Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Afifah


__ADS_3

Afifah berjalan ke bagian depan klinik, ia mengambil buku kunjungan dan kembali ke dalam ruang dimana Nathan dan Roy.


"Apakah anda bisa menulis?" Afifah mendekati Nathan dengan tersenyum ramah.


"Kamu telah membuat tanganku patah, jadi tuliskan untuk ku." Nathan tersenyum.


"Baiklah." Afifah berjalan mendekati Roy yang sedang duduk di kursi.


"Hey, kenapa kamu pergi?" Nathan kesal.


"Siapa nama anda?" tanya Afifah kepada Roy.


"Roy Meitra." Roy menatap Afifah yang sedang menulis nama dirinya di buku.


"Nama teman kamu?" Afifah menoleh kepada Roy.


"Aku masih bisa berbicara, tanyakan namaku padaku." Nathan menatap tajam kepada Afifah.


"Maafkan aku." Afifah tersenyum.


"Siapa nama anda Tuan?" Afifah melihat kearah Nathan.


"Kemari lah." Nathan tersenyum.


"Aku bisa mendengarkan kamu dari sini." Afifah tersenyum manis membuat jantung Nathan berdetak tidak beraturan.


"Apa kamu tidak bisa menyebutkan nama kamu?" Afifah menggoyangkan pena di tangannya.


"Nathan Aguero." Nathan kesal.


"Terimakasih." Afifah menulis nama Nathan pada buku.


"Silahkan tuliskan alamat kalian sesuai KTP, kalian juga bisa menginap karena malam semakin larut, jalanan berbahaya di malam hari." Afifah tersenyum dan meninggalkan Nathan dan Roy.


"Dia sangat lucu dan menggemaskan." Nathan tersenyum dan berbicara di dalam hatinya.


"Aku kira tidak akan bertemu dengan wanita yang lucu dan manis." Roy bergumam melihat Afifah meninggalkan mereka.


Afifah bersama dokter Riyan duduk di bagian depan klinik, beberapa pasien datang untuk berobat. Tepat pukul sepuluh klinik di tutup dan Afifah bersiap untuk pulang.


"Apa kamu akan pulang?" tanya Nathan kepada Afifah.


"Tentu saja, tidak mungkin aku tidur disini." Afifah tersenyum dan membereskan semua berkas.


"Apakah kamu akan kembali?" tanya Roy.


"Tidak, karena pagi hari aku harus mengajar." Afifah menggunakan jaketnya.


"Kalian tidurlah dengan nyenyak." Afifah tersenyum dan meninggalkan ruangan Roy dan Nathan.


Dokter Riyan mendekati Nathan dan Roy, ia melihat dua pria tampan dari kota masih duduk.


"Tidurlah, besok kalian bisa melanjutkan perjalanan pulang ke kota." Dokter mematikan lampu.


"Terimakasih Dokter." Roy berdiri dan memberi hormat.


"Sama-sama." Dokter Riyan tersenyum dan meninggalkan ruangan.


"Tuan, saya akan tidur di kamar sebelah." Roy meninggalkan Nathan dan pergi ke ruangan sebelah.


"Tidurlah." Nathan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Afifah melihat mobil Nathan yang masih terbuka dan kunci masih tergantung pada tempatnya, ia segera menutup semua kaca dan mengunci mobil.


"Aku harus mengembalikan kunci ini." Afifah berjalan kembali ke klinik.


"Afifah, kamu belum pulang?" Dokter Riyan keluar dari klinik.


"Aku mau mengembalikan kunci ini." Afifah menyerahkan kunci kepada dokter Riyan.

__ADS_1


"Bisakah kamu mengantarkan sendiri, aku sudah kebelet mau ke kamar mandi." Dokter Riyan berjalan cepat ke rumahnya yang berada di samping klinik.


"Ah Dokter." Afifah melihat klinik sudah gelap.


"Aku akan meletakkan kunci di atas meja brankas." Afifah berjalan masuk ke ruangan Nathan, ia meletakkan kunci di atas meja.


Keluar perlahan dan ia menabrak tubuh tinggi dan kekar seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi.


"Astaghfirullah." Afifah merasakan hidungnya sakit mengangkat kepalanya.


Afifah hampir berteriak terkejut melihat wajah pria yang begitu dekat, dengan cepat Nathan menutup mulut Afifah dengan tangannya. Mata Afifah melotot melihat kearah Nathan.


"Apa kamu mau aku dipukuli warga desa?" Nathan tersenyum melihat Afifah yang geleng-geleng.


Tangan besar itu hampir menutupi seluruh wajah mungil Afifah, ia kesulitan bernapas karena hidungnya yang juga tertutup. Afifah menarik tangan Nathan dengan kuat agar melepaskan dirinya.


"Apa kamu mau membunuhku." Afifah menghirup udara agar oksigen kembali terisi di dalam saluran pernafasan.


"Maafkan aku." Nathan kebingungan.


"Aku hanya mengembalikan kunci mobil." Afifah segera keluar dari ruangan Nathan yang tersenyum.


"Tangannya sangat lembut dan wajahnya sangat halus." Nathan naik ke atas tempat tidur, memejamkan mata dalam senyuman.


Afifah mengendarai motor matic menuju rumah sederhana tetapi indah milik dirinya. AMemasukkan motor dalam garasi, membersihkan diri dan tidur nyenyak di kamarnya.


***


Afifah telah bersiap berangkat ke sekolah, ia selalu pergi lebih pagi agar bisa menyambut siswa-siswi di depan gerbang sekolah.


Ponsel Afifah berdering, panggilan dari Asraf adik satu-satunya. Afifah tersenyum, ia berharap pekerjaan Asraf telah selesai, ia sangat merindukan saudaranya.


"Assalamualaikum." Suara lembut Afifah terdengar di telinga Asraf.


"Waalaikumsalam kak." Asraf menjawab pelan.


"Apa kabar kamu, kapan kamu akan pulang?" tanya Afifah lembut.


"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Afifah.


"Belum kak, tapi bisa ditunda." Asraf benar-benar ingin bertemu dengan kakaknya, ia sangat sedih karena tidak bisa menjaga dan melindungi Afifah.


Padahal kedua orang tua mereka telah berpesan agar Asraf menjaga Afifah dan selalu bersama.


"Selesaikan pekerjaan kamu, kakak tidak mau kamu terburu-buru ketika berada di rumah." Suara Afifah terdengar pelan.


"Tapi kak, Tuan Fauzan mengajak aku pulang ke desa." Asraf sangat mengenal kakaknya yang bekerja sepenuh hati.


"Selesaikan tanggung jawab kamu, pulanglah jika sudah selesai." Afifah menarik napas, ia berharap Asraf segera pulang.


"Baiklah." Suara Asraf terdengar sedih, lima tahun ia tidak bertemu dengan kakaknya, ada rindu yang tidak bisa diungkapkan.


Panggilan diputuskan, Afifah tersenyum menghadap cermin di dalam kamarnya, ia menahan kesedihan dan kerinduan yang tersimpan di dalam hatinya.


Afifah mengambil tas kerja dan berjalan keluar dari kamar, ia membuka pintu depan dan menguncinya.


Motor telah terparkir di depan pintu dan telah siap menemani perjalanan Afifah menuju sekolah dasar negeri 1 Sinjay.


Afifah terkejut, seorang pria berdiri tegap tersenyum tampan kepada dirinya di depan pintu pagar rumah yang masih terkunci.


"Apa yang anda lakukan sepagi ini di depan rumah orang?" Afifah membuka pintu pagar karena ia harus pergi bekerja.


Nathan memperhatikan Afifah, ia sangat terpesona melihat seorang guru dengan pakaian dinas seorang pegawai negeri sipil berwarna kuning kaki lengkap dengan atribut, hijab berwarna mustard dan sepatu pantofel.


Afifah sangat rapi dan cantik, wajah putih bersih serasi dengan warna hijabnya, yang selalu tersenyum ramah dan manis.


"Halo Apa yang anda lakukan di depan pintu pagar aku harus keluar." Afifah telah duduk di atas motor dan siap keluar dari perkarangan.


"Sampai jam berapa kamu bekerja?" tanya Nathan yang masih menghalangi Afifah.

__ADS_1


"Jam dua siang, kenapa?" Afifah tersenyum dan melihat tangan Nathan yang tidak di pasang gip.


"Aku akan menunggu dirimu." Nathan menatap wajah cantik Afifah yang tidak puas untuk dipandang.


"Apa kamu tidak pulang ke kota?" tanya Afifah.


"Aku akan pulang setelah bertemu dengan dirimu." Nathan terus memperhatikan Afifah.


"Kita sudah bertemu, kamu boleh pulang dan jangan lupa periksa kembali ke rumah sakit." Afifah tersenyum dan melambaikan tangannya meminta Nathan menyingkir dari hadapannya.


"Kenapa?" Nathan menatap tidak suka, ini pertama kalinya ia diusir oleh seorang wanita.


"Aku harus pergi bekerja, sebagai pegawai pemerintah aku tidak boleh terlambat." Afifah tersenyum karena tidak mau menyinggung Nathan.


"Bisakah kita bertemu lagi?" Tangan Nathan memegang stang motor Afifah.


"Tentu saja." Afifah tersenyum dan mengeluarkan motor dari halaman, ia memasang kaki motor dan mengunci pintu pagar.


"Assalamualaikum." Afifah mengendarai motor meninggalkan Nathan yang tersenyum melihat kepergian Afifah.


"Dia sangat kompleks, lembut, ramah, lucu, jujur dan menggemaskan." Nathan diantar oleh seorang warga yang bekerja sebagai petugas kebersihan di klinik.


Roy menghidupkan dan memeriksa mesin mobil, bagian depan terlihat lecet karena menabrak pohon tetapi mobil masih bisa mangantar Nathan dan Roy kembali ke kota.


"Anda dari mana Tuan?" tanya Roy melihat Nathan turun dari motor.


"Jalan-jalan untuk melihat pemandangan yang indah dan cantik." Nathan tersenyum.


"Nayla menghubungi anda berkali-kali." Roy menyerahkan ponsel Nathan yang ia temukan di bagian bawah mobil.


"Apa kamu sudah memberitahu bahwa kita kecelakaan?" Nathan menerima ponselnya.


"Aku tidak menerima panggilannya." Roy mengambil tas berisi pakaian ganti di bagasi mobil.


"Dia pasti mengamuk dan menghancurkan kamarnya." Nathan tersenyum.


"Kenapa anda tersenyum?" Roy menatap Nathan.


"Tak apa, sebaiknya kita mandi dan mencari tempat makan untuk sarapan." Nathan berjalan masuk ke dalam klinik.


Roy mengikuti langkah kaki Nathan, ia berharap bisa melihat Afifah sebelum pulang ke kota. Nathan membayar mahal untuk biaya perawatan dan menginap di klinik, ia dan Roy mengambil nomor ponsel Afifah tanpa saling mengetahui.


Nathan melihat Roy yang telah selesai mandi dan berpakaian rapi sedang fokus melihat layar komputer di teras rumah Dokter Riyan.


Roy melihat latar foto yang sama dengan klinik. Ada banyak foto dan latar berbeda tetapi dengan objek foto yang sama yaitu seorang wanita berhijab.


"Apakah wanita ini adalah Afifah?" Roy berbicara di dalam hati, ia sangat khawatir tentang apa yang akan Nathan lakukan untuk menyiksa Afifah.


Roy memindahkan beberapa foto ke ponselnya, ia akan berkeliling desa untuk menemukan tempat yang sesuai dengan latar foto.


"Kamu mau kemana?" Nathan memperhatikan Roy yang telah mematikan komputer.


"Bukankah kita akan sarapan?" Roy berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Dokter Riyan telah menyiapkan sarapan untuk kita." Nathan masuk ke dalam rumah, mereka sarapan bersama keluarga Dokter Riyan.


Nathan dan Roy memiliki pemikiran yang sama yaitu bertemu kembali dengan Afifah, bidadari desa yang ramah dan cantik.


Seorang guru di siang hari dan menjadi perawat di malam hari. Afifah mengisi harinya dengan banyak kegiatan agar ia tidak larut dalam kesepian dan kesendirian.


Di sekolah Afifah dihormati, dicintai dan disayangi oleh murid-muridnya. Mengajar dan mendidik dengan sabar dan penuh kasih sayang. Suka menolong sesama rekan di manapun ia berada.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2