
Bisa karena terbiasa, Nisa tidak butuh alarm untuk membangunkan dirinya pada sepertiga malam dan melaksanakan sholat tahajud.
Nisa membuka matanya perlahan, memandang ruang kamar miliknya dan Stevent.
Nisa merasakan sebuah lengan kekar mengunci tubuhnya, ia tersenyum, Stevent telah menggedong dirinya kembali ke kamar mereka.
Seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas di samping Nisa dan selalu memeluk Nisa. Wajah dengan garis keras pahatan sempurna.
Nisa tersenyum menyentuh lembut pipi Stevent dengan telapak tangannya yang halus.
"Kamu pasti sangat lelah" Nisa berusaha memindahkan lengan kekar yang melingkar di pinggangnya dan mencium dahi Stevent.
Nisa beranjak dari tempat tidur dan menuju tempat wudhu.
Stevent membuka matanya perlahan dan tersenyum puas, Akhirnya pagi yang indah telah datang, sebagai hari pembalasan untuk kegagalan semalam.
"Aku akan menunggumu selesai Subuh" bisik Stevent dalam hatinya.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Stevent kembali menutup matanya, ia mengintip Nisa berjalan ke ruangan sholat.
Stevent sangat mengantuk dan kembali tidur, ia baru saja memejamkan matanya selama dua jam. Percaya pada Nisa yang akan membangunkan dirinya di waktu Subuh.
Nisa melaksanakan sholat tahajud dan membaca Alquran dengan suara lembut hampir tidak terdengar.
Pukul 3 dini hari, Nisa kembali ke tempat tidur, ia masuk ke dalam pelukan hangat suaminya dan kembali tidur sebelum waktu subuh tiba.
Stevent mengeratkan pelukannya dalam senyuman dan bersabar menunggu waktu Subuh tiba.
Azan Subuh telah terdengar, mata tajam Stevent segera terbuka penuh semangat, Ia tidak melihat istrinya.
Nisa telah selesai mandi dan menggantikan pakaiannya di ruang ganti.
Stevent bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pakaian Sholat untuk Stevent telah Nisa siapkan di atas meja.
Nisa memandang suaminya penuh dengan Cinta dan menunggu di ruang sholat.
Subuh telah menyapa, agar umatNya segera bersujud dan bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan.
Manusia mendapatkan begitu banyak kenikmatan dan Tuhan hanya meminta sedikit ketaatan dalam sujud syukur kepada-Nya dengan waktu yang telah ditetapkan.
Pasangan suami istri dalam lautan kasih halal, telah bersama melaksanakan ibadah sholat subuh dan membaca surah Al-waqiah bersama.
Nisa menyalami dan mencium punggung tangan suaminya.
Stevent mencium dahi dan mengusap kepala Nisa dengan lembut dan berbisik.
"Mari Bercinta" suara lembut dan menggoda menggelitik telinga Nisa yang masih tertutup mukenah.
Nisa hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat suaminya yang selalu bersemangat untuk bercinta dan bermesraan.
Stevent membukakan mukenah Nisa dengan lembut dan meletakkan di gantungan, menggendong Nisa kembali ke tempat tidur.
Suasana sepi, cuaca dingin di pagi hari dan tubuh segar selesai mandi dan sholat memancing gairah untuk bercinta.
__ADS_1
Wajah lembut putih bersih tanpa makeup benar-benar menggoda untuk di cium dan digigit.
Stevent melepaskan semua benang yang melekat ditubuhnya hanya meninggalkan boxer pendek menutupi Junior yang telah tegak berdiri.
Nisa telah membuka gamisnya, menyisakan pakaian dalam dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Senyuman nakal dan menggoda menatap wajah cantik yang tersenyum Indah kepada Stevent.
Rambut hitam panjang tergerai berantakan di atas bantal.
Tubuh sempurna seorang wanita dan hanya Stevent yang berhak menikmatinya.
Sepertinya Stevent adalah pria yang paling beruntung di dunia ini.
Tuhan hadiahkan wanita terbaik untuk membawakan hidayah kepadanya.
Stevent pria dingin tetapi ia tidak pernah mendekati Zina, ia tidak pernah meminum minuman beralkohol, itu ia lakukan untuk menjaga kondisi tubuhnya.
Stevent menatap wajah cantik Nisa dan membelai rambut dengan lembut, mencium umbun - umbun dan dahi Nisa.
"Kita mulai" Bisik Stevent di telinga Nisa memberikan tiupan lembut dan gigitan geli.
Jika Stevent sudah mulai bermain, Nisa akan banyak menahan nafas, sentuhan, ciuman dan gigitan Stevent membuat Nisa geli dan ototnya menegang.
Nisa harus menahan diri agar tidak berteriak dan berlari dari Stevent. Walaupun ia sudah terbiasa dengan sentuhan Stevent tetapi rambut - rambut halus pada tubuh Nisa akan berdiri.
Jika itu telah terjadi Stevent akan tersenyum puas dan memberikan kehangatan dengan mencium lembut bibir Nisa untuk mengalihkan rasa geli di sekujur tubuh Nisa.
Bercinta di pagi hari lebih bersemangat dan bergairah.
Perjalanan masih panjang, Stevent masih berada di bibir, dan turun ke leher memberikan tanda cinta dan kepemilikannya.
"Ah, ingin sekali aku menggigit leher ini, sangat menggoda" geram Stevent dalam hati.
Jari - jari Stevent beradu dengan lidahnya menjelajahi tubuh Indah dan seksi milik Nisa.
Nafas Nisa terengah-engah, menahan gejolak yang telah Stevent ciptakan dengan lembut dan lihainya.
Jari Nisa mencengkeram rambut Stevent dengan lembut dan mesra. Kadang jari lembut dan indah bermain di telinga Stevent.
Uuh, sentuhan lembut yang menggoda dan semakin berhasrat untuk bercinta.
"Sayang, kamu semakin nakal" bisik Stevent.
"Belajar dari kamu" jawab Nisa kesulitan bernapas.
Stevent semakin gemas, ia kembali menikmati bibir seksi dan basah istrinya.
Menikmati setiap sudut terindah yang ada di depan mata tanpa ada yang terlewatkan.
Stevent tidak pernah bermain tanpa pemanasan yang memuaskan.
Kepuasan di antara keduanya, hingga membuat mereka selalu ingin mengulanginya.
Pria dingin di luar namun begitu hangat bersama istrinya.
__ADS_1
Keberuntungan yang sempurna untuk dua insan yang saling mencintai, menikmati permainan tanpa harus tergesa-gesa.
Bergitu lembut dan penuh irama, hingga sampai puncak kepuasan yang begitu sempurna.
Cahaya Matahari, melewati jendela kamar yang telah di buka sejak subuh, menyambut senyum nikma yang Stevent tampilkan.
Angin lembut dan hangat menyentuh pipi Nisa yang masih merah akibat sentuhan, jilatan dan gigitan Stevent.
Telinga yang masih panas dan berwarna merah tomat semakin panas terkena cahaya Matahari pagi.
"Terimakasih"Bisik Stevent lembut di telinga Nisa dan memeluk tubuh lembut tanpa benang dari balik selimut putih.
"Tidur sebentar saja" bisik Stevent lagi dan memejamkan matanya.
Nisa menarik nafas panjang untuk menghilangkan lelah setelah berpacu dalam gulatan penuh cinta dan kehangatan.
Memejamkan mata mengistirahatkan tubuh dalam pelukan suami tercinta.
Cahaya Matahari semakin menyengat tubuh, membuat rasa hangat masuk ke dalam selimut.
"Sayang, bangunlah" suara lembut Nisa memberikan kehangatan di dada telanjang Stevent.
"Mmmmm, biarkan aku memeluk tubuh yang lembut ini" Stevent mengeratkan pelukannya.
"Sayang, aku sudah sangat gerah, basah keringat" Nisa menggeliat.
"Jangan bergerak, nanti Junior bangun lagi" bisik Stevent di telinga Nisa.
Nisa kembali terdiam dan pasrah, dengan perlakuan Stevent. Ia melirik jam cantik dan mahal yang terpajang di dinding.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, Nisa telah merasakan lapar di perutnya.
"Sayang, aku sudah lapar" Nisa merengek.
"Oh no, Istri dan anakku kelaparan" Stevent mencium dahi Nisa, dengan cepat ia beranjak dari tempat tidur.
Menggendong Nisa menunju kamar mandi, dan mandi bersama.
Sholat Dhuha dan di Lanjutkan dengan sarapan yang telah lewat dari waktu sarapan.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
**Mohon dukungannya selalu Tinggalkan Like, komentar dan Vote yang banyak, Terimakasih.
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin.
Love You Readers 💓 Thanks for Reading ♥️**