Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Pernikahan


__ADS_3

Kerajaan Arab


Selama di Istana Kenzo tidak boleh bertemu dan berbicara dengan Ayesha hingga hari pernikahan. Ayesha tidak boleh keluar dari Istananya.


Pertama kalinya Kenzo merasakan rindu pada Ayesha, rindu akan tatapan mata indah dan suara Ayesha yang lembut tetapi tegas.


Kenzo duduk bersama Fauzan di halaman istana Fauzan, ia melihat kearah Istana Ayesha yang tertutup rapat, hanya para pelayan yang keluar masuk Istana.


“Apa kamu merindukan adikku?” Fauzan tersenyum.


“Aku merasa baru pertama kalinya jatuh cinta, rasa yang berbeda sebelumnya.” Kenzo menatap serius pada Fauzan.


“Aku belum pernah bertemu dengan wanita yang bisa menggetarkan hatiku.”Fauzan tersenyum.


“Kamu butuh bertemu dengan wanita luar biasa yang bisa menghancurkan tembok pertahanan yang sengaja kamu bangun, karena terlalu banyak wanita yang mengagumi dirimu.” Kenzo telah mengetahui tentang Fauzan.


“Aku belum berpikir untuk mencari pendamping karena aku mencintai dan menyayangi Ayesha, aku habiskan waktuku untuk bekerja dan Ayesha.” Fauzan melihat kearah Istana Ayesha.


Kenzo terdiam, ia dapat melihat Fauzan yang tidak rela kehilangan Ayesha walaupun hanya sebatas saudara.


“Permisi Pangeran Raja dan Ratu memanggil Anda dan Tuan Kenzo ke ruangan keluarga.” Seorang pria memebri hormat kepada Fauzan.


“Baiklah, mari Kenzo.” Fauzan dan Kenzo beranjak dari kursi dan mengikuti pengawal meuju Istana Raja.


Mereka membicarakan pernikahan Kenzo dan Ayesha yang akan dilaksanakan mala mini setelah shalat tarawih di Masjid Istana Kerajaan. Kenzo sangat terkejut dan bahagia, ia tidak menyangka Raja dan Ratu mempercepat pernikahan dirinya dan Ayesha. Fauzan sedikit bingung hingga ia bertanya alasan percepatan pernikahan Ayesha dan Kenzo.


“Kenapa perniakahan mereka di percepat?” Fauzan menatap tajam kepada Raja.


“Ayahanda telah lelah menolah semua lamaran dari kerajaan dan Negara lainnya.” Raja memijit batang hidungnya.


“Maksud Ayahanda?” Fauzan hanya tahu Azim yang melamar Ayesha.


“Sejak kepulangan Ayesha ke Istana, ada banyak surat dan para wali yang dkirim untuk melamar Ayesha, jika Ayahanda terus menolak mereka tanpa alassan yang jelas bisa – bisa kerajaan kita diserang Negara dan kerajaan lain.” Raja meninggikan suaranya.


“Kamu benar – benar beruntung.” Fauzan tersenyum melihat kearah kenzo yang terdiam.


“Jika Ayesha telah menikah, maka tidak akan ada lagi lamaran yang datang ke Istana ini.” Raja berdiri dan berjalan mendekati Fauzan.


“Bagaiamana dengan saudara – saudara ku yang lainnya, mereka tidak berda di Istana.” Fauzan menatap tajam pada Raja.


“Ayah telah menghubungi saudara kamu dan mereka merestui penikahan Ayesha selama kamu setuju, pernikahan sederhana, pesta mewah akan kita selenggarakan ketika kalian semua berkumpul di Istana.” Raja menepuk bahu Fauzan.


“Jika itu adalah keputusan Ayahanda, aku akan menurut dan akulah yng membawa Kenzo kemari.” Fauzan tersenyum.


“Baiklah, pernikahan akan diselenggarakan malam ini setelah tarawih.” Raja meninggalkan Fauzan dan Kenzo yang hanya terdiam.


Kenzo tertunduk tanpa bicara sepatah katapun, ia benar – benar terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan, ia akan menikahi seorang putri yang sangat cantik dan baik, wanita yang sangat sempurna dalam ukuran manusia, karena kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Allah.


“Kenapa? Kamu terkejut dengan hadiah yang Tuhan berikan kepada dirimu?” Fauzan dapat menebak pikiran Kenzo.


“Anda benar, saya merasa masih tidak pantas untuk Ayesha, tetapi saya kan berusaha memantaskan diri.” Mata Kenzo berkaca – kaca, tidak cukup rasanya hanya mengucapkan syukur kepada Allah dengan nikmat yang telah diberikan.


“Aku yakin kamu adalah pria yang dipilihkan Allah untuk adikku, dan aku percaya kamu adalah pria terbaik.” Fazuan berdiri dan memegang bahu Kenzo.


“Terimakasih.” Kenzo segera berdiri dan memeluk Fauzan, ia tidak punya siapa – siapa kini ia mendapatkan keluarga baru yang sangat baik dan luar biasa.


“Sebaiknya kita bersiap dan memilihkan baju pernikahan untuk dirimu.” Fauzan berjalan bersama Kenzo menuju sebuah gedung yang menjadi tempat penyimpanan pakaian yang dikirim dari Negara lain.


“Kamu akan menggunakan pakaian yang sama dengan Ayesha.” Fauzan mengambil stelan jas berwarna putih dan memberikan kepada Kenzo.


“Apa Ayesha akan hadir pada acara pernikahan?” Kenzo mengambil pakaian dari tangan Fauzan.


“Tidak, dia akan menunggu kamu di kamarnya, cobalah!” Fauzan duduk di sofa.


“Baiklah.” Kenzo membawa stelan jas masuk ke kamar ganti, ia mencobanya dan sangat pas dibadan Kenzo.


“Kamu sangat tampan dan cocok untuk Ayesha.” Fauzan memperhatikan Kenzo.


“Terimakasih.” Kenzo tersenyum mendengar pujian Fauzan, ia tidak menyangka Fauzan adalah pria yang sangat baik.


“Kenzo, jika kamu mau mundur, mundurlah dari sekarang.” Fauzan menatap tajam kepada Kenzo.


“Kenapa Anda berkata seperti itu?” Kenzo membalas tatapan Fauzan yang terlihat sangat serius.


“Karena, jika kamu tidak bisa menjaga Ayesha, apalagi sampai menyakitinya, aku akan menghancurkan hidupmu sampai akar yang paling dalam sekalipun, jangankan keluarga, orang yang hanya mengenal dirimu saja akan aku musnahkan dari muka bumi ini.” Fauzan menatap tajam pada Kenzo yang merasakan rambut pada tubuhnya bergidig.


Kenzo dapat merasakan aura mengerikan melebihi Stevent yang ada pada diri Fauzan demi melindungi adik yang sangat Fauzan sayangi.


“Aku akan menjaga, menyayangi dan mencintai Ayesha dengan nyawaku sendiri.” Kenzo menyakinkan dirinya, tidak mungkin ia menyia – nyiakan wanita yang jadi rebutan pria dari seluruh dunia.


“Aku akan mengawasi dirimu.” Fauzan menepuk pundak Kenzo.


“Ingatlah selalu dengan perkataanku hari ini!” Fauzan berbisik di telinga Kenzo, bisikan ancaman yang mematikan.


“Tentu saja.” Kenzo tersenyum berusaha menenangkan dirinya, tidak ada yang tidak bisa Fauzan lakukan dengan kekuasaan yang ia miliki.

__ADS_1


“Bagus, bersiaplah untuk menjadi pengawal seorang putri, ia akan mencintai dirimu dengan sepenuh hatinya.” Fauzan tersenyum dan meninggalkan Kenzo sendirian di dalam ruangan pakaian.


“Ya Tuhan, Fauzan bisa menjadi kejam dalam sekejap.” Kenzo duduk di sofa, berusaha menguatkan dirinya mengingatkan Fauzan.


Kenzo sangat mengerti dengan kekhawatiran Fauzan, Ayesha adalah satu – satunya Tuan Putri di Kerajaan Arab yang dikelilingi saudara laki – laki yang sangat hebat.


“Aku benar – benar harus menjaga Ayesha dengan sangat hati – hati.” Kenzo melihat Istana Ayesha dari kejauhan.


“Jika aku menyakiti dirimu tamatlah riwayatku, keluargaku dan teman – tamanku yang tidak bersalah.” Kenzo tersenyum.


“Ada banyak nyawa yang aku pertaruhkan untuk mendapatkan dirimu dan hari ini kakakmu meminta aku untuk mundur sebelum terlambat.” Kenzo tersenyum kecut.


“Aku yakin pada diriku dan dirimu, kita tidak akan pernah saling menyakiti.” Kenzo tersenyum menguatkan keputusannya.


***


Istana Ayesha


Wanita cantik tanpa cadar yang masih berkurung di dalam kamarnya agar tidak bertemu dengan Kenzo sedang merawat wajahnya di depan cermin.


Wajah cantik, putih, bersih dan pipi merah merona alami tanpa ada polesan makeup, bulu mata lentik, dengan alis tebal tersusun rapi terpantul dari cermin raksasa.


Ibu Ratu berjalan pelan mendekati putri semata wayangnya yang duduk tersenyum melihat wajah cantiknya.


“Masya Allah, lihatlah bidadari yang ada dibumi ini.” Ibu mencium kepala Ayesha yang tidak menggunakan hijabnya.


“Mama.” Ayesha memutar tubuhnya dan memeluk mamanya.


“Sayang, apa kamu sudah siap?” tanya mama menyentuh pipi mulus putrinya.


“Siap untuk apa Ma?” Suara manja Ayesha yang hanya ia pendengarkan kepada Mamanya.


“Menikah.” Mama mencium pipi putrinya.


“Tentu saja, tetapi waktunya masih lama dan aku akan menunggu dengan santai di Istana ini.” Ayesha tersenyum dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Malam ini kamu akan segera menikah, sayang.” Mama mengusap kepala Ayesha.


“Ma, jangan bercanda.” Ayesha mencium tangan Mamanya.


“Tidak Sayang, Papa kamu telah mengambil keputusan dan mengeluarkan titahnya.” Mama menatap Ayesha.


“Kenapa, kenapa dipercepat?” Ayesha duduk, ia berharap pernikahan mereka masih lama da Ayesha akan berkurung di dalam kamarnya.


“Sayang, tadi kamu mengatakan kepada Mama sudah siap.” Mama menatap Ayesha yang terlihat gelisah.


‘Walaupun Kenzo sudah pernah menyentuhku.” Ayesha berbicara di dalam hatinya.


“Istirahatlah, pelayan akan mengantarkan gaun yang akan kamu gunakan untuk acara pernikahan.” Mama mengusap rambut hitam Ayesha.


“Ma, Ayesha tidak butuh gaun, selama proses pernikahan Ayesha tetap berada di kamar ini.” Ayesha semakin manja pada mamanya.


“Kamu benar sayang, tetapi kamu tetap harus menggunaka pakaian yang cantik untuk menyambut suami kamu.” Mama tersenyum.


‘Tunggu dulu, apakah Kenzo akan langsung ke kamarku malam ini?” Ayesha kembali duduk, terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.


“Tentu saja Sayang.” Mama mencubit pipi Ayesha.


“Tidak, tidak boleh.” Ayesha memijit batang hidungnya yang mancung.


“Kenapa Sayang, apa kamu pusing?” Mama menarik tangan Ayesha.


‘Tidak Ma, Apa Kak Fauzan akan ikut ke kamarku?” Ayesha tersenyum.


“Tentu saja untuk mengantarkan suamimu.” Mama tersenyum.


“Syukurlah, aku sangat khawatir.” Ayesha tersenyum manja pada mamanya.


“Khawatir kenapa?” Mama menatap bingung pada Ayesha.


“Ah tidak ada apa – apa.” Ayesha tersenyum, tentu saja ia khawatir berdua dengan pria asing di dalam kamarnya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


“Baiklah dia akan menjadi suamiku.” Ayesha berbicara di dalam hati memegang dadanya.


“Sayang, beristirahatlah!” Mama mencium dahi Ayesha dan keluar dari kamar putrinya.


Ayesha memejamkan mata, menenangkan hati dan menyiapkan mentalnya untuk menjadi istri dari Kenzo, pria yang belum lama ia kenal tetapi mereka terus bersama dengan cara yang tidak terduga.


***


Masjid kerajaan sangat ramai dengan pengunjung karena dibuka untuk umum, Raja telah mengumumkan akan diadakan akad nikah putri mereka Ayesha, sehingga semua warga di undang untuk datang ke Istana.


Kenzo sangat terkejut, halaman Masjid telah dipenuhi banyak orang yang akan mengikuti sholat berjamaah dan menyaksikan pernikahan Tuan Putri kesayangan rakyat. Seluruh rakyat sangat mengenal tuan putri mereka yang sangat baik hati dan peduli dengan rakyatnya.


“Berhati – hatilah, mereka sangat mencintai Ayesha.” Fauzan berbisik di telinga Kenzo.

__ADS_1


“Kenapa?” Kenzo menatap Fauzan.”


“Mungkin ada yang tidak rela kamu menikah dengan Ayesha.” Fauzan tersenyum dan berjalan meninggalkan Kenzo.


“Pasti keamanan Istana ini terjamin.” Kenzo menyentuh lehernya membayangkan kegilaan yang akan terjadi di Istana.


Ia memperhatikan sekeliling ada banyak petugas keamanan dan pegawal dengan senjata lengkap.


Mereka melaksankan shalat berjamaah dengan khusuk hingga selesai dan tibalah waktu pernikahan Ayesha dan Kenzo.


Kenzo telah beganti pakaian dengan Stelan jas putih bersih, ia sangat tampan dan berwibawa, beberapa pasang mata memperhaikan Kenzo dengan tatapan penuh penilaian.


Membandingkan Kenzo dengan Fauzan dan membayangkan dengan Ayesha, pantas atau tidak pria itu bersanding dengan tuan putri mereka.


Semua orang penting telah berkumpul di tengah – tengan ruangan masjid, perlengkapan ijab qabul tetapi tidak ada mempelai wanita di sana.


Dengan membaca doa Kenzo meyakinkan dirinya untuk menikahi Ayesha, Tuan putri yang di cintai banyak orang karena kebaikan hatinya.


Proses akad nikah berjalan lancer, tepuk tangan riuh dari rakyat yang menyaksikan acara sakral untuk pertama kalinya di Istana. Putri bungsu dan paling muda melangkahi kelima saudara laki – lakinya untuk menikah lebih dulu.


Sujud syukur dan doa kebahagian Kenzo panjatkan kepada Allah yang telah melancarkan acara pernikahan dirinya yang dimata kerajaan sangat sederhana tetapi begitu mewah bagi Kenzo.


Kerajaan mengundang rakyat bukan untuk menerima hadiah tetapi mereka membagikan amplop yang berisi sejumlah uang kepada seluruh rakyat yang telah hadir.


Teriakan Allahu Akbar bergemuruh memecahkan langit Arab, memuji kebesaranNya yang telah berbagi kebahagian melalui pernikahan tuan putri Ayesha, doa mereka panjatkan untuk kebahagian Ayesha.


Ayesha duduk seorang diri di dalam kamarnya menatap wajah yang telah tertutup cadar putih di depan cermin. Kamar Ayesha yang telah dihiasi bunga mawar dengan nuansa warna putih bersih.


Butiran bening melewati sudut mata Ayesha membasahi cadarnya, ia tidak tahu arti dari air matanya, bahagia sedih atau kebahagian bercampur kesedihan.


Ayesha terkejut ketika pintu kamarnya terbuka, ia mengira yang datang adalah Kenzo tetapi ternyata Mamanya.


“Mama.” Ayesha berlari dengan gaun cantik berwarna putih dan memeluk mamanya dengan erat.


“Selamat ya sayang, kamu sudah jadi seorang istri.’’ Mama mengusap punggung Ayesha.


Ayesha dan Mamanya saling berpelukan dalam tangisan, putri kecilnya telah menjadi wanita dewasa dan telah menikah.


“Mama sayang Ayesha.” Mama menahan suaranya.


“Maafkan Ayesha Ma.” Ayesha sesegukan.


“Gadis kecil Mama, jadilah istri yang patuh kepada suamimu!” Mama mengusap kepala Ayesha.


“Hmm.” Ayesha mengeratkan pelukannya.


“Lepaskan Mama Sayang.” Mama melepaskan pelukan Ayesha.


“Sayang, gantikan cadar ini dengan yang baru.” Mama menyentuh cadar Ayesha yang telah basah.


“Ya.” Ayesha mengangguk dengan lembut.


“Tetaplah di kamar hingga suami kamu datang.” Mama melepaskan genggaman tangan Ayesha.


“Ma.” Ayesha kembali memeluk mamanya.


“Sayang, kemarilah.” Mama menarik tangan Ayesha menuju balkon kamarnya.


Rakyat berteriak memanggil Ayesha dari bawah, menunggu tuan putri yang mereka cintai untuk keluar dan menyapa mereka.


Ayesha melambaikan tangannya kepada rakyat yang mencintai dirinya, Kenzo melihat Ayesha dari kejauhan, seorang wanita dengan pakaian putih.


“Aku sangat merindukan dirimu.” Kenzo tersenyum, walaupun ia tidak bisa melihat dengan jelas.


Ayesha kembali ke kamar, ia harus mengganti cadarnya dengan yang baru dan bersih, Mama telah meninggalkan Ayesha sendirian dan rakyat telah bubar dengan perasaan bahagia.


Jantung Ayesha berdetak kencang, matanya tertuju pada pintu kamar menunggu kedatangan Kenzo dengan perasaan yang tidak dapat ia pahami.


Ayesha duduk di tepi ranjang pengantin, matanya sudah sangat mengantuk tetapi Kenzo belum juga datang.


Kenzo menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga kerajaan dan beberapa orang penting di dalam Istana.


Melihat malam semakin larut kenzo meminta pelayan untuk menyampaikan pesan kepada Ayesha bahwa ia belum pergi ke kamar Ayesha untuk malam ini.


Ayesha sangat bahagia mendengarkan pesan yang di katakan pelayan, ia segera mengunci pintu kamar dan mengganti pakaian dengan pakaian tidur, merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata dalam kedamaian penuh senyuman kebahagiaan.


***Baca Novel Baru Author***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih


Baca juga Author “Arsitek Cantik”


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu) , Putih Abu - Abu (Sohibul Iksan), Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2