
(β€οΈFAVORIT, LIKE, KOMENTAR, VOTE, BINTANG 5 π) PENYEMANGAT UPDATE πͺ
Pria tampan dengan tubuh tegap di dampingi seorang kepala sedang menggunakan jas hitam miliknya.
Wajah tanpa ekspresi, sudah sehat kembali dengan perawatan yang intensif.
Jhonny menatap sofa kosong yang biasa digunakan Aisyah untuk duduk dan tiduran selama ia menemani Jhonny.
Kini pujaan hatinya sangat sibuk dengan penelitian yang ia lakukan bersama tim Ahli kimia.
Jhonny duduk di sofa menyentuh bantal yang selalu digunakan Aisyah.
"Kamu bahkan tidak sempat untuk menjemput ku pulang." Jhonny menyenderkan tubuhnya di sofa, mencium aroma tubuh Aisyah yang tertinggal.
Kepala pelayan keluar dari ruangan dan menunggu Jhonny di depan pintu.
Jhonny melihat ponselnya, berharap Aisyah menghubungi dirinya.
"Aku benar-benar sendiri." gumam Jhonny memejamkan matanya dan memeluk bantal.
"Apa kamu masih betah tinggal di sini?" suara lembut tetapi tegas dari Aisyah.
"Aisyah." Jhonny beranjak dari sofa dan hampir memeluk Aisyah.
"Eits, jangan mendekat." Aisyah mundur jauh dari Jhonny.
"Aku sangat merindukan dirimu." ucap Jhonny dalam hati.
"Hey, kenapa kamu melamun." Aisyah mengambil tas kerja Jhonny.
"Dia terlihat semakin tampan." Aisyah berbicara dalam hatinya.
"Aku saja." Jhonny mengambil tas dari tangan Aisyah hingga tangan mereka bersentuhan.
Dengan cepat Aisyah menarik tangannya.
"Kamu akan pulang ke rumah atau ke kantor." tanya Aisyah tersenyum.
Jhonny diam, ia masih berpikir, awalnya ia mau langsung ke kantor tetapi setelah melihat Aisyah ia berniat pulang ke rumah.
"Aku sangat lapar, bisakah kamu memasak untuk ku?" tanya Jhonny menatap Aisyah.
"Baiklah, berarti kamu mau pulang ke rumah." ucap Aisyah berjalan keluar dari ruangan.
Jhonny tersenyum dan mengikuti langkah kaki Aisyah.
Kepala pelayan segera mengambil tas dari tangan Jhonny.
Seorang sopir telah menunggu di depan mobil dan membukakan pintu untuk Aisyah dan Jhonny.
Jhonny dan Aisyah duduk di kursi belakang, sopir dan kepala pelayan duduk di depan.
Jhonny dan Aisyah diam seribu bahasa, tidak ada kata yang keluar.
Aisyah memandang jalanan dari balik kaca jendela dan Jhonny memandang Aisyah.
"Jangan menatap ku terus." ucap Aisyah tanpa melihat kearah Jhonny.
Aisyah bisa melihat Jhonny dari pantulan kaca jendela.
Jhonny segera mengalihkan pandangan, ia ingin bertanya tentang pernikahan mereka.
"Apakah Aisyah sudah siap?" tanya Jhonny pada hatinya sendiri.
"Kenapa dia tidak bertanya tentang pernikahan?" bisik Aisyah dalam hati.
Mereka kembali terdiam hingga sampai di rumah Jhonny.
Aisyah segera keluar dari mobil dan berjalan menuju dapur.
Jhonny memperhatikan Aisyah yang telah berjalan meninggalkan dirinya.
Aisyah sangat terburu-buru, ia harus segera kembali ke laboratorium Nathan, mereka akan pergi ke desa terpencil untuk mengambil beberapa tanaman obat.
Jhonny berjalan pelan ke dapur, ia melihat Aisyah yang sangat cekatan memasak.
"Duduklah kamu masih perlu banyak beristirahat, aku akan memasak makanan yang baik untuk pemulihan dirimu." jelas Aisyah panjang lebar.
__ADS_1
Jhonny menarik kursi dan duduk dengan tenang, ia terus memperhatikan setiap gerakan Aisyah.
Mulutnya seakan terkunci, seminggu lebih ia tidak bertemu dengan Aisyah, ada seberkas kerinduan di hatinya.
Video call yang mereka lakukan hanya sebentar saja, Aisyah terlihat lelah dan sering tertidur.
"Apa dia tidak merindukan diriku?" tanya Jhonny dalam hatinya.
"Apakah dia tidak tahu bahwa aku tersiksa melihat Sofa kosong tanpa dirinya." Jhonny hanya bisa berkata-kata di dalam hatinya.
Sorotan mata yang berbicara tentang kerinduan tetapi tidak bisa dilihat oleh Aisyah karena Aisyah tidak menatap mata Jhonny.
Makanan telah tertata rapi di atas meja, dengan masakan berkuah dan ditemani jus buah segar.
Aisyah membuka celemek, menggantung pada tempatnya. Ia berjalan mendekati Jhonny.
"Makanlah, bukankah kamu sudah lapar?" Aisyah mengambilkan nasi untuk Jhonny.
Jhonny menarik jilbab Aisyah hingga wajah mereka sangat dekat.
"Apa yang kamu lakukan?" Aisyah berusaha menarik jilbabnya agar dilepaskan Jhonny.
Jhonny menghirup nafas hangat dari mulut Aisyah dan melepaskan tangannya.
"Kamu kenapa?" bentak Aisyah.
Jhonny tidak menjawab ia segera menikmati makanannya.
"Aaarg." Aisyah kesal ia berjalan meninggalkan Jhonny.
"Kamu mau kemana?" tanya Jhonny menghentikan langkah Aisyah.
"Kembali ke laboratorium." ucap Aisyah kesal.
"Tunggu, Aku akan mengantarkan dirimu, kumohon." ucap Jhonny lembut tanpa melihat Aisyah.
Aisyah kembali ke meja makan, ia duduk di depan Jhonny.
Jhonny makan dengan tenang dan elegan.
"Kenapa kadang dia sangat menyebalkan." gumam Aisyah memperhatikan Jhonny.
Jhonny telah menyelesaikan makannya.
"Assalamualaikum." suara lembut Nisa mengejutkan Aisyah.
"Nisa." Aisyah segera beranjak dari kursi dan berlari memeluk Nisa.
"Dokter Aisyah, apa yang kamu lakukan?" Nisa membalas pelukan Aisyah.
"Apa kamu sangat merindukan diriku?" Nisa tersenyum cantik.
Aisyah hanya mengangguk, ia tidak ingin berbicara karena akan membuat air matanya mengalir.
Stevent berjalan menuju ruang makan dan duduk di samping Jhonny.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Stevent dan menyicipi masakan yang ada di atas meja.
Vegetarian, Stevent sangat suka, ada bayam, wortel, tomat dan kentang.
"Sayang, apa kamu kelaparan?" Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent dari belakang.
"Sepertinya masakan Dokter Aisyah enak." Stevent menyuapkan Nisa wortel.
"Makanlah." Ucap Aisyah tersenyum.
Nisa duduk di samping Stevent, mereka berdua menikmati makanan bersama tanpa nasi.
Aisyah tersenyum memandang kemesraan dan kebahagiaan diantara Nisa dan Stevent.
Ia tidak sanggup membayangkan dua insan yang saling mencintai itu jika harus terpisah dengan cepat.
Jhonny memerhatikan Aisyah, ia melihat butiran bening mengalir melewati sudut mata Aisyah.
Merasakan cairan hangat yang membasahi wajahnya, Aisyah segera mengusapnya dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Jhonny mengikuti langkah kaki Aisyah, yang berdiri di tepi jendela.
__ADS_1
"Apa kita bisa seperti mereka?" kalimat Jhonny mengejutkan Aisyah.
Mata mereka saling bertatapan, menyatakan cinta yang tersimpan.
Kebersamaan yang mereka lalui telah menimbulkan benih-benih cinta yang tidak mereka sadari.
"Tentu saja." Aisyah memalingkan wajahnya dari pandangan Jhonny.
Jhonny tersenyum, tangannya ingin menarik tubuh Aisyah dan memeluknya.
Tangan yang hanya bisa melayang di udara dan tidak berani menyentuh Aisyah.
"Kapan kamu siap?" tanya Jhonny.
Aisyah memutar tubuhnya dan menghadap Jhonny.
"Setelah kami berhasil menemukan formula untuk Nisa, bisakan kamu menunggu diriku?" tanya Aisyah.
"Aku hanya akan menikahi dirimu." ucap Jhonny memandang Aisyah.
Aisyah tersenyum sangat cantik, ada rasa kebahagiaan di dalam hatinya, yang tidak bisa diungkapkan.
Senyuman cantik dan tulus menyorotkan tatapan kebahagiaan yang dapat Jhonny lihat.
Mereka saling bertatapan dengan menahan gejolak dalam hati.
Jhonny mulai mendekatkan dirinya pada Aisyah, seakan ada magnet yang menarik dirinya tanpa sadar.
"Ehem." suara tegas Stevent menyadarkan Jhonny.
Nisa segera menarik Aisyah menjauh dari Jhonny.
"Halalkan dulu Jhonny, karena godaan setan semakin kuat." Nisa tersenyum dan memeluk Aisyah dari samping.
Aisyah tertuduk malu, untuk ada Nisa, jika tidak mereka benar-benar khilaf dalam lingkaran setan.
"Jhonny, sebaiknya kalian segera menikah." ucap Stevent menarik lembut Nisa dari Aisyah.
Nisa tersenyum dan memeluk pinggang Stevent, ia tahu dirinya tidak boleh memeluk orang lain kecuali suaminya.
Jhonny hanya terdiam, ia menatap Aisyah agar memberikan jawaban untuk Stevent.
"Aku harus menyelesaikan proyek formula bersama Valentino." ucap Aisyah tersenyum.
"Dokter Aisyah, kamu bisa menyelesaikan proyek bersaman dengan pernikahan dirimu." Nisa tersenyum dan bermanja dengan Stevent.
Akhir - akhir ini Nisa semakin manja, ia benar-benar ingin menikmati hari-harinya bersama Stevent.
Nisa rela mengikuti kemanapun Stevent pergi, tanpa rasa lelah dan bosan.
"Aku tidak bisa." Dokter Aisyah tertuduk.
Nisa melepaskan tangan Stevent dan berjalan mendekati Aisyah.
"Tidak usah pesta, nikah aja dulu, yang penting sah." Nisa mengusap punggung Aisyah.
"Nisa, setelah selesai proyek penting ini, aku akan menghabiskan waktuku bersama suamiku, menjaga dan merawatnya." Aisyah melirik Jhonny.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksa dirimu, semoga kalian berdua bisa menahan diri dan hati." Nisa tersenyum.
"Kami hanya datang berkunjung, jika kamu sudah sehat segeralah kembali bekerja." Stevent menepuk pundak Jhonny.
Jhonny merasakan sesuatu yang berbeda dari sentuhan Stevent.
Rasa peduli dan tidak menganggap dirinya hanya sebagai bawahan.
Jhonny tersenyum, kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan, kini satu persatu hadir dalam hidupnya.
Seorang wanita cantik yang ia cintai dan akan segera ia nikahkan.
Menunggu dua bulan lagi, Aisyah akan menjadi milik Jhonny seutuhnya.
*************************************
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 π Terimakasih π€
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin π
__ADS_1
Love You Readers π Thanks for Reading π