Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Dia Bukan Kakak Nisa


__ADS_3

Mereka telah sampai di rumah, Stevent menghentikan mobilnya tepat di depan pintu, ia bergegas keluar dari mobil dan mau membuka pintu untuk Nisa, tapi Nisa sudah lebih dulu membuka pintu berjalan cepat meninggalkan Stevent.


Stevent memperhatikan Nisa,


" Ia marah?" pikir Stevent berjalan menyusul Nisa masuk kedalam rumah,


Nisa masuk ke ruang tengah, ia melihat semua telah berkumpul, Stevent berjalan mendekati Nisa, ia heran melihat Abi dan Umi ada di rumahnya.


" Nisa sayang kemarilah " Mama menyapa Nisa yang berjalan mendekati Mama, menyalami dan mencium tangan Papa, Mama, Abi dan Umi dan memeluk Viona.


Nisa duduk di samping Umi,


" Stev kemarilah " Papa menyuruh Stevent duduk di samping Viona.


Stevent duduk di samping Viona, ia melirik Nisa dan melihat sekilas kearah Abi dan Umi.


" Stevent kami akan membawa Nisa ke Kairo untuk mengunjungi Kenzo " ucap Abi tenang.


" Nisa tidak boleh ikut" Tegas Stevent.


" Sayang, kakak Nisa kecelakaan" Ucap Mama.


" Kakak apanya, mana ada Kakak melamar adiknya untuk menjadi istri " Stevent berbicara dalam hati.


" Stevent, kamu harus mengerti perasaan keluarga Tuan Ramadhan, Kenzo adalah kakak Nisa " ucap Papa tegas


" Pernikahan aku tinggal 3 hari lagi, Apakah cukup untuk mereka pulang dan pergi dalam waktu 3 hari " Stevent mulai meninggkan suaranya.


Viona hanya terdiam, ia tidak pernah berani berbicara apalagi ia tahu ketika Stevent dalam kondisi emosi.


" Nak Stevent, Kenzo akan di operasi dan ia hanya meminta Nisa untuk melakukannya, Nisa adalah Dokter bedah terbaik " Jelas Umi.


" Itu hanya alasan Kenzo untuk membatalkan pernikahan aku dengan Nisa " Gerutu Stevent dalam hati, ia melihat Nisa yang tidak memperdulikan dirinya. Nisa hanya tertunduk melihat layar ponselnya. Nisa baru saja membuka blokir nomor Kenzo, ia telah menerima beberapa pesan dari Kenzo.


Ponsel Nisa bergetar, ia segera pamit untuk menerima panggilan dan berjalan menuju ruang tamu, Stevent memperhatikan Nisa.


Stevent berjalan perlahan mengikuti langkah Nisa.


" Assalamualaikum kak apa kabar? bagaimana keadaan kakak? Nisa khawatir " suara lembut Nisa membuka panggilan dengan pertanyaan.


" Waalaikumsalam, Kakak baik, kapan Nisa mengunjungi Kakak?"


Stevent segera merebut ponsel Nisa dan memutuskan panggilan.


" Steve, apa yang kamu lakukan?" Nisa kaget ia tidak tahu jika Stevent mengikutinya.


" Kenapa kamu masih berhubungan dengan pria lain ?" Stevent meremas ponsel yang baru saja ia belikan untuk Nisa.


" Stev dia Kakak ku " Nisa berucap pelan.


" Kakak, hemm, Apakah seorang Kakak akan melamar adiknya untuk menikah " mata Stevent semakin tajam menatap Nisa.

__ADS_1


" Aku hanya menganggap dia sebagai kakak dan tidak lebih " Nisa menundukkan kepalanya.


" Bagaimana kamu membuktikan kepadaku?" Stevent mendekatkan wajahnya pada Nisa.


" Apa yang harus aku buktikan?" Nisa mengangkat wajahnya.


" Hmm, aku harus berpikir " Stevent memijit batang hidungnya.


" Ku mohon biarkan aku membantu Operasi kak Kenzo" Nisa memberikan wajah memelas.


" Aku akan ikut dengan dirimu, jika kita tidak bisa kembali tepat waktu maka kita akan melangsungkan pernikahan di rumah Sakit" Stevent terus menatap Nisa dengan tatapan tajam.


" Terserah kamu saja " ucap Nisa


" Aku tidak akan membiarkan dirimu berada jauh dari pandangan ku walau hanya sedetik saja " Stevent tersenyum, ia selalu punya solusi tepat untuk semua masalahnya.


" Jhonny pesankan tiket bisnis untuk 5 orang ke Kairo " perintah Stevent,


" Kita akan berangkat malam ini " Stevent mencubit dagu lancip Nisa dan berjalan kembali menuju ruang tengah.


" Aku akan ikut mengunjungi Kenzo" ucap Stevent mengagetkan semua yang ada di ruangan.


" Kak aku mau ikut " Ucap Viona refleks dan mendapatkan senyuman dari Stevent


" Tentu saja, Kita akan berangkat malam ini " lanjut Stevent ia berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri.


Viona segera berlari menuju kamarnya, ia Sangat bersemangat, sudah lama ia tidak melihat wajah tampan dan teduh milik Kenzo, ada rasa rindu di hatinya.


Nisa berjalan mendekati ruang tengah.


***


Selesai sholat Isya Mereka segera berangkat menuju bandara.


Viona duduk berdua dengan Nisa, Abi dan Umi, Stevent duduk sendirian, Jhonny tidak ikut karena ia harus menggantikan Stevent di perusahaan.


Nisa melihat Stevent, yang terus menatapnya dari samping.


" Harusnya aku duduk di samping jendela " pikir Nisa , namun Viona bersikeras mau duduk di samping jendela.


"Hei, apa kamu marah padaku?" Stevent memiringkan kepalanya.


" Tidak, aku harus berterima kasih karena telah menemani aku " Nisa tersenyum.


" Kamu juga harus berterima kasih lagi untuk karyawan yang tidak jadi aku pecat" Stevent tersenyum bangga.


" Tuan Stevent yang paling berkuasa Terimakasih karena tidak jadi pecat orang di perusahaan anda" Nisa menekankan suaranya.


" Terimakasih kembali sayang" Stevent tersenyum puas.


" Oh Tuhan, Pria ini adalah cobaan dalam hidupku yang damai selama ini " Nisa menutup wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Perjalanan masih panjang, malam kian larut, mereka semua tertidur pulas, kecuali Stevent yang masih memandang wajah teduh Nisa dalam tidur tenangnya.


Entah berapa jam mereka mengudara, dan akhirnya sampai di bandara Internasional.


Jhonny telah mempersiapkan semua keperluan Bos dan keluarganya di sana, Sehingga mereka bisa melakukan perjalanan dengan tenang.


Sesampai di bandara sebuah mobil mewah telah menunggu dan siap mengantarkan Stevent dan keluarga menuju Hotel terdekat dengan rumah sakit tempat Kenzo di rawat.


Mereka sampai di hotel Ketika Matahari bersinar terang. Sesampai di hotel semua masuk ke kamar masing-masing, Viona satu kamar dengan Nisa, Abi dan Umi sedangkan bStevent Kembali sendirian Namun kamar mereka bersebelahan.


Nisa dan Viona segera membersihkan diri mengganti pakaian dan bersiap untuk makan pagi yang sudah terlewati waktunya.


Mereka berlima bersama - sama menuju restoran di lantai 1, bersiap untuk makan bersama dan setelah makan , Mereka akan langsung menuju rumah sakit yang tidak jauh dari Hotel tempat mereka menginap.


***


Rumah Sakit Internasional


Nisa berjalan cepat, Naluri seorang Dokter ketika berada di rumah Sakit.


Stevent menarik tangan Nisa hingga menghentikan langkah kakinya.


" Kenapa kamu harus tergesa-gesa, ia tidak akan mati" Stevent menatap tajam pada Nisa.


Nisa menarik nafas dalam-dalam.


" Aku adalah seorang Dokter, berjalan cepat dan tergesa-gesa sudah menjadi kebiasaan kami, itu adalah naluri seorang Dokter untuk menyelamatkan pasien. " Nisa menatap Stevent.


Sepatu perawat mendekat Nisa.


" Apakah anda Dokter Annisa Salsabila?" tanya seorang perawat kepada Nisa.


" Iya benar " jawab Nisa


" Mari ikut saya, Operasi akan segera di laksanakan dan kami memang kekurangan Dokter bedah " jelas perawat.


Nisa berjalan mengikuti perawat meninggalkan Stevent bersama Viona, Abi dan Umi.


" Semua wanita mendekati diriku tetapi kenapa dia selalu menjauh, bahkan ia tidak pernah mengatakan dia mencintai atau membenci diriku? " Stevent berbicara dalam hati


Stevent duduk di ruang tunggu bersama dengan Abi, Umi dan Viona.


Nisa telah menggantikan pakaian dengan pakaian Dokter yang ia bawa dan pakaian operasi rumah sakit tempat Kenzo di rawat.


Nisa melihat Kenzo yang telah tidak sadarkan diri karena efek dari obat bius. Mereka segera melakukan operasi pemasangan pin pada tangan, sedangkan kepala Kenzo hanya terjadi sedikit benturan yang menyebabkan ia pingsan setelah kecelakaan.


Stevent sangat gelisah menunggu operasi selesai, ia khawatir Nisa hanya berdua dengan Kenzo. Begitu juga dengan Viona ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Kenzo.


*******************"**"******************


♥️ Thanks for Reading 😊

__ADS_1


Selalu tinggalkan like dan komentar yaa😘


Terimakasih ♥️Love You Readers 💓


__ADS_2