Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Orang Tua Afifah


__ADS_3

Rumah Sakit


Afifah bosan berada di dalam ruangan Nathan karena pria itu tertidur pulas setiap kali selesai menggunakan obatnya, wanita cantik dengan wajah imut keluar dari kamar dan berjalan menuju taman rumah sakit. Ia duduk di bawah pohon Bugenfil yang sedang berbunga lebat tanpa daun.


Hatinya terasa hampa merindukan suasana desa, taman dan kebun yang ada di sekitaran rumahnya. Mata indah Afifah melihat keran air yang terbuka dengan selang tergeletak di rumput, ia tersenyum beranjak dari tempat duduk berjalan menuju keran menyirami bunga dan semua tanaman yang ada.


Mata para pasien, pengunjung, perawat dan Dokter tertuju pada gadis cantik yang sedang bermain dengan selang air, menyirami tanaman yang ada di taman, ia merapikan susunan bunga agar terlihat lebih indah.


“Apa kamu seorang petani bunga?” seorang pria tampan berdiri di samping Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum melihat kepada pria yang menyapanya.


“Aisyah.” Pria itu menggenggam tangan Afifah.


“Maaf, namaku Afifah.” Afifah menarik tangannya dan tersenyum.


“Maaf, aku terlalu merindukan seseorang.” Jordan tersenyum.


“Jika kamu merindukan seseorang temuilah dia.” Afifah duduk di pinggi pohon dan meletakkan selang air.


“Tidak bisa lagi, dia telah jadi milik orang lain.” Jordan menatap wajah cantik Afifah.


“Jika tidak bisa memiliki orang yang dicintai, kamu bisa menjadi sahabat ataupun saudaranya dan jangan menjadi musuh.” Afifah tersenyum cantik dan tulus.


“Kamu sangat mirip dengan Aisyah.” Jordan terus memperhatikan wajah Afifah.


“Siapa nama kamu?” Afifah tersenyum dan kembali menyirami bunga.


“Jordan.” Pria it memandang Afifah dari atas hingga ke bawah.


“Apakah Aisyah adalah kekasih kamu?” Afifah melihat Jordan.


“Ya, kami bersama sejak kecil tetapi kini ia telah menjadi milik orang lain.” Jordan memetik setangkai mawar merah dan menciumnya.


“Itu artinya kalian tidak berjodoh, kamu harus mengikhlaskan dirinya dan tetap berhubungan sebagai sahabat atau saudara seperti yang aku katakan tadi.” Afifah terus tersenyum memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi.


“Kamu benar, aku hanya takut dia membenciku.” Jordan duduk di samping Afifah.


“Jika ia seorang muslimah, ia tidak akan membenci dirimu.” Afifah tersenyum pada Jordan, mereka berbincang terlihat sangat akrab, karena Afifah adalah wanita yang sangat ramah.


***


Nathan membuka matanya berusaha duduk dan melihat sofa kosong, pria itu khawatir berlebihan, ia segera turun dari tempat tidur mencabut jarum infus dari tangannya, mencari Afifah ke dalam kamar mandi tetapi tidak ada.


“Afifah, kamu dimana?” Pria itu ketakutan, ia segera berjalan keluar tanpa berpakaian hanya menggunakan celana panjang, sehingga tubuh seksi terlihat jelas. Beberapa wanita tersenyum melihat pria seksi dengan tatapan tajam siap membunuh semua orang yang berani mengambil miliknya. Cukup sekali wanita yang ia cintai menjadi milik orang lain dan itu tidak akan terulang lagi. Jika terjadi, pria ini siap menghancurkan dunia.


Mata tajam Nathan meneliti setiap sudut rumah sakit dan melihat Afifah sedang duduk dengan seorang pria yang memegang mawar merah indah, mereka terlihat sedang tersenyum dan tertawa. Pria itu mengepalkan tangannya, berusaha menenangkan diri, ia telah berjanji tidak akan berkelahi dan memukul orang di hadapan Afifah hanya karena cemburu. Nathan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.


“Tidak ada pria yang boleh mendekati wanitaku.” Pria itu berjalan cepat menuju Afifah dan Jordan.


“Sayang, apa yang kamu lakukan disini?” Nathan menarik Afifah ke sampingnya.


“Nathan kenapa kamu keluar dari kamar dan mana botol infus kamu?” Afifah melihat lengan Nathan berdarah bekas jarum.


“Aku ketakutan kehilangan dirimu.” Nathan menatap lembut pada Afifah.


“Kenapa kamu takut, aku tidak akan pergi kamanapun.” Afifah melepaskan pegangan Nathan.


“Siapa pria itu sayang?” Nathan menatap tajam pada Jordan.


“Perkenalkan saya Jordan.” Jordan mengulurkan tangannya.


“Nathan, calon suami Afifah.” Nathan tersenyum dan berjabat tangan dengan Jordan.


“Maaf, aku pikir dia adik anda.” Jordan tersenyum dan melirik Afifah.


“Terimakasih atas pujiannya, saya harap anda tidak jatuh cinta pada calon istri orang lain.” Nathan menarik tangan Afifah kembali ke kamar.


“Saya permisi Tuan Jordan.” Afifah tersenyum.


“Nathan kenapa kamu bersikap seperti itu?” Afifah menarik tangannya perlahan.


“Afifah, sebaiknya kamu tidak keluar sendirian.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Kenapa? Aku bosan di dalam kamar dan tidak melakukan apapun.” Afifah menghindari tatapan Nathan.


“Aku akan segera keluar dari rumah sakit dan kita bisa pergi keliling dunia.” Nathan tersenyum dan kembali menarik tangan Afifah masuk kedalam kamar.


“Apa kamu sudah sembuh?” tanya Afifah.


“Tentu saja, sayang.” Nathan mendekatkan wajahnya pada wajah Afifah.


“Apa kamu lapar?” Afifah mendorong wajah Nathan dengan telapak tangannya membuat pria itu tersenyum karena ia bisa mencium lembutnya tangan Afifah.


“Sayang, sebaiknya kita segera menemui orang tua kamu.” Nathan mengambil kemeja yang tergantung di lemari.


“Nathan, bukankah kamu akan pulang besok?” Afifah melihat Nathan yang sedang berpakaian.


“Apakah kamu masih betah berdua dengan dirikku berada di rumah sakit?” Nathan melihat Afifah dengan senyuman menggoda.


“Aku hanya mengkhawatirkan kesembuhan dirimu.” Afifah tersenyum dan ia mulai berkemas.


“Sebagai raja formula kamu tidak perlu mengkhawatikan itu, dengan kecanggihan teknologi dan keserdasan manusia tidak ada yang tidak bisa aku lakukan.” Nathan berjalan mendekati Afifah, ingin rasanya ia memeluk wanita itu dari belakang.


“Dengan izin Allah karena tanpa izinNya, kamu tidak akan bisa melakukan apapun?” Afifah memputar tubuhnya untuk menghadap Nathan dan terkejut karena pria itu berada dekat dengan dirinya, reflek Afifah mundur tertekan di lemari.

__ADS_1


“Afifah, aku bisa gila terus menahan diri ketika berada didekat kamu.” Nathan semakin maju mendekati Afifah menekan tangannya pada lemari memperhatikan mata indah, hidung mancung dan bibir seksi menggoda menyapa untuk dinikmati.


“Inilah kenapa pria dan wanita dilarang berduaan karena godaan syetan itu sangat kuat, dimulai dari dosa kecil hingga berakhir pada dosa besar dan penyesalan.” Afifah mendorong kuat tubuh Nathan.


“Afifah, segeralah menikah dengan diriku.” Nathan menatap lembut pada wanita yang masih menghadap dirinya.


“Apa aku harus membuat formula agar jantungku berhenti berdetak ketika berada didekat kamu, atau sebuah formula yang bisa menghapuskan hasratku yang ingin bercinta dengan wanita yang aku kekasihku serta meminum formula untuk meredam cemburuku ketika melihat dirimu bersama pria lain.” Nathan terduduk dilantai.


“Kamu tidak perlu itu semua karena iman akan menjaga dirimu.” Afifah menatap tajam pada Nathan.


“Manusia adalah makhluk yang lemah karena kekuatan sesungguhnya hanya milik Allah.” Afifah kembali merapikan pakaian dan tidak memperdulikan pria bertubuh kekar duduk di lantai. Ia berusaha menenangkan diri, jantungnya ikut berdetak kencang karena sikap Nathan.


“Kita harus segera menikah.” Nathan kembali berdiri.


“Baiklah, kita akan menikah.” Afifah tetap membelakangi Nathan, ia merasa wajahnya memanas karena pria itu.


“Secepatnya.” Nathan semakin dekat.


“Ya, secepatnya setelah bertemu dengan orang tuaku.” Afifah selesai membereskan pakaian ke dalam tas.


“Apa kamu tidak bercanda?” Nathan berbisik di telinga Afifah yang tertutup hijab.


“Nathan, jangan terlalu dekat.” Suara lembut Afifah terdengar menggoda ditelinga Nathan.


“Aku ingin selalu dekat dengan dirimu.” Tangan Nathan kembali mengurung wanita itu dari belakang.


“Apa kamu masih betah dirumah sakit?” Afifah berusaha menenangkan diri.


“Tidak, aku sangat bosan.” Nathan menjauh dari Afifah karena sesuatu yang sedang tidur terbangun dengan cepat meminta kehangatan yang basah.


“Aku akan mengurus admistrasi kamu.” Afifah akan keluar dari ruangan yang semakin panas.


“Tidak perlu sayang, semua sudah beres, ayo kita pulang.” Nathan tersenyum dan berjalan keluar, ia tidak berani lagi mendekati dan menyentuh Afifah karena membuat anggota tubuh yang lunak menjadi keras.


“Baiklah.” Afifah mengikuti langkah kaki Nathan dari belakang.


“Ya Tuhan, aku tidak sanggup lagi jika berlama-lama berada didekatnya, ada sengatan listrik di dalam tubuhku yang siap menyambar.” Nathan berbicara sendiri dan tersenyum.


Dua buah mobil menunggu di depan rumah sakit, untuk kedua kalinya mereka mengulang kejadian yang sama masuk dan keluar rumah sakit dan yang terluka adalah Nathan. Dua orang pelayan hotel mengambil barang-barang dari ruangan Nathan dan membawa kembali ke hotel, sedangkan mereka berdua menggunakan mobil Nathan.


Nathan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang melaju menuju alamat orang tua Afifah, bukan wanita itu yang tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya melainkan Nathan yang sudah tidak sanggup lagi untuk segera menikah.


“Nathan, kenapa hotel terasa jauh, apakah ini jalan yang berbeda?” Afifah memperhatikan jalanan dari kaca jendela.


“Kita tidak akan kembali ke hotel Sayang.” Nathan tersenyum dan melirik Afifah.


“Kita akan kemana?” tanya Afifah melihat kearah Nathan.


“Rumah orang tua kamu, aku sudah mengirimkan berkas berharga kealamat mereka.” Nathan tersenyum.


“Apa? Kapan kamu melakukannya, aku tidak pernah berpikir seperti itu.” Afifah menatap Nathan.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum, ia dapa merasakan cinta tulus dari pria itu.


Mobil Nathan terus melaju dalam keheningan mereka berdua, Afifah hanyut dalam pemikirannya tentang orang tua yang sedang menunggu dirinya dan Nathan dengan pikiran dia sendiri berharap secepatnya bisa menikah dengan wanita yang duduk di sebelahnya.


Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar raksasa, pria itu segera turun dan berbicara dengan petugas keamanan dengan cepat gerbang dibuka dan Nathan kembari masuk kedalam mobil.


“Apa kita sudah sampai?” Afifah melihat Nathan.


“Sudah sayang bahkan mereka telah menunggu kamu di depan pintu.” Nathan tersenyum.


“Nathan, apakah aku benar putri mereka?” Afifah memegang lengan jas Nathan.


“Kamu adalah putri mereka yang dibawa lari oleh seorang assiten papa kamu, tenanglah sayang, aku telah menyelidikinya untuk dirimu.” Nathan tersenyum, ia mengendarai mobilnya memasuki perkarangan luas rumah yang sangat mewah dan berhenti tepat di depan pintu utama.


Afifah terdiam, ia melihat ada dua pasang suami istri yang berdiri di depan pintu yang saling merangkul dengan tatapan sedih menunggu putri mereka keluar dari mobil mewah itu. Nathan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Afifah. Wanita itu terpaku melihat kearah Nathan.


“Ayolah sayang, mereka telah lama menunggu kedatangan dirimu.” Nathan tersenyum.


“Aku merasa gugup.” Afifah melirik kearah empat orang yang terus menatap mobil Nathan.


“Apakah kamu butuh pelukan untuk menenangkan dirimu?” Nathan tersenyum menggoda.


“Ya jika kamu sudah sah menjadi suamiku.” Afifah tersenyum, pria itu bisa menghibur dirinya.


“Keluarlah dan gunakan liontin kamu diluar hijab, agar mereka bisa melihatnya.” Nathan tersenyum dan Afifah melakukan apa yang Nathan ucapkan.


Perlahan wanita berhijab itu turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu, ia menghentikan langkah kakinya tepat di depan tuan rumah memperhatikan setiap wajah yang menatap dirinya. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah tanpa hijab berjalan mendekati Afifah.


“Putriku.” Wanita itu memeluk Afifah dan menangis tersedu-sedu. 22 tahun mereka terpisah ketika putrinya baru saja dilahirkan kedunia dan hari ini bertemu kembali.


Tidak ada yang berbicara hanya terdengar isakan tangis kerinduan dan kebahagiaan, papa Afifah berjalan mendekat memeluk anak dan istrinya yang seakan tidak ingin melepaskan, gadis kecil itu hanya bisa terdiam, air mata telah membanjiri wajahnya, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan orang tua kandunganya.


Wanita itu hidup dalam penderitaan dan terus berjuang untuk bisa mencapai cita-citanya yang sangat mencintai dunia kesehatan, ia tidak pernah tahu jika dirinya adalah seorang putri yang dibawa kabur oleh asisten pribadi keluarganya.


“Sayang, maafkan papa, pasti kamu sangat menderita.” Papa Afifah mengusap kepala putrinya.


“Afifah, putriku.” Mama Afifah melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Afifah menyentuh pipi basah dengan lembut.


“Ayo kita masuk kerumah kita Nak.” Mama menarik tangan Afifah.


“Sayang ini adalah Papi dan Mami kamu juga karena kita tinggal bersama.” Mama memperkenalkan sepasang suami istri lainnya yang melihat dirinya dengan tatapan penuh cinta. Afifah kembali mendapatkan pelukan hangat dari orang tua lain yang juga keluarga dirinya.


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti tepat di samping mobil Nathan, seorang pria tampan tergesa-gesa turun dari mobil berjalan mendekati keluarganya yang membawa seorang wanita berhijab danterasa tidak asing.

__ADS_1


“Afifah.” Jordan menarik tangan Afifah membuat mata Nathan melotot.


“Lepaskan tangan anda dari tangan kekasihku.” Nathan mencengram tangan Jordan.


“Aku tahu dia pasti adik Aisyah, wajah mereka terlihat mirip.” Jordan menatap Nathan.


“Aisyah, dokter Aisyah yang menikah dengan asissten Stevent.” Nathan melirik Afifah.


“Ya, pria itu telah merebut Aisyah dariku.” Jordan menatap tajam pada Nathan.


“Apa yang kalian lakukan anak muda? Ayo kita masuk kedalam dan beristirat.” Mami Jordan menarik tangan putranya dan masuk kedalam ruangan utama.


“Tuan Nathan, mari masuk.” Papi Jordan menarik tangan Nathan. Afifah telah masuk kedalam rumah bersama papa dan mamanya.


Semua berkumpul di ruang tamu yang sangat mewah, setiap mata melihat wajah cantik dan imut Afifah yang menjadi peran utama pada hari itu, wanita itu hanya terdiam tanpa berkata sedikitpun, airmata yang terus membasahi wajahnya sehingga mata indah itu terlihat sembab.


“Sayang, katakana sesuatu.” Mama Afifah menyentuh pipi Afifah.


“Tidak ada yang bisa aku katakan, aku sangat bahagia.” Afifah memeluk tubuh wanita paruh baya yang ada di depannya.


“Putriku, kamu pasti sangat menderita.” Mama kembali menangis dalam pelukan putrinya.


“Aku adalah wanita yang kuat.” Afifah terisak.


“Sayang, dimana kamu tinggal dan kemana penculik jahat itu?” Papa terlihat marah.


“Mereka telah meninggal, tolong maafkan mereka.” Afifah memegang tangan Papa dan Mamanya.


“Sayang, kemarilah lihat kamar kakak kamu.” Mama menarik tangan Afifah menaiki tangga dan berjalan bersama menuju sebuah kamar Aisyah.


“Lihatlah ini kamar Aisyah dan ini satu-satunya foto kamu ketika baru dilahirkan.” Mama memberikan foto bayi pada Afifah.


“Apakah kakakku tidak berhijab dan dimana dia sekarang?” Afifah mengambil foto Aisyah yang tergeletak di atas meja rias.


“Dia sudah berhijab dan cantik seperti dirimu, Aisyah sudah menikah dan ikut suaminya.” Mama mengusap air matanya.


“Kenapa Mama sedih?” Afifah menatap wajah Mamanya.


“Sayang, tinggallah bersama papa dan mama di rumah ini.” Mama mengusap wajah Afifah dengan lembut.


“Ma, ketika Afifah menikah maka akan ikut kemanapun dia pergi.” Afifah meletakkan kembali foto Aisyah.


“Menginaplah beberapa malam sayang.” Mama kembali meneteskan air matanya.


“Tentu saja Ma, aku baru saja bertemu dengan orang tuaku.” Afifah memeluk tubuh wanita itu, ia merasakan desiran hangat penuh kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan selama ini.


Afifah tidak pernah dipeluk dan dicium oleh orang tua yang telah menculik dan membesarkan dirinya hanya Asraf yang selalu memberikan pelukan dan ciuman untuk dirinya, ada rasa rindu pada adikkya.


“Ma, aku punya seorang adik laki-laki yang sangat baik dan melindungi diriku.” Afifah tersenyum.


“Apakah pria yang membawamu kemari?” Mama menarik tangan Afifah dan duduk di tempat tidur Aisyah.


“Bukan, namanya Asraf putra dari Ayah yang telah menculik diriku.” Afifah menggenggam tangan mamanya yang masih lembut terawatt.


“Kenapa kamu tidak mengajaknya bersama kemari?” Mama tersenyum.


“Dia belum tahu jika kamu bukan saudara dan Nathan sangat pencemburu.” Afifah tersenyum.


“Apakah Nathan kekasihmu?” Mama menatap Afifah yang mengangguk.


“Kamu sangat beruntung akan menikah dengan pria yang jelas dan terhormat, dikenal di seluruh dunia tidak seperti Aisyah yang hanya menikahi seorang asisten rendahan.” Mama menatap foto Asiyah.


“Ma, semua manusia dimata Allah sama hanya keimanan dan ketakwaan yang membedakan tinggi rendahnya derajad seseorang hamba.” Afifah tersenyum.


“Tunggu sebentar sayang, Mama akan menghubungi kakak kamu untuk memberikan kabar bahagia ini agar kita bisa berkumpul bersama.” Mama segera mengambil ponsel yang ada di saku gaunnya.


“Ma, aku sangat lapar dan Nathan harus istirahat karena baru keluar dari rumah sakit.” Afifah menahan tangan Mama yang akan menghubungi Aisyah, ia ingin merasakan kebahagiaan kedua dihari yang berbeda.


“Baiklah Sayang, Mama dan Mami telah mempersiapkan makanan untuk kita semua.” Mama menggandeng tangan Afifah menuruni anak tangga berjalan menuju ruang tamu.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja.” Nathan segera berjalan mendekati Afifah.


“Tentu saja, aku bersama mamaku.” Afifah melihat Nathan heran.


“Aku sudah melamar dirimu Sayang.” Nathan tersenyum.


“Apa kamu diterima?” Afifah tersenyum.


“Tentu saja, hanya saja saudara priamu seakan tidak setuju.” Nathan melirik Jordan yang menatap tajam pada dirinya.


“Aku tidak punya saudara pria.” Afifah menatap Nathan.


“Sebaiknya kita makan bersama sayang.” Mami menggandeng tangan Afifah berjalan menuju ruang makan. Makan siang bersama keluarga baru yangbaru berjumpa setelah terpisah selama dua puluh dua tahun. Selesai makan keluarga Jordan kembali kerumah mereka yang berhimpit dengan rumah orang tua Afifah.


Afifah dan Nathan bersama kedua orang tuanya duduk di ruang tengah berdikusi tentang pernikahan mereka. Pria tampan itu telah mengatakan kepada orangtuanya bahwa dia akan segera menikah dengan wanita yang ia cintai.


Malam semakin larut semua kembali ke kamar masing-masing dan Nathan hanya mau kamar bersebelahan dengan Afifah. Ia tidak mau melewatkan waktu sedikitpun tanpa melihat wanita itu, ia sangat khawatir dengan Jordan yang akan mencari kesempatan untuk mendekati kekasihnya.


Manusia adalah makhluk yang lemah dan menjadi budak nafsu akan kenikmatan dunia yang hanya sesaat, hanya keimanan yang mampu menjaga diri dari godaan Syaitan.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2