Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kebahagiaan


__ADS_3

Rumah sakit Samuel.


Nayla telah dipindahkan ke rumah sakit Nathan karena ia tidak mau adik kembarnya akan menghancurkan rencana dirinya. Nathan bersama tim dokter dan perawat miliknya bejalan bersama masu ke ruangan Afifah, mereka semua menggunakan masket meleati Asraf yang duduk di ruang tunggu.


“Tunggu suster, apa yang terjadi pada kakak saya?”Asraf menghadang seorang perawat, ia khawatir.


“Tenang Tuan, dokter hanya memeriksa kondisi pasien.” Perawat masuk keruangan dan mengunci pintu.


Nathan memperhatikan wajah cantik Afifah yang masih tertidur, ia melihat peralatan medis yang melekat pada tangan wanita itu.


“Apakah kamu masih menyuntikkan obat penenang?” tanya Nathan pada dokter wanita.


“Tidak Tuan.” Dokter wanita melihat kearah Nathan pria cerdas dan tampan yang tidak tersentuh.


“Kenapa ia belum bangun?” Nathan menyentuh pipi Afifah.


“Sayang, aku akan menciptakan dunia baru untuk dirimu.” Nathan berbisik ditelinga Afifah.


Dokter wanita bersiap untuk menyuntikkan formula penghapus ingatan pada selang inpus, ia hanya menunggu perintah dari Nathan yang masih memperhatikan wajah Afifah dengan bolat mata yang terlihat bergerak dan membuka perlahan


“Nathan.” Suara Afifah terdengan lembut. Satu kata yang diucapkan Afifah mengejutkan pria yang akan menghapuskan ingatan wanita itu.


“Afifah kamu mengingat diriku?” Nathan terlihat bahagia karena nama dirinya yang pertama kali diucapkan Afifah.


“Tuan jarum telah dimasukan.” Suara dokter wanita menyadarkan Nathan, ia segea menyabut selang infus Afifah.


“Tuan, apa yang anda lakukan?” Dokter wanita terkejut dengan tindakan Nathan.


“Ganti cairan infus!” perintah Nathan, ia tidak mau racun itu akan menghapus dirinya dari ingatan Afifah.


“Baik Tuan.” Perawat segera melaksanakan perintah Nathan.


“Tinggalkan kami berdua!” Nathan mendekati Afifah.


“Sayang, apa kamu mengingat diriku?” Nathan menyentuh pipi Afifah.


“Pria kasar yang suka memukul orang.” Afifah menatap Nathan yang tersenyum bahagia.


Bukan Asraf yang Afifah ingat melainkan dirinya, ia tidak perduli walaupun yang diingat adalah sikap kasarnya yang terpenting dirinya telah tertanam dalam memori Afifah sehingga ia tidak perlu memberikan formula penghapus memory wanita itu.


“Dengar sayang, selama kamu berada disisku, aku tidak akan memukul ataupun menyakiti orang lagi.” Nathan benar-benar bahagia.


“Benarkah?” Afifah menatap Nathan, pria yang menghabiskan hari-hari bersama dirinya.


"Aku janji tetapi kamu juga harus berjanji tidak akan meninggalkan diriku.” Nathan menggenggam tangan Afifah dengan erat.


“Kamu menyakitiku.” Afifah menarik tangannya.


“Maafkan aku sayang, aku terlalu bahagia.” Nathan tersenyum.


“Aku dimana?” tanya Afifah memperhatikan ruangan.


“Dia tidak ingat tentang kecelakaan?” Nathan memperhatikan Afifah.


“Kamu kecelakaan.” Nathan menatap wajah cantik Afifah yang tidak berdosa.


“Apa aku cacat?” Afifah menatap Nathan.


“Tidak, kamu baik-baik saja hanya cedera sedang di otak.” Nathan tersenyum bisa berbicara santai dengan Afifah dan wanita itu terlihat lebih lembut.


“Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?” Afifah memejamkan matanya merasakan sakit di kepala.


“Secepatnya.” Nathan terus tersenyum bahagia, membuat ia semakin tampan.


“Aku sangat ingin memeluk dirimu.” Nathan berbicara di dalam hati.


“Tunggulah sebentar aku harus berbicara dengan seseorang.” Nathan keluar dari ruangan untuk menemui Asraf.


“Dokter bagaiman keadaan kakak saya?” Asraf terlihat khawatir.


“Kakak kamu baik-baik saja, Asraf ada yang mau aku bicarakan dengan dirimu.” Nathan menatap Asraf.


“Baiklah.” Asraf mengikuti Nathan menuj ruangan Samuel.


Nathan mengetuk dan membuka pintu ruangan Samuel yang telah menunggu mereka berdua, pria itu duduk di sofa dan tersenyum.


“Silahkan duduk.” Samuel beranjak dari sofa.


“Terimakasih.” Asraf terlihat tenang.


“Asraf aku langsung saja keintinya, aku adalah kekasih Afifah dan aku seorang ahli kimia.” Nathan menatap tajam pada Asraf.


“Apa maksud kamu? Afifah tidak memiliki kekasih.” Asraf terlihat tidak setuju.


“Kami sudah tinggal bersama selama satu minggu lebih.” Nathan menatap Asraf, ia bisa melihat cemburu di mata pria itu.


“Kamu berbohong.” Mata Asraf terlihat merah.


“Dengar Asraf, aku bisa menyembuhkan penyakit Afifah dan ia akan melupakan semua kenangan yang menyakitkan.” Nathan menyerahkan kertas catatan medis Afifah.


“Kamu tahu ia selalu mendapatkan kekerasan selama hidupnya hingga kedua orang tua kamu meninggal.” Nathan menatap Asraf.


“Kamu mengetahui semuanya?” Asraf menatap pada Nathan.


“Tentu saja, aku menyelidiki semua tentang wanita yang aku cintai agar aku bisa menolong dirinya.” Nathan membuka minuman kaleng yang ada di atas meja dan meneguknya.


“Apa yang harus aku lakukan untuk kesembuhan Afifah?” Asraf menunduk.


“Restui pernikahan ku dengan Afifah.” Nathan memperhatikan Asraf.


“Apakah dia mau menikah dengan dirimu?” tanya Asraf.


“Selama kamu setuju ia pasti mau.” Nathan melihat Samuel yang hanya menjadi pendengar duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


“Aku akan melakukan semuanya untuk kesembuhan Afifah.” Asraf keluar dari ruangan Samuel dan berjalan kembali ke kamar Afifah.


“Bagaimana menurut kamu tentang Asraf?” tanya Nathan pada Samuel.


“Dia mencintai Afifah melebihi cinta seorang saudara.” Samuel beranjak dari kursi dan duduk di samping Nathan.


“Aku berpikir mereka bukan saudara kandung.” Nathan menggenggam kuat kaleng minuman hingga tidak berbentuk lagi.


“Mungkin.” Samuel meneguk minuman kaleng hingga habis.


***


Kamar Rawat Inap


Fauzan berada di dalam kamar Afifah, ia memperhatikan wajah tenang yang terpejam dalam kecantikan yang alami seperti gadis kecil.


“Sampai kapan anda akan memperhatikan saya?” Afifah membuka matanya dan tersenyum, Fauzan mengusap wajahnya dengan santai, ia selalu bisa bersikap tenang.


“Sejak kapan kamu siuman?” tanya Fauzan duduk di samping Afifah.


“Pagi tadi dan orang pertama yang aku lihat adalah Nathan.” Afifah menoleh kea rah lain.


“Apakah kamu mengenal Nathan?” tanya Fauzan menyelidiki.


“Entahlah tetapi yang aku ingat adalah hari-hari terakhir bersama dirinya.” Afifah menatap Fauzan.


“Bagaimana dengan diriku? Apakah kamu tidak mengingat diriku?” Fauzan menunggu jawabanAfifah.


“Aku merasa kita pernah bertemu dan bersama tetapi aku tidak ingat nama kamu.” Afifah memperhatikan wajah Fauzan dengan lekat dan berusaha mengingatnya.


“Aku Fauzan Arsyad, dan Asraf bekerja dengan diriku, apa kamu ingat Asraf?” tanya Fauzan.


“Asraf adikku, dimana dia?” tanpa sengaja Afifah menyentuh dan menggengam tangan Fauzan yang membeku dengan sentuhan lembut Afifah.


“Aku tidak tahu, mungkin sedang mengurus administrasi.” Tubuh Fauzan mengeras, tangannya dingin dan merasa wajahnya panas.


“Terimakasih tolong jaga Asraf.” Afifah tersenyum dan melepaskan tangannya.


“Kenapa aku harus menjaganya, sekarang kamu disini, kalian bisa tinggal bersama.” Fauzan memindahkan tangannya setelah dilepas Afifah.


“Aku akan menikah dengan Nathan.” Tatapan Afifah kosong.


“Kenapa kamu mau menikah dengan Nathan?” Fauzan menatap Afifah.


“Dia mengatakan aku adalah kekasihnya dan dia berjanji akan mengobati diriku dan tidak akan menyakiti orang lagi.” Afifah tersenyum.


“Apa kamu dipaksa menikah dengannya?” tanya Fauzan.


“Kamu banyak bertanya.” Afifah tersenyum lebar memperlihatkan gigi gisulnya, begitu cantik dan manis.


“Kamu selalu terlihat ceria.” Fauzan tersenyum.


“Kakak.” Asraf berlari dan memeluk Afifah.


Fauzan memperhatikan dua bersaudara yang sedang melepas rindu, wajah Asraf terlihat sedih dan penuh kekhawatiran.


"Tidak ada kemiripan sama sekali.” Fauzan pindah dari kursi ke sofa dan membuka ponselnya untuk memantau semua bisnis yang ia jalani.


“Tuan, sejak kapan anda datang.” Asraf menunduk memberi hormat.


“Cukup lama menemani Afifah berbicara.” Fauzan tersenyum dan melirik Afifah.


“Asraf, maafkan kakak yang telah membuat kamu khawatir.” Afifah menggengam tangan Asraf.


“Tidak kak, aku senang bisa bertemu dan bersama kakak.” Asraf menyentuh pipi lembut dan mulus Afifah.


“Permisi Tuan, waktunya Nona Afifah mendapatkan obat.” Seorang perawat berdiri di depan pintu.


“Baiklah, kami akan keluar.” Fauzan beranjak dari sofa berjalan mendekati Afifah dan Asraf.


“Afifah semoga kamu segera sembuh dan memikirkan semuanya dengan matang.” Fauzan tersenyum dan keluar dari kamar.


“Kak, aku keluar dulu.” Asraf mengusap kepala Afifah.


“Bekerjalah, kakak akan baik-baik saja.” Afifah tersenyum cantik.


Fauzan dan Asraf kembali ke pabrik, mereka tidak bisa berlama-lama di rumah sakit, ada banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan dari banyak perusahaan yang Fauzan jalankan, ia benar-benar sibuk di depan layar ponsel dan komputernya.


Melihat Fauzan dan Asraf telah meninggalkan rumah sakit, Nathan berjalan menuju kamar Afifah, ia melihat wanita itu yang kembali memejamkan matanya sehinga bulu lentik menyatu saling bertautan.


“Apakah sayangku sedang tidur?” Nathan berbisik lembut di telinga Afifah yang membuka matanya perlahan.


“Tidak, perawat mengatakan aku akan mendapatkan suntikan obat tetapi tidak ada doker yang datang.” Afifah tersenyum cantik.


“Aku adalah Dokter pribadimu.” Nathan tersenyum dan menyuntikkan jarum pada selang impus.


“Apa yang kamu suntikkan pada diriku?” Afifah menatap Nathan dengan mata indahnya.


“Formula mempercepat penyembuhan dirimu agar kita bisa segera menikah.” Nathan tersenyum.


“Oh.” Afifah memejamkan matanya, pria di depannya sangat tampan dengan pahatan wajah yang keras dan tegas.


“Formula ini tidak akan memberikan efek mengantuk, kenapa kamu memejamkan matamu?” Nathan duduk di samping Afifah.


“Ada banyak pria tampan yang aku lihat.” Afifah tersenyum.


“Apakah kamu mau membuat diriku cemburu?” Nathan menatap mata Afifah yang kembali terbuka.


“Apakah kamu sangat pencemburu?” tanya Afifah.


“Aku sangat takut kehilangan dirimu, aku takut kamu direbut orang dan meninggalkan diriku.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Jika kita tidak berjodoh, sekuat apapun kamu mempertahankanya kita tidak akan bisa bersama.” Afifah tersenyum.

__ADS_1


“Kamu benar bahkan aku telah berkorban segalanya tetapi wanita itu tidak menjadi milikku.” Nathan mengingat semua yang telah ia lakukan pada Nisa.


“Apa kamu mencintai wanita lain?” Afifah tersenyum.


“Ya sebelum bertemu dengan dirimu.” Nathan tersenyum melihat wanita yang telah mengisi hatinya meggantikan Nisa.


“Jangan terlalu mencintai mahkluk ciptaan Tuhan.” Afifah tersenyum


“Kadang penyakit lupa bagus untuk manusia agar tidak larut dalam kesedihan.” Afifah menatap langit kamarnya.


“Apa kamu sengaja menghapus semua memory yang menyakitkan?” tanya Nathan memperhatikan Afifah.


“Awalnya aku sendiri yang berusaha melupakan semuanya hingga akhirnya itu menjadi sebuah penyakit dan kekurangan diriku.” Afifah tersenyum.


“Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dan mungkin aku membutuhkan penyakit lupa untuk merasa bahagia.” Affiah menatap mata tajam pria di depannya.


“Aku tidak ingin kamu melupakan diriku.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Apa kamu tahu tatapan kamu itu mengerikan.” Afifah memicingkan matanya.


“Ah, kamu benar-benar membuatku gila.” Nathan tersenyum lebar dan tulus yang telah lama tidak ia lakukan.


“Apa kamu mencintaiku?” tanya Afifah.


“Ya, aku mencintai, menyukai dan menyayangi dirimu.” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah, ia ingin mencium bibir merah dan mungil menggoda itu.


Sebuah guling menutupi wajah Afifah sehingga Nathan mencium guling berwarna putih, ia tersenyum.


“Kamu tidak boleh melakukan itu.” Afifah berbicara di balik guling.


“Maafkan aku, aku terlalu bahagia.” Nathan mengambil guling dari tangan Afifah dan menyingkirkan ke samping.


“Kamu seperti pria kesepian.” Afifah tertawa.


“Kamu benar dan aku mau kamu meramaikan hari-hariku dengan canda dan tawa yang menggemaskan.” Nathan menatap Afifah.


“Apa kamu tidak bekerja atau makan siang?” Afifah melihat Nathan mengalihkan pembicaraan.


“Dengar sayang, aku adalah pria kaya dan kita akan makan siang bersama di ruangan ini.” Nathan kembali mendekati wajahnya.


“Hentikan, aku akan memukul dirimu.” Afifah menutupi wajahnya dengan selimut.


“Ya Tuhan, aku baru merasakan kebahagian ketika bisa bersama wanita yang aku cintai.” Nathan merebahkan kepalanya di tempat tidur Afifah.


“Nathan, jangan terlalu dekat, aku akan terjatuh dari tempat tidur.” Afifah merasakan tubuhnya sakit ketika ia berusaha bergeser.


“Tidak, kamu tidak boleh jatuh dan terluka lagi.” Nathan beranjak dari kursi dan tersenyum.


“Kamu mau kemana?” Afifah menatap Nathan.


“Apa kamu takut aku akan meninggalkan kamu?” Nathan tersenyum menggoda.


“Lupakan, aku akan tidur.” Afifah memejamkan matanya.


“Aku akan memesan makan siang, aku sudah kelaparan, katakan apa yang mau kamu makan?” Nathan menatap Afifah penuh cinta.


“Apa aku boleh makan?” tanya Afifah tersenyum.


“Tentu saja sayang, selama kamu bersama dengan diriku tidak ada yang tidak mungkin.” Nathan tersenyum, ia menghubungi layanan pesanan makanan dari restaurant ternama.


“Kamu pria yang paling percaya diri di dunia ini.” Afifah tersenyum.


“Tentu saja dan bahkan aku merasa sempurna ketika kamu berada di sisiku.” Nathan kembali duduk di samping Afifah.


“Apa kamu akan bersama diriku sepanjang hari?” tanya Afifah lembut.


“Ya, karena aku mau hanya diriku yang ada dalam memorimu.” Nathan menatap ke dalam bola mata Afifah yang berkilau bagaikan berlian murni.


“Aku akan mengingat dirimu jika kamu mau menjadi pria yang baik dan lebih menahan diri.” Afifah membalas tatapan Nathan.


“Terimakasih, berjanjilah untuk selalu bersama diriku.” Nathan terus menatap wajah cantik Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum tulus.


Terdengar ketukan pintu, seorang pengantar makanan masuk dan memberikan pesanan Nathan, makanan mewah dari restoran ternama. Ia berjalan mendekati Afifah dan menarik meja tepat di depan Afifah.


“Mari kita makan siang bersama.” Nathan menekan remote tempat tidur agar Afifah bisa duduk.


“Kamu hanya memesan satu porsi makanan.” Afifah melihat makanan yang telah di tata Nathan di atas meja.


“Ini namanya makan bersama.” Nathan tersenyum licik.


“Ah, pria ini sangat curang.” Afifah menepuk dahinya.


“Ini bukan curang sayang tetapi cerdas memaknai sebuah kata.” Nathan menyendokkan makanan ke mulut Afifah.


“Aku bisa sendiri.” Afifah mengambil sendok dari tangan Nathan.


“Tidak-tidak, aku akan menyuapi wanitaku yang cantik.” Nathan menahan tangan Afifah.


“Ya Tuhan pria ini benar-benar suka memaksa.” Afifah membuka mulutnya dan makan bersama Nathan.


“Terimakasih, aku sangat bahagia.” Nathan tersenyum menatap wajah mungil Afifah penuh kebahagian.


Nathan merasakan ini adalah kebahagian pertama dalam hidupnya, tersenyum, tertawa dan bercanda bersama wanita yang ia cintai. Harta dan tahta tidak menjamin kebahagian seseorang tetapi cinta yang tulus membuat kehidupan terasa sempurna.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2