Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kegelisahan Jhonny


__ADS_3

Valentino telah siap dengan mobil yang diberikan Stevent kepada Dokter Aisyah.


Dokter Aisyah duduk di samping Valentino, ia tidak membawa apapun dari rumah Jhonny.


" Dokter tidak pamit sama Jhonny?" tanya Valentino menatap Dokter Aisyah yang telah dianggap sebagai kakaknya sendiri.


" Jhonny masih kerja, tidak bisa di ganggu, Cepatlah, perjalanan kita masih jauh" ucap Dokter Aisyah buru


" Ok" Valentino segera menjalankan mobil meninggalkan rumah Jhonny.


Aura kebahagiaan terlihat jelas di wajah Dokter Aisyah.


" Akhirnya, aku bisa keluar dari penjara ini " suara hati Dokter Aisyah.


Mobil telah meninggalkan jalanan kota dan mulai memasuki perbatasan Kota.


" Valen, kamu masih sering ketemu preman di ujung jalan?" tanya Dokter Aisyah khawatir.


" Tidak ada lagi Dok, yang aku dengar tejadi pembantaian di sini" jawab Valentino.


" Maksud kamu?" Dokter Aisyah penasaran.


" Tidak ada yang tahu persis kejadiannya, tapi gosip yang beredar, para preman bertemu dengan orang yang salah sehingga mereka di bantai habis tidak tersisa, bahkan jenazah dan motor mereka hilang entah kemana" jelas Valentino.


Dokter Aisyah merasa begidig memikirkan sadisnya para pembantaian.


" Para keluarga tidak tahu harus mencari dan mengadu kemana? Mereka tidak punya bukti dan saksi" lanjut Valentino.


" Pasti yang melakukan pembantaian itu adalah orang yang berkuasa" ucap Dokter Aisyah ngeri.


" Aku juga berpikir begitu, tapi bagusnya jalanan ini menjadi aman" Valentino tersenyum manis.


" Benar" lanjut Dokter Aisyah.


Mobil terus melaju mengikuti Jalanan seakan tidak ada habisnya, tubuh terasa lelah dan membosankan.


Dokter Aisyah tertidur dengan lelap di kursinya belakang, Ketika merasa mengantuk


ia pindah ke kursi bagian belakang.


Mobil telah berhenti di depan klinik Dokter Aisyah.


Valentino segera membuka pintu mobil, ia melihat Dokter Aisyah masih tertidur.


Valentino membiarkan Dokter Aisyah, ia segera membuka pintu klinik.


" Alhamdulilah sampai" teriak Dokter Aisyah ketika turun dari mobil.


Dokter Aisyah membentangkan tangannya dan menghirup udara segar pedesaan.


" Nyamannya" gumam Dokter Aisyah dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia melihat Valentino telah sibuk di dapur membuatkan makanan.


" Halo Dokter Aisyah, kakakku" sapa Valentino ramah.


" Bisakah kamu memanggilku Kakak saja " Dokter Aisyah bersemangat, ia segera menuju kamarnya.


" Akan aku coba" Teriak Valentino dari dapur.


" Aaaah, kangen sekali dengan tempat tidur ku" Dokter Aisyah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Makanan sudah siaaap" Teriak Valentino.


" Aku datang" Dokter Aisyah segera berjalan menuju ruang makan.


Mereka berdua menghabiskan makanan yang telah di masak oleh Valentino, jauhnya perjalanan membuat kelaparan dan kelelahan.


Dokter Aisyah segera membersihkan dan merapikan peralatan makan.


" Kak, aku pulang dulu, besok kita mendaki bukit" Valentino mengambil ranselnya.


" Bawa mobil bersama kamu" ucap Dokter Aisyah.


" Baiklah, aku pulang" Valentino membawa mobil ke rumahnya.


Selesaikan membersihkan dan membereskan semua perkerjaan rumah, Dokter Aisyah melihat kebun belakang rumahnya, banyak tumbuhan yang mati.


" Sepertinya Valentino tidak menyiram tanaman obat ini" Dokter Aisyah segera membersihkan kebun, memilih tumbuhan yang masih bisa di gunakan.


Selesai dengan pekerjaan di kebun ,so segera membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Beristirahat di kamarnya dan tertidur nyenyak, sangat melelahkan.


*****


Jhonny kembali ke rumah malam hari, ia sangat sibuk jika Stevent tidak datang ke kantor.


Stevent menghabiskan waktunya bersama istrinya yang sudah tidak bekerja lagi.


Berhentinya Nisa bekerja adalah kebahagiaan bagi Stevent.


Jhonny berjalan menuju laboratorium, ia tidak pulang makan siang, rasanya rindu dengan Dokter Aisyah.

__ADS_1


Jhonny melihat laboratorium sepi dan rapi, tidak ada Dokter Aisyah atau Valentino.


" Kemana mereka? Apakah sudah tidur?" ada banyak pertanyaan di kepala Jhonny.


Jhonny kembali ke rumah, ia menuju ruang makan, sepi, hanya ada makan malam yang telah tersedia di atas meja.


Jhonny berjalan menuju kamar Valentino, pintu terbuka dan tidak ada siapa-siapa di sana.


" Ah, pasti brondong sudah kembali ke Desa" Jhonny tersenyum bahagia.


Ia segera menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dan turun ke ruang makan untuk makan malam.


Ketika Jhonny sedang makan tidak akan ada pelayan yang mendekat.


Jhonny merasakan sepi tidak ada yang menemani.


" Dulu juga aku terbiasa sendirian" Jhonny berbicara sendirian, ia telah menyelesaikan makan malamnya.


" Kenapa dia tidak turun untuk minum ?" Jhonny menatap pintu kamar Dokter Aisyah yang tertutup rapat.


Jhonny terlihat gelisah, satu hari ia tidak bertemu dengan Dokter Aisyah rasanya rindu sekali, ia sudah periksa ke Dokter spesialis Jantung, namun jantung Jhonny baik - baik saja.


Jhonny mondar-mandir di ruang tengah dan kadang menatap pintu kamar Dokter Aisyah.


Ia ingin sekali melihat wajah jutek Dokter Aisyah ketika marah dan senyum manis ketika ia tidak tahu Jhonny mencuri pandang.


Ada relung kosong di dada Jhonny hari ini yang tidak terisi.


" Ah, andai aku boleh membuka pintu dan masuk ke kamarnya" gerutu Jhonny.


" Aku rasa dia akan membunuhku malam ini" Jhonny berdiri di depan pintu kamar Dokter Aisyah.


Salah satu Tangan Jhonny memegang gagang pintu dan satu lagi telah berada di udara ingin mengetuk pintu, namun tangan itu membeku di udara, tidak ada keberanian.


Jhonny segera masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu. Malam telah larut, Jhonny terus berharap bisa bertemu Dokter Aisyah.


" Aku akan bangun pagi-pagi, supaya bisa bertemu dengan dirinya" Jhonny tersenyum dan tidur.


Matahari telah menyelinap masuk ke kamar Jhonny, memberikan kehangatan pada tubuh telanjang dan seksi dengan otot-otot yang kuat.


" Oh No " Jhonny Berlari dari kamarnya dan turun ke bawah menuju Dapur mencari Dokter Aisyah, para pelayan segera menunduk, terkejut dan terpesona melihat tubuh seksi Jhonny yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Jhonny benar-benar tidak sadarkan, ia hanya menggunakan celana panjang menampilkan tubuh seksi miliknya.


Jhonny kembali berlari menuju laboratorium dan sepi, hanya air yang menari - nari menyirami tanaman.


Andai Ada Dokter Aisyah di sana, pasti ia sudah berteriak melihat Jhonny bertelanjang dada.


Ia berjalan perlahan kembali ke kamar, membersihkan diri dan mengganti pakaian, menikmati sarapan yang tidak terasa nikmat.


" Kemana Dokter Aisyah?" tanya Jhonny tanpa melihat para pelayan yang menunggu Jhonny Selesai makan di dapur.


Seorang laki-laki sebagai kepala pelayan terlihat sudah Tua mendekat.


" Maaf Tuan , sepertinya Dokter Aisyah sudah pergi dari kemarin" jawab pria paruh baya lembut.


Jhonny mengehentikan sarapannya, ia segera beranjak dari kursi menuju mobilnya dan berangkat ke kantor.


Jhonny duduk termenung dan melamun di kursinya.


Stevent sibuk dengan layar komputer di depannya dan Nisa membaca buku di kamar Stevent di sudut ruangan, kamar yang pernah mereka gunakan untuk bercinta.


" Jhonny, kirimkan laporan dari perusahaan Papa Alexander!" Perintah Stevent.


" Kenapa tidak ada laporan apapun disini?" Stevent berbicara sendiri karena yang diajak berbicara tidak merespon.


Stevent tidak pernah mengulangi perintahnya, ia melihat Jhonny termenung menatap kosong pada komputer di depannya.


" Apa yang dipikirkan Jhonny" Stevent memandang Jhonny.


" Jika aku bercinta dengan Nisa, kurasa ia tidak akan sadar" Stevent tersenyum nakal.


Ia berjalan menuju kamar miliknya, ia segera menutup pintu dan melihat Nisa yang sedang fokus membaca buku kajian tentang Islam duduk di samping jendela kaca.


" Cantik sekali bidadari ku" Stevent mengganggu istrinya dengan tangan yang mulai menelusuri tubuh Nisa.


" Sayang, kamu kenapa kemari?" Nisa tersenyum melihat suaminya yang nakal menjelajahi Tubuhnya.


" Aku rindu kepada istriku" Stevent mulai melancarkan ciuman di wajah Nisa.


" Aku tahu pekerjaan kamu banyak, kasian Jhonny, kembalilah" Nisa tersenyum dan mencium hidung Stevent.


" Sayang, apa kamu tidak kasihan kepada ku" suara manja Stevent.


" Oh, suamiku, seharusnya aku yang dikasihani, setiap malam kamu memakan habis diriku" Nisa meletakkan kedua tangannya di pipi Stevent dan menggesekkan hidung mereka berdua.


" Cup" ciuman lembut mendarat di bibir Nisa.


" Baiklah, aku akan memarahi Jhonny" Stevent beranjak dari Nisa.


" Eh, kenapa memarahi Jhonny?" Nisa menarik tangan Stevent.

__ADS_1


" Sayang, Jhonny tidak bekerja dengan benar" senyum nakal Stevent menggoda Nisa.


" Maksudnya?" Nisa bingung, Jhonny pantas di sebut Robot oleh Dokter Aisyah karena begitu patuhnya kepada Stevent.


" Kemari Sayang ",Stevent menarik tangan Nisa, mereka mengintip Jhonny dari pintu yang terbuka sedikit.


"Lihat dia masih seperti itu dari pagi tadi" Nisa dan Stevent Seperti anak kecil mengintip Jhonny yang termenung.


" Sayang, mungkin Jhonny sakit, aku akan memeriksa Dia " Nisa beranjak dari pintu mengambil tas punggung miliknya ingin memeriksa Jhonny.


Stevent membentangkan tangannya di depan pintu.


" Setelah kamu memeriksa Jhonny, aku akan membunuhnya" Stevent menatap tajam ke arah Nisa yang menepuk dahinya.


" Baiklah, Sayangku, apa yang harus kita lakukan kepada Jhonny?" Nisa mencubit hidung Stevent.


Stevent menggenggam tangan Nisa dan keluar dari kamar.


" Jhonny" sapa Stevent dan Jhonny tetap tidak bergeming, Nisa menahan tawa.


" Kenapa kamu tersenyum Sayang?" sebenarnya Stevent sudah emosi dengan Jhonny, beruntung ada Nisa di ruangannya.


" Sayang, sepertinya Jhonny sedang jatuh cinta" Nisa berbisik di telinga Stevent.


" Hmm" Stevent ingat bagaimana tidak fokusnya dia bekerja ketika selalu teringat pada Nisa.


Stevent tersenyum, hanya Dokter Aisyah wanita yang pernah berada dekat dengan Jhonny, dan tidak ada wanita lain.


" Sayang mendekat ke pintu dan teriakan Dokter Aisyah" bisik Stevent di telinga Nisa.


Nisa tidak percaya suaminya bisa bertingkah jahil, sangat lucu, Nisa memandang wajah suaminya yang terlihat bahagia dan,


" Cup" sebuah ciuman sekilas mendarat di bibir Stevent dan terdiam, Nisa telah berjalan Menuju pintu.


" Jangan memancing diriku dan junior" Stevent melirik Nisa dengan pandangan lapar.


Nisa membuka pintu


" Dokter Aisyah" Nisa sengaja meninggikan suaranya.


" Aisyah" Jhonny segera beranjak dari kursinya berjalan keluar hampir menabrak Nisa, beruntung Nisa Sigap menghindar.


Mata Stevent melotot, ia tidak mengira idenya hampir membuat Jhonny menyentuh istrinya.


Stevent berjalan mendekat Nisa dan ingin memukul Jhonny, namun tangannya di tahan Nisa dan mendapatkan ciuman lagi.


Stevent tersenyum, ciuman Nisa dapat membuat mood Stevent berubah dengan cepat.


" Dokter Nisa, dimana Dokter Aisyah?" Jhonny kembali ke ruangan.


Stevent memeluk Nisa dari punggung.


" Apakah kamu kehilangan tahanan mu?" Stevent tersenyum sinis.


" Sayang, Dokter Aisyah bukan tahanan" Nisa menutup mulut Stevent dengan tangannya


" Jhonny, Dokter Aisyah Kembali ke Desa bersama Valentino.


Jhonny duduk di Sofa, ia terlihat lemah tidak bertenaga, separuh jiwanya terbawa ke Desa.


" Hey, Pria Bodoh, bukan diam di sini, kejar sampai dapat!" Stevent menatap sinis ke arah Jhonny.


" Sayang, tidak boleh berkata seperti itu" Nisa mencubit dagu Stevent yang terus memeluk Nisa dari belakang melingkari tangannya di perut Nisa.


Jhonny segera keluar dari ruangan Stevent tanpa sepatah kata.


Melihat Jhonny telah pergi, Stevent segera melancarkan serangan bergerilya pada tubuh Nisa.


****


***


**


*


*"*" **Terimakasih"*"*


*


**


***


****


Thanks for Reading


Selalu Tinggalkan Like, komen dan Vote yaa ( Jika berkenan).


Semoga Readers tercinta sehat selalu dan mendapatkan Rezeky yang melimpah, Aamiin.

__ADS_1


Love You Readers**


__ADS_2