Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Habiskan Makananmu


__ADS_3

Nisa menghubungi Dini, menanyakan apakah ia memiliki jadwal operasi.


" Assalamualaikum Din, hari ini aku ada jadwal ngak?"


" waalaikumsalam salah, kosong Dok"


"Terimakasih, Aku ada keperluan sebentar, mau nganterin kak Kenzo ke Bandara, klo ada apa - apa kamu segera hubungi aku ya " jelas Nisa


" oh iya dok, titip salam buat Kak Kenzo"


" iya, nanti aku sampaikan, sudah ya,, assalamualaikum " Nisa memutuskan panggilan.


Nisa menggantikan pakaian dengan gamis manis berwana dusty dan jilbab segiempat jumbo dengan warna senada. Ia mengambil tas punggung yang lagi trend rasa anti basah dan Anti maling berwarna Merah terang.


Nisa keluar kamar menuruni tangga menuju ruang tamu, di sana sudah ada Abi, Umi dan kak Kenzo.


" assalamualaikum " Nisa mengucapkan salam kepada semuanya.


" waalaikumsalam " semua mata kagum akan kecantikan Nisa yang terlihat tampil beda dari biasanya selalu menggunakan celana dan stelan dokter dengan dominan warna putih. Hari ini Nisa sangat cantik dengan warna terang namun lembut, ia tersenyum manis.


" Masya Allah , anak Umi cantik sekali " Umi berjalan mendekati Nisa dan mencium keningnya.


" terimakasih, Umi " Nisa mencium tangan Umi dan Abi, Kenzo tak dapat mengedipkan matanya, seakan takut bidadari di depannya akan hilang. Ia menatap Nisa tanpa berkedip.


" Masya Allah, aku telah bertemu dengan bidadari surga " Kenzo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, untuk menyadarkan dirinya.


" Aamiin " Abi, Umi dan Nisa bersama, lalu mereka tertawa bersama.


Kenzo pamit kepada Abi dan Umi, untuk segera berangkat ke bandara dan mohon izin untuk Nisa mengantarkannya.


" Jaga hati dan jaga diri " pesan Umi dan Abi sebelum Nisa dan Kenzo masuk ke mobil.


Kenzo duduk di kursi pengemudi dan Nisa di kursi Penumpang. Mobil segera melaju menuju Bandara.


Kenzo sesekali mencuri pandang melihat wajah Nisa melalui kaca mobil.


" Nisa kapan main ke Kairo ?" Kenzo memecahkan kesunyian dan tetap fokus mengendarai mobil


" belum tau kak, belum pernah ambil cuti " jawab Nisa tanpa melihat Kenzo ia memandang lurus ke depan.


Mereka Kembali terdiam, tak tahu apa yang harus dibicarakan. Ponsel Nisa bergetar, sebuah panggilan masuk dari nomor tak di kenal.


" Assalamualaikum " Nisa menerima panggilan


" kamu di mana " suara Seorang Pria tanpa menjawab salam dan langsung bertanya,


" Maaf, saya berbicara dengan siapa ?" tanya Nisa lembut


" Aku calon suamimu " Suara pria itu terdengar emosi


Nisa terdiam, otaknya berpikir,


" Ya Allah, ini pasti Stevent " pikir Nisa dalam hari


" Kenapa kamu diam ? Dimana kamu sekarang ?" tanyanya lagi. Nisa melihat ke arah Kenzo yang fokus mengendarai mobil


" aku di dalam mobil " jawab Nisa pelan


" kamu mau kerumah sakit ?"


" tidak, aku akan mengantarkan kakakku ke Bandara " jelas Nisa


" baiklah Nisaku " panggilan terputus


" Siapa ?" tanya Kenzo , melihat Nisa terlihat gugup


" temen " jawab Nisa


Mereka kembali terdiam hingga sampai ke Bandara.


Kenzo melakukan cek in, dan Nisa menunggu di kursi tunggu. Kenzo kembali menuju Nisa.


" kita cari makan yuk, ke sebelah " ajak Kenzo dan diikuti Nisa.


Mereka menuju kafe dekat bandara, Kenzo dan Nisa memesan minuman hangat. Bercengkrama dan tertawa lepas.


Terdengar panggilan para penumpang untuk segera memasuki pesawat. Kenzo dan Nisa berjalan bersama.


Kenzo melambaikan tangannya, ia seakan tak rela meninggalkan bidadari cantik yang ada di depannya. Nisa tersenyum manis.

__ADS_1


Di Sudut ruangan seorang memperhatikan Nisa dengan tatapan tajam. Menunggu wanita itu keluar dari dalam Bandara.


Setelah Kenzo tak terlihat lagi, Nisa segera menuju mobilnya, Nisa kaget seseorang menyenderkan tubuhnya di pintu pengemudi.


" Stevent " Suara Nisa yang hanya didengarkan olehnya, ia berjalan mendekati mobilnya, Nisa berhenti di sudut depan mobil.


Stevent memperhatikan Nisa dari atas kepala yang tertutup hijab hingga ujung sepatu putih yang Nisa gunakan.


" Kamu sangat cantik, dan terlalu cantik, apakah kamu berdandan seperti ini untuk mengantar kakakmu ?" tanya Stevent meneliti Nisa


" jika aku tidak bekerja, aku akan berpakaian seperti ini " Jelas Nisa


" Besok aku akan datang kerumahmu " Stevent masih menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.


" bisakah kamu menyingkirkan dari sana , aku mau pulang "


" kamu akan ikut mobilku "


" kamu mau kemana?" Nisa khawatir


" kita akan ke kafe seperti yang kamu lakukan dengan kakakmu "


" baiklah, kamu mau kafe mana ? aku akan mengikuti kamu dari belakang " Nisa menyakinkan Stevent, ia tak muda memancing masalah dan membuat Stevent bertindak nekat.


" Butterfly Kafetaria " Stevent berjalan mendekati Nisa yang mundur satu langkah


" jika kamu tidak mengikuti mobilku, aku akan memakan habis dirimu " Stevent berbisik di telinga Nisa dan berjalan menuju mobilnya.


Bulu kuduk Nisa berdiri ngeri. Ia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, mengendarai mobil mendekati mobil Stevent.


Stevent memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melihat mobil Nisa melalui kaca spion, sedikit khawatir jika wanitanya akan pergi.


Stevent memasukkan mobilnya ke parkiran kafe di ikuti Nisa. Mereka keluar dari mobil masing-masing, Nisa melihat sekeliling.


Butterfly Kafetaria berada di pusat perkantoran, ini pertama kalinya Nisa pergi ke kafe, di samping kiri, kanan dan depan kafe terdapat gedung bertingkat dan besar.


Stevent menatap Nisa,


" Wanita ini benar-benar cantik, dan sangat cantik " Stevent berbicara dengan dirinya sendiri dan tersenyum puas. Ia mendekati Nisa


" apa kamu akan tetap berdiri di sini? " Stevent berjalan menuju kafe di ikuti Nisa di belakangnya, ia tahu Nisa tidak akan memegang tangannya, ia sudah membaca tentang wanita muslimah di Internet, karena ia penasaran karena Nisa terlihat ketakutan hingga menangis ketika ia memegang tangannya dan berada terlalu dekat.


Wanita itu belum tersentuh bahkan seujung kuku, tapi Stevent telah mencuri sentuhan dengan paksa. Wajar saja Nisa selalu merasa khawatir ketika berada dekat dengannya.


Nisa jadi pusat perhatian, para wanita dan pria terlihat berbisik- bisik, kecantikan Nisa telah mengalahkan ketampanan dan kepopuleran Stevent. Nisa merasa tak nyaman dengan tatapan para pengunjung kafe.


" Harusnya aku memakai pakaian Dokter kemari " pikir Nisa berusaha bersikap setenang mungkin dan memberikan senyuman termanis ketika ia bertemu pandang dengan pengunjung atau pelayan.


" Siapa wanita itu, Dia sangat cantik bagaikan bidadari"


" yah,, Dia sangat luar biasa"


" apakah di kekasih Tuan Stevent?"


" tubuhnya sangat Indah, walaupun tertutup semua"


" dia sangat sempurna"


" lihat wajahnya tanpa riasan, sangat bersih dan cantik alami "


Stevent dapat mendengarkan pujian demi pujian yang hanya di berikan Kepada Nisa, ia merasa telinganya gatal dan bahkan menyakitkan. Stevent mempercepat langkahnya, yang berusaha di imbangi Nisa.


Ketika akan memasuki ruangan terbuka khusus VIP, seseorang menarik tangan Nisa dan langsung melepaskannya.


" Nisa "


" Ya " Refleks Nisa menoleh dan menghentikan langkahnya.


" apa yang kamu lakukan disini?" tanya Nathan penasaran.


" Nathan, aku ..." belum sempat Nisa menyelesaikan kalimatnya Stevent telah menarik tangan Nisa hingga Nisa berdiri di belakangnya.


" Dia bersama ku, sudah aku katakan Dia milikku " tegas Stevent kepada Nathan


" Nisa " Nathan berusaha mendekati Nisa dan meminta penjelasan tapi di halangi Stevent.


" Stevent aku mau berbicara dengan Nisa, sebentar saja " Nathan mulai emosi


" Aku tidak mengizinkan" Stevent menatap tajam kepada Nisa

__ADS_1


" Stevent, bisakah kita makan dan minum bersama, aku mohon " ucap Nisa lembut, ia melihat para pengunjung memperhatikan mereka bertiga seperti akan ada perkelahian.


Stevent menatap Nisa, yang telah memasang wajah memelas dan khawatir.


" Tidak " Ucap Stevent dan menarik tangan Nisa masuk.


" jangan biarkan siapapun masuk " Stevent berucap kepada penjaga pintu.


Sebenarnya bukan pintu karena ruangan itu terbuka lebar, bahkan tanpa dinding, seperti taman, namun di khususkan untuk tamu VIP.


" Nisa " Nathan di tahan oleh penjaga.


" Tuan Nathan, klien kita telah menunggu " seorang assisten Nathan berbisik di telinganya.


Nathan segera bergegas menuju tempat yang telah ia pesan. Hari ini Nathan melakukan pertemuan bisnis dengan kliennya. Pemesanan organ tubuh secara ilegal yang akan di siapkan oleh Rumah Sakit di bawah pimpinan Nathan.


Nisa dan Stevent duduk berhadapan.


" kenapa kamu tidak suka Nathan " tanya Nisa dan membuka buku menu


" Karena ia mengikuti kamu " jawab Stevent


" Bagaimana kamu kenal Nathan ?" tanya Stevent menyelidiki


" aku pernah satu kampus dengannya" jawab Nisa yang masih membaca daftar menu. Stevent menarik buku menu dari tangan Nisa dan menutupnya


" apa kalian berpacaran ?" Stevent menatap tajam menahan emosi


" hmmm, aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun karena itu tidak boleh dalam agamaku, Nathan cuma setengah tahun di kampus " Nisa mengambil buku menu dan kembali membacanya


Nisa memberi pesanan kepada pelayan yang dari tadi menunggu bagaikan patung dan tidak di pedulikan.


" kamu pesan apa? " tanya Nisa


" samakan saja " jawab Stevent


Nisa menyerahkan buku menu kepada pelayan.


" Bagaimana kabar Viona " Nisa memainkan bunga di atas meja


" Dia baik " jawab Stevent singkat


" kapan kita akan menikah ?" lanjut Stevent memperhatikan Nisa.


" kenapa kamu sangat terburu-buru? bagaimana dengan belajar kamu?" tanya Nisa


" aku sedang belajar " Stevent menyenderkan tubuhnya ke kursi


" Belajarlah sampai bisa dan paham, baru datang pada orang tuaku " jelas Nisa


" Aku akan belajar tapi kamu tidak boleh menerima laki - laki manapun, apalagi jalan berdua " mata tajam Stevent berkilat melihat Nisa


" Mengerikan " gumam Nisa tak terdengar.


Nisa memesan jus buah segar dan desert buah. Nisa menghabiskan makanan dan minuman yang telah ia pesan, Stevent menatap heran.


" Aku sudah selesai habiskan punya kamu !" perintah Nisa


" Apa kamu kelaparan ?" Stevent menatap gelas dan piring kue yang telah kosong


" Lapar atau tidak kamu harus menghabiskan makanan yang telah kamu pesan, karena tidak boleh menyia-nyiakan makanan" Nisa menjelaskan


" Aku tidak mau " Stevent beranjak dari kursinya, dan berjalan meninggalkan meja. Nisa masih duduk diam di kursinya.


Stevent menoleh melihat ke arah Nisa.


" Mulai hari ini kamu harus menghabiskan makanan kamu tanpa sisa, jika tidak kita tidak akan pernah menikah " Nisa masih duduk dan melihat makanan dan minuman Stevent.


Stevent kembali ke kursi meneguk habis jus buah dan memakan bersih desert. Nisa tersenyum dan beranjak dari kursinya.


" terimakasih untuk hari ini, aku pulang duluan" Nisa berjalan meninggalkan Stevent terpaku memikirkan tingkah konyolnya.


Nisa melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, ia tak perduli dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Dengan cepat ia masuk ke mobil dan mengendarainya membelah jalanan kota menuju rumah sakit.


Stevent berlari mencari Nisa yang telah hilang di keramaian, ia meletakan kedua tangannya di atas kepala dan tersenyum memikirkan dirinya yang terlihat bodoh.


🤗 Thanks for Reading 😊


Dukung Author dengan tinggalkan jejak komentar, like n Vote Terimakasih 😍

__ADS_1


🤗 Baca juga Karya Author yang lainnya 😍


♥️ love you readers 💓


__ADS_2