
Ruangan Nisa khusus berada jauh dari keramaian, hanya keluarga dan tenaga medis khusus untuk perawatan Nisa yang berada di sekitar ruangan.
Tiga hari Nisa tidur nyenyak tanpa terbangun, tidur dalam senyuman dan mimpi yang Indah.
Di hari ketiga Stevent kembali ke perusahaan untuk melakukan pertemuan rutin dengan pengusaha Arab yang akan telah lama bekerja sama dengan Stevent.
Fauzan Arsyad, Pangeran dari kerajaan Arab, ia akan menanamkan kembali modal saham pada perusahaan Stevent.
Fauzan telah memegang kendali perusahaan kerajaan, pria dingin itu akan menguasai seluruh perusahaan yang ada di dunia.
Cara memimpin dan cara kerja Fauzan berbeda dengan raja, ia tidak tanggung-tanggung dalam menjalankan bisnis.
Fauzan sanggup melakukan perjalanan dalam satu hari ke beberapa negara untuk menjalin kerjasama, membuat perusahaan kerajaan menjadi pengusaha di dunia bisnis.
***
Nisa membuka matanya perlahan, ia merasa lebih nyaman setelah tidur 3 hari dan mendapatkan 3 Ampul formula untuk kesembuhan dan kesehatan Nisa.
Melihat sekeliling, ruangan yang tidak ia kenali, begitu asing.
Nisa sendirian, tidak ada Stevent di sisinya, melihat ke luar dinding kaca tidak ada siapapun di sana.
Nathan tersenyum melihat Nisa dari balik layar, ia segera berlari menuju ruangan, selama 3 hari Nathan berada di rumah sakit tanpa pulang ke rumah dan terus menatap layar komputer.
Nathan membuka pintu perlahan dan tersenyum kepada Nisa.
"Nathan." ucap Nisa lembut.
"Bagaimana tidur mu?" tanya Nathan.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Nisa.
"Tiga hari." jawab Nathan melihat beberapa layar monitor yang terpasang di kamar Nisa.
"Dimana Stevent?" tanya Nisa, ia sangat merindukan Stevent, tiga hari tidak melihat dan mendengar suara suaminya.
"Dia pulang." Nathan duduk di samping Nisa.
"Apa aku boleh pulang?" tanya Nisa lagi.
"Jika kamu mau mengalami pendarahan kamu bisa pulang." Nathan menatap tajam pada Nisa.
"Nathan bisakah, aku operasi Cesar, apa bayiku sudah kuat?" tanya Nisa penuh harap, ia mengusap perutnya.
"Aku tidak akan melakukannya." tegas Nathan.
"Kenapa, di usia tujuh bulan, aku rasa para Dokter bisa melakukan operasi pada diriku." Ucap Nisa.
"Nisa, sudah aku katakan kamu akan mengalami pendarahan hebat, dinding rahim yang terlalu tipis akan berisiko pada dirimu." tegas Nathan.
"Asalkan anak-anak ku bisa diselamatkan, aku rela." ucap Nisa.
"Tetapi aku tidak rela, aku menghabiskan seluruh waktu ku untuk menyelamatkan dan menyembuhkan dirimu dan kamu mau menghancurkan usahaku dalam tiga hari." Nathan berdiri.
"Maafkan aku." suara Nisa lembut.
"Apa kamu tahu betapa sulitnya Dokter Aisyah, Valentino dan Viona mencari tumbuhan obat di bukit Desa terpencil?" Nathan menatap tajam pada Nisa.
Nisa terdiam, ia tidak tahu tentang Semua itu, tidak ada yang mengatakan kepada dirinya.
"Maafkan Aku." Nisa membuang wajahnya ke arah lain, ia tidak ingin melihat Nathan.
Air mata Nisa mengalir, ia tidak mau menyusahkan siapapun, ia yang mau menolong orang dan bukan ditolong.
Namun, apalah daya, Nisa adalah manusia biasa yang hanya bisa berusaha tetapi Tuhanlah yang menjadi penentu jalan hidupnya.
Nathan memutari tempat tidur dan mendekatkan wajahnya pada Nisa.
"Nathan, menjauhlah." mata basah Nisa melotot pada Nathan.
Nathan mengambil tisu dan mengusap air mata Nisa.
__ADS_1
"Bertahanlah Nisa, Aku selalu mencintaimu, melebihi segalanya." Nathan tersenyum.
"Lupakanlah Aku Nathan, kita tidak berjodoh." Nisa memejamkan matanya.
"Kenapa aku berusaha mengobati dirimu? Karena selama masih di dunia ini, masih ada harapan." Nathan kembali menyentuh wajah Nisa dengan tisu.
"Bisakah Aku bertemu dengan Stevent." Nisa membuka matanya.
"Tentu saja, dari balik dinding itu." Nathan menunjukkan dinding kaca.
"Kamu bisa masuk ke ruangan ini, berarti Stevent juga bisa, walaupun hanya sebentar saja." tegas Nisa.
"Kamu benar, tetapi aku tidak akan pernah mengizinkan siapapun masuk dalam ruangan ini hingga kamu sembuh total dan melahirkan dengan normal." Nathan tersenyum.
"Kenapa kamu lakukan ini?" Nisa menatap tajam pada Nathan.
"Karena Aku mencintai dirimu, dan sangat mencintai dirimu." bisik Nathan di telinga Nisa.
"Tidurlah Sayang, agar kamu segera sembuh." Nathan tersenyum, ia sangat puas dengan hasil dari formula pada tubuh Nisa.
Dalam tiga hari tubuh Nisa langsung pulih, wajah yang pucat kembali memerah.
"Katakan kamu mau makan apa siang ini, pasti kamu lapar." Nathan memerhatikan setiap layar.
Apa yang dikatakan Nathan benar, Nisa benar-benar kelaparan.
"Aku bisa makan apa saja." ucap Nisa.
"Ahhh, kamu suka seafood, sama seperti diriku, kita akan makan siang bersama." Nathan tersenyum dan meninggalkan ruangan Nisa.
"Ya, Allah kirimkan wanita untuk Nathan." ucap Nisa dalam hati.
"Stevent, kamu dimana? Aku merindukan dirimu." Nisa menatap dinding kaca berharap Stevent berdiri di sana.
Aisyah masuk ke ruangan Nisa dan tersenyum manis.
"Assalamualaikum Nisa." salam Aisyah.
Aisyah memeluk Nisa yang telah duduk di atas tempat tidur.
"Dokter Aisyah, bisakah kamu tetap disini menemani diriku?" Nisa berharap ia tidak berdua dengan Nathan.
Aisyah terdiam, sebelum membawa Nisa ke rumah sakit, mereka telah melakukan perjanjian dengan Nathan.
Demi keselamatan Nisa dan anak-anaknya, Nathan akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama Nisa.
"Nathan akan menemani dirimu." Aisyah tersenyum.
"Tidak, itu tidak boleh." Nisa menggenggam tangan Aisyah.
"Nisa, semua ini demi kamu dan anak dalam kandungan dirimu." ucap Aisyah lembut.
Aiysah tidak menyangka Nathan akan menggunakan kesempatan ini untuk bersama Nisa.
"Bagaimana kabar Stevent, apa Aku bisa menghubunginya?" Nisa menatap Aisyah penuh harap.
Aisyah melirik ada banyak kamera di dalam ruangan Nisa.
"Dokter Aisyah, apa Stevent baik - baik saja, Apa dia makan dengan teratur?" Nisa sangat menghawatirkan Stevent.
"Tentu saja, aku sudah menjelaskan kepada Stevent, kamu pasti sembuh dan pulang bersama anak-anak kalian." Aisyah berusaha tersenyum.
Aisyah tidak mau membuat Nisa khawatir dengan keadaan Stevent 3 hari selama Nisa tertidur, Stevent bagaikan mayat hidup, berdiri di depan kaca kamar Nisa.
Nathan kembali dengan membawa meja dorong berisi makanan.
Aisyah, ingin keluar dari ruangan tetapi tangannya di tahan Nisa.
"Menikahlah dengan Jhonny secepatnya, semakin lama kamu menunggu akan semakin banyak cobaan." ucap Nisa.
"Terimakasih, segeralah sembuh." Aisyah melepaskan tangan Nisa dan meninggalkan ruangan Nisa.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter Aisyah." ucap Nisa lembut dan masih bisa di dengarkan oleh Aisyah.
"Halo Nisa, lihatlah makanan kesukaan kita berdua." Nathan tersenyum.
Nisa melihat makanan yang dibawa Nathan, semuanya benar - benar kesukaan dirinya.
"Nathan, bolehkah aku makan bersama Stevent?" Nisa berharap.
"Jangan pernah menyebutkan namanya Ketika kita sedang berdua." tegas Nathan.
"Aku istrinya dan kita tidak boleh seperti ini." ucap Nisa.
"Buka mulut kamu!" perintah Nathan yang akan menyuapi Nisa.
"Aku bisa sendiri." Nisa mengambil sendok dari piring dan makan sendiri.
"Jangan membantah diriku." Nathan menarik sendok dari tangan Nisa.
Nisa terkejut ia menatap Nathan dengan perasaan campur aduk, marah, benci, kasihan menjadi satu.
"Menurut lah demi dirimu dan bayi yang ada dalam kandungamu!" Nathan kembali menyuapi Nisa dengan sendok dan dengan sendok yang sama Nathan makan.
Nisa hanya bisa menurut, bayinya adalah kelemahan Nisa yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka berdua makan bersama dari sendok dan piring yang sama.
Nisa berharap Stevent tidak melihat itu semua, karena akan menyakiti hati Stevent, cukup dirinya yang tertekan.
Makanan telah habis, selera makan Nisa telah kembali, tidak ada lagi rasa mual dan muntah.
Nisa benar-benar merasa nyaman, tubuhnya bertenaga dan sehat.
"Nathan, aku baik-baik saja bisakah aku keluar dari ruangan ini untuk jalan-jalan?" tanya Nisa berharap.
"Tentu saja, setiap pagi aku akan menemani dirimu jalan-jalan di taman rumah sakit ini." Nathan tersenyum dan menyingkirkan meja dorong.
"Aisyah akan menemani diriku." ucap Nisa yang berharap ketika di luar ruangan ia bisa bertemu Stevent.
"Tiga bulan ini kita akan terus bersama." Nathan berbisik di telinga Nisa.
"Apa tiga bulan?" Nisa terkejut.
"Tentu saja, tepatnya dua bulan lebih, hingga kamu melahirkan normal." Nathan duduk di samping tempat tidur Nisa.
"Bisakah kamu meninggalkan diriku sendiri." Nisa menunduk.
"Kenapa kamu mengusir ku?" Nathan menatap Nisa.
"Karena kita tidak boleh berada dalam satu ruangan." tegas Nisa.
"Tidak ada yang tidak boleh aku lakukan." ucap Nathan.
Nisa merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, ia tidak mau berdebat dengan Nathan.
Tidak tahu apa kamu harus Nisa lakukan untuk mengusir Nathan dari kamarnya.
"Aku akan selalu menunggu dirimu, selamanya hingga aku bertemu dengan wanita seperti dirimu." bisik Nathan di telinga Nisa.
"Ya Allah, kirimkan wanita yang bisa membuat Nathan jatuh cinta padanya." doa Nisa dalam hati.
****
Mohon dukungannya dengan Like Komentar dan Bintang 5 Terimakasih
Jika kamu suka dengan cerita ini, boleh berikan VOTE untuk Stevent dan Nisa, terima kasih 😘
"Baca juga Arsitek Cantik dan Nyanyian Takdir Aisyah"
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You All 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1