
Taman Rumah Sakit.
Bayi kembar yang tampan dan cantik berada di bawah sinar matahari pagi di temani kedua orang tua mereka dan assiten pribadi Stevent beserta Aisyah.
Untuk pertama kalinya Nisa dan Bayinya keluar dari ruangan perawatan, menghirup udara segar dan merasakan hangatnya Matahari pagi menyentuh kulit.
Azzura terlihat terus bergerak, seakan tidak menyukai hangatnya cahaya Matahari pagi berbeda dengan Azzam yang terus tenang dalam tidur nyenyaknya.
"Sayang putriku tidak suka terkena Matahari." Stevent terlihat khawatir melihat Azzura yang merengek dan terus bergerak.
"Sebentar lagi." Nisa tersenyum dan mencium pipi putrinya.
"Aku suka melihat Azzam yang selalu tenang di manapun Dia berada." Aisyah tersenyum dan menyentuh pipi Azzam.
"Azzura terlihat cantik." Jhonny melihat Aisyah.
"Apa kamu mau anak perempuan?" Aisyah menatap Jhonny.
"Ya, akan secantik dirimu." Jhonny membuat Aisyah dan Nisa tersenyum.
"Pergilah dari sini!" Stevent mendorong tubuh Jhonny menjauh dari putrinya.
"Stev, jangan sakiti suamiku!" Aisyah menarik Jhonny.
Nisa tersenyum melihat tingkah Jhonny dan Aisyah, mereka terlihat lucu.
"Baiklah." Stevent menggendong Azzura dan tidak memperdulikan Jhonny.
"Sayang, nanti Azzura akan manja dan mau digendong terus." Nisa menyentuh tangan Stevent dengan lembut.
"Apa kamu cemburu?" Stevent mencium pipi Nisa.
"Apa?" Nisa tertawa mendengar perkataan Stevent.
"Apa ada ibu yang cemburu kepada anaknya?" Nisa menyentuh pipi Stevent.
"Aku senang jika kamu cemburu pada semuanya." Stevent kembali mencium pipi Nisa.
"Baiklah, aku akan cemburu." Nisa mencubit hidung Stevent.
Azzam membuka matanya dan melihat kearah Nisa dengan senyuman yang menggemaskan.
"Ya Tuhan, Azzam sangat tampan dan manis." Aisyah menggendong Azzam.
"Kamu akan menjadi menantu Mami Aisyah." Aisyah mencium pipi Azzam.
"Menantu, apa Dokter Nada sedang hamil bayi perempuan?" Stevent menatap Aisyah.
"Belum tapi aku sudah melamar Azzam." Aisyah tersenyum.
"Ternyata Dokter Aisyah sama aneh dengan Jhonny." Stevent tersenyum.
Azzam menggeliat dan memancungkan mulutnya mencari Asi, ia hanya terbangun ketika merasa ketika merasa lapar.
"Nisa, Azzam sudah lapar." Aisyah menyerahkan Azzam kepada Nisa untuk mendapatkan Asi.
Nisa menyembunyikan Azzam di dalam hijab besarnya agar bisa menikmati asi tanpa dilihat orang lain dan Azzam telah terbiasa.
"Sayang, Azzam sangat sering mendapatkan Asi daripada Azzura." Stevent melihat Nisa.
"Apa kamu cemburu?" Nisa tersenyum dan membuat Aisyah tertawa.
"Aku sangat cemburu sayang, bahkan menginginkan Asi juga." Stevent berbisik di telinga Nisa.
"Apaan." Nisa menutup mulut Stevent yang tersenyum nakal.
__ADS_1
"Apa yang Stevent katakan?" Aisyah melihat Stevent.
"Shhh." Nisa meletakkan jarinya dibibir, ia butuh ketenangan ketika memberi Asi.
Nisa memejamkan matanya membaca ayat-ayat Alquran. Stevent, Aisyah dan Jhonny memperhatikan Nisa.
Stevent menghalangi pandangan Jhonny dengan tubuhnya, memahami itu Aisyah menarik tangan Jhonny dan duduk di kursi dengan sedikit jarak.
"Kamu tahu Stevent pencemburu, jangan pernah melihat Nisa." Aisyah berbisik di telinga Jhonny.
"Hm." Jhonny menunduk, ia hanya ingin melihat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
"Aku mau menjadi Ayah." Jhonny menatap Aisyah dengan tatapan penuh harap.
"Kamu akan menjadi Ayah yang baik, penuh cinta dan kasih." Aisyah tersenyum.
"Aku akan menyayangi anak-anak ku." Jhonny menunduk.
Aisyah memeluk Jhonny, ia melihat ada luka dari tatapan Jhonny yang berusaha disembunyikan.
"Kita akan segera mendapatkan anak."Aisyah memeluk erat tubuh kekar Jhonny.
"Kapan kita akan bercinta lagi?" Jhonny berbisik di telinga Aisyah.
"Segera setelah pulang ke rumah kita." Jari Aisyah bermain di telinga Jhonny.
Jhonny menarik tangan Aisyah dan menciumnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Stevent menatap tajam kearah Jhonny dan Aisyah.
"Bercinta." Aisyah tersenyum.
"Ada hotel di depan pesantren, kalian bisa check in satu malam." Stevent menggendong Azzura dan bersiap kembali ke kamar bersama Nisa dan Azzam.
"Apakah boleh?" Aisyah bersemangat.
"Ayo Jhonny." Aisyah mengandeng tangan Jhonny.
"Tidak bisa, aku akan tenang ketika Tuan Stevent beserta keluarganya sudah kembali ke rumah." Jhonny menyentuh tangan Aisyah dengan lembut.
"Baiklah." Aisyah tersenyum, ia menatap Jhonny dengan lembut.
Mereka berdua berjalan bersama mengikuti langkah kaki Stevent dan Nisa menuju ruangan bayi yang dijaga ketat oleh para pengawal baik yg terlihat dan tersembunyi.
Stevent dan Nisa membaringkan bayi mereka di dalam keranjang tidur, Jhonny menunggu di luar ia akan pergi bersama Stevent mengawasi rumah baru.
"Dokter Aisyah tolong temani Nisa dan anak-anak, Aku dan Jhonny harus pergi." Stevent mencium dahi dan bibir Nisa.
"Baiklah." Aisyah duduk di kursi samping tempat tidur bayi.
"Aku mau melihat rumah baru kita." Stevent memeluk Nisa.
"Hati-hati Sayang, jangan lupa membaca doa." Nisa tersenyum melihat kepergian suaminya.
"Tentu saja." Stevent tersenyum dan keluar dari ruangan.
Jhonny segera berdiri melihat Stevent keluar dari ruangan dan bersiap pergi ke rumah baru Stevent.
"Apa kamu sudah pamit dengan Dokter Aisyah?" Stevent menatap Jhonny.
"Sudah Tuan." Jhonny menunduk.
"Baguslah, bagaimana kabar Fanny?" tanya Stevent berjalan menuju parkiran.
"Dia mendapatkan pelayanan yang baik." Jhonny mengikuti langkah Stevent.
__ADS_1
"Benarkah?" Stevent tersenyum.
"Aku sangat jijik melihat wanita itu." Mata Stevent memerah mengingat ciuman Fanny, ia harus membersihkan bibirnya berkali-kali dan tidak berani mengatakan kepada Nisa.
"Apa yang Fanny lakukan sehingga Tuan harus mengurungnya di dalam penjara?" tanya Jhonny.
"Jangan tanyakan, aku tidak suka mengingat wanita murahan itu." Stevent menyentuh bibirnya dan gerakan itu dapat Jhonny tebak.
"Dia sangat beruntung." Jhonny tersenyum.
"Apa kamu mau aku penjarakan bersama Fanny dalam satu ruangan?" Stevent mengehentikan langkahnya dan melihat kearah Jhonny.
"Tidak Tuan, aku hanya mau satu penjara bersama Aisyah." Jhonny menunduk.
Mereka berdua telah sampai di tempat parkir dan masuk ke dalam mobil. Jhonny mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena rumah baru Stevent tidak jauh dari rumah sakit.
Mobil telah memasuki perkarangan rumah yang semakin indah sesuai dengan desain Stevent. Warna rumah telah berubah warna menjadi hijau teduh, serasi dengan bunga berwarna-warni di halaman.
Stevent tersenyum, sedikit lagi rumah telah selesai dibenah dan ia siap membawa istri dan anaknya.
Beberapa pekerja memberi hormat kepada Stevent dan Jhonny yang berjalan masuk ke dalam rumah menuju sebuah kamar yang telah ditata rapi untuk kamar Azzam dan Azzura.
Cat berwarna biru langit untuk Azzam dan merah muda untuk Azzura. Satu ruangan yang luas telah dirubah seperti dua kamar yang berbeda.
"Sangat cantik." Jhonny berjalan menuju tempat tidur Azzura.
"Anak perempuan memang lebih berwarna." Stevent tersenyum.
"Bagaimana dengan lantai atas?" tanya Jhonny.
"Kamu bisa menggunakannya dengan Dokter Aisyah, Aku akan menggunakan lantai bawah." Stevent menepuk pundak Jhonny.
"Kenapa?" tanya Jhonny lagi.
"Untuk kemanan Nisa dan anak-anak kami." Stevent tersenyum.
"Nisa dan anak-anak tidak perlu naik turun tangga yang berbahaya dan melelahkan." Stevent keluar dari kamar anaknya dan berjalan menuju kamar ia dan Nisa.
Jhonny mengikuti Stevent hingga ke depan pintu kamar yang masih terkunci.
"Kamu tidak boleh masuk, ini adalah kamar pengantin baru." Stevent tersenyum.
"Pengantin baru?" Jhonny bingung.
"Setelah melahirkan, kamu tidak boleh menyentuh istri selama dua bulan atau hingga dia sehat." Stevent melewati kamarnya.
"Lama sekali." Jhonny terus mengikuti langkah Stevent dan memperhatikan rumah yang telah berubah total dari warna, perabot dan susunan di dalam setiap ruangan. Rumah terlihat seperti baru.
"Ya, aku harus menahan diri selama itu, sangat menyiksa." Stevent tersenyum.
"Untuk saja anda tidak tergoda dengan Fanny." Jhonny menahan senyum.
"Jika kamu menyebutkan lagi nama wanita itu, aku pastikan kamu tidur bersamanya dipenjara." Stevent menatap tajam kepada Jhonny.
"Maafkan saya Tuan." Jhonny menunduk.
Jhonny dan Stevent berkeliling dari depan ke dalam hingga belakang rumah. Seminggu lagi rumah siap huni.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.