
Stevent mengendong Nisa ke tempat tidur dan berbaring bersama pada satu ranjang dalam pelukan.
"Sayang, Aku sangat merindukan dirimu" bisik Stevent di telinga Nisa.
Terdengar ketukan pintu, Stevent tidak perduli ia tetap memeluk Nisa dan memejamkan matanya.
Nisa tidak bisa bergerak, tempat tidur yang sempit bisa membuat salah satu dari mereka terjatuh.
Dokter Aisyah segera membuka pintu dan diikuti Jhonny.
"Ya Tuhan, tidak bisakah kalian bercinta di rumah?" Dokter Aisyah mendekat Nisa yang tersenyum.
"Tidak usah mengganggu, jika kalian mau kalian bisa melakukannya di Sofa" ucap Stevent tanpa membuka matanya.
"Apa, ah Dia benar-benar sudah gila" Dokter Aisyah kesal.
Jhonny menahan tawa, ia tidak percaya Aiysah sangat berani dengan Stevent.
"Turunlah, aku mau bertemu Nisa!" perintah Dokter Aisyah.
"Aku tidak mau, aku merindukan istriku, dua hari satu malam aku tidak memeluknya" Stevent mengeratkan pelukannya.
" Aah, pria keras kepala" Dokter Aisyah duduk di Sofa.
"Sebaiknya kita keluar" ajak Jhonny lembut.
"Pergilah, bercinta di tempat lain" ucap Stevent.
"Ya Tuhan" Dokter Aisyah kesal ia keluar dari kamar Nisa.
"Bagaimana jika kita makan di restoran depan?" tanya Jhonny menatap Aisyah.
"Baiklah, kenapa Stevent tidak tahu malu seperti itu" Aisyah menggerutu.
"Jika aku menikah dengan dirimu, aku juga akan melakukan hal seperti itu" ucap Jhonny datar dan mendahulukan Aisyah.
"Hahaha, apakah kamu bisa Romantis?" canda Aisyah.
"Apakah kamu ingin mencobanya?" tanya Jhonny menatap tajam ke arah Aisyah.
"Tidak terima kasih" Aisyah segera berjalan cepat menuju restoran dan memilih meja berada di tengah ruangan.
Aisyah segera membuka daftar menu yang ada di mejanya dan seorang pelayan segera mendekat untuk mencatat pesanan pengunjung.
"Aku ke kamar kecil sebentar" ucap Aisyah meninggalkan Jhonny dan berjalan menuju kamar mandi melewati lorong indah dan remang - remang.
Aisyah tidak tahu seseorang telah mengikuti dirinya. Ia berjalan santai menuju kamar mandi wanita.
Aisyah telah selesai dengan urusan di kamar mandi dan segera keluar untuk kembali ke mejanya.
Seorang pria yang tidak lain Jordan menarik tangan Aisyah dan masuk ke sebuah ruangan gudang samping kamar mandi.
"Mmmm" Tangan besar dan kekar telah menutupi mulut Aisyah.
Jordan mengunci pintu gudang dan menatap Aisyah.
"Apa yang kamu lakukan?" Aisyah memelototi Jordan.
"Sayang, aku suka melihat dirimu berpakaian seperti ini" Jordan berjalan mendekat.
__ADS_1
"Berhenti" Teriak Aisyah dan Jordan menghentikan langkahnya.
"Katakan kepadaku bahwa kamu adalah Aisyah, tunangan ku dari kecil yang sangat aku cintai" Jordan menyenderkan punggungnya di pintu.
"Kamu tidak pernah mencintai diriku" bentak Aisyah.
"Aku mencintaimu dan sangat merindukan dirimu" Jordan berada dekat dari Aisyah.
"Aku terus mencari dirimu bahkan aku tidak menikah hingga saat ini karena kau adalah jodoh ku dari lahir" Jordan memegang dagu Aisyah dan melihat bibir merah menggoda.
"Apakah pria itu telah mencium bibir miliki ini?" tanya Jordan menyentuh bibir Aisyah dengan jari jempolnya.
"Lepaskan, dia tidak pernah menyentuh ku" Aisyah mendorong tubuh Jordan.
"Kenapa kamu lari di hari pernikahan kita?" Jordan mencengkram tangan Dokter Aisyah.
"Karena kamu memiliki banyak calon istri, dan aku tidak mau hidup dengan pria playboy seperti dirimu" Tegas Aisyah.
"Bagaimana dengan pria bersamamu?"Jordan menatap penuh cemburu.
"Dia jauh lebih baik darimu dan aku adalah wanita pertama yang pernah ia dekati" tegas Aisyah.
"Dengar Aisyah, aku tidak pernah menyentuh mereka" Jordan semakin mencengkram tangan Aisyah membuat Aisyah merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
"Aku tidak perduli yang aku lihat adalah kamu bermain dengan banyak wanita dan aku kamu jadikan boneka di dalam Istana" bentak Aisyah berusaha melepaskan diri.
"Kita akan tetap menikah, kamu harus membayar hari - hariku tanpa dirimu" Jordan mengambil saputangan dari sakunya.
"Apa yang kamu lakukan, mmm?" Jordan meletakkan saputangan di hidung Aisyah hingga ia tidak sadarkan diri.
Jordan membuka pintu dan menggedong Aisyah lewat pintu belakang menuju parkiran.
Jhonny dapat melihat seorang pria menggendong Aisyah masuk kedalam mobil.
"Aisyah" Jhonny berteriak dan Berlari mengejar mobil yang telah pergi meninggalkan parkiran dan membawa Aisyah bersamanya.
"Oh Shit" Jhonny meninggalkan kartu kredit di kasir dan segera berlari mengejar mobil yang membawa Aisyah.
Jonny kembali ke restoran dan mengambil kartu kredit dan tas Aisyah yang tertinggal di kursinya.
Jhonny Berlari menuju rumah Sakit karena mobil ia di parkir di parkiran Rumah Sakit.
"Jordan" pekik Jhonny yang tidak bisa mengejar Aisyah.
Jhonny segera menghubungi orang kepercayaan untuk mencari dan melacak seorang pria bernama Jordan.
Jhonny duduk di dalam mobil ia membongkar isi tas milik Aisyah.
"Maafkan aku Aisyah, ini aku lakukan untuk mencari dirimu" Jhonny berbicara sendiri.
Jhonny melihat dompet Aisyah, tidak ada yang spesial hanya uang dan banyak kartu.
"Untunglah tidak ada foto ******** itu" pikir Jhonny.
Jhonny membongkar dan melihat isi Dompet Aisyah.
"Lumayan jauh" pikir Jhonny.
Jhonny keluar dari mobil dan Berlari menuju kamar Nisa, ia mengetuk pintu.
__ADS_1
Stevent keluar dari kamar.
"Ada apa?" tanya Stevent pelan, ia tidak ingin mengganggu Nisa yang sedang tertidur.
Jhonny menceritakan tentang pertemuan mereka dengan tunangan Aisyah hingga penculikan Aisyah.
Stevent menahan tertawa mendengar cerita Jhonny.
"Rebut wanitamu, jangan sampai dimiliki oleh orang lain?" perintah Stevent.
Jhonny segera pergi mencari Aisyah dengan alamat rumah Aisyah yang ada di dompet.
***
Jordan melaju kendaraan dengan kencang, ia membawa Aisyah ke sebuah Villa yang baru saja ia belikan.
Mobil mewah berwarna biru gelap berhenti tepat di depan pintu. Seorang pelayan segera membuka pintu mobil Jordan.
Jordan segera menggendong Aisyah dan membawanya ke dalam Villa mewah dan megah berpagar tinggi menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar mewah yang telah dihiasi.
Dengan lembut Jordan meletakkan Aisyah di atas kasur empuk berwarna merah. Jordan mengelus pipi mulus dan merah Aisyah.
"Aku sangat merindukan dirimu, kamu harus membayar penyiksaan yang telah kamu lakukan kepadaku dengan meninggalkan diriku di hari pernikahan" Jordan berbaring di samping Aisyah.
"Aisyah, apa kamu tahu aku seperti orang gila ketika kehilangan dirimu?" bisik Jordan di telinga Aisyah.
"Hari - hari ku yang telah dihiasi oleh bayang - bayang dirimu begitu sepi bagaikan kuburan" Jordan mengusap bibir Aisyah dengan jarinya.
"Kita akan menikah, karena aku mencintaimu" Jordan mencium kepala Asiyah yang tertutup Jilbab.
"Aku adalah orang pertama yang pernah mencium dan memeluk dirimu" Jordan mengusap pipi Aisyah.
Aisyah menggunakan jilbab karena pelariannya dari rumah Jordan di hari pernikahan mereka.
Sejak saat itu Aisyah tidak pernah lagi membuka jilbabnya.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
**
Thanks for Reading
Dukung terus Author yaa.
Selalu Tinggalkan Like komentar dan Vote yang banyaaaaaak 😘
Terimakasih sudah bersedia memberikan Vote untuk Author, semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Aamiin.
Love You Readers 💓**
__ADS_1