Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Dia Sudah Menikah


__ADS_3

Dini terus berusaha menghubungi Nisa namun Gagal, ia di desak oleh Nyonya Davina karena keadaan Angel yang belum pulih, ketika sadar Angel akan menanyakan Nisa.


Nisa tidak pernah memperhatikan ponselnya yang telah di atur Stevent, blokir semua panggilan dari nomor yang tidak terdaftar di kontak.


Dini mengatakan kepada Samuel di hari Minggu Nisa akan berkunjung ke pesantren dari pagi, karena sejak menikah dengan Stevent Nisa telah di larang melakukan pemeriksaan gratis di taman kota.


Di ganti dengan bantuan berupa voucher berobat gratis ke rumah sakit dengan biaya di tanggung perusahaan Stevent.


Minggu pagi Nisa dan Stevent telah berada di Pesantren, Nisa memeriksa kesehatan semua santri , santriwati, para pengajar dan pekerja di pesantren.


Stevent mulai bisa bermain bersama anak-anak, ia bermain bola di lapangan, dengan baju kaos tanpa lengan memperlihatkan otot tangan yang keras dan celana pendek sebatas lutut. Terjatuh dan berguling di lapangan, Stevent dapat tertawa lepas bersama anak - anak.


Kelelahan Berlari, Stevent berbaring di atas rumput bersama anak-anak, ia merasakan ketenangan di dalam hatinya.


Perasaan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan ketika masih kecil.


Nisa telah selesai memeriksa semua penghuni asrama, ia bermain bersama anak-anak di taman, bernyanyi, menari, membacakan kisah para nabi dan bercanda bersama.


Sebuah Mobil sport berwarna merah Berhenti di Halaman Pesantren, dua orang pria berjalan menuju rumah Abi Ramadhan.


Samuel berjalan lurus tanpa melihat ke samping. Erick menyadari seorang wanita berbusana muslimah bermain di rumput.


" Sam , Samuel berhenti" Erick menarik tangan Samuel.


" Ada apa?" Kesal Samuel.


Jari tangan Erick menunjuk ke arah taman pesantren, mata Samuel mengikuti arah tangan Erick dan tatapan Berhenti pada seorang wanita cantik, tersenyum dan tertawa bersama anak-anak.


Nisa menggunakan gamis berwarna peach lembut senada dengan jilbabnya, ia duduk di atas rumput dengan gamis di lebarkan, rangkaian bunga yang diletakkan Nana di kepala Nisa persis seorang putri.


Samuel tidak berkedip, ia terus terpana akan kecantikan yang berbeda dari wanita yang pernah ia jumpai, wajah lembut dengan senyuman tulus penuh cinta kasih.


Erick hanya memperhatikan Samuel yang tanpa berjalan mendekati Nisa.


" Dokter Nisa" sapa Samuel.


" Ya " Nisa mengangkat kepalanya, seorang pria tampan terhipnotis dengan kecantikan bidadari yang duduk di atas rumput dengan hiasan bunga alami di kepalanya, terlihat kupu - kupu hinggap di kepala Nisa menambah kecantikannya.


Erick mendekati anak - anak dan mengajak mereka bermain.


Nisa beranjak dari rumput dan berdiri agak jauh dari Samuel.


" Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Nisa tidak tahu yang di depannya adalah presedir yang telah memecat dirinya.


" Bisakah kamu kembali ke Rumah Sakit" suara Samuel lembut dan terus menatap Nisa yang mulai risih.


" Maaf Tuan , saya tidak bekerja lagi di Rumah Sakit" Nisa tersenyum, ia berjalan mendekati anak-anak.


" Tunggu dulu" Samuel menarik dan memegang tangan Nisa


" Tolong Lepaskan tangan Saya" Nisa berusaha melepaskan tangannya, namun cengkraman Samuel terlalu kuat, Nisa melirik anak-anak, ia tidak mau berkelahi di depan anak-anak


" Saya membutuhkan bantuan Anda" Samuel mendekatkan wajahnya ke Nisa.


Ia memperhatikan setiap sudut wajah Nisa, Samuel menikah muda, istri meninggal setelah melahirkan, ia tidak pernah lagi dekat dengan wanita manapun.


" Kakak , Ada yang mendekati Kak Nisa" Nino menarik rambut Stevent.


" Aw" Stevent melihat seorang pria memegang tangan istrinya, emosi mulai memuncak, ia bergegas berdiri dan berlari.


Seorang pria dengan pakaian yang telah basah oleh keringat terlihat macho, kulit yang terbakar matahari dan debu menempel di tubuhnya.


Ini pertama kalinya Stevent mengotori dirinya, namun ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Stevent berlari secepat Citah dan,


" Bruk" Sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Samuel yang langsung tersungkur ke tanah.


Erick terkejut ia segera mendekat dan membantu Samuel berdiri.


" Jangan pernah menyentuh Istriku atau tangan kamu akan aku patahkan!" ancam Stevent dengan penuh emosi dan siap melanjutkan pertarungan.


Erick terkejut.

__ADS_1


" Maaf Tuan, Maafkan Kakak saya, ia hanya terlalu khawatir kepada putrinya" Erick membantu Samuel beranjak dari rumput.


" Sayang " Nisa menarik tangan Stevent, menggelengkan kepalanya dan melirik anak-anak yang memperhatikan Stevent.


Nisa memanggil beberapa pengasuh Asrama untuk membawa anak-anak masuk.


" Sayang, Kakak Nisa ada tamu, semua kembali ke asrama" Suara Lembut Nisa menghipnotis anak-anak menuruti perintah Nisa.


" Maaf Tuan, Apa yang anda inginkan?" Nisa menggenggam tangan Stevent.


Samuel hanya diam, ia melihat tangan Nisa dan Stevent berpegangan.


" Maaf Dokter Nisa, Putri Tuan Samuel kembali Sakit " Erick memegang tangan Samuel, ia bisa melihat Samuel dan Stevent memiliki kesamaan, emosi mudah meledak.


" Maaf , Siapa Putrinya?" tanya Nisa dan menebak pasien terakhir yang di rawatnya.


" Angel" ucap Samuel melihat Nisa.


" Angel baik - baik saja pasca operasi" ucap Nisa.


" Sayang, jangan perdulikan mereka" Stevent menarik tangan Nisa menuju rumah, Abi dan Umi pergi ke puncak.


" Dokter Tunggu" Samuel hampir menarik tangan Nisa, namun di tahan oleh Erick.


" Apa kamu ingin wajah tampan kamu hancur? lihat tubuh yang terlatih itu" Erick menatap Stevent.


" Angel membutuhkan Dokter Nisa" Samuel menatap lekat kepada Punggung Nisa yang berjalan menjauh.


" Kita harus sopan, jangan samakan Dokter Nisa dengan wanita lain, cara berpakaian dia saja sudah beda dan dia sudah menikah" jelas Erick.


" Aku hanya ingin Dia merawat Angel" tegas Samuel.


" Baiklah, ayo kita bertamu dan kamu diam saja!" Erick memelototi Samuel yang tidak melihat dirinya.


Erick menarik tangan Samuel mereka berjalan mengikuti Nisa dan Stevent.


" Dokter, tolong bantu kami" suara Erick lembut.


" Silahkan masuk Tuan, kita akan berbicara di dalam" ucap Nisa lembut.


Stevent duduk di ruang tamu bersama Erick dan Samuel.


Ruangan bening tanpa suara, Erick merasa berada di antara dua singa jantan yang siap bertarung.


Nisa membawakan Dua gelas kopi panas, satu botol air mineral untuk Stevent dan handuk kecil.


" Silahkan Tuan - tuan" Nisa segera mengeringkan rambut Stevent yang tersenyum angkuh memperlihatkan kemesraan dengan tangannya memeluk pinggang Nisa yang berdiri di depannya.


Nisa mengerikan wajah dan leher Stevent.


" Sayang, apa kamu mau mandi sekarang?" tanya Nisa lembut.


" Tentu saja Sayang, tapi aku mau mandi bersama dengan dirimu" Stevent mencubit hidung Nisa dan melirik kepada dua pria yang memperhatikan mereka.


" Baiklah" Nisa segera duduk di samping Stevent, melihat Samuel dan Erick.


" Katakanlah, apa yang terjadi kepada Angel" Nisa serius.


Samuel ingin berbicara tapi di tahan Erick, ia tahu Erick tidak bisa bernegosiasi.


" Maafkan kami Nyonya dan Tuan, Angel kembali tidak sadarkan diri karena tidak ada Dokter Nisa di dekatnya" jelas Erick dengan wajah penuh kecemasan.


" Alasan" ucap Stevent kesal dan mata ia dengan Samuel berkilat tajam.


" Sayang, Aku sudah pernah ceritakan tentang Angel" Nisa menyentuh lembut pipi Stevent yang langsung tersenyum manis melihat istrinya.


" Aku tidak menyangka jiwa Jomblo ku akan disiksa seperti ini oleh pasangan suami istri" gumam Erick.


" Saya dan suami saya akan pergi melihat Angel setelah kami bersiap" ucap Nisa lembut.


" Ingat, ketika kami bertemu dengan Angel, kalian berdua tidak boleh merasa satu ruangan dengan kami!" tegas Stevent.


" Baik Tuan, terima kasih banyak, sekali lagi kami mohon maaf, Nyonya dan Tuan, kami permisi" Erick menarik tangan Samuel keluar dari rumah dan menuju mobilnya.

__ADS_1


Samuel duduk di kursi penumpang di samping Erick yang duduk di kursi pengemudi.


" Jangan berharap bro, hahaha" Erick tertawa dan segera mengendarai mobil menuju rumah sakit.


***


Stevent segera menarik tangan Nisa dan menuju kamar mandi.


" Bersihkan diriku dengan bibirmu" Stevent berbisik di telinga Nisa.


" Iih, Jorok" Nisa menarik hidung Stevent.


Stevent segera menarik tubuh Nisa yang masih menggunakan pakaian lengkap dan menyalakan shower.


" Aaah" Nisa terkejut pakaiannya basah sempurna.


" Sayang, aku tidak membawa handuk" Nisa mau keluar dari kamar mandi tapi Stevent kembali menarik tubuh Nisa.


" Buka semua kain yang melekat di tubuhmu" Stevent berbisik di telinga Nisa dan menggigit sedikit daun telinga Nisa.


Nisa menggelengkan kepalanya Heran dengan nafsu dan kekuatan Stevent, untung saja Nisa memiliki daya tahan yang kuat dan mampu menyeimbangi Stevent.


Nisa yang rajin olahraga dan seorang atlet, sehingga memiliki tubuh bugar, sehat dan terawat, ditambah lagi selalu berpikiran positif menghasilkan jiwa yang kuat.


Dari kamar mandi di Lanjutkan di atas tempat tidur, kelelahan dan tertidur bersama, perut lapar tidak terasa.


***


Samuel mondar-mandir di kamar Angel, Erick dan Nyonya Davina memperhatikan Samuel.


" Ada apa dengan Temanmu itu?" Nyonya bertanya kepada Erick.


" Jatuh Cinta pada Pandangan pertama dan langsung patah hati, hahaha" Erick Tertawa puas.


" Bruk" pukulan mendarat di kepala Erick.


" Aw, Sakit" Erick mengusap kepalanya.


" Kenapa patah hati?" tanya Nyonya Davina .


"Dokter Nisa sudah menikah" jawab Erick.


" Wah, benar-benar beruntung, pria yang mendapatkan Dokter Nisa " Nyonya Davina tersenyum.


" Berarti mereka pengantin baru" lanjut Nyonya Davina.


" Dokter Nisa orang yang sangat romantis dan perhatian" membuat orang iri melihat mereka.


" Berhentilah, kenapa ia belum datang?" Samuel kesal.


Nyonya Davina dan Erick menahan tawa.


" Dia sudah menikah " suara hati Samuel berbicara sendiri dan melihat putrinya yang masih tertidur lemas.


" Sayang, Mama Nisa sudah menikah" Samuel berbisik di telinga Angel.


***


**


*


*** *Terimakasih ***


*


**


**


Thanks for Reading 😊


Selalu Tinggalkan Like, Komen dan Vote yang banyaaaaaak, Terimakasih 🤗

__ADS_1


Semoga Readers ku Sehat selalu dan mendapatkan rezeki yang melimpah, Aamiin.


Love You Readers**


__ADS_2