Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Aaah, Ciumannya


__ADS_3

Kamar Nathan


Nathan berbaring di kamar koleksi Nisa miliknya, ia menatap foto Nisa.


"Jika aku tidak cepat menyuntikkan vitamin itu, nyawamu dalam bahaya" Nathan memejamkan matanya.


Nathan sangat menghawatirkan Nisa, dengan kandungan yang lemah dan dihuni dua janin yang kuat dan sehat sangat membahayakan Nisa.


"Bagaimana dengan proses persalinan kamu nanti?" pikir Nathan.


"Kamu harus menjaga perasaan agar tidak tertekan, Jika Stevent menyakiti dirimu, aku akan membunuhnya" Nathan mengepalkan tangannya.


***


Rumah Utama bak Istana


Mobil Sport milik Stevent Berhenti tetap di depan pintu rumah utama.


Stevent membuka sabuk pengaman dan Mencium dahi Nisa. Membuka dan mengendong Nisa turun dari mobil.


Seorang pelayan membuka lebar pintu Raksasa, selama Nisa di rumah Sakit pintu tidak di buka.


Viona Berlari dari kamarnya dan menggadang Stevent yang menggendong Nisa.


"Kak, Berhenti" Viona membentangkan tangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Stevent menatap tajam kepada Viona, Nisa tersenyum melihat tingkah dua bersaudara.


"Kak, Turunkan Kak Nisa di sini" Viona memelas.


"Nisa harus beristirahat" Stevent menghindar dari hadapan Viona dan akan berjalan menaiki tangga.


Nisa melihat wajah sedih Viona.


"Sayang, turunkan aku di sini, aku bosen berbaring di tempat tidur" Nisa tersenyum mengusap lembut pipi Stevent dengan jarinya yang cantik.


" Baiklah Sayangku" Stevent mencium bibir Nisa sekilas dan menurunkannya perlahan.


"Oh My God" Viona menutup matanya.


"Duduk pelan - pelan Sayang" Stevent menggenggam erat tangan Nisa dan duduk di Sofa, ia memeluk Nisa.


"Hentikan itu" Viona kesal.


Nisa melepaskan tangan Stevent dan menggelengkan kepalanya, menatap mesra.


"Kalian bicaralah, aku akan ke kamar" Stevent beranjak dari kursi mencium dahi Nisa dan meninggalkan Nisa dan Viona, ia berjalan menuju kamarnya.


Stevent masuk ke kamar ujung dan mengunci pintu.


Ia segera menghubungi Jhonny, menanyakan perkembangan Aisyah.


"Halo Jhonny, kamu dimana?" tanya Stevent membuka panggilan.


"Aku sedang menuju Villa pribadi Jordan" jawab Jhonny.


"Gerakan kamu sangat lambat" Tegas Stevent dan Jhonny hanya terdiam, ia sangat Khawatir dengan Aisyah.


"Bagaimana dengan Nayla?" tanya Stevent


"Ah, kiriman daftar nomor ponsel orang-orang penting, jangan ada yang wanita" Lanjut Stevent.


"Semua ada di ponsel kerja, tidak ada nomor wanita" jawab Jhonny.


"Bagus, bawa banyak anak buah!" Stevent memutuskan panggilan dan melakukan panggilan lainnya, ia akan sangat sibuk tanpa Jhonny.


***


Viona pindah ke samping Nisa, ia memeluk Nisa dengan sangat lembut.


"Aku sangat merindukan Kakak" ucap Viona tersenyum.

__ADS_1


"Aku juga merindukan dirimu, Bagaimana kuliah kamu?" Nisa mengusap rambut Viona.


"Membosankan" Viona melepaskan pelukannya dan menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Nikmati saja, selama masih dalam aturan" Nisa tersenyum.


"Kapan aku akan punya keponakan?" Viona kembali memeluk Nisa.


"Segera" Nisa mencubit pipi Viona.


"Benarkah, Aahh, senangnya" Viona menggoyang-goyangkan tubuh Nisa.


"Apa yang kamu lakukan?" sebuah bentakan mengagetkan Viona.


"Kamu menyakiti Nisa" Stevent menarik Viona menjauh dari Nisa.


"Maafkan aku" Viona mundur dan menunduk.


"Tidak apa-apa Viona, duduklah" Viona melirik Stevent dan duduk di depan.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu" Nisa mengusap lembut wajah Stevent.


"Maafkan aku" Stevent mengangkat Nisa dan meletakkan di atas panggungnya.


"Apakah kakakku punya kepribadian ganda, begitu lembut dan hangat dengan kak Nisa tapi sangat kasar dengan orang lain" Viona berbicara di dalam hatinya.


"Kak, aku kembali ke kamar" Viona beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Stevent mengendong Nisa membawanya ke kamar.


"Sayang, berikan aku ciuman" Stevent menurunkan Nisa dari gendongannya dan mereka berdiri berhadapan, Nisa tersenyum melihat Stevent.


"Aku telah jatuh cinta kepada suamiku" Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.


"Aku tahu, sekarang berikan aku ciuman" Stevent terlihat manja dan mendekatkan wajahnya pada Nisa.


"Kamu bisa menciumku" Nisa menggoda dengan menjilati dan menggigit sedikit bibirnya.


Berciuman berdiri itu memberikan kenikmatan tersendiri. Stevent mengangkat tubuh Nisa pindah ke sofa empuk dan duduk di pangkuannya.


"Cium Aku" perintah Stevent manja.


"Kamu sudah menciumku" Nisa dapat merasakan pisang keras menyentuh tubuh Nisa.


"Sekarang kamu yang menciumku!" perintah Stevent menatap tergoda pada bibir Nisa.


Nisa merubah posisi duduknya dan menghadap Stevent, ia memandang wajah suaminya.


"Kamu sangat tampan" ucap Nisa tanpa memindahkan pandangannya.


"Aku tahu dan kamu baru menyadari itu" sombong Stevent.


"Karena Aku tidak boleh menatapmu" Nisa menarik hidung Stevent.


Setelah menikah dengan Stevent barulah Nisa tahu bahwa Stevent begitu tampan dan sempurna, karena ia bisa menatap dan memandang wajah suaminya setiap waktu.


"Sekarang kamu boleh melakukan apapun kepada diriku" ucap Stevent.


"Benarkah?" Nisa terlihat bahagia.


"Ya, tapi sesuatu yang menyenangkan dan aku suka" senyum nakal terlihat di wajah Stevent.


"Curang" Nisa mau turun dari pangkuan Stevent.


"Mau kemana Sayang?" Stevent mengunci tubuh Nisa dengan dua tangannya yang kekar.


"Mandi dan menggantikan pakaian" ucap Nisa.


"Ah, kamu belum mencium mesra diriku!" Stevent memberikan tatapan tajam.


"Aku kira dia telah melupakannya" bisik Nisa dalam hari dan tersenyum.

__ADS_1


"Lakukan dan berikan yang terbaik" bisik Stevent di telinga Nisa dan membuka Jilbab Nisa.


Stevent juga membuka ikatan rambut Nisa, sehingga rambut hitam berkilau tergerai Indah kontras Dengan kulit putih bersih Nisa sangat cantik.


"Aaah, Bidadari ku sangat cantik dan menggoda" Stevent menahan hasratnya, ia tidak mau membuat Nisa kelelahan.


Tubuh Nisa tidak bermasalah, ia sangat sehat dan kuat, hanya saja Kandungan yang lemah.


Nisa tersenyum Cantik dan menggoda, ia sangat senang melihat Stevent tersiksa menahan diri ingin memakan Nisa hanya demi merasakan ciuman agresif Nisa yang begitu nikmat dan lembut Stevent rasakan.


Merasakan Ciuman dari Nisa akan berbeda dengan Stevent mencium Nisa, ada sensasi tersendiri.


"Sayang, cepatlah, aku sangat merindukan ciuman mu" Stevent memelas, seakan menunggu seseorang memberikan air segar di Padang pasir, tidak akan ada kepuasan karena akan semakin haus dan haus.


Ciuman Nisa bagaikan minuman manis dan nikmat yang memabukkan.


Nisa tersenyum melihat ekspresi Stevent, ia mendekatkan bibirnya perlahan pada bibir Stevent, mencium dengan lembut penuh kehangatan, rasa manis dan nikmat membuat desiran kebahagiaan yang tidak ingin dihentikan.


Stevent memejamkan matanya, menikmati permainan bibir yang Nisa berikan, tangan Nisa bermain di leher dan telinga Stevent.


Jari - jari lembut dan Indah memberikan kenikmatan tersendiri dari sentuhan hangat dan berirama seirama dengan ciuman yang memabukkan.


"Aaaah, dia benar-benar membuatku gila" pikir Stevent.


"Sehari saja tanpa merasakan bibir manis Nisa membuat diriku seperti orang Gila yang kehilangan akal, aku akan memakan bibir ini setiap hari" Stevent menggila di dalam hati dan pikirannya.


Nisa menghentikan ciumannya dan menyentuh bibir Stevent dengan jari lembutnya.


Stevent membuka matanya dan menatap sayu kepada Nisa.


"Apa yang tidak kamu bisa, Sayang?" Suara Stevent terdengar lembut.


"Maksud kamu?" Nisa menatap heran.


"Sayang, kamu hebat dalam segala hal, tidak ada yang tidak kamu bisa, Tuhan menciptakan dirimu terlalu sempurna dan tidak membaginya kepada orang lain" Stevent mencurahkan isi hatinya.


"Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangannya tetapi sebagai manusia kita harus berusaha menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan kelebihan yang telah di berikan, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah" Nisa kembali mencium bibir Stevent.


Ciuman yang dapat menaklukkan Singa hingga terpejam patuh, ciuman Nisa dapat menghilangkan emosi Stevent dengan seketika, melupakan masalah yang ia hadapi.


Kenikmatan yang begitu Indah Stevent rasakan sejak menikah dengan Nisa.


Hatinya yang dingin menjadi hangat ketika ia bersama Nisa. Dan hati yang panas akan menjadi sejuk.


Nisa telah melengkapi dan menyempurnakan kebahagiaan Stevent di Dunia. Bagaimana Oasis di Padang pasir.


Nisa telah memenuhi ruangan kosong yang ada pada diri Stevent, tidak ada lagi tempat untuk orang lain.


***


**


*


**Terimakasih


*


**


*


Thanks for Reading


Selalu Dukung Author dengan Like, komentar dan Vote. Terimakasih.


Kamu nunggu update, Author nunggu Like, Komentar dan Vote kamu.


Bahagia banget dapat L, K n V dari Readers semua ♥️


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin.

__ADS_1


Love You Readers ♥️**


__ADS_2