
Pesta pernikahan berjalan dengan lancar hingga selesai, tamu undangan telah meninggal tempat pesta.
Semua keluarga bersiap kembali ke rumah.
Nisa berada di kamar membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia melihat 2 kotak kecil di meja rias, satu dari Robby yang berisi kunci mobil dan satu lagi dari Nathan yang belum ia buka.
Suara ketukan pintu, Nisa menoleh Pintu telah terbuka, seorang pria yang kini sah menjadi suami Nisa, Stevent melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, ia melihat Nisa telah berganti pakaian dan menggunakan hijab panjang.
" Kamu belum ganti pakaian?" tanya Nisa berdiri menghadap Stevent.
" Aku mau kamu membantu mengganti pakaian ku " Stevent mendekat dan mencium pipi Nisa.
" Ih Geli " Nisa menghindar, bulu kuduknya berdiri bahkan semua rambut - rambut halus pada lengan Nisa berdiri.
Hidung Stevent baru menyentuh sedikit saja, ia sudah lari sejauh mungkin.
" Hei kenapa kamu harus berlari sejauh itu" Stevent menatap Nisa
" Aku takut refleks memukul kamu, aku geli dengan sentuhan " Nisa berdiri di atas tempat tidur.
Stevent menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus marah atau tertawa.
" Baiklah, aku tidak akan menyentuh kamu, sekarang bantu aku melepaskan pakaianku " Stevent membuka kancing jas hitam miliknya.
Nisa perlahan turun dari tempat tidur dan membantu Stevent membuka jas yang Stevent kenakan selama acara pernikahan.
Stevent terus memperhatikan Nisa dengan sangat menggoda, ia melihat bibir merah merona dan basah, Stevent menundukkan kepalanya bersikap melahap bibir Nisa Namun.
" Kakak, ayo pulang " Sebuah teriakan cempreng dari suara Viona mengagetkan Stevent membuat ia kesal.
Nisa memutar tubuhnya yang langsung di peluk Viona.
" Aku senang sekali akhirnya kamu menjadi Kakak ku" Viona mengeratkan pelukannya pada Nisa.
" Iya aku juga senang, Lepaskan, dadaku sesak " Ucap Nisa kesulitan.
" Lepaskan" Stevent menarik tubuh Viona dan memisahkan dari Nisa, menatap tajam Viona.
" Semua sudah menunggu di bawah " ucap Viona mundur dari Nisa dan takut.
" Katakan kepada semuanya, kami Tidak pulang, Kakak sudah check in kamar " Stevent menarik tangan Nisa.
"Eh, mau kemana ? " ucap Nisa dan melirik Viona yang melambaikan tangannya dengan senyuman aneh.
"Aku sangat lapar " ucap Stevent ia menggandeng dan menggenggam erat tangan Istrinya menuruni tangga diikuti Viona.
" Stevent sayang, ayo kita pulang " Mama mendekati Stevent dan memperhatikan Nisa.
" Kita tidak pulang Ma, aku dan Nisa tidur di hotel ini, Kalian semua pulang dan beristirahat lah " ucap Stevent.
" Kalian mau kemana?" tanya Papa.
" Makan " Stevent segera menarik tangan Nisa meninggalkan semua orang yang dari tadi menunggu mereka.
Mereka berjalan menuju mobil Stevent.
" Kita mau makan dimana, malam sudah sangat larut " ucap Nisa.
" Restoran kesukaan ku, buka 24 jam " Stevent melirik Nisa dan fokus mengendarai mobilnya.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran Makanan khas tradisional namun berkelas. Stevent menatap Nisa.
" Kenapa ?" ucap Nisa melihat Stevent dan akan membuka pintu mobil namun masih terkunci.
Nisa melihat Stevent.
" Katanya lapar tetapi kenapa belum keluar juga ?" Nisa tersenyum, Stevent melepaskan sabuk pengaman ia memiringkan tubuhnya menghadap Nisa, mendekat wajahnya pada Nisa.
" Bolehkah aku mengambil sebuah ciuman dibibir kamu?" Stevent menatap Nisa tanpa berkedip dan tatapan pindah ke bibir Nisa.
Wajah Nisa memerah, ia merasa ngeri dengan kalimat Stevent, tangannya berusaha membuka pintu mobil yang masih terkunci.
__ADS_1
Stevent terus mendekatkan wajahnya, nafas Nisa tidak beraturan, Jantungnya berdetak lebih cepat, Stevent dapat melihat dada Nisa turun naik, tangan Nisa gemetaran.
Salah satu tangan masih berusaha membuka pintu dan satu lagi telah basah oleh keringat, jari - jari Nisa menggenggam erat ujung Jilbab.
Nisa dapat merasakan hembusan hangat nafas dari mulut Stevent yang sedikit terbuka.
Bibir Stevent telah mendarat aman di atas bibir Nisa, membuat otot - otot Nisa menegang, ia berhenti bernafas , matanya melotot, Stevent memejamkan matanya melumat bibir lembut Nisa.
Bibir Nisa semakin basah, Stevent terus menikmati kelembutan bibir yang pertama kali di sentuh oleh Stevent.
Stevent menghentikan ciumannya, ia menatap Nisa yang terdiam dengan ekspresi terkejut, Stevent tersenyum.
" Sangat menggemaskan " pikir Stevent yang kembali akan melumat bibir Nisa, namun bibirnya mendarat di punggung tangan Nisa yang telah menutup mulutnya.
Stevent terdiam dan kembali duduk kekursinya, ia memperhatikan jari - jari Nisa gemetaran.
" Kenapa, apa kamu takut padaku ?" tanya Stevent tersenyum dan Nisa hanya menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih menutup mulutnya.
Stevent keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Nisa yang masih terdiam di dalam mobil. Ia merasakan kakinya lemas tidak bertenaga. Seakan Stevent telah menghisap habis tenaganya melalui ciuman.
Stevent menatap Nisa yang masih dalam posisi yang sama.
" Apa aku harus mengendong kamu ?" Stevent berbisik di telinga Nisa yang menoleh ke arah Stevent dan kembali menggeleng.
" Ada apa dengan wanita ini, di cium takut, di sentuh geli ?" pikir Stevent
Ia segera menggendong Nisa keluar dari mobil.
" Aa Aku bisa berjalan sendiri " ucap Nisa gugup
" Aku akan mati kelaparan jika harus menunggu kamu keluar dari mobil " Stevent berjalan menuju Pintu masuk, seorang pelayan telah mengunggu Stevent.
Semua mata menatap Stevent yang sedang menggendong Nisa.
" Selamat Malam Tuan , silahkan " Seorang pelayan menyapa dan mengantarkan Stevent kepada meja yang telah ia pesan.
Pelayan menarik kursi dan Stevent menurunkan Nisa yang segera duduk di kursinya, Stevent duduk di samping Nisa sangat dekat.
Beberapa pelayan telah menata menu makanan sesuai pesanan Stevent. Ada banyak makanan di atas meja.
" Apa kamu akan menghabiskan makanan ini " Nisa berbicara dengan sedikit menggigit bibirnya. Nisa merasa aneh dengan bibirnya.
" Jangan menggigit bibirmu, itu sangat menggoda " bisik Stevent, Nisa memindahkan kursinya menghindari Stevent.
" Jika kamu menjauh sedikit lagi, aku akan meletakkan dirimu di pangkuan ku " Ancam Stevent.
" Bacalah Doa dan makan " Nisa membaca doa dan bersiap untuk menikmati makan malam.
Stevent memperhatikan Nisa dan melakukan hal yang sama, Mereka menikmati makan malam bersama.
Sepasang mata memperhatikan Nisa dan Stevent dari sudut ruangan yang juga sedang menikmati makan malamnya.
Tatapan penuh kebencian dan kecemburuan.
" Kebahagiaan dan keberuntungan dirimu cukup sampai di sini, akan aku hentikan dengan caraku"
Nisa dan Stevent telah menyelesaikan makan malam mereka.
" Kamu mau kemana setelah ini ?" tanya Stevent melihat Nisa sedang mengeringkan mulutnya.
" Aku mau pulang, lelah, ngantuk, mau istirahat " Nisa meletakkan tisu di atas piring kotor.
Nisa dan Stevent beranjak dari kursi berjalan menuju mobil dan kembali ke kamar mereka di Hotel.
Nisa mendahului Stevent masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok Gigi.
Nisa keluar dari kamar, duduk di depan meja rias, Stevent berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, merasakan segarnya air hangat mengalir di tubuh, ia keluar dari dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk berwarna putih menutupi pinggang hingga lututnya.
Ia mendekati Nisa dan memeluknya dari belakang, Nisa dapat mencium aroma maskulin dari tubuh Stevent yang masih basah.
Nisa mulai bergidik geli, rambut - rambut halus pada kulitnya mulai berdiri, Nisa berusaha menenangkan diri.
__ADS_1
" Ya Tuhan, apa yang aku rasakan?" Nisa mengusap tangannya, Stevent menahan tawa.
Stevent menarik tangan Nisa perlahan keluar dari balik kursi meja rias menghadap Stevent.
Nisa memejamkan matanya, ia tahu Stevent masih bertelanjang dada. Stevent tersenyum menggoda, ia merasa lucu melihat tingkah Nisa.
" Bukankah kamu seorang Dokter dan biasa melihat tubuh telanjang manusia "Stevent berbisik di telinga Nisa.
" Itu situasi yang berbeda " Ucap Nisa
" Kenapa, apa kamu takut tergoda melihat tubuh seksi berotot milikku?" tangan Stevent melingkar di pinggang Nisa.
Nisa semakin memejamkan matanya. Stevent memperhatikan Nisa.
" Bolehkan aku membuka kain penutup kepalamu?" Stevent berbisik di telinga dan memeluk Nisa. Air pada tubuh Stevent membasahi gamis Nisa.
" Aku sedang mentruasi " jawab Nisa gugup.
" Aku tidak akan menyentuh tubuhmu, hanya ingin melihat Istriku tanpa jilbabnya" Stevent memeluk tubuh Nisa penuh kasih sayang, ia menghirup aroma harum dari pakaian Nisa.
" Lepaskan pelukanmu aku akan membuka jilbab ku " Nisa berucap lembut.
" Aku yang akan membukanya, katakan dari mana aku memulai " Stevent melepas pelukannya dan menatap Nisa.
Nisa melepaskan bross cantik di pundaknya, menunjukan dagunya dan mengangkat sedikit wajahnya, Stevent melihat sebuah peniti melekat di sana.
" Aku tidak mau membuka peniti itu, kamu saja yang buka " Stevent mengurungkan niatnya.
" Kenapa?" tanya Nisa heran
" Aku tidak mau membuat kamu terluka " ucap Stevent khawatir, Nisa segera membuka peniti dan meletakkan di atas meja.
Ia tersenyum berdiri menghadap Stevent dengan kain yang masih menutupi kepalanya namun sudah tidak rapi lagi.
Stevent mengambil kain penutup kepala dan meletakkan di atas tempat tidur, Stevent memperhatikan Nisa yang masih terpejam, tangan Nisa menarik dalaman jilbab.
Rambut panjang hitam lurus dan berkilau tergerai melewati bahu Nisa hingga sampai ke pinggang.
Nisa menunduk, Stevent terkejut, ia benar-benar melihat seorang bidadari di depannya, Stevent menyentuh dagu Nisa dan sedikit mengangkatnya. Merapikan rambut Nisa yang berantakan, Leher jenjang putih bersih terlihat.
" Kamu sangat cantik" ucap Stevent menyentuh leher putih mulus Nisa yang mulai merasakan geli, Nisa memegang tangan Stevent berharap Stevent melepaskan dirinya tapi yang terjadi adalah Stevent mencium leher Nisa memberikan tanda merah kepemilikannya di sana.
Nisa menyentuh lehernya.
" Apa kamu Drakula?" Nisa mengusap lehernya.
" Aku belum mulai sayang " Stevent segera melumat bibir lembut Nisa.
" Cukup" tangan Nisa menyentuh bibir Stevent.
" Kenapa?" Stevent menatap Nisa.
" Aku lelah dan nanti kamu kebablasan " Nisa berjalan menuju lemari pakaian dan memberikan piyama kepada Stevent.
" Aku mau tidur " Nisa mengecup pipi Stevent membuat Stevent tersenyum bahagia.
Stevent segera mengganti pakaiannya dan naik ke atas tempat tidur memeluk Nisa.
" Berapa lama aku harus menunggu?" Stevent berbisik
" Sekitar 3 hari lagi " Nisa membenamkan wajahnya di dada Stevent.
" Hah, lama sekali " Stevent mendengus Kesal.
Mereka tidur dalam pelukan hangat, dengan detak jantung saling berpacu Tidak beraturan.
*
*
*
__ADS_1
💓 Thanks for Reading ♥️
😘Love you Readers 🤗