Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Keselamatan Viona


__ADS_3

Kantor Cabang


Pagi hari Viona bersama Jade dan Ayumi datang ke Perusahaan yang sedang bermasalah, tidak ada yang tahu jika Viona adalah adik dari Stevent Lu Alexander, mereka hanya tahu bahwa wanita itu datang sebagai pengawas dari kota yang akan menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan.


Seorang wanita yang menjadi sekretaris menyambut kedatangan Viona dan rekannya, dengan senyuman ramah dan sopan menunggu di depan pintu.


“Selamat pagi Nona Viona, Tuan Jade dan Nona Ayumi.” Sapa sekretaris.


“Selamat pagi Nona Alice.” Viona membaca name tag yang terpasang di dada wanita itu.


“Silahkan masuk Nona.” Alice mempersilahkan mereka masuk ke ruang tanu yang telah di tunggu manager perusahaan.


Alice membuka pintu ruangan ramu, seorang pria yang terlihat masih muda tersenyum pada tamunya, ia meremehkan Viona dan Jade yang terlihat masih muda tetapi ia tidak bisa melihat wajah Ayumi, hanya tatapan tajam penuh penyelidikan yang pria itu dapatkan.


“Selamat datang di kantor cabang yang kecil ini, perkenalkan nama saya Baron.” Pria itu beranjak dari kursi dan mengulurkan tangannya pada Viona.


“Terimakasih Tuan Baron, saya Viona, rekan saya Jade dan Ayumi.” Viona berjabat tangan dengan Baron.


“Silahkan duduk.” Tuan Baron duduk berhadapan dengan Viona dan Jade sedangkan Ayumi hanya berdiri di samping sekretaris, mata tajamnya terus memperhatikan sekeliling dan gerak-gerik dari Baron dan wanita berpakaian seksi.


Mereka berbincang sebentar, kemudian berkeliling di sekitar perkantoran dan terakhir masuk ruangan berkas untuk melihat data perusahaan, catatan keuangan dan daftar karyawan yang telah dipecat.


Ayumi melihat Jade dan Viona yang sedang duduk membaca berkas yang tergeletak di atas meja, ia juga memperhatikan Baron dan Alice yang menjadi penonton seakan meremehkan sepasang muda mudi yang belum berpengalaman dalam urusan bisnis.


“Nona Ayumi, apa anda tidak ikut memeriksa berkas?” Alice tersenyum melihat Ayumi.


“Aku lebih suka memeriksa data pada computer dari pada kertas-kertas itu, apa boleh?” Ayumi tersenyum di balik maskernya, Alice dan Baron saling pandang.


“Anda tahu, semua berkas bisa dirubah tetapi data di dalam computer pasti tersimpan rapi dan mudah untuk dicari.” Ayumi menyenderkan tubuhnya pada dinding ruangan.


“Anda benar Nona Ayumi.” Baron tersenyum dan mengedipkan matanya pada Alice


“Bagaimana kita pergi keruangan computer di gedung seberang.” Alice tersenyum.


“Apakah kalian mempunyai gedung yang berbeda dan terpisah dari kantor ini?” Viona menatap Baron curiga.


“Ya, ruangan khusus ahli computer.” Baron tersneyum.


“Baiklah, sebaiknya kita kesana.” Jade melihat kearah Ayumi.


“Nona Viona, sebaiknya anda tetap di ruangan utama bersama para karyawan, aku akan memeriksa dan mengambil data untuk anda.” Ayumi menatap Viona, Jade melihat kearah wanita yang terus menutupi wajahnya.


“Kenapa?” Viona melihat kearah Viona.


“Aku akan menemani Ayumi.” Jade tersenyum.


“Anda temani saja Nona Viona, jangan khawatirkan saya.” Ayumi melihat kearah Baron.


“Semuanya boleh ikut.” Baron tersenyum.


“Mari kita pergi Tuan Baron.” Ayumi menatap tajam pada Baron.


“Baiklah, Alice kamu temani Nona Viona dan Jade ke ruang tamu.” Baron melihat kearah Alice.


“Duduklah di lobby depan kantor.” Ayumi berbisik di telinga Viona.


“Mari Nona Viona dan Tuan Jade.” Alice tersenyum.


“Kami akan menunggu di lobby depan agar bisa melihat pemandangan jalanan di kota kecil ini.” Viona tersenyum.


“Baiklah, saya akan siapkan minuman dan cemilah.” Alice berjalan bersama Jade dan Viona, sedangkan Baron berjalan bersama Ayumi menuju ruangan computer.


Fauzan dan Asraf duduk di kafe tidak jauh dari daerah perkantoran dengan penyaaran yang luar biasa sehingga tidak bisa di kenali, mereka bisa melihat Viona yang duduk dengan Jade di lobby depan dan Ayumi berjalan bersama Baron ke gedung depan.


“Mau kemana wanita itu?” Fauzan melihat Ayumi.


“Aku tidak akan khawatir.” Asraf tersenyum.


“Kamu benar yang harus di khawatirkan kenapa Viona berduaan dengan pria itu.” Fauzan meihat Viona yang tertawa dan bercanda dengn Jade.


“Tuan, itu adalah gedung komputer bersebelahan dengan gudang kosong.” Asraf melihat Ayumi masuk bersama dengan Baron dari pintu belakang.


“Kamu, perhatikan Viona dan pria itu, aku akan mengikuti Ayumi.” Fauzan meneguk habis kopi pahit miliknya.


“Tuan, sebaiknya saya yang mengikuti Ayumi, tubuh anda sangat berharga.” Asraf menahan tangan Fauzan.

__ADS_1


“Aku hanya akan melihat dari jauh.” Fauzan tersenyum dan meregangkan otot tubuhnya.


“Sepertinya anda sangat ingin berolah raga.” Asraf menatap Fauzan.


“Kamu benar, jika itu dibutuhkan.” Fauzan beranjak dari kursi dan berjalan keluar dari café bersama Asraf, ia melirik Viona sekilas.


“Gadis itu telihat bahagia bersama dengan Jade.” Fauzan tersenyum.


Ayumi berjalan santai mengikuti langkah kaki Baron yang membukakan pintu untuk wanita yang masih menutupi wajahnya dengan masker.


“Nona, kenapa anda menutupi wajah anda dengan masker?” Baron tersenyum.


“Untuk perlindungan diri.” Ayumi melihat sekilas pada Baron dan memperhatikan ruangan kosong tanpa karyawan tetapi ada banyak computer.


“Kemana karyawan di ruangan ini?” tanya Ayumi berjalan menuju computer utama.


“Anda sangat jeli, langsung menuju computer itu.” Baron tersenyum.


“Apa saya boleh melihat data dalam computer ini?” Ayumi menyentuh mouse computer yang masih aktiv.


“Tentu saja, saya berharap kalian bisa menyelesaikan masalah perusahaan ini.” Baron memperhatikan Ayumi, ia sangat penasaran dengan wajah dengan tubuh indah itu.


Ayumi telah selesai memindahkan semua data ke ponselnya dengan sangat cepat, ia ahli dalam segalah hal tidak akan tertandingi dengan karyawan biasa ia sangat terlatih sebagai hacker dan kemampuan yang dibutuhkan seorang Mafia, pembunuh, penyadap, detektif dan pekerjaan rahasia lainya.


“Saya sudah selesai Tuan, kita bisa kembali agar Nona Viona bisa memeriksa semua kejanggalan yang terjadi di perusahaan ini.” Ayumi beranjak dari kursi.


“Perusahaan ini mengalami kerugian akibat terhambatnya pemasukan dari kota.” Baron menatap tajam pada Ayumi.


“Itu hanya sebagian kecilnya tetapi sebagian besar adalah telah terjadi penyelundupan dana.” Ayumi tersenyum.


“Benarkah, siapa yang telah melakukannya?” Baron tersenyum.


“Hanya para petinggi yang serakah yang bisa melakukannya.” Aymu berjalan menuju pintu yang tiba-tiba ditutup dan dikunci dari luar.


“Anda terlalu cerdas Nona.” Baron membuka jas dan meletakkan di kursi.


“Anda benar, aku sudah menyelidiki perusahaan ini.” Ayumi memasukan hijabnya dalam jaket dan menaikkan zipper.


“Bagaiman jika kita bekerjasama?” Baron tersenyum.


“Perusahaan ini akan segera bangkrut dan tidak akan terselamatkan.” Baron tersenyum.


“Karena anda telah memindahkan dana perusahaan ke rekening pribadi.” Ayumi tersenyum dan menampilkan layar ponselnnya


“Kamu terlalu banyak tahu.” Baron kesal ia mau merebut ponsel Ayumi dengan cepat wanita itu memasukan kedalam saku jaketnya dan menendang tubuh pria itu hingga jatuh ke lantai.


“Kamu bukan wanita biasa.” Baron bernajak dari lantai dan memberikan isyarat untuk para pemukul keluar dari persembunyian.


Ayumi tersenyum, ia sangat suka berkelahi di dalam ruangan dengan persiapan matang, ia tidak akan khawatir untuk melukai lawannya karena tidak ada yang akan melihat keganasan dirinya bertarung tanpa belas kasih kepada para penjahat.


Seorang pria tampan masih ditempat persembunyiannya, mengamati wanita yang belum pernah memperlihatkan wajahnya, ia akan keluar untuk membantu apabila dibutuhkan dan terdesak. Fauzan sangat penasaran dengan latar belakang Ayumi.


Ayumi telah siap bertarung, ada banyak senjata rahasia yang tersimpan di dalam jaket, celana, sepatu dan pakaiannya. Seorang pria berjalan mendekati Ayumi tetapi sebuah pisau telah melayang dan menancap di dadanya.


Fauzan terkejut melihat pria itu telah tersungkur di lantai dan berlumuran darah, pisau kecil dan beracun telah mendarat tepat di dada. Pria lain membawa sebuah kayu mau memukul Ayumi, tetapi tubuh ramping itu telah meloncat dan naik ke atas meja, ia kembali melempar pisau pada pria kedua.


Terjun bebas menendang tubuh dua pria lainnya yang belum siap dengan gerakan cepat dan lincah dari Ayumi, ia mengeluarkan pistol kecil dengan peredam suara dan menembak pada kaki kedua orang tersebut.


Empat pria pemukul anak buah Baron terkapar di atas lantai dengan tubuh berlumuran darah dan kesakitan, tidak percaya akan dikalahkan oleh wanita berhijap. Ayumi memberikan tendangan berputar pada Baron hingga pria itu tersungkur kembali kelantai dengan bibir berdarah.


“Anda tidak akan bisa mengelak, saya telah mengirimkan semua kejahatan anda kepada pihak berwajib.” Ayumi membuka maskernya untuk mengeringkan keringat pada wajahnya. Ia membelakangai Baron dan anak buahnya tetapi menhadap Fauzan yang masih bersembunyi.


Fauzan tercengang melihat kecantikan tertutup masker. Wajah putih bersih dan sangat cantik sempurna sangat tidak pantas dengan keganasan Ayumi dalam bertarung. Wanita itu menggantikan maskernya, mencabut pisau dari dua tubuh pria yang telah ia lukai dan membersihkan darahnya dengan pakaian mereka.


“Ini adalah pisau khusus.” Ayumi menyimpan kembali pisau pada tempatnya.


“Tunggu saja kedatangan polisi” Ayumi menendang pintu hingga rusak, ia keluar dari ruangan.


“Wanita itu sangat ahli dalam bertarung, ia merubah cara bertarung di dalam dan luar ruangan.” Fauzan terduduk di tempat persembunyiannya ia tidak menyadari Ayumi berada tetap di elakang dirinya.


Sebuah tendangan hampir mengenai Fauzan tetapi pria itu berhasil menghindar karena ia melihat bayangan Ayumi di pantulan kaca jendela.


“Apa yang kamu lakukan disini?” Ayumi manatap tajam pada Fauzan.


“Aku hanya melihat dirimu dan akan membantu jika dibutuhkan.” Fauzan melihat Ayumi, iasedikit khawatir karena ada banyak senjata ditubuh wanita itu.

__ADS_1


“Kamu adalah orang yang terus membuntuti kami.” Ayumi kembali menyerang Fauzan dengan tendangan dan pria itu hanya menghindar.


“Bisakah kamu tidak menyerang diriku dan berbicara baik-baik.” Fauzan memperhatikan Ayumi.


Ponsel Ayumi berdering, ia segera mundur menjauhi Fauzan dan menerima panggilan dari Viona yang ketakutan, wanita itu segera berlari menuju lobby depan untuk menemui Viona diikuti Fauzan. Langkah kaki Ayumi terhenti dan mengintip dari balik pohon bersama Fauzan.


“Apa yang mereka lakukan?” tanya Fauzan heran karena ada beberapa preman yang berada di dekat Viona.


“Ini adalah daerah kekuasaan Baron, kau telah menghubungi polisi kota karena pilosi di daerah sini tidakakan datang.” Ayumi mengeluarkan pisau kecilnya.


“Wanita ini sangat cerdas dan penuh perhitungan.” Fauzan berbicara di dalam hatinya.


“Bisakah kamu menjauh dari diriku, aku perlu bergerak lebih leluasa.” Mata tajam Ayumi bertemu dengan mata Fauzan.


“Ya.” Fauzan menjauh dari Ayumi dan memperhatikan sekeliling, ia mencari Asraf yang entah dimana.


Ayumi meleparkan pisau kecil menancap ditangan pria yang sedang menyandra Viona dengan pisau dapur.


“Arrg.” Pria itu berteriak, ia merasakan tanganya sakit mengeluarkan darah dan tidak bisa digerakkan lagi.


“Aaarg.” Viona berteriak ketakutan melihat darah.


“Hei gadis jepang keluarlah dari persembunyian kamu atau Nona ini akan mati.” Baron mengarahkan pistol di kepala Viona.


“Apa pria itu gila?” Ayumi tersenyum dari balik maskernya dan mamakai kacamata canggih miliknya.


“Aku akan bergerak.” Fauzan akankeluar tapi tangannya di tahan oleh Ayumi.


“Tetaplah disini, tubuh dan nyawa anda lebih berharga.” Ayumi tersenyum, ia telah mengenali Fauzan seorang pangeran Arab melalui kacamatanya. Pria itu terdiam dan bingung dengan kalimat Ayumi yang sama dengan Asraf, ia berpikir wanita itu telah mengenali dirinya.


Wanita itu mengeluarkan pistol, ia fokus membidik tangan Baron dengan penuh perhitungan agar tidak mengenai Viona, Fauzan sedikit khawatir dengan apa yang akan dilakukan Ayumi, meleset sedikit saja maka adik Stevent akan kehilangan nyawanya.


Pria itu hanya diam, ia tidak mau mengganggu konsentrasi Ayumi sehingga membuat wanita itu gagal menembak Baron. Tanpa ada suara ledakan tangan Baron telah mengeluarkan darah dan pistol yang ia pegang telah jatuh kelantai.


Ayumi berlari mengambil pistol yang tergeletak di lantai dan membuang kedalam kotak sampah, ia menarik Viona yang memejamkan matanya dan menembaki kaki para preman, mereka terduduk dilantai menahan kaki yang teruka.


“Aku benar-benar tidak tahu jika perusahaan ini telah menjadi milik para preman.” Fauzan melihat Jade tegeletak di lantai dan Asraf yang masih berkelaki dengan preman. Ayumi menarik Viona hingga sampai ke mobil.


“Tunggulah di dalam mobil dan jangan keluar!” Ayumi menutup pintu mobil dan kembali menemuia Jade. Ia melihat Fauzan membantu Asraf, ketika ada kesempatan wanita itu meleparkan pisau kepada musuh. Pisah mendarat di pungggung pria yang menjadi lawan Asraf dan Fauzan.


Polisi datang, Ayumi berlari kembali ke mobil mengggantikan masker dan pakaiannya, menyembunyikan senjata yang tersimpan. Ia keluar dari mobil dengan pakaian yang berbbeda.


“Ayumi, apa yang terjadi kenapa kita di serang?” Viona terlihat ketakutan.


“Tak apa, mereka hanya menginginkan perusahaan dan takut Tuan Stevent mengetahui kejahatan yang telah mereka lakukan.” Ayumi tersenyum.


“Sekarang kita bagaimana?” Viona menatap Ayumi.


“Kembali ke kamar dan beristriahat.” Ayumi mengendarai mobil menuju penginapan.


“Bagaimana dengan Jade?” Viona tidak tahu ada Fauzan dan Asraf yang masih menyamar.


“Seseorang akan menolong dia dan menghentikan kekacauan ini, saya hanya akan menjamin keselamatan anda.” Ayumi memarkirkan mobil di tempat parkir penginapan.


“Ayo Nona, bersihkan diri Anda, kita akan mulai bekerja.” Ayumi menarik tangan Viona masuk ke dalam kamar mereka, ia segera mengunci pintu.


Mereka berdua membersihkan diri dan mengganti pakaian, Ayumi tidak menggunakan masker ketika berdua dengan Viona tetapi ia tetap menggunakan pakaian lengkap dan hijab sebagai perlindungan diri.


Polisi menangkap Baron bersama anak buahnya, para karyawan dipulangkan lebih awal, Jade telah diobati dan kembali ke kamarnya, setelah menghubungi Viona. Fauzan dan Asraf telah menyelesaikan masalah perkelahian dan beristirahat di kamar.


Ayumi membuka layar computer dan memberikan semua data kepada Viona, ia tidak mau ikut campur dengan apa yang akan Viona lakukan walaupun ia tahu cara meyelesaikan masalh perusahaan dengan cepat tetapi itu adalah tugas Viona.


Viona fokus pada layar computer, ia tidak perduli dengan kejadian di perusahaan karena ia lebih memikirkan pangeran yang jadi penyemangat dirinya untuk menyelesaikan masalah. Wanita itu tidak tahu jika Fauzan berada dekat dengan dirinya.


Ayumi berdiri di balkon menatap lurus ke depan sehingga berhadapan langsung dengan seorang pria tampan yang menekankan tangannya pada pagar Balkon. Wanita itu tersenyum cantik dan masuk kedalam kamar. Senyuman yang memiliki banyak arti dan tanda tanya.


Senyum adalah ibadah, setiap senyuman yang kamu berikan bisa membuat orang lain ikut bahagia dan merasa nyaman dekat denganmu. Ada makna dibalik berbagai macam senyuman itu, kamu bisa tahu dari gerakan mulut dan ekspresi wajah mereka saat tersenyum.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2