
Kenzo dan Ayesha telah sah menjadi pasangan suami istri, tetapi mereka masih belum tidur satu kamar.
Keluarga kerajaan membuat Kenzo sibuk dengan urusan aset kerajaan dan beberapa perusahaan yang dihadiahkan kepada Kenzo.
Ayesha bahkan tidak pernah keluar dari Istananya sehingga Kenzo tidak pernah melihat Ayesha, ia benar – benar merindukan istrinya.
Kenzo duduk di ruang baca Istana Fauzan, ia bercinta dengan layar computer dan berkas yang setinggi gunung di atas meja kerja.
“Bagaimana rasanya menikah dengan seorang putri?” Fauzan menepuk pundak Kenzo.
“Aku bahkan tidak melihat tuan putriku setelah menikah.” Kenzo tersenyum.
“Itu adalah hadiah untuk kamu yang telah merebut putri kesayangan kerajaan.” Fauzan tersenyum dan duduk di depan Kenzo.
“Hadiah yang luar biasa yang diberikan oleh Raja dan Ratu.” Kenzo memutar komputernya menghadap Fauzan.
“Masya Allah, kamu mendapatkan sebuah perusahaan baru Ayesha yang di Kairo.” Fauzan melihat layar computer.
“Maksud Anda?” Kenzo mengambil kembali komputernya.
“Perusahaan ini bukan hadiah dari Raja tetap dari Ayesha, perusahaan yang baru Ayesha bangun yang akan bekerjasama denga dirimu.” Fauzan tersenyum.
“Berarti perusahaan ku tidak perlu bekerjasama tetapi dua perusahaan ini bisa langsung menyatu, kenapa Ayesha memberikan ini kepada diriku, aku tidak pantas.” Kenzo terlihat tidak nyaman.
“Ayesha tidak akan melakukan apapun tanpa seizin suaminya, tidak mungkin ia mengurus perusahaan jika ia telah memiliki suami.” Fauzan tersenyum.
“Aku tidak akan melarang Ayesha beraktivitas selama ia terus bersama diriku.” Kenzo melihat istana Ayesha.
“Apa kamu masih belum datang ke kamar Ayesha?” tanya Fauzan.
“Sepertinya Raja dan Ratu sengaja menahan diriku.” Kenzo tersenyum.
“Bersabarlah, pasti ada banyak kejutan yang mereka berikan untuk kalian berdua, Raja dan Ratu menyukai dirimu.” Fauzan tersenyum dan meninggalkan Kenzo yang masih sibuk dengan pekerjaanya.
"Terimakasih.” Kenzo membalas senyuman Fauzan.
“Apa kamu sudah mengabari keluarga kamu tentang pernikahan kamu dengan Ayesha?” Fauzan menghentikan langkah kakinya.
“Tentu saja di malam pernikahan, aku telah menghubungi keluarga dan sahabatku.” Kenzo menatap Fauzan.
“Syukurlah.” Fauzan melanjutkan langkah kakinya.
“Aku sangat bersyukur, mendapatkan keluarga baru yang sangat baik.” Kenzo tersenyum melihat Fauzan keluar dari ruang baca.
Kenzo melihat jam berwarna hitam yang melingkar di tanganya, malam sudah sangat larut, ia sangat lelah, setiap hari hingga malam ia harus mempelajari proyek yang diberikan oleh kerajaan.
“Ayesha, kenapa kamu memberikan perusahan yang baru saja kemu dirikan dan sedang maju pesat kepada diriku?” Kenzo berdiri di tepi jendela kaca dan melihat kearah Istana Ayesha.
“Kenapa kamu tidak keluar dari Istana kamu?” Kenzo berharap Ayesha keluar dari balkon kamarnya.
“Apakah ini adat istiadat kerajaan, setelah menikah seorang wanita dikurung dalam Istananya, kenapa aku tidak bertanya kepada Fauzan?” Kenzo terus melihat balkon kamar Ayesha.
Kenzo tersenyum, Ayesha berdiri di tepi balkon, hijab dan cadarnya melambai – lambai tertiup angin, walaupun Kenzo tidak bisa melihat Ayesha dengan jelas tetapi itu cukup mengurangi rasa rindu Kenzo kepada Ayesha.
“Kapan kita benar – benar bersama?” Kenzo tersenyum melihat istrinya yang bahkan tidak melihat dirinya.
“Aku harus segera beristirahat, mungkin besok Raja akan memberikan tugas baru untuk diriku.” Kenzo membereskan berkas dan mematikan komputernya.
Ayesha kembali ke kamar mengganti gamisnya dengan pakaian tidur, ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, Ayesha tersenyum mendengar laporan para pelayan bahwa Kenzo disibukkan dengan banyak pekerjaan.
Itu semua hadiah dan ujian untuk Kenzo, ia menikahi Ayesha hanya karena nafsu atau benar – benar menjalankan sunah rosul dan mencintai Ayesha dengan ketulusan. Ujian menjemput kebahagiaan.
***
__ADS_1
Kenzo berkeliling Istana bersama Raja dan Ratu, ia melewati Istana Ayesha yang terus tertutup, Ayesha seakan di penjara dalam kamar yang mewah bernuansa putih dan tidak pernah keluar.
Kenzo terus mengikuti langkah kaki Raja dan Ratu serta para pengawal, hingga mereka sampai pada sebuah Istana berwarna biru langit begitu indah dengan ukiran Anggrek biru yang melilit pada pilar – pilar raksasa.
“Kenzo, malam ini setelah sholat tarawih pindahlah ke Istana biru.” Raja menepuk pundak Kenzo.
“Istana ini untuk dirimu dan Ayesha, yang sengaja tidak digunakan hingga Ayesha mendapatkan pendamping hidup.” Ratu tersenyum melihat Istana yang masih terkunci dan tetap terawat.
“Terimakasih yang mulia.” Kenzo memberi hormat. Mereka kembali melanjutkan berkeliling Istana Kerajaan Arab.
Setiap malam Kenzo makan malam bersama keluarga kerajaan tetapi tidak dengan Ayesha, ia makan sendirian di istananya.
Kenzo berjalan seorang diri menuju Istana biru, ia berdiri di depan pintu yang telah terbuka lebar, dengan dua orang penjaga pintu.
“Selamat datang Tuan Kenzo.” Sapa seorang pengawal.
“Terimakasih.” Kenzo memperhatikan dua orang pengawal.
“Silahkan masuk Tuan, kamar Anda ada di lantai atas.” Pengawal memberi hormat.
Kenzo melangkahkan kakinya, ia melihat sebuah tangga yang dihiasi anggrek warna warni, sangat indah.
Istana biru benar – benar telah dipersiapkan dan dihiasi dengan banyak bunga di setiap sudut ruangan.
“Apakah aku harus tinggal sendirian di Istana yang penuh dengan bunga.” Kenzo tersenyum, ia melangkahkan kaki menaiki setiap anak tangga dengan perlahan, memperhatikan setiap sudut ruangan.
Kenzo sampai di depan pintu yang tertutup rapat dan dihiasi bunga mawar warna merah muda dan biru langit.
“Seperti kamar seorang wanita.” Kenzo tersenyum, ia mengucapkan salam dan membuka pintu.
Kamar yang sangat indah, senuah tempat tidur luas dengan hiasan tirai berwarna putih dan biru, bed cover dan selimut berwarna putih bersih, lantai kamar dipenuhi kelopak bunga mawar merah hingga ke tempat tidur.
Kenzo tercengang, kamar terlihat sangat romatis dengan bunga memenuhi di setiap sudut ruangan, aroma mawar dan melati menusuk dalam indera penciuman Kenzo yang perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
“Assalamualaikum.” Salam Kenzo berjalan mendekati Ayesha.
“Waalaikumsalam.” Ayesha mengangkat kepalanya dan melihat wajah tampan Kenzo yang tersenyum kepada dirinya.
“Apa kabar kamu?” tanya Kenzo lembut.
“Alhamdulilah aku baik, bagaimana dengan dirimu?” Ayesha kembali menunduk.
“Aku sangat menderita karena merindukan dirimu.” Kenzo terus menatap wanita di depannya yang masih menggunakan cadar.
“Kerinduan akan menjadi indah jika sudah bertemu dengan yang kamu rindukan.” Suara Ayesha lembut.
“Kamu benar, bagaimana aku harus memanggil dirimu?” Kenzo berjongkok di hadapan Ayesha.
“Apa pun panggilan yang kamu berikan aku akan sangat senang.” Mata Ayesha bertemu dengan mata Kenzo.
“Aku akan memikirkannya.” Kenzo tersenyum, ia bisa melihat Ayesha yang tesipu malu.
“Apa aku boleh memegang tanganmu?” Kenzo terus menatap mata coklat Ayesha.
“Tentu saja, kita adalah pasangan halal.” Ayesha mengunci tanganya, selama ini ia bersentuhan dengan Kenzo tanpa sengaja.
Kenzo tersenyum memperhatikan tangan Ayesha yang sedikit gemetar, ia tahu Ayesha sangat ragu dan malu.
“Apakah Tuan putri berkenan berpegangan tangan dengan seorang pengawal?” Kenzo menadahkan tangan kanannya di depan Ayesha dengan menekuk salah satu kakinya.
Ayesha mengangkat kepalanya menatap mata Kenzo yang tersenyum tampan pada dirinya, senyuman yang lembut penuh wibawa.
Perlahan Ayesha mengangkat tangan kanannya dan meletakkan di atas tangan Kenzo, tangan Ayesha sangat lembut dan dingin, ada rasa gugup di sana.
__ADS_1
"Terimakasih telah menerima diriku menjadi suami mu." Kenzo mencium punggung tangan Ayesha.
“Bolehkah aku melihat wajah istriku?” Kenzo mendekatkan wajahnya pada wajah Ayesha yang hanya mengangguk.
Dengan membaca bismilah, perlahan Kenzo membuka cadar Ayesha yang tertunduk memejamkan matanya.
Wajah cantik putih dan bersih dengan pipi merah merona alami tanpa ada make up sedikut pun, Kenzo menyentuh dagu Ayesha agar ia bisa melihat wajah istrinya.
“Masya Allah, kamu sangat cantik.” Kenzo mengagumi kecantikan alami Ayesha.
“Aku akan memanggil kamu Humaira, karena pipi kamu yang merah merona menahan malu.” Kenzo menatap wajah cantik Ayesha yang tersenyum dan kembali menuduk.
Kenzo menyentuh kening Ayesha dengan lembut dan membaca doa.
“Ya Allah, dia sangat cantik.” Kenzo berbicara dalam hatinya memuji kecantikan Ayesha. Malam ini Kenzo cukup memandang wajah Ayesha yang tersipu malu.
“Aku harus memanggil dirimu apa?” Ayesha tetap menunduk.
"Suamiku.” Kenzo tersenyum.
“Baiklah.” Ayesha mengangguk.
"Tidurlah, malam ini kita lalui dengan bercerita.” Kenzo mencium kepala Ayesha dan membaca seuntai doa, ia berjalan menuju kamar mandi.
Ayesha mengangkat kepalanya karena terkejut dan melihat Kenzo berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
“Ya Allah, apakah malam ini adalah malam mulainya ikatan pernikahan ini terjalin?” Ayesha naik ke atas tempat tidur dengan memeluk kakinya.
“Apa kamu akan tidur dengan hijabmu?” Kenzo duduk di depan Ayesha, ia tidak mengunakan baju, Ayesha terkejut hingga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kenzo menyentuh dan menurunkan tangan Ayesha dengan lembut agar tidak menutupi wajahnnya, tetapi mata Ayesha masih terpejam, pipinya semakin merah.
“Bukalah, aku adalah suamimu.” Kenzo menyentuh pipi Ayesha yang membuka matanya perlahan.
“Bolehkah Aku membuka hijab Humaira ku?” Kenzo menatap wajah Ayesha yang hanya mengangguk.
Kenzo terus menatap wajah cantik Ayesha, membuka hijab dan menggeraikan rambut panjang hitam sedikit bergelombang.
“Tidurlah!” Kenzo merebahkan tubuh Ayesha, meletakkan hijab di meja samping tempat tidur.
“Apa kamu tidak meminta hak kamu?” Ayesha masih menunduk.
“Kita punya banyak waktu.” Kenzo memeluk tubuh Ayesha, ia terus mengucapkan syukur di dalam hatinya, mendapatkan istri yang sangat cantik bahkan sempurna, begitu lembut dan pemalu.
Ayesha meringkuk dalam pelukan Kenzo, mencium aroma maskulin dari tubuh pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Ia senang Kenzo tidak tergesa – gesa untuk melakukan hubungan intim.
"Kenapa kamu memberikan perusahaan kamu kepada diriku?" Kenzo mencium rambut Ayesha
"Karena kamu adalah suamiku, kita akan berdiskusi di lain waktu." Ayesha memejamkan matanya.
"Baiklah." Kenzo mengusap kepala dan mengecup dahi Ayesha bersama doa indah yang lembut.
Kenzo sangat mengerti mereka butuh proses, ia tidak mau memaksa Ayesha dan melakukan secara tiba – tiba, kebersamaan mereka akan menciptakan hubungan intim dan secara naluri akan terjalin kemesraan yang indah.
***Baca Novel Baru Author***
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih. Baca juga “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Putih Abu – abu ( Sohibul Iksan) Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1