
Stevent mengantarkan Nisa sampai ke rumah, Stevent mengikuti Nisa masuk dalam rumah.
" Assalamualaikum " Nisa melepaskan sepatu dan meletakkan di atas tak sepatu. Stevent memperhatikan segala sesuatu yang Nisa lakukan.
" Waalaikumsalam " Umi berjalan mendekati Nisa yang langsung menyalami tangan Umi dan mendapatkan pelukan dan ciuman di dahinya.
" Kenapa Ibu - ibu senang sekali memeluk dan mencium Nisa" pikiran cemburu muncul di otak cerdas Stevent
" Tuan Stevent " Umi menatap Stevent
" Panggil saja Stevent " menyalami dan mencium punggung tangan Umi.
" Mari Duduk " Umi mempersilahkan Stevent duduk.
" Mi , Abi mana ? orang tua Stevent mau ke rumah nanti malam "Nisa duduk mesra di samping Umi memeluk dan menyenderkan kepalanya di bahu Umi
" Apa, dia bermesraan dengan wanita itu " Mata Stevent melotot, benar-benar " Bucin "
" Setelah menikah ia tidak boleh lagi bermesraan dengan orang lain, dia hanya milikku" Stevent mengepalkan tangannya.
" kenapa mendadak nak, Umi belum siap" umi melihat Stevent
" Tidak apa nyonya, anda tidak perlu sibuk, kami telah mempersiapkan semuanya, saya pamit pulang" Stevent berdiri melirik Nisa dan berjalan ke luar menuju mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Nisa.
" sayang Jelaskan pada Umi?"
" Apa yang harus di jelaskan Umi?" Nisa merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Umi
" Bagaimana dengan Kenzo?" Umi mengusap kepala Nisa yang tertutup hijab.
" Nisa akan segera memberitahukan kepada kak Kenzo " Nisa memejamkan matanya
" Kak Kenzo pasti akan kecewa " pikir Nisa dan beranjak duduk.
" Umi Abi mana?"
" Di restoran "
" Nisa ke atas dulu Mi, assalamualaikum " Nisa berjalan menaiki tangga perlahan menuju kamarnya, ia sangat lelah dan lemah, rasanya tenaga telah terkuras habis.
Nisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Ya Allah, berikanlah jalan terbaik untuk hamba" Nisa memejamkan matanya butiran bening mengalir melewati sudut mata dan jatuh membasahi bantal.
Ia merasakan sesak dan berat di dadanya. Nisa tampak tegar ketika berada di hadapan orang lain namun sangat rapuh ketika ia sedang mengadu kepada sang Pemilik alam semesta.
" Ya Allah, apakah ini adalah ladang Amal untuk hamba Mu " Nisa berbicara dengan Yang Maha Kuasa karena hanya kepada Nya lah tempat mengadu dan berkeluh kesah.
Nisa beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi membersihkan diri, berganti pakaian dan turun ke bawah.
Suara nada pesan terdengar dari ponsel Nisa,
" Tidak usah mempersiapkan apapun, untuk makan malam ?" pesan singkat dan padat dari Stevent, Nisa hanya Membaca namun tidak membalasnya.
__ADS_1
Nisa berjalan menuju kamar Umi. Ia melihat Umi sedang membaca Alquran.
" Assalamualaikum, Umi Nisa jalan - jalan ke pesantren" Nisa berbicara dengan suara pelan agar tidak menggangu Umi, ia segera berjalan ke luar.
Wanita cantik dan anggun menggunakan gamis berwarna hijau botol senada dengan jilbabnya berjalan menuju pesantren, ia melewati gerbang masuk pesanan.
Nisa melihat seorang anak kecil sedang menangis duduk di sebelah gerbang.
Anak perempuan cantik dengan pakaian sederhana bahkan terlihat kumuh.
Nisa membuka gerbang pesantren dan berjalan menyebrangi jalan raya mendekati anak yang duduk di samping tong sampai.
Nisa berjongkok dan mengusap air mata dari sang gadis kecil.
" Sayang kenapa kamu menangis ?"Nisa melihat ada luka berdarah di lutut gadis kecil
" Siapa namamu ?" Nisa membuka tas kecil yang selalu ia bawa berisi plester luka, kain kasa, dan cairan pembersih.
Nisa segera membersihkan luka dan menempel plester pada luka. Gadis kecil tak menangis lagi ia terus menatap wajah cantik Nisa.
" Siapa namamu " Nisa mengulang pertanyaannya
" Nina " jawab gadis dan tersenyum
" Halo Nina, nama kakak Nisa " Nisa mencubit pipi tembem Nina yang tersenyum lebar
" Dimana rumahmu ?" Nisa menarik lembut tangan Nina untuk berdiri.
" Diujung sana " Nina menunjukkan tangannya pada tikungan jalan terdapat gang sempit.
" Apa kakak mau mengantarkan ku ?" wajah Nina memelas
" Tentu saja " Nisa mengandeng tangan Nina
" Apa isi dalam tas Nina " Nisa bertanya
" Makanan , aku akan memberikan kakak satu hadiah ketika sudah sampai "
" hadiah apa ?" mereka terus berjalan hingga sampai di ujung gang jalan setapak.
Nina menarik tangan Nisa, dan Nisa duduk berjongkok
" Buka mulut kakak !"
" Untuk apa?" Nisa bertanya penasaran
" Nina mau memberi hadiah sebagai ucapan terima kasih, kakak tidak suka?" tanya gadis kecil sangat pintar memperlihatkan wajah sedihnya.
" Apa kakak jijik melihat Nina?" gadis itu seakan mau menangis
" Tidak sayang, berikan hadiahnya, kakak akan makan sendiri " Nisa mengulurkan tangannya meminta hadiah dari Nina
Nina mengambil botol minum kecil dari tasnya, ia mencuci tangannya.
__ADS_1
"Lihat kak tanganku bersih "
Nisa menarik nafas, ia merasakan kejanggalan pada gadis ini.
" Kenapa gadis ini sangat memaksakan untuk menyuapinya " pikir Nisa
" Jika kakak tidak mau aku akan pulang, terimakasih telah membantu dan mengantarkan ku " Nina menangis berjalan membelakangi Nisa
Nisa sangat menyesal telah menyakiti gadis kecil, ia merasa telah menghina Nina dengan menolak pemberiannya.
Nisa menarik tangan Nina dengan lembut,
" Baiklah, kamu boleh melakukannya" Nisa tersenyum dan membuka mulutnya
Nina memasukkan tangannya dan mengambil sebuah permen lembut terbungkus rapi, permen yang jika terkena air liur langsung mencair dan meresap ke lidah hingga memberi warna seperti warna permen.
Nina Memasukkan permen ke mulut Nisa, dan menutup mulut Nisa dengan tangan kecilnya.
Ketika mulut Nisa tertutup ia merasa permen mencair memberikan rasa dingin dalam mulutnya menjalar ke seluruh tubuh.
" Kakak, aku adalah seorang aktris cilik " Nisa mendengar suara gadis kecil semakin menjauh dan pandangannya semakin buram.
Nisa masih bisa merasakan tubuhnya di gendong oleh seseorang, namun matanya sudah terpejam. Perlahan kesadaran Nisa menghilangkan tak sadarkan diri.
Seorang pria membawa Nisa masuk ke dalam mobil, dan gadis kecil telah di bawa mobil lainnya.
" Kamu hanya bisa di jebak dengan kelembutan dan rasa simpati yang tinggi " Suara lembut dari seorang pria membaringkan Nisa di pangkuannya.
" Dia sangat ceroboh sayang, Menyebarkan Undangan pernikahan terlalu cepat " Senyuman kemenangan menyungging di sudut bibir seksi pria tampan.
" Aku telah Sabar menunggu dirimu bertahun-tahun, Namun Dia datang dalam hitungan bulan, ingin memiliki kamu dengan mudah " pria ini terus berbicara dengan Nisa yang tidak sadarkan diri
" Kesabaran Ku ada batasnya Stevent " Mata Pria menatap wajah cantik Nisa yang sedang tertidur, jari - jari pria itu mengelus lembut pipi Nisa.
Mobil Terus melaju entah berapa lama seakan tak sampai pada tujuan, Melewati hutan - hutan dan perbukitan. Jalanan semakin sempit, udara semakin dingin, DNA hutan yang di lewati semakin lebat, sehingga cahaya matahari hampir tidak bisa masuk kedalamnya.
Langit mulai terlihat merah, Matahari telah turun ke peraduannya, berganti dengan Bulan.
Sebuah Istana clasik berdiri megah di dalam hutan, bangunan tua namun tetap tertawa dengan warna aslinya.
Terlihat menyeramkan dari Luar Namun indah, bersih di dalamnya.
Pria bertubuh kekar terus menggendong tubuh Nisa yang masih lemah tertidur berjalan melewati lorong-lorong Istana kuno.
Hingga sampai pada pintu besar berukir kepala Singa, Dua orang penjaga membukakan pintu.
Sebuah kamar sangat Luas tanpa sekat. Dengan semua peralatan terbuat dari kayu yang telah punah.
Ia membaringkan Nisa di atas tempat tidur yang sangat besar dengan perlahan. Menutupi tubuh Nisa dengan selimut lembut bermotifkan bunga.
" Selamat mimpi Indah sayang, kamu akan tidur panjang " Pria itu mengusap lembut pipi Nisa dengan punggung jarinya.
Ia berjalan keluar pintu, meninggalkan Nisa sendirian.
__ADS_1
Dua orang penjaga segera menutup dan mengunci pintu kayu raksasa.
Nisa terlelap tak sadarkan diri, terjebak dalam mimpinya.