Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Bonus dari Tuhan


__ADS_3

Pria gila kerja ini telah melupakan Istrinya, terlalu banyak masalah yang harus ia selesaikan sendirian, Jhonny assisten pribadi orang kepercayaannya tidak berada di sampingnya.


Untunglah Papa Mark sebagai mertua Stevent siap membantu Stevent dalam menghadapi masalah yang telah dibuat oleh orang dalam perusahaannya.


Inilah kenapa Stevent ingin selalu Nisa ada di sampingnya, karena sibuk dengan pekerjaan dapat membuat ia melupakan Nisa.


Stevent juga butuh Jhonny untuk mengingat dirinya tentang Nisa, wanita yang telah mengisi daftar penting dalam kehidupan Stevent.


Stevent meninggalkan ponsel khusus untuk Nisa di apartemennya, ia sibuk dengan ponsel kerja. Jhonny membantu Stevent dari jauh.


Entah apa yang terjadi dengan perusahaan cabang milik Stevent yang akan bekerjasama dengan Papa Mark.


Ia harus menyelidiki Pemalsuan dokumen tentang perusahaan, menyebabkan kerugian kecil bagi Stevent karena hanya terjadi pada perusahaan cabang.


Namun Stevent tidak mau perusahaan Papa Mark terkena imbas dari masalah perusahaan Stevent.


Stevent sangat lelah, Papa Mark mengajak ia ke rumahnya. Stevent sangat kagum dengan desain rumah papa Mark.


Ada beberapa Robot di rumah Papa Mark.


" Papa luar biasa" puji Stevent duduk di Sofa.


" Terimakasih, setiap manusia tuhan berikan kelebihan untuk mengembangkan diri" ucap Papa Mark.


" Bagaimana kabar Nisa, Papa belum sempat bertanya" Lanjut Papa.


" Oh My God, Nisa" Stevent mencari ponselnya khusus Nisa namun tidak ada karena tertinggal di apartemennya.


" Oh shit" Stevent mengacak rambutnya.


" Aku benar-benar sudah Gila, aku melupakan istriku karena banyaknya pekerjaan" Stevent frustasi.


Papa tidak memiliki nomor ponsel Nisa karena Stevent terus menggantinya.


Stevent juga tidak menyimpan di ponsel yang lain karena ia tidak mau ada orang yang akan mengambil nomor ponsel Nisa.


Keegoisan Stevent menyulitkan dirinya sendiri.


" Papa, maafkan saya, Saya harus kembali ke apartement, harus segera menghubungi Nisa.


" Tunggu Dulu, apa kamu tidak menulis, atau menghapal nomor ponsel Nisa?" Mark menatap Stevent penuh selidik.


" Aku Selalu mengganti nomor Ponsel istriku" jawaban Stevent membuat Mark geleng-geleng kepala.


Stevent sangat protektif terhadap Nisa, Stevent segera meninggalkan rumah Papa Mark dan kembali ke apartemennya.


Ia baru saja akan makan malam dengan papa Mark untuk merayakan kerjasama dan berhasil menyelesaikan masalah yang telah di buat oleh oknum dalam yang belum di ketahui siapa pelakunya.


Untung saja Papa Mark menanyakan Nisa, Stevent benar-benar marah pada dirinya sendiri.


Stevent tiba di depan pintu apartemen miliknya, ia melihat sebuah amplop coklat tergeletak di lantai.


Stevent segera mengambil amplop dan membuka pintu, ia meletakan amplop di atas meja, dan mencari ponselnya.


Stevent membuka layar ponsel, ada banyak panggilan tidak terjawab dari Nisa.


Stevent mengacak rambutnya, ia sangat kesal dengan dirinya sendiri.


"Aku melupakan istriku hanya karena kerugian sedikit saja pada perusahaan ku " Stevent memarahi dirinya sendiri.


Stevent segera menghubungi nomor Nisa, tidak ada jawaban, karena Nisa sedang tertidur dan ponselnya telah di silent Nathan.


Nisa butuh banyak istirahat, jadi ketika tidur jangan ada yang menggangu.


Stevent mulai kesal, dan berpikir banyak, ia segera menghubungi Lia, namun ponsel Lia tidak aktif.


" Aaaarrghh" kesal Stevent, ia segera menghubungi nomor Abi Ramadhan dan menyambung.


" assalamualaikum nak, ada apa? tanya Abi


" Waalaikumsalam, ni, apakah Nisa ada di dekat Abi?". tanya Stevent khawatir.


" Nisa mengirimkan pesan, ia tidak jadi berangkat karena tidak enak badan ". jelas Abi


" Apa?". Stevent Bingung jelas - jelas ia melihat kepergian Nisa.


" Ada apa Nak?" . Tanya Abi


" kapan Nisa mengirimkan pesan?" . Tanya Stevent penasaran.


" Kemarin" . Jawab Abi.


Stevent memutuskan panggilan, ia sangat khawatir, kemarin berarti satu hari setelah keberangkatan Nisa. Nomor bodyguard yang mengawal Nisa tidak ada yang bisa dihubungi.

__ADS_1


Stevent hanya bisa menghubungi Jhonny, namun tangannya terhenti kita melihat amplop coklat yang ia letakkan di atas meja.


Stevent meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil amplop coklat, membuka lem yang tertutup rapat.


Ia melihat foto sebuah Mobil putih yang sangat familiar, milik Nisa.


Tangan Stevent gemetaran, matanya memerah.


" Tidak ,tidak Nisaaaaaa" ia berteriak di dalam kamar.


Stevent segera menghubungi Jhonny, panggilan tersambung, belum sempat Jhonny menjawab bentakan keras telah terdengar di ponsel.


" Segera cari Nisa, jika terjadi sesuatu kepada dirinya, aku akan membunuh kalian semua!" Stevent segera memutuskan panggilan.


Stevent telah menghubungi Papa, ia meminta bantuan untuk meminjam jet pribadi milik pengusaha Jepang, Stevent rela membayar Mahal agar segera bisa pulang.


Stevent merasa akan gila dan hancur jika ia sampai kehilangan Nisa, ia akan menghancurkan Dunia ini untuk menemani kehancuran dirinya.


Stevent telah membereskan semua barang miliknya, Papa Mark menjemput Stevent di apartemen dan mengantarkan ke Bandara.


Papa Mark meminta rekan bisnisnya untuk mengantarkan Mark menggunakan pesawat pribadi.


Stevent sedang bersiap menaiki tangga pesawat, terdengar dering pesan dari ponsel khususnya, sebuah pesan muncul di layar ponselnya.


" Sayang, kapan pulang, aku kangen" .


Stevent sangat bahagia, ia segera menekan icon penggilan.


" Halo Sayang, kamu di mana?" Stevent tergesa-gesa.


" assalamualaikum Sayang, " Nisa menjawab pertanyaan Stevent dengan salam.


" Waalaikumsalam Sayang, kamu dimana? bagaimana keadaan kamu?" . tanya Stevent panjang lebar dan khawatir.


" Aku baik-baik saja, kapan kamu pulang?" . tanya Nisa.


" *Aku segera pulang, aku akan mematikan ponsel, love you honey" .


" Love You too*"


Panggilan terputus, Stevent mempercepat langkahnya, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nisa.


Ia tidak mempercayai omongan Nisa yang mengatakan ia baik - baik saja, Stevent tahu benar dengan Nisa yang tidak mau membuat orang khawatir.


Apalagi Stevent melihat mobil Nisa yang telah ringsek. Stevent benar-benar tidak tenang.


***


" Nathan terima kasih " Nisa tersenyum.


" Lupakan, aku senang bisa membantu kamu dan menjadi teman kamu seperti dulu" ucap Nathan tersenyum.


" Nathan apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Nisa.


" Tunggulah Besok, malam sudah sangat larut, besok aku akan mengantarkan kamu ke rumah Stevent" Nathan tersenyum manis.


" Baiklah" jawab Nisa lemas.


" Kasian Janin di kandungan kamu" ucap Nathan.


" Tidurlah lagi" lanjut Nathan yang kembali ke Sofa, merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Nisa memperhatikan Nathan, ia kasihan melihat Nathan, menjaga dan menemani istri orang lain.


Nisa kembali tertidur dan bermimpi Indah, berharap besok segera bertemu dengan Stevent.


***


Terdengar adzan subuh, Nisa turun tempat tidur, ia melaksanakan sholat di sudut kamar.


Nathan terbangun dan melihat Nisa yang sedang sholat, ia segera Menuju musholla rumah sakit.


Nisa selesai sholat dan melihat Nathan tidak ada lagi di sofa, ia segera merapikan tempat tidur dan tas punggung miliknya.


Nisa duduk di Sofa mengusap perut yang masih terlihat rata.


" Sayang, kita mau ketemu Papa" Nisa berbicara dengan perutnya.


Nathan melihat Nisa dan tersenyum,


" Kamu sudah siap? tanya Nathan mengambilkan jas miliknya.


" Ya, apa aku boleh pulang sepagi ini dan bagaimana admistrasi rumah sakit?" Nisa menatap Nathan.

__ADS_1


" Apakah kamu meremehkan diriku?" Nathan tersenyum.


" Tidak " Nisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


" Baiklah, ayo berangkat, aku tidak mau bertemu Stevent" tegas Nathan.


Nisa juga tidak ingin Nathan bertemu Stevent.


" Nathan, bisakah orang lain yang mengantarkan diriku? atau sopir wanita?" suara lembut Nisa menghentikan langkah Nathan.


" Aku tidak mau Stevent salah paham dan menyakiti dirimu" lanjut Nisa.


" Nisa, seseorang sedang mengincar dirimu, Kecelakaan itu telah direncanakan" jelas Nathan menatap sedih kepada Nisa.


Nisa terdiam, ia masih berpikir, bagaimana cara ia pulang ke rumah Utama dengan selamat tanpa menyakiti siapapun.


" Bolehkah aku menyetir sendiri dan meminjam mobil milikmu?" hanya itu yang ada di pikiran Nisa.


Nathan menatap Nisa khawatir, ia tahu benar ada bahaya yang menunggu Nisa.


" Bagaimana keadaan Lia, mungkin dia bisa pulang bersama diriku?" lanjut Nisa, ia tidak ingin satu mobil dengan Nathan, dan tambah parah lagi, jika Stevent melihat ia berdua dengan Nathan. Bisa - bisa Stevent akan membunuh Nathan.


" Baiklah jika kamu bersikeras, tunggulah di sini. Nathan menghubungi Roy untuk segera membawa Lia bertemu Nisa.


Lia berlari kecil Menuju Nisa diikuti Roy yang memperhatikan Lia.


" Nyonya Maafkan saya" Lia membungkukkan kepalanya, dengan tangan masih di perban.


Nisa tersenyum dan memeluk Lia dengan hati - hati.


" Ini Tuan" Roy menyerahkan kunci mobil


" Pakailah dan berhati - hati " Nathan memberikan kunci mobil kepada Nisa.


" terimakasih" Nisa mengambil kunci mobil dari tangan Nathan.


" Pulanglah, aku akan mengikuti dirimu hingga selamat sampai rumah" ucap Nathan sedih, ia sangat ingin mengantar Nisa.


" Nathan, Terima kasih, aku berharap Tuhan akan mengirimkan seorang yang pantas mendampingi dirimu" Nisa tersenyum butiran bening melewati sudut matanya.


Nisa dan Lia segera masuk ke mobil milik Roy, karena mobil Nathan telah di kenali Stevent.


Nisa melambaikan tangannya dan segera mengendarai mobil menuju rumah utama.


" Roy, ikuti mereka, pastikan Nisa selamat sampai rumah!" perintah Nathan.


" Baik Tuan" Roy segera mengambil mobil lain yang telah ia siapkan.


Nathan dan Roy segera mengikuti mobil yang dikendarai Nisa.


Nisa mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang, ia sangat berhati-hati, ada kehidupan lain yang harus ia jaga.


Nisa terus melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam hatinya.


Ia telah memasuki gerbang rumah utama Stevent.


Roy mengehentikan mobilnya, ia melihat Nathan tersenyum, dan terlihat sedih.


Nathan berpikir ini adalah akhir dari kebersamaan ia dengan Nisa, ia bisa merasakan 1 hari 1 malam berdua dengan Nisa, merawat dan menjaganya adalah bonus yang Tuhan berikan kepada dirinya.


Bonus dari Tuhan untuk Nathan


****


***


**


*


*Terima kasih


*


**


***


***


Thanks for Reading


Selalu Tinggalkan Like, komentar dan Vote yang banyak, semoga Readers selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.

__ADS_1


Terimakasih atas Kunjungan dan Dukungan Readers semuanya.


Love You Readers , Muach 😘**


__ADS_2