Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Aisyah dan Afifah


__ADS_3

Jhonny pulang ke rumah, ia terlihat tidak semangat dan membawa rasa khawatri tentang penyelidikan Ayumi, ia takut Aisyah akan menjadi korban kekaisaran Jepang, jika dirinya melakukan kesalahan yang fatal. Pria tampan dengan wajah datar itu berjalan masuk ke rumah dan mencari istrinya.


“Selamat Sore Tuan.” Kepala pelayan menyambut Jhonny.


“Dimana Aisyah?” tanya Jhonny.


“Maaf Tuan, Nyonya pergi ke rumah Tuan Nathan, untuk bertemu dengan adiknya.” Kepala pelayan menunduk.


“Apa?” Jhonny segera melepaskan tasnya dan kembali ke mobil untuk menyusul Aisyah.


“Kenapa ia tidak memberitahu diriku?” Jhonny berbicara di dalam hati dan memacu mobilnya menuju Villa Nathan.


***


Villa Nathan.


Aisyah dan Afifah duduk di halaman perkarangan, mereka berdua terlihat bercanda, tertawa dan sesekali terlihat sedih. Nathan memperhatikan dua wanita itu dari kejauhan, ia menikmati senyuman dan tawa lepas istrinya yang semakin cantik dan menggemaskan.


“Dia terlihat bahagia bersama Aisyah.” Nathan meneguk kopi panas yang ada di atas mejanya.


“Kapan wanita itu akan pulang? Semoga Jhonny segera datang menjemput istrinya.” Nathan melihat jam di tangan kirinya.


“Kak, Ayo kita mandi bersama, hari sudah sore.” Afifah melihat jam di tangannya.


“Ya, kamu benar, aku mau kita tidur bersama juga.” Aisyah menggenggam tangan Afifah.


“Kakak benar.” Afifah beranjak dari kursi dan bergandengan dengan Aisyah menuju pintu utama dimana Nathan sedang duduk.


“Dokter Aisyah, apa anda mau pulang?” tanya Nathan.


“Tidak, kami mau mandi bersama.” Aisyah tersenyum.


“Sayang, malam ini Kak Aisyah akan menginap disini.” Afifah tersenyum bahagia.


“Nathan, sepertinya kamu harus memanggil aku kakak.” Aisyah menatap tajam pada Nathan.


“Apa?” Nathan melotot.


“Kak Aisyah benar.” Afifah merebahkan kepalanya di pundak Aisyah.


“Baiklah, tapi kamu harus selalu memanggilku sayang.” Nathan tersenyum penuh kemenangan.


“Akan aku lakukan Sayang.” Afifah tersenyum dan menarik tangan Aisyah masuk ke rumah.


“Tunggu dulu, hari ini ia tidak bersama denganku dan malam mereka akan tidur bersama, aku bisa gila.” Nathan mengeacak rambutnya dan terkejut sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti mendadak di depannya.


“Apa lagi ini?” Nathan menatap tajam kearah mobil.


“Dimana Aisyah?” tanya Jhonny ketika keluar dari mobil.


“Tamu tidak sopan.” Nathan berdecak.


“Maaf, apakah Aisyah ada di rumah kamu?” tanya Jhonny lagi.


“Ya dan dia telah merebut Afifah dariku.” Nathan menarik kerah Jhonny.


“Aku akan mengajaknya pulang.” Jhonny menunduk.


“Tidak, Affiah terlihat bahagia bersama Aisyah, mereka sedang mandi bersama, sebaiknya kamu duduk.” Nathan melepaskan tangannya.


“Apa?” Jhonny menatap Nathan.


“Tidak usah terkejut, mereka adalah saudara yang terpisah lama dan belum sempat menikmati kebersamaan.” Nathan memanggil pelayannya.


“Katakan kamu mau minum apa?” Nathan melihat kearah Jhonny.


“Apa kamu akan meracuni diriku?” tanya Jhonny.


“Jika aku meracuni dirimu dua saudara itu bisa menemukan penawarnya.” Nathan tersenyum.


“Maksud kamu?” tanya Jhonny.

__ADS_1


“Buatkan kopi untuk tamu kita!” perintah Nathan pada pelayannya.


“Baik Tuan.” Pelayan segera pergi ke dapur.


“Kamu terlihat santai.” Jhonny melihat Nathan.


“Aku sedang mengawasi istrimu jangan sampai ia membawa Afifah pergi keluar dari rumah ini.” Nathan menatap tajam pada Jhonny.


“Aku juga mengkhawatirkan istriku, kamu pasti tahu resiko dari semua pekerjaan kita.” Jhonny membuka jasnya.


“Eh, kenapa kamu membuka jas?” tanya Nathan.


“Sepertinya Aisyah tidak akan pulang jadi aku akan menginap disini.” Jhonny tersenyum.


“Apa yang mau kalian lakukan dirumahku?” Nathan memijit batang.


“Silahkan Tuan.” Pelayan meletakkan kopi diatas meja.


“Aku tidak berani membantah Aisyah dan aku tidak mungkin jauh darinya.” Jhonny meneguk kopinya.


“Kenapa kalian berdua sama anehnya.” Nathan beranjak dari kursi dan masuk ke dalam rumah, Jhonny mengikuti Nathan dengan membawa kopinya.


“Hey, kenapa kamu mengikuti diriku?” tanya Nathan menoleh pada Jhonny.


“Apa aku harus duduk di luar hingga malam?” tanya Jhonny tanpa dosa.


“Paman, antarkan tamu kita ke kamar, ah dia adalah saudara ipar Afifah.” Nathan menaiki tangga kamar.


“Baik Tuan.” Kepala pelayan tersenyum.


“Dimana Nyonya Afifah?” tanya Nathan.


“Di kamar paling ujung Tuan.” Kepala pelayan menunduk.


“Apa? Itu kamar yang paling dekat dengan kamar Roy.” Nathan segera berjalan menuju kamar ujung diikuti Jhonny yang langsung memberikan cangkir kopinya kepada kepala pelayan.


“Kenapa kamu mengikutiku lagi?” Nathan kesal.


“Ya Tuhan.” Nathan mengacak rambutnya dan melanjutkan langkah kakinya.


“Ada apa Tuan?” Roy keluar dari kamar dan hampir menabrak Nathan.


“Apa Afifah dan Aisyah berada di sebelah kamar kamu?” tanya Nathan.


“Iya Tuan.” Roy melihat Jhonny.


“Kamu mau kemana?” tanya Nathan pada Roy.


“Aku akan pergi ke kantor computer pusat, apa boleh?” tanya Roy.


“Apa kamu baik-baik saja?” Nathan balik bertanya.


“Ya, aku akan menyelesaikan semuanya untuk anda.” Roy tersenyum.


“Terimakasih, kamu harus berhati-hati, segera hubungi aku jika butuh sesuatu.” Nathan menepuk pundak Roy.


“Baik Tuan, saya permisi.” Roy menunduk dan berlalu.


“Sayang, apa kamu di dalam?” Nathan mengetuk pintu kamar.


“Ya.” Afifah mengeluarkan sedikit kepalanya dan tersenyum.


“Apakah kalian sudah selesai mandi, Jhonny merindukan istrinya.” Nathan tersenyum dan melirik Jhonny.


“Sayang, ajaklah kak Jhonny mandi dan mengganti pakaian terlebih dahulu.” Afifah tersenyum dan menutup pintu.


“Sayang.” Nathan menahan tangan Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum.


“Kemarilah, biarkan Jhonny dan Kak Aisyah memakai kamar ini untuk sementara.” Nathan tersenyum.

__ADS_1


“Ah baiklah, akan aku katakan pada Kak Aisyah.” Afifah tersenyum cantik.


“Tidak perlu sayang, kemarilah.” Nathan menarik tangan Afifah keluar kamar.


“Jhonny, kamu masuk saja dan kunci pintu.” Nathan menatap tajam pada Jhonny yang segera bergerak mendekati pintu.


“Ayo Sayang, aku belum mandi.” Nathan menarik tangan Afifah menaiki tangga kamar mereka.


“Maafkan aku, aku melupakan dirimu.” Wajah Afifah memelas.


“Tak apa aku sedang mengingatkan dirimu.” Nathan tersenyum dan mencium dahi Afifah.


“Sayang, mandilah, aku akan menyiapkan baju ganti.” Afifah berjalan menuju lemari raksasa yag menempel di dinding ruang ganti.


“Tidak Sayang, kamu harus menemani diriku mandi, seharian kamu bersama kakak kamu.” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Tapi aku sudah selesai mandi.” Wanita itu mulai khawatir, ia yakin Nathan tidak hanya minta ditemani mandi.


“Kita akan mandi bersama.” Nathan menggendong Afifah dan membawanya ke kamar mandi, menurunkan tubuh istrinya di bawah shower dan membukan keran.


“Aah Nathan.” Afifah terkejut, pria itu segera mencium bibir mungil yang menggoda di bawah guyuran air dari Shower. Tangannya mulai membuka resleting yang terdapat di bagian depan gamis Afifah.


“Aku sangat merindukan dirimu.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Tunggu Sayang, aku akan membuka hijabku.” Afifah menahan tangan Nathan.


“Baiklah.” Pria itu mundur dan membuka pakainya.


“Kemarilah, aku tidak bisa menahannya lagi.” Nathan memakan telinga dan leher Afifah serta menikmati bibir yang basah.


“Apa kamu meminum formula?” Afifah berusaha menahan desahannya.


“Aku tidak membutuhkan itu untuk bercinta.” Nathan menggigit telinga Afifah hingga membuat wanita itu berteriak dan melanjutkan perang mereka di tempat tidur.


***


“Sayangku Jhonny.” Aisyah tersenyum melihat Jhonny yang masuk ke kamar.


“Apa kamu mau pulang?” tanya Jhonny pelan.


“Tidak, malam ini aku akan tidur bersama adikku.” Aisyah membuka kancing kemeja Jhonny.


“Aku akan tidur dimana?” tanya Jhonny.


“Sayang, ada banyak kamar di rumah Nathan dan kamu juga bisa tidur dengan pria itu.” Aisyah tertawa.


“Apa kamu mau dia membunuhku?” Jhonny menatap Aisyah.


“Dia tidak akan melakukan itu.” Aisyah mengecup bibir Jhonny.


“Mandilah, aku akan mengambil pakaian ganti untuk kamu di mobil.” Aisyah tersenyum.


“Aku tidak mempersiapkan pakaian ganti.” Jhonny membuka ikat pinggangnya.


“Tapi aku sudah mempersiapkan semuanya untuk suamiku.” Aisyah mencubit dagu Jhonny dan berjalan keluar kamar. Pria itu segera membersihkan dirinya di kamar mandi dan keluar dengan menggunakan baju handuk. Ia duduk di tepi tempat tidur dan menunggu Aisyah.


“Aku akan memberikan nyawaku untuk menjaga dirimu.” Jhonny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia sangat lelah tetapi ada kebahagian yang ia rasahan dnegan mempunyai seorang istri yang mencintai dan perhatian pada dirinya.


“Sayang.” Aisyah melihat Jhonny tertidur dengan baju handuk.


“Sayang, apa kamu lelah?” Aisyah mencium bibir Jhonny.


“Ya.” Jhonny membalas ciuman istrinya hingga tak ingin melepaskan, rasa lelah dan letih hilang begitu saja ketika mendapatkan kemesraan yang intim dari seorang wanita yang ia cintai.


Dua pasangan halal menikmati surga dunia yang Tuhan ciptakan sebagai ibadah indah dengan rasa cinta, kasih sayang dan rindu.


***LoveYouAll***


Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.


Baca juga Novel Author yang ada di Innovel/ Dream berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2