
Viona telah sampai di Rumah Sakit, tempat Leo di rawat. Ia berjalan bersama dengan Leon.
Leon mengetuk dan membuka pintu, ia melihat Leo memainkan ponsel Nisa.
Wajah Leo terlihat lebih cepat pulih, pemesanan obat dari sang ahli " Master Nathan" tidak ada yang tidak tahu kemampuan Nathan di kalang atas.
" Halo Leo, apa kabar?" tanya Leon mendekati Leo.
" Aku baik" jawab Leo tanpa melihat Leon.
" Aku ingin memperkenalkan seseorang kepada dirimu" ucap Leon.
Leo melirik, ia melihat seorang gadis dengan wajah imut seperti anak remaja. Ia kembali menatap ponsel Nisa dengan layar menampilkan foto Nisa.
Viona memperhatikan wajah tampan yang terluka dan tubuh seksi Leo, ia hanya diam tanpa berkata-kata, seorang bintang ada di depannya.
Ada jutaan wanita berharap bisa bertemu dengan Leo, Viona benar-benar beruntung.
Ia melihat Leo dari dekat duduk di atas tempat tidur hanya menggunakan kaos tanpa lengan, memperlihatkan otot-otot keras dan seksi.
" Leo, perkenalan Viona, adik Stevent" Leon mendekat.
Leo menatap tajam kepada Viona ada gurat kebencian di wajahnya.
" Mau apa dia kemari?" tanya Leo tidak suka melihat Viona.
" Dia ingin mengambil ponsel Nisa " ucap Leon santai.
" Apakah aku tidak boleh memiliki ponsel ini?" Leo melihat Viona dengan tatapan kebencian.
" Jika kamu menginginkannya ambilah, Kakak ku pasti telah membeli yang baru untuk istrinya" Viona tersenyum, ia merasa aneh seorang bintang terkenal dan kaya raya menginginkan ponsel bekas Nisa.
" Pergilah aku tidak ingin melihat wajahmu" tegas Leo, ia membuang wajahnya ke balik jendela kaca.
" Nona Viona mari duduk" Leon mempersilahkan Viona untuk duduk, namun Viona diam mematung, ia kaget mendengar Leo mengusir dirinya dengan kasar, tidak ada yang pernah melakukan itu kepadanya.
" Maafkan Leo, ia terluka karena di pukul kakakmu" lanjut Leon.
" Kenapa kakakku memukulnya" Viona menahan air matanya.
Leon Bingung harus menjawab apa, Karena tidak tahu siapa yang salah, Leo mengira Nisa belum menikah.
" Katakan kepada ku" tegas Viona emosi.
" Pasti kamu menyukai kak Nisa" lanjut Viona, dari gelagat Leo yang ingin memiliki ponsel Nisa ia bisa menebak, walaupun ia tidak tahu dimana Leo bertemu dengan Nisa.
Leon dan Leo melihat serentak kearah Viona.
" Benarkan tebakanku" Viona masih berdiri dan balas menatap Leo.
Leon sangat kagum dengan keberanian Viona.
" Apa kamu pikir hanya kamu yang mencintai Nisa? apa kamu pikir kakakku tidak berkorban untuk mendapatkan Nisa? Kamu tidak tahu betapa kakak ku mencintai Nisa hingga ia rela mati" Viona mengepalkan tangannya menahan emosi.
Leon memperhatikan Viona.
Viona berjalan mendekat dan merebut ponsel Nisa dari tangan Leo.
" Dengarkan aku baik - baik, jangan pernah berharap mendapatkan Nisa, meskipun kamu seorang Bintang " Viona berjalan meninggalkan ruangan tanpa pamit.
__ADS_1
Leo terdiam, bahkan ponsel milik Nisa saja tidak bisa ia miliki.
" Hahaha" Leon tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan ketika ia melihat Viona telah hilang dari pandangan.
" Wanita Luar biasa, sangat pantas jadi adik Stevent" Leon terduduk di sofa.
" Kenapa kamu tertawa bahagia, apakah kamu jatuh cinta pada pandangan pertama?" Leo memicingkan matanya.
" Apa? Jatuh Cinta, ah tidak aku hanya kagum padanya" Leon mengehentikan tawanya.
Leon tersenyum mengingat Viona memarahi Leo yang terdiam tanpa perlawanan.
Viona berjalan cepat penuh Emosi, ia segera menuju parkiran.
" Apakah itu sifat asli seorang bintang?" Viona masuk ke dalam mobil dan menggerutu.
" Aku menyesal mengidolakan Leo, pria Aneh" Viona melihat ponsel Nisa.
" Pasti ada nomor rahasia Stevent yang hanya dimiliki Jhonny dan Nisa" Viona tersenyum dan mulai membuka daftar kontak.
" Ya Tuhan sedikit sekali nomor ponsel di kontak ini" Viona berbicara sendiri.
Viona tertarik dengan kontak dengan nama.
" Suamiku Sayangku"
Viona tersenyum bahagia, seakan kekesalannya hilang begitu saja, ia mulai menekan icon Hijau untuk melakukan panggilan.
Namun nomor Nisa telah di block oleh Stevent.
" Cepat sekali gerakan kak Stevent, sudah di block" Viona kesal.
Rumah Jhonny
Dokter Aisyah sendirian di laboratorium, Valentino membawa mobil Dokter Aisyah yang diberikan oleh Stevent berkunjung ke rumah orangtuanya.
Jhonny jarang bertemu Aisyah, pagi - pagi Jhonny telah ke kantor dan malam baru pulang, ia hampir tidak pernah melihat Dokter Aisyah, Jhonny sibuk dengan pekerjaan Stevent yang telah jarang ke kantor.
Jhonny rindu dengan sikap jutek dan marahnya Dokter Aisyah, Rindu Ketika mereka bertengkar dan berdebat.
Jhonny berjalan menuju ruang laboratorium, ia melihat Dokter Aisyah sedang fokus bekerja.
" Kenapa wanita yang sedang serius bekerja terlihat cantik dan menawan" guman Jhonny memandang Dokter Aisyah.
Ia berjalan mendekati Dokter Aisyah sedang memasukkan ampul berisi berbagai ramuan yang ia buat bersama Valentino ke dalam Lemari penyimpanan.
Jhonny berdiri di belakang Dokter Aisyah Tanpa ada suara sedikitpun.
Dokter Aisyah menutup lemari penyimpanan dan memutar tubuhnya.
" Astaghfirullah ya Allah" Dokter Aisyah terkejut melihat seseorang berada dekat darinya.
" Apa yang kamu lakukan disini?" Dokter Aisyah menahan emosi tangannya memegang dada karena terkejut.
" Tidak ada, aku hanya mau melihat laboratorium"ucap Jhonny santai.
" Kamu benar-benar Robot berjalan tanpa suara, luar biasa" Dokter Aisyah berjalan menuju meja untuk membersihkan sisa-sisa ramuan.
Jhonny mengikuti Dokter Aisyah.
__ADS_1
" Kenapa kamu mengikuti diriku?" Dokter Aisyah melotot.
" Aku tidak mengikuti Dirimu" ucap Jhonny.
" Bantu aku bersihkan laboratorium" Dokter Aisyah meletakkan meletakkan dedaunan dan batang sisa tumbuhan ke dada Jhonny.
" Bersihkan dan buang semua sampah ini" Dokter Aisyah Menuju kebun obat dan menyalakan air penyiraman otomatis, mengatur suhu ruangan.
Jhonny tersenyum ia benar-benar membersihkan laboratorium sendirian.
Setelah cukup, Dokter Aisyah mematikan Air penyiraman dan kembali ke laboratorium, ia terkejut dan tersenyum melihat semua tampak bersih.
" Kemana Robot pembersih tadi?" Dokter Aisyah menahan tawa, ia berjalan menuju rumah untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Jhonny telah duduk di kursi makan, pelayan mengatakan makan malam di masakan oleh Dokter Aisyah.
Dokter Aisyah turun dari tangga menuju ruang makan.
Jhonny dapat mencium aroma segar bunga dari tubuh Aisyah yang berjalan mendekati dirinya.
Ada desiran aneh di hati Jhonny.
" Aku belum sempat memeriksa jantungku ke Dokter" gumam Jhonny.
" Wah, Tuan Robot menghabiskan makan malam ku" Dokter Aisyah duduk di depan Jhonny, ia melihat makanan yang dimasaknya telah di habiskan Jhonny.
" Apakah kamu belum makan?" tanya Jhonny merasa bersalah.
" Aku bisa memasak lagi" ucap Dokter Aisyah beranjak dari kursi Menuju dapur.
Jhonny menarik tangan Dokter Aisyah.
" Apa yang kamu lakukan?" Dokter Aisyah menarik kasar tangannya dari pegangan Jhonny.
" Dengar kami tidak boleh menyentuhku walau hanya seujung kuku" Mata Dokter Aisyah melotot.
" Maaf" ucap Jhonny singkat
" Bagaimana jika aku traktir kamu makan di restoran" Ucap Jhonny.
" Tidak usah, aku sudah makan tidur di rumah kamu" ucap Dokter Aisyah kesal.
Dokter Aisyah sudah punya rencana untuk kembali ke Desa bersama Valentino.
Ia akan bersikap baik, seakan Betah di rumah Jhonny dan akan pergi diam - diam ketika Jhonny tidak ada di rumah.
Dokter Aisyah segera membuatkan makanan yang mudah untuk di makan.
Jhonny hanya terdiam memandang Dokter Aisyah yang kembali fokus dengan pekerjaannya.
Jhonny tidak menyadari Dokter Aisyah telah selesai memasak dan ia siap untuk makanan malam.
" Kenapa Robot ini masih duduk di depanku?" Dokter Aisyah berbicara sendiri dalam hati.
Beberapa pelayan telah membereskan peralatan makan yang telah di gunakan Jhonny.
" Besok aku akan pergi" Dokter Aisyah tersenyum, ia akan kembali ke Desa, hidup sederhana dan tenang.
Jhonny tersenyum melihat senyuman di bibir Dokter Aisyah, ia tidak tahu jika itu adalah senyuman rencana pelarian.
__ADS_1