Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Bisakah Kamu Mencintaiku?


__ADS_3

Rumah Sakit Provinsi


Afifah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak di atas sofa, obat yang ia minum telah di sempurnakan dengan efek tidur panjang untuk proses penenangan dan mengumpulan memory yang telah terpotong dan hilang.


Nathan menatap wajah polos Afifah dan menggendongnya memindahkan ke tempat tidur, pria itu berbaring di samping wanita yang tertidur tidak sadarkan diri.


Pria tampan tersenyum melihat gadis mungil dan imut tidur di sampingnya, ia telah membuka perban sehingga memperlihatkan tubuh seksi dengan sobekan roti dan otot kekar. Tangan lembut Nathan mengusap hijab berwarna pink.


Terdengar ketukan pintu, seorang dokter dan perawat wanita masuk ke dalam ruangan, Nathan segera turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu, wajah perawat langsung memerah melihat pria tampan tanpa pakaian berdiri di depannya begitu sempurna.


“Selamat Pagi King Of Nathan.” Dokter pria mengulurkan tangannya dan melirik tempat tidur Nathan.


“Halo Dokter Joe.” Nathan tersenyum dan menjabat tangannya.


“Anda luar biasa, lihat luka ini sembuh dengan cepat dan hampir menghilang.” Dokter Joe mau menyentuh perut Nathan tetapi tangannya di tahan oleh pria itu.


“Hanya kekasihku yang boleh menyentuh tubuhku.” Nathan tersenyum sinis dan melirik pada perawat yang terus menatap dirinya.


“Baiklah, pria hebat tidak ada yang tidak mengenal dirimu, kamu sudah bisa pulang hari ini.” Dokter Joe berjalan mendekati Afifah.


“Hmm, gadis yang imut dan sangat cantik.” Dokter Joe menunduk dan memperhatikan wajah Afifah.


“Pria lain dilarang melihat wanitaku.” Nathan mencengkram tangan Joe dan berbisik, ia tidak mau mengganggu tidur Afifah.


“Hey, Apa kamu menyukai gadis kecil, lihatlah dia terlalu muda untuk dirimu.” Joe tersenyum menggoda Nathan.


“Kamu tidak usah mendekati, jika kamu jatuh cinta pada dirinya aku akan membunuh dirimu.” Nathan mencengkram leher Joe.


“Nathan, apa yang kamu lakukan?” Afifah membuka matanya perlahan dan duduk, kain yang menutupi tubuhnya jatuh.


“Sayang, apa mereka mengganggu tidurmu?” Nathan melepaskan tangannya dari Joe dan mendekati Afifah.


“Aku tertidur setelah minum obat.” Afifah menatap Nathan dan menyadari dia tidur di atas tempat tidur Nathan.


“Kenapa aku tidur di sini?” Afifah bingung.


“Aku memindahkan dirimu dari sofa.” Nathan tersenyum.


“Apa, bagaimana dengan lukamu?” Afifah melihat perut Nathan yang tidak lagi dibalut kain kasa.


“Aku sudah sembuh sayang, kita akan segera pulang dan menikah.” Nathan mengambil tangan Afifah dan meletakkan di perutnya.


“Apa yang kamu lakukan.” Dengan cepat Afifah menarik tangannya dan turun dari tempat tidur.


“Maafkan saya dokter, anda bisa memeriksa Nathan.” Afifah tersenyum cantik dan berjalan menuju kamar mandi.


“Berlian.” Joe tersenyum melihat Afifah.


“Apa?” Afifah menoleh dan bingung.


“Tidak ada.” Joe mendekati Nathan.


“Wanita dewasa dengan wajah awet muda dan tubuh yang indah.” Joe berbisik di telinga Nathan.


“Sudah aku katakan jangan mendekati dirinya, apalagi sampai kamu berinteraksi karena dia adalah wanitaku dan hanya milikku.” Nathan kembali mencengkram leher Joe.


“Baiklah, aku tidak akan berani.” Joe menepis tangan Nathan, ia melihat perawat yang masih terdiam di depan pintu.


“Aku mengundang dirimu untuk makan malam dirumahku.” Joe tersenyum.


“Sudah lama kita tidak bertemu.” Joe menepuk pundak Nathan.


“Akan aku pikirkan.” Nathan menepis tangan Joe.


“Sayang, apa kamu lapar?” Nathan bejalan mendekati Afifah yang keluar dari kamar mandi.


“Apa kamu sudah di periksa?” Afifah balas bertanya, wajahnya terlihat segar dan terlihat masih basah.


Cantik alami tanpa ada polesan make up dan bedak, bahkan seorang perawat wanita terpesona akan kecantikan Afifah, wajah lembut dan halus, kulit putih bersih dan bercahaya.


“Dia sangat cantik.” Joe dan Perawat bergumam tanpa sadar.


“Aku tidak perlu diperiksa kita akan berkemas dan pulang.” Nathan tersenyum, ia mengambil handuk dan mengelap air di wajah Afifah.


“Aku bisa melakukannya sendiri.” Afifah merebut handuk dari tangan Nathan.


“Dokter Joe, apa yang anda tunggu di ruanganku?” Nathan menatap Joe penuh dengan rasa cemburu.


“Tuan Nathan, saya akan memeriksa kondisi anda.” Perawat wanita tersenyum.


“Tidak perlu aku sudah memiliki perawat pribadi.” Nathan tersenyum menatap Afifah.


“Silahkan Nona, pasien ini harus di periksa.” Afifah mendorong tubuh Nathan ke tempat tidur.


“Sayang, sentuhan kamu menggodaku.” Nathan tersenyum nakal.


“Diamlah, aku akan pergi jika kamu membantah.” Afifah melotot.


“Baiklah, aku akan menurut jika kamu yang memeriksa dirimu.” Nathan tersenyum manja.


“Sikap apa itu,menjijikan.” Joe kembali mendekati Nathan.


“Kenapa kamu kembali temanku?” Nathan tersenyum sinis.


“Aku adalah teman dan dokter kamu, sikap apa yang kamu tunjukan pada wanita ini?” Joe tersenyum.


“Sikap seorang pria yang sedang jatuh cinta.” Nathan melirik Afifah.


“Baiklah, tidak ada yang tidak bisa dilakukan seorang Nathan.” Joe berjalan mendekati Afifah.


“Nona, apakah anda kekasih Nathan?” Joe tersenyum.


“Dia calon istriku, kamu datang kemari untuk meminta restu orang tuannya.” Nathan turun dari tempat tidur bahkan perawat belum sempat menyentuh tubuhnya untuk diperiksa.


“Sayang, bisakah kamu ambilkan baju ganti untukku.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Ya.” Afifah segera berjalan menuju lemari pakaian.


“Ada apa dengan Nathan, setiap kali ada seorang pria, ia selalu bersikap berlebihan.” Afifah menggerutu.


“Kamu membuat dia takut.” Joe duduk di sofa dan meminta perawat keluar dari ruangan.


“Aku hanya mau memberitahukan kepada dirimu dia adalah miliku.” Nathan duduk di samping Joe.


“Aku tidak akan mengambilnya, aku pergi dulu, jangan lupa untuk menghubungi diriku.” Joe keluar dari ruangan Nathan.


“Kenapa kamu lama sekali mencarikan baju untukku.” Nathan berdiri di belakang Afifah.


“Nathan, kamu terlalu dekat.” Afifah mendorong tubuh Nathan.


“Aw.” Nathan memegang perutnya.


“Maaf, apa aku menyakitimu?” Afifah khawatir secara refleks ia menyentuh luka Nathan dengan lembut.


“Ya, kamu menyakiti hatiku karena terus menolah lamaranku.” Nathan menggenggam tangan Afifah dan meletakakan di dadanya.

__ADS_1


“Dasar, pria licik, kamu membohongi diriku.” Afifah segera menatik tangannya dan kembali merapikan pakaian.


“Apa yang kamu lakukan?” Nathan kembali mendekati Afifah.


“Bukankah kita harus berkemas, tetapi bagaimana kita membawa semua pakaian dan selimut ini.” Afifah melihat lemari yang terisi penuh.


“Tinggalkan saja.” Nathan mengambil kemeja lengan panjang berwarna putih yang berada digantungan dan memakainya.


“Tidak, mereka akan membuangnya, aku sayang dengan semua pakian ini.” Afifah menatap Nathan.


“Apa kamu menyukai semua yang aku berikan?” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah.


“Tentu saja, ini pertama kalinya aku mendapatkan banyak hadiah dari seorang pria.” Afifah menghindari Nathan.


“Apa kamu tidak ingat tentang helicopter yang menghamburkan bunga, balon dan coklat?” Nathan mengikuti Afifah duduk di Sofa.


“Aku ingat, kamu menculikku, tunggu apa semua itu dari kamu?” Afifah menatap Nathan.


“Ya dan lamaranku gagal karena kedatangan orang lain, sehingga kamu tidak melihat hingga akhir.” Wajah Nathan berubah marah.


“Apa kamu marah?” Afifah tersenyum.


“Apa kamu suka melihat diriku marah?” Nathan mendekat.


“Nathan, bagaimana kita pulang dan bawa semua barang-barang ini.” Afifah menjauh dari Nathan.


“Tunggulah sebentar.” Nathan merapikan kemeja dan jasnya, ia tampak tampan dan rapi.


“Pria itu terlihat sempurna, tetapi kenapa suka memaksa?” Afifah melirik Nathan.


“Apa aku tampan?” Nathan tersenyum.


“Narsis.” Afifah memancungkan bibirnya.


“Jangan lakukan itu!” Nathan menutup mulut Afifah dengan tangannya.


“Apa yang kamu lakukan?” Afifah menggigit jari Nathan dan tersenyum puas dan berlari.


“Kamu semakin berani menggodaku.” Nathan tersenyum dan mengerjar Afifah.


Pintu terbuka, Afifah menabrak Roy dan hampir terjatuh dengan sigap pria itu menangkap tubuh wanita yang bergantung pada lengan kekarnya.


“Afifah.” Nathan berteriak dan menatap tajam pada Roy yang membantu Afifah berdiri dengan perlahan.


“Apa yang kamu lakukan?” Nathan menarik tangan Afifah matanya memerah, ia sangat marah karena Roy menyentuh kekasihnya.


“Maafkan aku.” Afifah dapat melihat kemarahan dan cemburu berlebihan di mata Nathan.


“Jangan lakukan itu lagi!” Nathan menatap tajam pada Roy yang terdiam dan menunduk.


“Tidak aku tidak akan berlari lagi, jangan marah pada Roy.” Afifah melihat Roy dan merasa bersalah.


“Ya, tidak akan ada lagi.” Nathan menatap Afifah.


“Maafkan saya Tuan, mobil telah siap dan pelayan hotel telah datang.” Roy membuka pintu lebar-lebar.


“Ikut aku.” Nathan menarik tangan Afifah dan keluar dari kamar.


“Nathan, tas dan ponselku.” Afifah menahan tangan Nathan.


“Tunggu di sini, jangan bergerak sedikitpun!” Nathan kembali ke dalam ruangannya.


Ia melihat Roy memegang tas Afifah, dengan cepat Nathan mengambil dari tangan Asistennya dan menatap tajam.


“Sebisa mungkin kamu menghindari Afifah.” Nathan menatap Roy.


“Aku tidak akan berani mengambil Afifah dari anda hanya saja aku tidak mau di terjatuh dan terluka.” Roy melihat Afifah dari balik pintu kaca yang diam tanpa bergerak menunggu Nathan.


“Kita akan makan di restoran.” Nathan memeberikan tas dan ponsel pada Afifah.


“Terimakasih, apa kamu memarahi Roy?” Afifah terlihat manja.


“Apa kamu membelanya?” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Aku yang salah bukan Roy jadi kamu harus marah padaku.” Afifah tersenyum dan mengedipkan mata indahnya agar Nathan tersenyum.


“Benar, aku akan menghukum wanita yang bersalah ini dengan hukuman yang setimpal.” Nathan tersenyum berjalan mendekati Afifah.


“Aku merasa bulu kudukku merinding.” Afifah mundur menghindari Nathan dan memutar tubuhnya untuk berjalan cepat tetapi tali gamisnya di pegang Nathan.


“Jika kamu berjalan terlalu jauh aku akan memasang borgol.” Nathan tersenyum dan berbisik di telinga Afifah.


“Baiklah, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.” Afifah mersenyum.


“Benar sekali.” Nathan mengikat salah satu tali gamis Afifah pada ikat pinggannya.


“Apa lagi yang kamu lakukan?” Afifah kesal.


“Dengan tali ini kita tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.” Nathan tersenyum licik.


“Ya Tuhan, apa pria ini tidak normal atau terlalu cerdas.” Afifah menepuk dahinya dan kembali berjalan melewati koridor.


Sebuah mobil mewah parkir epat di depan pintu utama, seorang sales pria menunggu didepan pintu mobil untuk menyerahkan kunci dan berkas.


“Selamat siang Tuan Nathan.” Pria dengan pakaian pegawai showroom menyapa Nathan.


“Siang, ini mobil pesanan anda.” Pria itu menyerahkan kunci dan berkas.


“Terimakasih.” Nathan segera membuka pintu mobil.


“Orang kaya, dimana berhenti di situ dia membeli mobil.” Afifah geleng-geleng kepalanya.


“Sayang, tali ini akan putus jika kamu masih berdiri di situ.” Nathan menarik tali gamis Afifah.


“Kita akan pergi kemana?” Afifah berdiri di samping Nathan.


“Kemanapun kamu mau.” Nathan membuka ikatan tali gamis Afifah.


“Aku lapar.” Afifah masuk kedalam mobil.


“Baiklah sayang kita akan makan.” Nathan segera menjalankan mobilnya menuju restoran.


Mata indah Afifah memandang jalanan melihat setiap tanda dan ciri suatu kota, ia bagaikan burung cantik yang baru keluar dari sayang yang berada di tengah hutan, dulu ia pernah kuliah di kampus tetapi tidak berada di kota besar.


“Afifah, apa kamu mau pergi berlibur ke luar negeri?” tanya Nathan tanpa melihat Afifah.


“Kemana?” Afifah melihat Nathan.


“Kemanapun kamu mau akan aku turuti.” Nathan tersenyum dan melirik Afifah.


“Benarkah, aku mau keliling dunia.” Afifah bersemangat.


“Apa kamu serius? kamu mau pergi sekarang atau setelah menikah?” Nathan tersenyum lebar.


“Menikah?” Afifah menatap Nathan, ia lupa setiap hari pria itu mengajaknya menikah yang hanya dianggap candaan olehnya.

__ADS_1


“Jangan menatapku, aku tidak fokus mengendarai mobil ini.” Nathan tersenyum dan menoleh sekilas pada Afifah.


“Ah, maafkan aku.” Afifah menoleh ke kaca jendela mobil.


Nathan memarkirkan mobilnya di depan senuah restoran mewah, dengan banyak pengunjung karena sudah jam makan siang. Pria itu segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Afifah.


“Terinakasih.” Afifah tersenyum.


“Sama-sama sayang.” Wajah tampan Nathan dihiasi senyman kebahagiaan.


“Apa kamu sering kemari?” tanya Afifah berjalan di samping Nathan.


“Aku sudah berkeliling dunia.” Nathan tersenyum.


“Baiklah pria kaya.” Afifah melihat sekeliling.


“Kemarilah.” Nathan menarik tali baju Afifah dan berjalan memasuki ruang makan khusus kalangan elit, yang hanya ada satu meja dan dua kursi dengan perlengkapan mewah begitu nyaman dan kedap suara sehingga mereka bisa menikmati makan dengan tenang.


“Kenapa kita tidak makandi luar?” Afifah melihat Nathan.


“Aku tidak suka dengan keramaian.” Nathan menarik tas Afifah dan maduk ked alam ruangan.


“Bagaimana, apa kamu suka?” Nathan menatap Afifah.


“Ya, sangat nyaman dan indah.” Afifah berjalan mendekati kolam ikan dengan air mancur yang indah.


Sewa ruangan jauh lebih mahal dari harga makanan yang mereka pesan dengan pelayanan ekstra dan istimewa.


“Sayang, kamu mau makan apa?” Nathan melihat Afifah duduk di tepi kolam dan bermain air.


“Aku tidak pilih makanan, samakan saja.” Afifah tersenyum cantik.


“Baiklah, Aku semakin mencintai dirimu.” Nathan memesan makanan dan di catat oleh seorang pelayan wanita yang terus memandang pria tampan yang terlihat bahagia di depannya.


“Tunggu sebentar Tuan.” Pelayan tersenyum dan keluar dari ruangan.


“Ya.” Nathan tersenyum.


“Sampai kapan kamu akan bermain dengan ikan-ikan ini?” Nathan berjongkok di samping Afifah, memandang wajah cantik yang tidak pernah membuatnya bosan.


“Mmm, sampai makanan datang.” Afifah tersenyum cantik.


“Afifah.” Suara Nathan terdengar lembut.


“Ya.” Afifah melihat kearah Nathan.


“Bisakah kamu mencintai diriku?” Nathan menatap wanita di depannya.


Afifah terdiam dan menatap wajah tampan yang terlihat menyedihkan, sorot mata kesepian, butuh kasih sayang dan perhatian. Ia tidak mau menyakiti pria di depannya tetapi ia belum benar-benar mengenal tentang kehidupan Nathan.


“Kenapa kamu diam?” Nathan terus memandang Afifah.


“Aku.” Kalimat Afifah terpotong karena pintu terbuka oleh pelayan mengantar makanan.


“Permisi.” Seorang pelayan masuk diikuti yang lainnya, menatap makanan dengan rapi di atas meja utama dan cemilan serta minuman di meja khusus.


“Silahkan Tuan dan Nyonya.” Pelayan tersenyum ramah dan keluar dari ruangan.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum cantik.


“Apa kamu sudah lapar?” Nathan menatap Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum dan duduk manis di atas kursi.


“Baiklah, setelah makan kita bisa lanjutkan pembicaraan tadi.” Nathan tersenyum dan duduk di depan Afifah.


“Apa kamu suka dengan menu yang aku pilihkan?” Nathan menatap Afifah.


“Ya, dan ketika makan tidak boleh lagi berbicara.” Afifah tersenyum dan meletakkan jari dibibirnya.


Nathan tersenyum melihat Afifah dan mereka memulia makan siang dengan tenang tanpa perbincangan, sunyi hanya suara gemericik air dan ikan yang terdengar, bahkan tidak ada dentingan sendok dan garpu.


Mereka telah menyelesaikan makan siang yang romantic dan menikmati cemilan ringan, duduk bersama di samping kolam renang dan air mancur, diam tanpa ada yang berbicara, pria itu masih menatap wanita yang terus menghindar.


“Afifah, haruskah aku menjadi pengemis di hadapan dirimu, memohon setiap detik agar kamu mau menikah dengan diriku.” Nathan berbicara dalam hatinya.


Ada banyak wanita yang telah mengemis cinta Nathan, bahkan nekat seperti loly hanya untuk mendapatkan pria dingin dan sadis tanpa belas kasih, tetapi ia jatuh tersungkur ketika bertemu dengan Afifah, wanita dewasa yang cantik lucu, imut dan menggemaskan.


Pria benar-benar suka tantangan, sudah ada buah yang jatuh di sampingnya tetapi mereka lebih senang memanjat dan memetiknya sendiri, memilih buah terbaik yang masih melekat di tangkai pohon yang kokoh dengan warna, aroma dan rasa yang berbeda.


“Nathan, apa kamu tidak lelah, bagaimana dengan luka dirimu?” Afifah membuka memecahkan keheningan.


“Apa kamu mau memeriksanya?” Nathan tersenyum, ia membuka kancing jasnya.


“Ah, aku melakukan kesalahan menanyakan keadaanya.” Afifah bernajak dari pinggir kolam dan mengancingkan kembali jas Nathan.


“Aku yakin kamu baik-baik saja.” Afifah tersenyum.


“Pria ini luar biasa begitu juga dengan formula yang ia gunakan.” Afifah berbicara di dalam hati.


“Afifah.” Nathan menarik tangan Afifah hingga wajah nereka sangat dekat.


Afifah terdiam, tubuhnya beku, aliran darah seakan berhenti hanya terdengar detak jantung yang semakin nyaring mengikuti irama percikan air. Mata mereka saling berpadu larut dalam kegelisahan yang tersimpan di dalam bola mata bening.


“Akan aku pikirkan.” Afifah melepaskan dirinya dari Nathan.


“Sebaiknya kita kembali ke hotel.” Nathan tersenyum dan menarik tangan Afifah keluar dari ruangan.


“Aku tidak bisa menahan diri bila terlalu lama berdua dengannya di dalam ruangan yang sempit dan selalu berdekatan.” Nathan berbicara dengan dirinya sendiri.


“Nathan, lepaskan tanganku.” Afifah menarik tangannya.


“Maafkan aku.” Nathan melepaskan pegangan tangannya dan mereka kembali berjalan bersama menuju mobil.


“Aku tidak bisa lari dari pria ini, menikah adalah salah satu jalan agar terhindar dari dosa.” Afifah menarik napas dengan berat.


“Menikah, aku tidak pernah berpikir untuk menikah.” Afifah sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.


“Apa yang kamu lamunkan?” Nathan melambaikan tangannya di depan Afifah.


“Kamu.” Afifah masuk kedalam mobil.


“Apa?” Nathan segera duduk dikursi peengemudi.


“Tidak ada apa-apa.” Afifah memejamkan matanya.


“Aku mencintai dirimu.” Nathan tersenyum dan menjalankan mobil menuju hotel mereka.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2