
Waktu Terus Berlalu, Menjadi seorang Dokter bukanlah uang tujuan Nisa tetapi beribadah dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang membutuhkan.
Kesembuhan pasien adalah anugrah terindah bagi Nisa, menebarkan cinta kasih dan sayang sesama manusia, tidak ada perbedaan di mata Nisa, miskin dan kaya sama saja.
Jika ada keluarga yang tidak mampu untuk berobat, maka Nisa akan membantu dengan menggunakan uang pribadinya.
Pengobatan gratis bahkan Nisa sendiri yang akan menebus obatnya.
Pagi yang begitu cerah, Nisa menemani seorang gadis kecil pasca operasi berkeliling di taman belakang Rumah Sakit.
Taman belakang tampak asri dan sepi karena tidak banyak yang tahu ada taman di Rumah Sakit.
Seorang Gadis kecil cantik dengan rambut pirang, mata biru dan kulit seputih salju duduk di atas kursi roda, terlihat penuh semangat dan bahagia, tertawa bersama Nisa, ia menceritakan sedihnya tanpa Papa dan Mama.
Sedihnya hanya diantar jemput oleh pelayan ke sekolah.
Bukan Nisa jika tidak bisa menghibur, membuat seorang merasa bersyukur telah di lahirkan di dunia.
Nyonya Davina tersenyum dari Ujung koridor melihat kebahagiaan di mata Cucunya.
Perhatian Nyonya Davina terganggu dengan keributan di lorong samping Koridor, karena penasaran Nyonya Davina segera pergi melihat.
Ia hanya bisa melihat punggung beberapa orang pria dan seorang wanita berjalan cepat.
" Bruk " Seorang pria muda menabrak Nyonya Davina dan terjatuh.
" Ah, maaf Nyonya saya terburu - buru" ucap asisten dan terkejut ketika ia melihat wanita yang ia tabrak adalah Nyonya besar, ibu dari Bos besarnya.
" Nyonya Davina, apa yang anda lakukan disini?" tanya Erick.
" Plak" Sebuah tamparan yang tidak terlalu keras yang sering Nyonya Davina lakukan kepada Erick dan putranya, karena ia menganggap Erick seperti anak sendiri.
" Kamu kenapa disini" Tanya Nyonya Davina memelototi Erick.
" Samuel berada di sini, ia mencari Dokter bedah terbaik ke semua rumah sakit yang ada di dunia ini" canda Erick.
" Plak" tamparan lembut mendarat lagi di pipi Erick.
" Aduh Nyonya, tamparan Anda semakin kuat " Erick mengusap pipinya.
" Mau lagi?" ucap Nyonya Davina.
" Tidak, tidak" Erick mundur.
" Dimana Samuel?" tanya Nyonya Davina.
" Di ruang Rapat" jawab Erick santai.
" Aku akan memukul anak nakal itu, pulang dari Luar negeri tidak langsung menemui Mamanya dan putrinya" Nyonya Davina menahan emosi.
"Nyonya, Tuan Samuel, mencari Dokter untuk Putrinya" Erick memelas.
" Terlambat" Teriak Nyonya Davina.
" Apa ! Apa Nona Angel telah meninggal" Erick terkejut.
" Bag Bug bag Bug" pukulan penuh dari Nyonya Davina di dada dan punggung Erick.
" Ampun, Ampun Nyonya" Erick berlutut dihadapan Nyonya Davina.
" Beraninya kamu berbicara seperti itu, cucuku sudah sehat bahkan ia sudah dapat Mama baru " Nyonya Davina tersenyum puas.
Namun di mata Erick senyuman itu mengerikan.
" Ikut Aku" Nyonya Davina menarik jas Erick dengan kasar menuju taman belakang dan mengintip dari balik pohon.
Mereka melihat dua orang wanita duduk di atas rumput di bawah pohon rindang dengan bunga warna warni.
Tersenyum dan tertawa bersama, Angel memainkan bunga di tangannya.
Nisa mengepang rambut Angel dan menghiasi dengan bunga-bunga Indah.
" Siapa Bidadari di samping Nona Angel?" Erick memandang Nisa dan tersenyum.
" Bug " pukulan di lengan Erick.
" Bidadari itu adalah Calon menantuku" Nyonya Davina tersenyum.
" Wah, kenapa Samuel Selalu beruntung" Gumam Erick.
" Apa kamu iri pada putraku?" Nyonya Davina melotot.
" Tidak berani Nyonya" Erick menyatukan telapak tangannya dan meletakkan di dada.
***
Semua sangat sibuk, Seorang pria dengan beberapa bodyguard dan sekretaris berjalan cepat menuju Gedung sebelah rumah Sakit.
Gedung Pertemuan dan perkantoran Kesehatan.
__ADS_1
Semua telah berkumpul khususnya Dokter Ahli Bedah dan Kepala cabang Rumah Sakit Pemerintahan.
Sidak Direktur sekaligus sebagai presedir Rumah Sakit, ia mencari Ahli Bedah terbaik, ia telah berkunjung ke semua Rumah Sakit.
Direktur Tampan dan masih muda menahan emosi karena permintaannya di tolak oleh beberapa Rumah Sakit Swasta.
Dokter Bedah dari Rumah Sakit Swasta dan Rumah Sakit lainnya, tidak berani mengambil resiko pasca operasi, karena pasien harus di rawat intensif dengan selalu mengontrol kesehatan dan keadaan emosional pasien.
Pasien pasca operasi harus selalu merasa bahagia dan tidak boleh tertekan, tidak ada Dokter bedah yang mau menghabiskan hari-hari mereka dengan merawat pasien pasca operasi.
Direktur utama telah memasuki ruang rapat di dampingi seorang sekretaris cantik.
Semua terdiam, mata tajam menelusuri setiap kursi yang telah terisi, hanya ada satu kursi yang kosong, kursi tepat di depan mata presedir.
Mata tajam penuh kemarahan berhenti pada papan nama yang terletak di depan meja.
" Annisa Salsabila" gumam Direktur dan terdengar oleh sekertaris yang memberikan pelototan kepada kepala divisi Dokter bedah.
" Dimana Dokter Nisa?" tanya sekretaris kepada kepala divisi.
Semua Dokter tahu Nisa lebih sering menghabiskan waktunya bersama pasien daripada bercengkrama dengan Dokter.
" Maaf Nona, seperti Dokter Nisa sedang menemani pasien pasca operasi" jawab kepala divisi yang terlihat telah tua.
" Panggil sekarang!" perintah sekretaris kasar.
" Tidak usah" Suara berat khas seorang pengusaha terdengar mengerikan.
" Pecat saja" lanjut Samuel.
Semua terkejut, secara refleks mereka melihat ke arah Samuel.
" Apa ada yang tidak terima?" suara pelan namun penuh penekanan yang mengintimidasi.
Semua kembali tertuduk, tentu saja tidak ada yang menginginkan Dokter terbaik seperti Nisa berhenti dan Nisa menjadi Dokter bukan karena uang, ditambah lagi sekarang menjadi Nyonya dari Stevent Lu Alexander, hampir satu negara berada dalam genggamannya.
Uang bukanlah masalah bagi Dokter Nisa.
" Pilih Dokter bedah terbaik untuk melakukan operasi putri presedir, semua data ada di depan kalian masing-masing" jelas sekretaris.
" Rapat di tutup, hubungi saya segera setelah tim Dokter terbentuk!" perintah sekretaris bernama Yuna.
Samuel meninggalkan Ruang meeting dan Menuju ruangan pribadi presedir diikuti Bodyguard dan sekretaris.
Erick gelisah mondar-mandir kayak setrikaan, menemani Nyonya besar di dalam ruangan pribadi presedir.
" Erick, Berhentilah mondar-mandir" tegas Nyonya Davina.
" Mama" ucap Samuel, Erick segera menutup pintu dan menguncinya.
Nyonya Davina segera menarik telinga putranya, hilang sudah wibawa Samuel yang ia pertahankan di depan semua orang.
" Maaa, Sakit" Samuel menyentuh telinganya dan memeluk Mamanya.
" Anak Nakal, tidak pulang ke rumah" Nyonya Davina memukul lengan berotot Samuel.
" Ma, aku mencari Dokter untuk Angel" wajah Samuel memelas.
" Terlambat" Nyonya Davina berteriak.
" Apa, Ma, jangan berkata begitu, Aku menyayangi Angel" Samuel berlutut di kaki Nyonya ia terlihat frustasi.
" Tuk" Nyonya Davina memukul kepala Samuel.
" Angel sudah sembuh" Nyonya Davina tersenyum dan memeluk Samuel.
" Benarkah, Oh Tuhan, terimakasih, Tunggu dulu, dimana Angel dan kenapa Mama disini?" Samuel Bingung.
" Bug " Nyonya Davina meninju lengan keras Samuel.
"Aw" Nyonya Davina kesakitan.
" Apa yang kamu letakkan di sini?" Nyonya Davina menekan lengan Samuel.
" Otot Ma" Samuel mengusap lengannya.
" Bos, ada bidadari di taman" Erick berbisik di telinga Samuel.
" Buk" Nyonya Davina memukul kepala Erick dengan kipas tangan terbuat bambu.
" Aw " Erick mengusap kepalanya.
" Kapan kamu pulang?" tanya Nyonya Davina duduk di kursi.
" Pagi tadi" ucap Samuel duduk di samping Mamanya.
" Ma, bagaimana kabar Angel?" tanya Samuel menggenggam tangan Mamanya.
" Angel baik, ia sudah sehat dan bersemangat" ucap Nyonya Davina tersenyum dan mengusap kepala Samuel.
__ADS_1
" Dimana Angel?" tanya Samuel.
" Di sini" Jawab Nyonya Davina singkat.
" Angel di rawat di sini?" Samuel beranjak dari kursi.
" Hey tenanglah" Nyonya Davina menarik tangan Samuel.
" Angel baik - baik saja, dia sudah selesai di operasi, sekarang dalam proses pemulihan" Nyonya Davina menangis bahagia ia memeluk Samuel.
" Maksud Mama?" Samuel Bingung.
" Ayo ikut Mama , pasti Angel sudah di kamarnya" Nyonya Davina berjalan menggandeng tangan Samuel dan diikuti Erick menuju ruangan perawatan Angel.
Samuel membuka pintu ruang VIP, ia melihat putrinya sedang tertidur dalam senyuman, nafasnya teratur begitu nyenyak dan bahagia.
Samuel mendekati Angel ia mencium dahi Putrinya, dahi yang selalu di cium Nisa setiap hari.
" Lihat, wajah Angel tidak pucat lagi" Nyonya Davina mengusap pipi merah Angel yang tersenyum dalam tidurnya.
Samuel berjalan menuju lemari pendingin, ia mengambil 2 kaleng minuman dingin dan memberikan satu kepada Erick.
Mereka berdua duduk di Sofa dan meneguk habis minuman dingin.
Nyonya Davina berjalan mendekati Samuel dan Erick.
" Mama tidak salah memilih rumah sakit ini, Mama mendengarkan cerita banyak orang, di sini ada seorang bidadari berhati malaikat dan itu benar nak, dia telah menyelamatkan putri kamu, ia bahkan memberikan kehidupan baru bagi Angel" cerita Nyonya Davina membayangkan kebaikan Nisa.
" Apakah Mama telah membayar mahal untuk Dokter itu?" tanya Samuel yang siap membayar tinggi untuk kesembuhan putrinya.
" Dia hanya mengikuti prosedur rumah sakit" Nyonya Davina tersenyum.
" Maksud Mama, ia tidak menerima bayaran di luar gajinya" tanya Samuel tidak percaya.
" Betul Sayang, dan Angel telah jatuh cinta kepada Dokter itu" Nyonya Davina tersenyum puas.
***
Ruangan Kelapa Divisi Bedah.
Nisa telah berada di ruangan kepala divisi Bedah, ia duduk tepat di depan pak kepala yang terlihat sudah Tua.
" Dokter Nisa, kemana kamu waktu meeting?" tanya ketua Divisi bedah.
" Maafkan saya Prof, saya tidak tahu ada meeting hari ini, jadi saya menemani pasien" ucap Nisa lembut
" Apakah Dini tidak memberitahu kamu tentang sidak Bapak presedir?" Tanya kepala divisi bernama Baron.
" Mungkin Dini lupa Pak" Nisa tersenyum.
" Dokter Nisa, apa kamu tahu akibat kelalaian Dini, kamu di pecat langsung oleh presedir" ucap profesor Baron kesal.
Nisa hanya tersenyum.
" Tidak apa prof, asalkan Dini jangan di pecat dan nama baik saya tetap terjaga tidak masalah" tegas Nisa.
" Nama baik kamu tetap terjaga, kamu cukup menulis surat pengunduran diri, namun kamu tidak mendapatkan tunjangan apapun" jelas Prof Baron sedih.
" Terimakasih Pak, saya pamit, sampaikan maaf saya kepada rekan semua" Nisa memberi hormat dan keluar dari ruangan prof Baron.
Dengan nama baik yang masih terjaga Nisa bisa membuka klinik, atau Bekerja di rumah sakit swasta.
Tujuannya buka mencari uang tapi membantu sesama manusia.
*****
****
***
**
*
*"*"*"*"*"*" Terimakasih *"*"*"*"*"*
*
**
***
****
*****
**Thanks for Reading
Terimakasih atas Like , komentar dan Vote yang banyaaaaaak 😘
__ADS_1
Love You Readers**