
Bel tanda istirahat telah berbunyi, para karyawan menghentikan aktivitas mereka dan segera menuju ruang sholat dan ruang makan.
Jhonny izin pulang, ia akan makan malam di rumah karena ada Dokter Aisyah.
Nisa dan Stevent sholat di kamar mereka. Setelah sholat, mereka berjalan bersama memasuki lift menuju restoran depan Perusahaan untuk makan siang bersama.
Stevent menggandeng tangan Nisa, menjaga istrinya dari tatapan pria lain.
Stevent dan Nisa berjalan memasuki restoran dan memilih meja biasa yang telah di pesankan Jhonny.
Nisa telah memilih menu makanan untuk dirinya dan Stevent.
Tidak beberapa lama menu makan telah tertata rapi.
" Waaah, nikmat sekali , mmm " Nisa bersiap menikmati makan siang, ia membaca doa.
Stevent memperhatikan menu yang telah tersedia di atas meja, ada rasa mual ketika ia melihat ikan.
Nisa mulai menikmati makanannya, Stevent merasakan mual ketika Nisa memasukkan suapan pertama berisi ikan dan nasi.
" Mm Kwek" Stevent tidak bisa menahan rasa mual, hingga mengeluarkan suara dan membuat seisi restoran menatap ke arah Stevent.
Mereka terkejut ketika melihat pria yang membuat jijik semua pengunjung adalah seorang terkenal Stevent Lu , sehingga mereka kembali menunduk dan tidak berani marah ataupun protes.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Nisa melihat Stevent yang telah berdiri dan berlari Menuju kamar mandi.
"Sayang" Nisa memanggil Stevent yang telah meninggalkan dirinya.
" hihihi" Nisa tertawa, ia tahu Stevent tersiksa karena kehamilan Nisa.
Nisa kembali melanjutkan makannya, sedangkan Stevent tersiksa di kamar mandi memuntahkan semua Anggur yang telah ia makan pada pagi hari.
Stevent merasa lemas di kamar mandi, ia tidak ingin kembali ke ruang makan, ia tidak mau mencium aroma ikan yang Nisa makan.
" Apa yang terjadi kepada diriku?" Stevent membasuh wajah dengan air, ia merasa kesal dengan selera makannya yang berubah.
Stevent duduk di sudut ruangan, ia melihat Nisa dari jauh, ia benar-benar tidak berani mendekat.
Nisa telah menyelesaikan makan siang dengan tenang dan kenyang, Ia berjalan menuju tempat pencuci tangan.
Nisa harus menghilangkan bau ikan yang ada pada tangannya. Ada ide nakal yang terlintas di otak Nisa.
Jika ada bau ikan pada Nisa, maka Stevent tidak akan mau dekat-dekat dirinya.
Nisa tidak jadi mencuci tangannya, ia segera berjalan menuju kamar mandi, ia melihat Stevent duduk lemas.
Nisa tersenyum, ide nakal menggelitik hatinya, ia berjalan mendekati Stevent.
"Sayang, kamu tidak makan?" tanya Nisa menggoda Stevent.
"Sayang, cuci bersih tangan kamu" Stevent memicingkan matanya.
"Aku akan mencuci di kamar mandi tapi aku mau berciuman dengan suamiku di sini" Nisa menggoda Stevent, ia menarik dasi Stevent
dan mencium bibir suaminya.
Stevent menikmati ciuman nakal Nisa di kamar mandi.
"Dia tidak mual?" pikir Nisa.
__ADS_1
" Sayang, kamu nakal" ucap Stevent memeluk tubuh Nisa.
" Lepaskan, aku harus mencuci tangan" Nisa melepaskan tangan Stevent dan berjalan masuk ke kamar mandi wanita, Stevent mengikuti Nisa.
Stevent memeluk Nisa dari belakang.
"Kamu benar-benar bisa memberikan tenaga baru untuk diriku" Stevent memasukkan kepalanya kedalam jilbab dan mencium leher Nisa serta memberi gigitan.
"Ah, aku harus bertanggungjawab" pikir Nisa.
" Sayang, ayo Kembali ke kantor, kamar kita sudah menunggu" Stevent bermain di dalam jilbab Nisa.
" Sayang, besok kita ke Dokter Kandungan" ucap Nisa manja.
" Baiklah, berikan aku ciuman lagi" Stevent keluar dari jilbab Nisa dan memutar tubuh Nisa.
Nisa meletakkan tangannya di leher Stevent dan mencium mesra bibir suaminya.
Terdengar ketukan pintu, Nisa dan Stevent berada di dalam kamar mandi wanita.
"Sayang, kamu benar-benar cepat tanggap, masih sempat mengunci pintu" ucap Nisa tertawa.
" Tentu saja, dan aku tahu ini adalah kamar mandi wanita, bagaimana kamu akan membawa aku keluar dari sini?" bisik Stevent di telinga Nisa dan menggigitnya.
Nisa tersenyum, membuka pintu dan menggandeng tangan Stevent.
Seorang wanita melihat Nisa dan Stevent keluar dari kamar mandi bersama.
" Maaf, suami saya ikut masuk untuk membantu saya" Nisa tersenyum manis.
" Tidak apa-apa Nyonya" jawab wanita dan memandang wajah tampan Stevent.
"Duduklah di sini" ucap Nisa meninggalkan Stevent duduk Bingung melihat Nisa pergi.
Tidak berapa lama Nisa kembali dengan membawa salat buah dan sayuran dalam mangkuk yang di bungkus rapi.
" Wah, Terimakasih Sayang" Stevent mengambil bungkusan dari tangan Nisa dan mencium pipi istrinya.
Mereka berjalan bersama dengan bergandengan meninggalkan restoran dan kembali menuju Kantor Stevent.
Nisa menemani Stevent bekerja di kantor hingga jam pulang sesudah sholat Magrib.
Stevent mengendarai mobil sport hitam miliknya hingga sampai ke halaman utama rumah Stevent.
Sebuah Mobil sport Merah diikat pita berwarna pink terparkir di depan pintu rumah.
" Sayang, mobil siapa itu?" tanya Nisa melihat ke arah Steven yang sedang membuka sabuk pengaman Nisa, ia tidak menjawab dan segera keluar dari mobil untuk membuka pintu mobil bagian Nisa.
" Hadiah untuk istriku tercinta" ucap Stevent tersenyum dan menari tangan Nisa membantunya keluar dari mobil.
"Sayang, aku tidak butuh mobil, kamu akan selalu menemaniku" Nisa memeluk Stevent dan bergelayut dengan manja.
"Sayang, Katakan hadiah apa yang kamu inginkan?" Stevent mencium pipi Nisa.
"Aku hanya mau kamu selalu ada di sisiku dan selalu ada untuk diriku, kapanpun dan di manapun." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent dan mencium mesra bibir Stevent.
"Hanya itu saja" tanya Stevent dan Nisa mengangguk.
"Janji, jangan pernah tinggalkan aku" Nisa menatap manja kepada suaminya.
__ADS_1
"Janji" Ucap Stevent memeluk istrinya.
" Sayang, Terimakasih hadiahnya" suara manja Nisa.
" Apa kamu mau mencoba mobil barunya?" tanya Stevent dan Nisa menggeleng.
" Aku mau istirahat" Nisa semakin manja.
Stevent segera menggendong Nisa menuju kamar mereka.
" Sayang, aku lelah " ucap Nisa dan memejamkan matanya.
" Sayang, kenapa kamu tidur dengan cepat?" Stevent menyentuh pipi Nisa.
"Kenapa ia terlihat lelah?" pikir Stevent membuka Jilbab dan menyelimuti tubuh Nisa.
Stevent berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Stevent keluar dari kamar mandi dan melihat Nisa yang masih tertidur pulas, ia segera menuju kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.
" Sayang, kamu harus ganti pakaian" Stevent berbisik di telinga Nisa.
" Gantikan" ucap Nisa manja dan tetap memejamkan matanya.
"Oouh, Istriku sangat manja" Stevent mencium dahi Nisa dan membuka pakaian Nisa.
Terlihat tubuh indah putih mulus milik Nisa, Stevent mencium perut Nisa yang masih rata dan menutup dengan selimut.
Stevent berjalan menuju lemari pakaian, memilih baju tidur untuk Nisa dan memakaikan pada tubuh Nisa.
" Apakah semua wanita hamil akan manja seperti ini?" Stevent memeluk tubuh Nisa.
"Sayang, aku sangat suka dengan sifat manja dan ketergantungan dirimu padaku." Stevent mencium leher dan pundak Nisa.
****
***
**
*
*Terimakasih
*
**
***
***
Thanks for Reading
Selalu Tinggalkan Like dan komentar pada setiap episode.
Mohon Dukungan Readers semua dengan memberikan Vote.
Terimakasih, Love You Readers.
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin**.