
Musium Menara
Afifah masih tertidur di atas tempat tidur yang empuk, ruangan itu adalah kamar sebuah hotel di puncak menara yang sudah lama tidak terpakai tetapi tetap terawat. Pria bertopeng duduk di samping tempat tidur menatap sedih pada Afifah.
“Kenapa kalian harus bertemu sehingga pria itu jatuh cinta kepada dirimu?” Pria bertopeng menggengam tangan Afifah.
“Apa kamu tahu aku sangat mencintai dirimu?” Pria bertopeng mencium jari-jari tangan Afifah dan melihat sebuah cincin berlian putih di jari manis.
“Afifah, aku harus membunuh Nathan untuk balas dendam, dan aku tidak mau kamu terlibat, aku akan membawa kamu pergi jauh dari Negara ini.” Pria bertopeng mengambil cincin dari jari manis Afifah.
“Maafkan aku Afifah, pria itu tidak pantas untuk dirimu, kamu terlalu baik.” Pria bertopeng melepaskan cincin dari jendela kaca menara.
“Tuan Helikopter datang terlambat.” Seorang pria berdiri di pintu.
“Apa yang terjadi?” Pria bertopeng menatap pada pria itu.
“Kita kehilangan pilot.” Pria itu melihat khawatir pada Pria bertopeng.
“Apakah anak buah Nathan telah sampai?” Pria bertopeng beranjak dari tempat tidur.
“Ini bukan daerah kekuasan Nathan, ia tidak bisa melakukan apapun.” Pria itu tersenyum.
“Ya, tidak mungkin Stevent membantu musuhnya, mereka saling membenci, aku telah menyelidiki Nathan selama ini.” Pria bertopeng berdiri di samping jendela kaca.
“Kebetulan yang tidak terduga Nathan jatuh cinta pada Afifah.” Pria bertopeng kembali duduk di samping Afifah.
“Sepertinya aku salah perhitungan, Nathan mendapat bantuan di kota ini tetapi siapa yang membantu dirinya?” Pria bertopeng mengusap kepala Afifah.
“Atau ada orang lain yang mau menyelamatkan dirimu?” Jari Pria bertopeng menyentuh bibir mungil Afifah yang telah kering.
“Tuan, mobil telah siap di lantai bawah tanah.” Seorang wanita tergesa-gesa.
“Ada apa?” Pria bertopeng melihat kearah wanita itu.
“Sepertinya Menara ini telah dikepung, anda harus segera keluar dari kamar ini lewat pintu bawah tanah.” Wanita itu melihat Pria bertopeng khawatir.
“Kami, akan pergi lewat pintu belakang,” ucap seorang pria.
“Bagaimana dengan penjaga di pintu depan?” Pria bertopeng melihat dua ornag di depannya bergantian.
“Tidak usah khawatir Tuan, pergilah.” Pria itu menarik tangan rekan wanitanya dan keluar dari pintu menuruni tangga.
“Benar-benar tidak terduga, aku pikir bisa mengalahkan Nathan di kota ini.” Pria bertopeng membuka ikatan kain di tangan dan kaki Afifah.
“Ayo kita pergi.” Pria bertopeng bersiap menggendong Afifah.
“Jangan sentuh Afifah!” Nathan berdiri di depan pintu yang terbuka dengan mengarahkan pistol pada Pria bertopeng.
“Ah, kamu lebih cepat dari dugaanku.” Pria bertopeng meletakkan kembali tubuh Afifah di atas tempat tidur.
“Pria pengecut menyembunyikan wajahnya di balik topeng.” Nathan tersenyum dan melirik Afifah yang masih menggunakan gaun putihnya.
“Aku tidak tahu, kamu memiliki banyak anak buah di kota ini.” Pria bertopeng tersenum.
“Mereka semua milik Stevent, kamu tidak percayakan, aku mendapat bantuan dari Stevent Lu Alexander.” Nathan menahan emosinya, ia berharap Afifah tidak terbangun dari tidurnya agar tidak melihat kebengisan dirinya ketika sedang marah.
“Kamu sangat beruntung.” Pria bertopeng tersenyum, ia duduk di samping Afifah dan mengangkat tubuh itu.
“Jangan sentuh wanitaku!” Nathan berteriak.
“Kamu masih jauh Nathan.” Pria bertopeng menyentuh pipi Afifah.
“Kau!” Mata Nathan memerah, ia tidak bisa menarik pelatuk karena khawatir akan melukai Afifah.
“Kelemahan seorang pria adalah wanita yang ia cintai, seharusnya kamu tidak jatuh cinta agar kamu tidak memiliki kelemahan.” Pria bertopeng meletakkan pistol di kepala Afifah.
“Apa yang kamu inginkan?” Nathan melihat Afifah.
“Penderitaan dan kematian dirimu.” Pria bertopeng menatap tajam pada Nathan.
“Lakukan saja, tetapi jangan sakiti Afifah.” Nathan menurunkan tangannya.
“Kematian Afifah adalah penderitaan pertama untuk dirimu, ah tidak bagaimana jika kamu melihat aku bercinta dengan wanita ini.” Pria itu mencium kepala Afifah.
“Tidak.” Sebuah tembakan tepat di lengan Pria bertopeng hingga pistol terjatuh.
“Arrg.” Pria itu melihat darah mengalir membasahi kemeja dan gaun putih Afifah.
Nathan berlari kearah Pria bertopeng dan menariknya menjauhi Afifah, menghempaskan tubuh Pria itu ke lantai, memberikan tembakan lagi pada telapak tangan yang telah menyentuh wajah Afifah.
“Kamu sendirian.” Mata Nathan memerah, tubuhnya gemetar, ia menatap Pria bertopeng yang sedang kesakitan dengan tatapan membunuh.
“Aku tahu aku telah kalah Nathan.” Pria itu tersenyum.
“Afifah adalah wanita yang aku cintai dan aku tidak rela dia hidup bersama dengan pria pembunuh seperti dirimu.” Pria bertopeng menatap tajam pada Nathan.
“Nathan.” Suara lembut membuat Nathan mematung dan Pria bertopeng terdiam, ia berpikir Afifah tidak akan menyebutkan nama Nathan lagi.
“Afifah.” Tanpa sadar Nathan melepaskan pistolnya dan berjalan mendekati Afifah.
__ADS_1
“Apa kamu datang menyelamatkan diriku?” Tatapan Afifah lembut pada Nathan.
“Apa yang kamu rasakan?” Nathan menyentuh pipi Afifah, ia sangat ingin memeluk wanita itu.
“Aku sangat lelah dan pusing, dimana pria bertopeng?” Afifah menatap Nathan.
“Aku disini.” Pria itu tersenyum.
“Kamu terluka.” Afifah turun dari tempat tidur dan mau menolong pria bertopeng tetapi Nathan menahan tangannya.
“Jangan dekati dia!” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Kenapa? Apa kamu yang menembak dirinya?” Afifah menatap Nathan.
“Ya, tangan itu telah menyentuh dirimu, sudah aku katakan kamu hanya milik diriku.” Nathan mencengkram tangan Afifah.
“Apakah kamu seorang pembunuh?” Afifah menarik tangannya dan Nathan hanya terdiam.
“Segeralah kerumah sakit.” Afifah melihat luka di lengan dan telapak tangan pria itu.
“Tidak perlu, malaikat pencabut nyawa sangat dekat denganku.” Pria itu melihat kearah Nathan.
“Walaupun aku pergi ia tidak akan melepaskan diriku, aku akan tetap mati ditangannya.” Pria itu tersenyum pada Afifah.
“Hidup dan mati seseorang telah ditakdirkan oleh Tuhan.” Afifah menoleh kearah Nathan yang terdiam.
“Dor.” Sebuah tembakan mengenai dada bagian atas sebelah kiri Nathan, Afifah terdiam kebingungan dan ketakutan berada diantara dua pria yang sedang terluka.
“Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian saling tembak?” Afifah terduduk di lantai.
“Setidaknya, sebelum aku mati aku bisa membunuh Nathan.” Pria itu tersenyum, ia menatap sedih pada Afifah.
“Apa kamu juga seorang pembunuh?” Afifah menatap pria bertopeng dan ingin membuka topengnya.
Nathan menarik Afifah ke pelukannya hingga darah dari luka tembakan merubah gaun dan hijab putih menjadi merah terang.
“Apakah kamu mau kami berdua mati dihadapan dirimu?” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Aku tidak mau melihat kematian siapapun, bisakah kalian bedua pergi kerumah sakit.” Afifah menyentuh luka Nathan yang untungnya jauh dari jantung. Nathan mendorong tubuh Afifah ke tempat tidur dan mengambil pistol yang tergeletak di atas tempat tidur menembak tangan pria yang memegang pistol.
Kedua tangan pria itu telah Nathan tembak hingga tidak bisa lagi bergerak, Afifah menutup telinganya, ia melihat Nathan yang masih mengarahkan pistol pada dada pria bertopeng dengan tatapan siap membunuh.
“Tembak saja Nathan, itu lebih baik kamu lakukan dihadapan Afifah.” Pria itu tersenyum dan sedikit meringis menahan sakit.
“Hentikan!” Afifah berteriak.
“Kenapa kamu mau Nathan membunuh kamu, apakah untuk membuktikan kepada diriku bahwa dirinya seorang pembunuh?” Afifah menatap tajam pada Pria bertopeng.
“Lupakan Afifah, sebaiknya kita pergi dari tempat ini.” Nathan menarik tangan Afifah.
“Nathan, bunuh aku!” Pria itu berteriak membuat Nathan memutar tubuhnya dan mengarahkan kembali pistol pada pria bertopeng.
“Akan aku kabulkan.” Jari Nathan siap menarik pelatuk.
“Hentikan.” Suara lembut dan jari Afifah menyentuh tangan Nathan yang memegang pistol.
“Aku tidak mau melihat kamu benar-benar menjadi seorang pembunuh.” Afifah menatap Nathan dengan lembut.
“Apa kamu akan menikah dengan diriku?” Nathan tersenyum.
“Apa hanya itu yang bisa kamu tanyakan, lihatlah kamu telah kehilangan banyak darah.
“Aku telah mempersiapkan semuanya.” Nathan menyimpan pistol, mengambil jarum berisi cairan dari saku jasnya dan memberikan kepada Afifah.
“Apa kamu masih punya yang lain?” Afifah mengambil jarum suntik, membuka kancing kemeja dan menyuntikkan pada luka Nathan.
“Apa kamu mau menyuntikkan pada pria itu?” Nathan menatap Afifah lembut.
“Aku tahu cairan ini untuk menghentikan pendarahan dan menghilangkan rasa sakit.” Afifah mengancingkan kembali kemeja Nathan dan membuang jarum pada tempat sampah.
“Aku masih punya tetapi aku sendiri yang akan menyuntikkannya.” Nathan tersenyum dan menjauhkan Afifah dari Pria bertopeng, ia mau melihat wajah pria itu.
“Tunggulah disini.” Nathan mendorong tubuh Afifah duduk di kursi dan berjalan mendekati pria bertopeng.
“Kamu mau mati atau hidup?” tanya Nathan pada pria bertopeng.
“Jika kamu membiarkan aku hidup, aku akan kembali memnghancurkan dirimu.” Pria itu tersenyum.
“Jika kamu mau hidup, aku akan melihat wajah kamu tetapi jika kematian yang kamu inginkan akan aku berikan.” Nathan mengeluarkan tiga jarum suntik berisi cairan berbeda warna.
Mata pria itu melotot, ia tahu warna merah untuk racun darah, putih tulang untuk menghancurkan tulah secara perlahan dan putih susu untuk menghentikan pendarahan serta menghilangkan rasa sakit.
“Pilihlah, aku akan menyuntikkan untuk dirimu.” Nathan tersenyum.
“Kematian atau kehidupan?” Nathan membuka jarum dari sarungnya.
“Kehidupan,” jawab pria itu tegas, ia melirih Afifah yang masih duduk diam di depan pintu kamar.
“Baiklah.” Nathan menyuntikkan cairan berwarna putih susu pada lengan kanan dan kiri pria itu dan membuka topeng.
__ADS_1
“Afifah adalah wanita yang aku cintai yang ingin kamu bunuh.” Pria itu tersenyum.
“Harusnya aku membunuh dirimu tetapi aku telah berjanji tidak akan membunuh dihadapan Afifah.” Nathan memasangkan kembali topeng pria itu dan berjalan mendekati Afifah.
“Kita pulang sayang.” Nathan menarik tangan Afifah masuk ke dalam lift dan menoleh pada pria yang masih terduduk di lantai.
“Kita akan kerumah sakit, berikan ponselmu!” Afifah menadahkan tangannya.
“Untuk apa?” Nathan mengambil ponselnya dari saku celana dan saku bagian dalam jas berisi ampul cairan dan jarum.
“Menghubungi ambulans untuk menjemput pria itu.” Afifah mengambil ponsel Nathan dan segera menghubungi nomor darurat.
“Bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan manja.
“Aku tahu kamu membawa mobil.” Afifah tersenyum.
“Siapa yang akan merawat diriku?” tanya Nathan lagi.
“Kita akan kerumah sakit ada perawat dan dokter disana, peluru yang bersarang di tubuh kamu harus segera dikeluarkan.” Afifah melihat pakaian mereka berdua telah berwarna merah.
“Kenapa kamu tertidur, apakah pria itu memberikan kamu obat?” tanya Nathan khawatir.
“Aku tidak ingat.” Afifah tersenyum.
Mereka berdua telah sampai di pintu utama Menara, hanya ada sau mobil Nathan, bekas perkelahian para pengawal dan penjaga telah dibersihkan tanpa sisa, orang Stevent melakukan dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
“Apa kamu bisa mengemudi?” Afifa membuka pintu untuk Nathan.
“Tentu saja, masuklah kita akan kerumah sakit.” Nathan tersenyum.
“Kenapa kamu belum menjalankan mobilnya?” Afifah menatap Nathan.
“Aku harus menghubungi seseorang untuk berterimakasih.” Nathan meminta ponselnya pada Afifah.
“Malam sudah sangat larut, orang itu pasti sedang beristirahat.” Afifah menggenggam ponsel Nathan.
“Kirimkan pesan saja pada Stevent, katakan terimakasih Afifah telah bersama diriku.” Nathan tersenyum tampan.seakan tidak merasakan sakit karena tembakan.
“Akan aku lakukan.” Afifah mulai mengetik pesan dan mengirimkan kepada Stevent.
“Sudah.” Afifah memperlihatkan layar ponsel pada Nathan.
“Terimaksih sayang.” Nathan tersenyum dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
“Ada berapa banyak kamu mencuri fotoku?” Affiah membuka kotak media Nathan.
“Tidak terhitung, semua kotak media berisi foto dirimu.” Nathan tersenyum tanpa melihat Afifah.
Afifah meletakkan ponsel Nathan di depan dan mengambil tisu membersihkan wajahnya, ia melihat gaun putihnya yang telah berwana merah dan menatap pria di sampingnya, memperhatikan wajah yang hampir terhapus dari ingatannya jika pria itu tidak muncul di hadapannya ketika ia terbangun.
“Kenapa kamu menatap diriku?” Nathan melirik Afifah.
“Agar aku tidak lupa wajah kamu.” Afifah menoleh ke kaca jendela. Nathan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
“Afifah.” Suara Nathan lembut membuat Afifah menoleh.
“Aku sangat mencintai dirimu, berjanjilah untuk selalu berada disisiku agar aku tidak pernah hilang dari ingatanmu.” Nathan menatap lekat pada wajah cantik Afifah yang menganggukkan kepalanya.
Nathan tersenyum dan hampir mencium bibir mungil yang terlihat kering, tetapi dengan cepat tangan Afifah menutup mulut Nathan dengan kotak tisu.
“Kamu harus menahan diri.” Afifah mengambil selembar tisu dan menempelkan pada bibir Nathan.
“Aku terus menahan diri.” Nathan tersenyum, ia mengambil tisu dari mulutnya dan membuang keluar jendela.
“Jangan buang sampah sembarangan!” Afifah menatap Nathan.
“Aku akan memungutnya kembali.” Nathan mau keluar dari mobil.
“Cepatlah kerumah sakit, apa kamu tidak kesakitan?” Affiah meletakkan kembali kotak tisu pada tempatnya.
“Aku harus mengambil sampah tisu.” Nathan tersenyum manja.
“Tisunya sudah terbang.” Afifah tersenyum melihat tisu yang melayang di udara.
“Baiklah sayang, aku tidak mau luka ini akan menghambat pernikahan kita.” Nathan tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Cinta dapat membuat seseorang baik menjadi jahat atau sebaliknya orang jahat menjadi baik, tidak ada yang bisa menebak kekuatan cinta pada diri manusia. Tuhan ciptakan rasa cinta agar manusia saling mengasihi dan menyayangi serta hidup berdampingan bersama makluk lainya.
Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya.
Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
***
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.