
Mobil Nathan telah memasuki kawasan kumuh tidak berpenghuni. Sebuah gedung tua tidak terawat menjulang tinggi, burung berterbangan di atas menara.
Suasana mencekam dan tampak menyeramkan, pepohonan yang kokoh dan rindang menyelimuti seluruh bangunan.
Mobil Nathan terus memasuki area parkir yang berada di bagian terdalam gedung. Parkir bawah tanah dengan suasana lembab dan dinding berlumut.
Nathan keluar dari mobil, ia melihat sekeliling dan berjalan menuju sebuah ruangan yang dijadikan tempat pembedahan. Ruangan operasi ilegal yang dilakukan oleh orang kepercayaan Nathan.
Aroma anyir darah menyeruak, menusuk indera penciuman, tetapi itu terbiasa bagi mereka yang memang berada di dunia kedokteran.
Semua orang kepercayaan Nathan adalah ahli di bidang kesehatan dengan kemampuan yang berbeda untuk pembedahan organ tubuh manusia.
"Selamat datang Tuan." Roy mendekati Nathan.
"Apa yang terjadi sehingga gudang di kota diketahui oleh lain?" Nathan menatap tajam kepada Roy.
"Penghianat." Roy berjalan menuju ruangan penjara dan diikuti Nathan.
Seorang pemuda dengan seragam dokter tergantung di dinding dengan tubuh berlumuran darah, ia baru saja menjadi tim bedah Nathan.
"Apa yang keuntungan yang kamu dapat dengan membawa polisi ke Gudang ku?" Nathan mencekik leher pemuda yang baru selesai kuliah.
"Balas dendam." pemuda itu menatap tajam penuh kebencian kepada Nathan.
"Apakah kamu berhasil?" Nathan tersenyum.
"Harusnya kamu nikmati pekerjaan ini dengan gaji yang sangat besar, dalam setengah tahun dapat mengembalikan uang kuliah kamu." Nathan mencengkram dagu pemuda itu.
Pemuda itu meludah tepat di wajah Nathan, seorang pengawal segera memberi tisu kepada Nathan dan seorang lagi langsung memukul wajah pemuda.
Nathan tertawa terbahak-bahak, ia sangat senang dengan keberanian pemuda itu.
"Kamu akan menyesal telah melawan diriku, Candra Wijaya." Nathan tersenyum membaca nama yang menempel di jas putih.
"Cari semua keluarga Candra Wijaya dan jadikan stok organ hidup." Nathan tersenyum.
"Baik Tuan." Dua orang pengawal segera keluar.
"Tidak, Jangan ganggu keluarga ku." Candra berteriak.
"Jika kamu mau balas dendam harusnya ketika kamu hidup sendiri dan tidak punya siapa lagi di dunia ini." Nathan keluar dari ruangan penjara.
"Kau pria gila pemakan daging dan meminum darah manusia." Candra berteriak putus asa.
"Apa yang harus kami lakukan kepada Candra?" tanya seorang penjaga pintu.
"Cadangan permintaan konsumen." Nathan tersenyum.
"Baik Tuan." Penjaga pintu memberi hormat.
__ADS_1
Nathan berjalan menuju sebuah ruangan yang yang dipenuhi manekin organ tubuh. Ia melihat Roy duduk menunggu dirinya.
"Bagaimana dengan laboratorium?" Nathan duduk di kursinya.
"Candra hanya tahu gudang, tetapi ia tidak mempunyai bukti bahwa gedung itu milik Tuan Nathan, Polisi hanya menyegel gudang." jelas Roy.
"Sebelum Polisi datang, aku telah berhasil membersihkan bukti." lanjut Roy.
"Bagus, selidiki semua orang yang berhubungan dengan Candra!" Nathan beranjak dari kursi dan melihat keluar jendela.
"Candra berasal dari daerah sini, sepertinya orang tuanya menjadi korban kekejaman rumah sakit sehingga ia bertekad menjadi dokter dan mencari tahu kebenaran kematian orang tuanya." Roy menyerahkan ponselnya kepada Nathan.
"Ia menemukan ibunya menjadi korban jual organ ilegal." Roy kembali menatap layar komputer.
"Aku telah menyelidiki beberapa orang yang pernah berhubungan dengan Candra dan semuanya dari bidang kesehatan kecuali satu orang dan aku tidak bisa melacak keberadaannya." Roy memutar layar komputer menghadap ke Nathan.
"Hanya foto seorang wanita dan tidak terlihat wajahnya." Nathan menggeser beberapa foto yang muncul di layar komputer.
"Foto wanita ini tersimpan dalam memori ponsel Candra, dan aku belum berhasil melacaknya." Roy melihat kearah Nathan.
"Apa wanita itu adalah keluarganya?" Nathan menatap Roy.
"Bukan, Candra tidak memiliki keluarga lagi." Roy memperlihatkan semua file ponsel Candra yang ada di dalam komputer.
"Tetapi kenapa ia terlihat ketakutan ketika aku minta penjaga untuk mencari keluarganya?" Nathan menatap tajam kepada Roy.
"Mungkin wanita ini satu-satunya yang dianggap Candra keluarganya, ia memberi nama pada foto ini Bidadari ku." Roy menunjukkan nama pada foto kepada Nathan
"Akan sangat menyenangkan membuat anak kecil itu menderita ketika ia melihat wanita yang ia cintai disakiti." Nathan menyeringai.
"Aku rasa Candra mengagumi dan menyukai wanita ini secara diam-diam." Roy memperhatikan setiap foto yang diambil.
Semua foto diambil dengan cara mencuri dan wajah yang sengaja tidak jelas. Candra sengaja mengambil gambar wanita itu dari sudut yang unik.
"Apakah kamu bisa menemukan wanita itu?" tanya Nathan.
"Aku pasti akan menemukannya tetapi butuh sedikit waktu karena aku harus meneliti setiap sudut foto untuk mengenali lingkungannya." Roy kembali berfokus pada layar komputer.
"Aku akan menghancurkan wanita itu dihadapan Candra sebagaimana ia menghancurkan gudang dan menyebabkan kerugian." Nathan mengepalkan tangannya.
"Kirimkan foto wanita itu ke ponselku!" Nathan keluar dari ruangan dan kembali menuju penjara.
"Baik Tuan." Roy segera mengirimkan foto yang Nathan minta.
Nathan tersenyum, ia sangat ingin membuat Candra menderita menggunakan foto wanita yang di sendiri tidak tahu siapa wanita itu.
Pintu penjara terbuka, Candra melihat kearah Nathan dengan tatapan penuh kebencian. Ia sangat ingin membunuh Nathan dan menghancurkan bisnis haram Nathan.
"Siapa wanita ini?" Nathan memperlihatkan layar ponselnya kepada Candra.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah bisa menemukan dirinya, karena ia tidak pernah melihat diriku." Candra tersenyum.
"Ah, arti dari semua foto ini hanya dirimu yang selalu melihat dirinya." Nathan tersenyum.
"Apakah kamu mau bertemu dengan dirinya untuk terakhir kalinya?" Nathan menyentuh wajah Candra.
"Aku telah melihatnya melalui ponsel kamu." Candra tersenyum.
"Benar, aku akan mencari siapa wanita ini sampai dapat." Nathan mencium layar ponselnya.
"Untuk apa kamu mencari dirinya, Dia bahkan tidak mengenali diriku." Candra tersenyum.
"Mungkin Dia akan menjadi kekasihku." Nathan tersenyum.
"Pria jahat seperti dirimu tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti dirinya." Candra menatap tajam kepada Nathan.
"Aku semakin tertantang untuk mendapatkan wanita ini, mungkin aku akan menghancurkan hidupnya atau mengurungnya dalam sebuah kastil mewah agar tidak ada yang bisa bertemu dirinya." Nathan keluar dari penjara.
"Semoga Tuhan selalu menjaga dirimu Bidadari ku." Candra memejamkan matanya mengingat senyuman manis seorang wanita yang selalu membantu dirinya menghadapi kerasnya kehidupan.
Nathan duduk di balkon kamar Gudang yang berada di lantai atas, ia merasa dirinya semakin kacau dengan kehidupan yang ia jalani.
Usia yang tidak muda lagi, tetapi Nathan belum merasakan indahnya surga Dunia berumah tangga.
Nathan melihat kebawah yang terlihat hanya dedaunan rimbu, ia bahkan tidak bisa melihat tanah. Ponselnya berdering panggilan dari Nayla.
"Ada apa lagi dengan Nayla? entah kapan ia akan dewasa dan tidak bergantung pada diriku?" Nathan menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Fauzan telah kembali, tetapi tidak dengan adiknya Ayesha." Nayla membentak Nathan di ponsel.
"Aku tahu, Ayesha telah menikah dengan Kenzo, aku hanya penasaran dengan wajahnya." Nathan tersenyum.
"Kakak harus membantu ku." Suara Nayla terdengar serak.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Nathan khawatir.
"Sebuah formula yang bisa membuat Fauzan jatuh dalam pelukan diriku." Nayla bersemangat.
"Aku akan mengirimkan daftar formula untuk dirimu, kamu bisa memilihnya." Nathan mematikan ponselnya.
"Kenapa kamu tidak mencari pria lain?" Nathan mengirimkan daftar formula yang ia miliki.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.