abi berbicara dengan Papa Mark, Stevent dan Jhonny hanya diam memperhatikan semua penghuni rumah. Asiyah dan Nisa berada di dapur menyiapkan cemilan.
Stevent beranjak dari kursi dan berjalan ke dapur untuk melihat dan membantu Nisa jika dibutuhkan, ia memeluk istrinya yang sedang menata gelas di atas nampan dari belakang tanpa memperdulikan Aisyah yang sedang membuat kopi dan teh panas.
“Sayang, apa yang kamu lakukan di dapur?” Nisa menyentuh pipi Stevent.
“Membantu dirimu.” Stevent meletakkan dagunya di atas pundak Nisa.
“Stevent, aku juga punya pasangan, kamu tidak perlu menampilkan kemesraan di depan diriku.” Aisyah berjalan membawakan nampan berisi gelas dan minuman hangat menuju ruang tamu.
“Sayang, aku semakin takut dengan Dokter Aisyah.” Stevent memutar tubuh Nisa menghadap dirinya.
“Tuan mengganggu.” Salsa menatap Stevent.
“Seharusnya aku tidak membawa kamu pindah kemari.” Stevent menatap Robot Salsa.
“Sayang, dia hanya robot, Salsa tidur!” Nisa mematikan Salsa secara otomatis.
“Untunglah dia robot wanita, jika pria aku akan menghancurkannya.” Stevent mencubit pipi Salsa membuat Nisa tertawa melihat tingkah suaminya yang selalu bertengkar dengan Salsa.
“Sekarang ada papa, kamu bisa minta program ulang.” Nisa melingkarkan tangannya dileher Stevent.
“Maaf Tuan Stevent, ada pekerjaan yang harus kita diskusikan di ruang kerja.” Jhonny menunduk.
“Pergilah, aku akan menyusul.” Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
“Baik Tuan.” Jhonny berjalan meninggalkan dapur.
“Sayang, bergabunglah bersama semua keluarga di ruang tamu.” Stevent mencium dahi Nisa.
“Ya.” Nisa tersenyum.
“Aku harus bekerja.” Stevent berjalan menuju ruang kerja menemui Jhonny yang telah menunggu dirinya di depan pintu.
“Apa yang terjadi?” Stevent duduk di kursi kerjanya.
“Tuan Budiman ingin bertemu.” Jhonny menutup dan mengunci pintu.
“Ada urusan apa?” Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
“Aku rasa mereka mencari Fannay yang belum kembali.” Jhonny duduk di sofa.
“Bagaimana kabar wanita itu?” Stevent jijik menyebutkan namanya karena itu akan membuat ia mengingat ciuman paksa dari Fanny.
“Dia baik-baik saja, karena penyiksaan telah di hentikan.” Jhonny terlihat santai tetapi tidak dengan Stevent.
“Apa yang harus aku lakukan pada wanita itu?” tanya Stevent.
“Bagaimana jika kita hapuskan sebagian ingatan dan kembalikan kepada orang tuannya dengan cara yang tidak terduga.” Jhonny memberikan ide tanpa ekpresi.
“Siapa yang bisa melakukan itu?” Stevent menata Jhonny.
“Tim Ahli kimia Nathan.” Jhonny menyerahkan ponselnya.
“Aku tahu Nathan bukan pria biasa, ada banyak bisnis illegal yang ia jalankan di bidang kedokteran.” Stevent tersenyum.
“Lakukan secepatnya dan aku tidak mau melihat wanita itu lagi benar-benar menjijikan.” Stevent mengembalikan ponsel Jhonny.
“Tentu saja Tuan, anda tidak perlu khawatir, aku akan melakukan terbaik untuk anda.” Jhonny menyimpan ponselnya dalam saku celana.
“Baiklah, aku tahu kamu tetap Jhonny yang dulu.” Stevent beranjak dari kursi dan keluar dari ruang kerja.
Jhonny kembali bergabung dengan semua orang dan mengirim pesan kepada Aisyah bahwa dia akan melakukan meeting di sebuah restoran untuk urusan bisnis dan akan terlambat pulang. Aisyah membuka ponselnya dan mengangguk.
Pria tampan dengan wajah datar itu keluar dari rumah dan berjalan menuju tempat parkir, ia akan bertemu dengan seorang ahli kimia yang menjual formula untuk menghapus ingatan yang baru saja dialami. Sebernarnya formula itu digunakan untuk pengobatan pada pasien trauma dan membantu menghapus ingatan yang mengerikan sehingga menggangu kejiwaan manusia.
Aisyah berlari mengejar Jhonny yang telah berada di dalam mobil dan mengidupkan mesin, wanita itu membuka pintu dan masuk kedalam mobil, ia menarik dasi Jhonny dan mencium bibir pria kaku tanpa ekspresi.
“Apa kamu akan pergi tanpa menciumku?” Aisyah tersenyum dan melepaskan ciumannya.
Jhonny menarik leher Aisyah dan mencium bibir istrinya dengan lembut tetapi bergairah hingga kesulitan bernapas.
__ADS_1
“Pergilah!” Aisyah berbisik di telinga Jhonny meniupkan udara hangat dari mulutnya dan keluar dari dalam mobil, ia melambaikan tangannya kepada Jhonny.
“Aku akan segera pulang.” Mobil Jhonny keluar dari perkarangan dan melaju menuju restoran tepi laut.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi hingga berhenti ditempat parkir elite khusus sesuai meja yang dipesan. Pria tampan dengan wajah tanpa ekspresi keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah meja bernomor 10. Seorang wanita cantik dan seksi duduk menunggu Jhonny, ia memainkan ponselnya dengan jari cantik.
“Selamat Siang, dengan Nona Talita ?” Sapa Jhonny.
“Selamat Siang, ya benar, apakah anda Tuan Jhonny?” Talita berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Ya.” Jhonny berjabat tangan dengan Talita.
“Silakan duduk.” Talita tersenyum cantik, wanita itu terlihat masih sangat muda.
“Terimakasih.” Jhonny duduk di depan Talita.
"Apakan anda telah membawa pesanan saya?” Jhonny meletakan tasnya di samping kursi.
“Anda sangat terburu-buru, sebaiknya kita pesan makan siang.” Talita melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan.
“Silahkan.” Pelayan menyerahkan buku menu.
“Tuan Jhonny aku yang traktir.” Talita memberikan satu buah buku menu kepada Jhonny.
Jhonny mengambil buku menu dan membacanya dengan teliti untuk memilih makanan yang akan ia pesan. Talita terus memperhatikan Jhonny yang cuek dan tidak perduli dengan dirinya yang cukup cantik dan seksi.
“Ternyata assitennya tidak berbeda jauh dengan Stevent, dia juga terlihat tampan dengan aura yang dingin.” Talita tersenyum dan berbicara di dalam hatinya.
“Apakan anda telah memilih Tuan Jhonny?” tanya Talita lembut.
“Ya.” Jhonny melambaikan tangannya kepada pelayan yang segera datang dan mencatat pesanan mereka.
“Tunggu sebentar Tuan dan Nyonya.” Pelayan kembali ke dapur untuk memesan makanan pelanggan.
“Tuan Jhonny, apakah anda sudah menikah?” Talita tersenyum.
“Sudah.” Jhonny menatap pada Talita.
“Istri Anda pasti sangat beruntung.” Jari cantik Talita memainkan gelas kosong yang ada di atas meja.
Ponsel bedering, nama Aisyah muncul di layar, ia segera menggeserkan icon hijau untuk menerima panggilan.
“Halo suamiku, apakah kamu sudah makan siang?” Suara Aisyah terdengar lembut.
“Ya, aku sedang menunggu makananku datang.” Jhonny menatap laut lepas.
“Siapa itu Tuan Jhonny?” Talita sengaja menyaringkan suaranya.
“Istriku.” Jhonny menatap tajam pada Talita.
“Rekan bisnis.” Jhonny tidak suka dengan kelancangan Talita yang mengganggu percakapan dia dengan istrinya.
"Sayang, katakan padaku dimana kamu makan siang?” tanya Aisyah.
“Parai Beach.” Panggilan terputus.
Makanan telah tertata dengan rapi di atas meja, Jhonny menghubungi seorang pria yang dari tadi telah menunggu untuk mengambilkan formula.
“Selamat siang Tuan Jhonny.” Pria berkacamata hitam berdiri di samping Jhonny.
“Nona Talita, bisakah anda memberikan formula kepada saya, pria ini akan segera membawanya.” Jhonny menatap pada Talita tanpa ekspresi.
“Tentu saja Tuan Jhonny.” Talita mengeluarkan kotak kaca berisi tiga botol ampul berisi cairan berwarna putih susu.
“Terimakasih.” Jhonny mengambil kotak kata dan menyerahkan kepada pria yang berdiri di sampingnya.
“Lakukan secepatnya!” perintah Jhonny.
“Baik Tuan.” Pria itu segera pergi meninggalkan tempat makan.
“Tuan Jhonny, mari kita makan.” Talita tersenyum cantik.
“Silahkan Nona.” Jhonny memulai menikmati makannanya dengan elegan.
“Gosip yang beredar benar, Jhonny sangat tampan dan mempesona walaupun hanya seorang kepercayaan Stevent.” Talita tersenyum dan menikmati makananya.
“Dia benar-benar hanya datang untuk urusan bisnis dan tidak berbicara di luar topik pekerjaan, pria langka tidak tergoda.” Talita membuka sepatunya dan memainkan jari-jari kaki menaiki kaki Jhonny.
“Kenapa dengan kaki anda?” Jhonny menatap Talita.
“Ah maaf, aku pikir kaki meja.” Talita tersenyum.
“Saya sudah selesai, bagaimana dengan anda?” Jhonny menenguk air putih di sampingnya.
“Saya juga telah selesai, mari kita bersulang.” Wanita itu mengangkat minuman berwarna merah terang.
“Saya tidak minum minuman beralkohol.” Jhonny menatap Talita.
“Sedikit saja Tuan Jhonny.” Talita menuangkan minuman ke dalam gelas kosong dan memberikan kepada Jhonny.
“Maaf Nona, minuman itu tidak bagus untuk kesehatan dan akan mengganggu performa seseorang.” Jhonny mengambil gelas berisi minuman dan meletakkan di atas meja.
__ADS_1
“Tidak aku sangka masih ada seorang pembisnis yang tidak menikmati surga dunia.” Talita meneguk minumannya sedikit.
“Seorang wanita harus menjaga kesehatannya.” Jhonny meneguk habis air putih.
“Terimakasih atas perhatian anda Tuan Jhonny.” Talita tersenyum melihat gelas yang telah kosong.
“Baiklah Nona, ini bayaran pesanan saya.” Jhonny menyerahkan selembar kertas cek untuk pembayaran formula.
“Terimakasih Tuan Jhonny, anda terlihat terburu-buru.” Talita mengambil cek dan menyentuh tangan Jhonny dengan lembut.
“Oh Shit, dimana ia meletakkan racun aku merasa panas.” Jhonny melonggarkan ikatan dasinya dan membuka kancing jas.
“Nona, terimakasih untuk kerjasamanya, saya permisi.” Jhonny beranjak dari kursi dan mengulurkan tangannya.
“Sama-sama Tuan Jhonny, kami tim ahli kimia menciptakan racun dan penawarnya.” Talita tersenyum melihat pria tampan di depannya yang telah berkeringat.
“Sepertinya anda memberikan saya racun.” Jhonny menatap tajam pada Talita.
“Anda sangat cepat tanggap, bagaimana jika kita menikmat makan siang kedua?” Talita mengambil tisu dan mengelap wajah Jhonny.
“Terimakasih, aku akan makan siang kedua bersama istriku.” Jhonny tersenyum melihat wanita berhijab berjalan memasuki restoran.
“Anda tidak punya banyak waktu.” Talita mendekati Jhonny, meraba dada bidang dan wajah tampan yang berusaha menahan efek dari obat kuat, sentuhan Talita mempercepat kerja racun.
“Tubuh anda sangat seksi, aku telah memesan kamar untuk kita berdua, maaf aku telah lama mencari tahu tentang dua pria es yaitu bos dan asistenya.” Talita berbisik di telinga Jhonny memberikan hembusan hangat dan sedikit jilatan.
Tubuh Jhonny bergetar, Talita membuat Jhonny tidak berdaya, ia mencengram tangan wanita beracun itu, berusaha menahan dirinya, Aisyah yang melihat jhonny begitu intim segera mempercepat langkahnya.
“Apa yang dilakukan mereka?” Asiyah berlari dan mendorong tubuh Talita menjauh dari suaminya hingga jatuh kelantai.
“Aisyah.” Jhonny menarik tubuh Aisyah dan segera mencium bibir istrinya, tangannya memeluk erat tubuh wanita yang ia cintai.
“Apa, wanita itu telah memberikan racun perangsang pada suamiku.” Aisyah mendorong tubuh Jhonny hingga terduduk di kursi wajahnya memerah.
“Tunggu sebentar sayang.” Aisyah mengusap pipi Jhonny yang basah keringat.
“Jangan tinggalkan aku!” Jhonny menahan tangan Aisyah.
“Aku harus menghajar wanita yang berani menggoda suami es ku.” Asiyah mengambil minuman dingin yang ada di atas meja dan menyiramnya ke tubuh Jhonny, ia berjalan mendekati Talita yang berusaha berdiri.
“Sepertinya kamu tidak menggunakan obat biasa.” Aisyah tersenyum, ia melirik Jhonny yang tersiksa.
“Tentu saja , aku adalah ahli kimia.” Talita tersenyum bangga.
“Ahli kimia yang tersesat dan rendahan.” Aisyah menjambak ramput indah Talita.
“Aw, wanita bar-bar.” Talita merasakan perih pada kepalanya dan memegang tangan Asiyah.
“Sebenarnya dulu aku lebih bar-bar dari ini.” Aisyah benar-benar marah, ia tahu Jhonny bukan pria yang mudah digoda wanita.
Tubuh Talita kembali terlempar ke lantai, rok pendek sepaha dan ketat telah sobek, ia benar-benar malu dan menatap benci pada Aisyah, tidak menyangka wanita terlihat lembut itu memiliki kekuatan dan keberanian untuk menyakiti dirinya.
Aisyah masih belum puas, ia berjalan mendekati Talita.
"Aku akan menghancurkan wajah cantik menggoda ini." Aisyah tersenyum, ia mencengkram leher Talita.
“Tolong aku.” Jhonny memeluk tubuh Aisyah dari belakang dengan erat dan gemetar..
“Ah, aku melupakan suamiku yang tersiksa karena racun.” Aisyah membuka pegangan tangan Jhonny, ia melihat kunci kamar hotel yang tergeletak di atas meja.
“Anda benar-benar telah mempersiapkan dengan matang, terimakasih.” Aisyah tersenyum, ia mengambil tas, kunci kamar dan menarik Jhonny berjalan menuju kamar hotel yang telah Talita pesan.
“Wanita sialan.” Talita berteriak kesal.
"Aku tidak akan melepaskan dirimu." Aisyah melirik Talita.
“Aisyah, aku tidak bisa menahan lagi, sangat sakit.” Jhonny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Aisyah segera mengunci pintu dan membantu melepaskan pakaian suaminya.
“Aku tidak mengira akan bercinta dengan suamiku akibat obat perangsang.” Aisyah tersenyum tanpa obat saja Jhonny sudah sangat ganas di atas ranjang.
“Aku hanya bisa pasrah digigit dan dimakan dengan bringas oleh singa jantan ini karena tidak cukup waktu untuk membuat ramuan.” Aisyah telah melepas pakaiannya.
Jhonny benar-benar tidak tahan lagi, ia menarik kasar tangan Aisyah dan menindihnya, melahap setiap bagian dari tubuh wanita itu tanpa terlewatkan begitu buas dan sangat kelaparan, ia melakukan bekali-kali, hingga Aisyah benar-benar tidak sanggup lagi menyeimbangi permainan suaminya.
“Gila, lain kali aku harus menyiapkan obat penawar didalam tasnya.” Aisyah merasa tubuhnya tidak bertenaga lagi. Ada banyak bekas merah dan gigitan di tubuh mulusnya, ia telah menerima beberapa kali hentakan dari Jhonny seakan pria itu tidak ada puasnya.
Jhonny dan Aisyah terkapar di atas tempat tidur, pria itu tidur dengan nyenyak setelah beberapa kali memuntahkan magma dalam gua milik istrinya. Sedangkan Aisyah merasakan sakit pada seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah, bibirnya terasa bengkak.
“Aku bisa mati di atas tempat tidur.” Aisyah berusaha untuk duduk dan manatap wajah tenang Jhonny penuh kepuasan. Seprai sobek, bulu angsa dari bantal dan guling bertebaran di kamar dan berhamburan di lantai.
“Dasar, kamu harus menganti rugi semuanya.” Aisyah mencubit hidung suaminya dengan kesal dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tidak sanggup untuk berjalan ke kamar mandi.
“Sebaiknya aku tidur, seluruh tubuhku sangat sakit.” Aisyah memejamkan matanya.
Perlindungan diri tidak hanya dibutuhkan oleh seorang wanita, karena pria pun bisa dijebak oleh wanita dalam jebakan yang tidak disangka-sangka. Selalu berhati-hati dan jaga diri dimanapun anda berada dan bersama siapapun. Jangan lupa berdoa ketika melangkahkan kaki anda.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.