Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kebakaran


__ADS_3

Pagi hari di pantai sangat nyaman dengan pamandangan indah, angin bertiup lembut menggoyangkan dedaunan dari pepohonan dan membuat gamis Afifah menari-nari, udara menyentuh wajah cantik yang sedang menatap laut lepas. Nathan memperhatikan istrinya yang sedang berdiri di tepian pantai memainkan air dengan kakinya.


Pria itu tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju Afifah tetapi deringan ponsel menghentikan langkah kaki Nathan, sebuah panggilan dari Roy. Asistennya tidak menghubungi dirinya jika tidak terlalu penting.


“Ada apa?” Nathan kembali ke dalam kamar.


“Maafkan sayan Tuan.” Roy merasa bersalah karena telah mengganggu bulan madu bosnya.


“Katakan saja, aku tidak akan melupakan pekerjaan yang penting.” Nathan duduk di kursi dan melihat Afifah dari kejauhan.


“ Saya harap anda lebih berhati-hati, Tuan.” Suara Roy tertekan.


“Apa yang terjadi?” Mata Nathan tetap fokus mengawasi istrinya.


“Penjara dan Laboratorium lama mengalami kebakaran secara bersamaan,” jelas Roy.


“Apakah ada korban jiwa?” tanya Nathan.


“Tidak ada, tetapi Loly dan Chandra hilang.” Roy sedikit khawatir dengan kehilangan dua orang yang itu.


“Biarkan saja, Chandra tidak akan bisa melakukan apapun, kamu hanya perlu mencari Loly dan semua keluarganya dan selalu awasi wanita beracun itu.” Nathan sangat kesal ketika menyebutkan nama Loly, ia teringat akan ciuman pertamanya.


“Baik Tuan.” Panggilan terputus.


Nathan berjalan mendekati Afifah dan langsung mencium bibir wanita itu dengan kasar, ia ingin membersihkan ingatan dari ciuman Loly. Perlahan ciuman Nathan lebih lembut dan penuh cinta.


“Maafkan aku sayang.” Nathan tersenyum.


“Kenapa kamu selalu melakukan ciuman mendadak?” Afifah mengusap bibirnya.


“Kenapa kamu selalu membersihkan bekas ciuman diriku, apakah sangat menjijikan?” Nathan menatap tjam pada Afifah.


“Bibirku terasa aneh dan lengket.” Afifah berjalan menuju restora untuk sarapan, wanita itu merasakah tubuhny asakit semua dihajar Nathan pada malam hari dengan kemapuan dan kekuatan luar biasa di atas tempat tidur, sofa, lantai dan kadang di kamar mandi.


“Apakah semua pria akan melakukan hal yang sama setelah pernikahan?” Afifah menggerutu mengingat kegilaan Nathan dalam bercinta.


“Sayang, apa kamu marah?” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Nathan, aku lapar.” Afifah menghentikan langkah kakinya.


“Setelah sarapan kita akan meninggalkan pulau ini.” Nathan melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Afifah berjalan bersama menuju tempat makan.


“Kita akan pergi kemana?” tanya Afifah.


“Bagaimana jika keluar negeri?” Nathan balik bertanya.


“Bukankah kita akan berkeliling Indonesia.” Afifah menatap Nathan yang hanya diam, mereka telah duduk di kursi ruang makan dan memilih menu.


“Kamu mau kemana?” tanya Nathan dan melambaikan tangannya pada pelayan.

__ADS_1


“Aku mau pulang.” Afifah melihat menu yang telah Nathan pilih.


“Pulang?” Nathan menatap Afifah.


“Selamat pagi Tuan.” Pelayan wanita tersenyum ramah, Nathan memberikan buku pesanan yang telah ia tandai.


“Mohon untuk menunggu sebentar.” Pelayang itu meninggalkan meja Nathan.


“Kamu mau pulang kemana?” tanya Nathan.


“Kerumah kamu.” Afifah menatap lurus kedepan, wanita itu lebih senang berada di rumah jika tidak bekerja, merawat rumah, taman dan kebun.


“Apa kamu tidak suka jalan-jalan?” Nathan menatap wajah yang terlihat tidak bahagia.


“Untuk wanita yang buta arah, apakah aku bisa jalan-jalan?” Afifah menajawab tanpa melihat Nathan.


“Kamu akan sembuh sayang, dan aku akan menjadi arah mata angin agar kamu tidak akan pernah tersesat.” Nathan menggenggam tangan Afifah.


“Permisi Tuan dan Nyonya.” Beberapa pelayan menata makanan di atas meja.


“Selamat menikmati.” Para pelayan menunduk dan pergi meninggalkan pasangan pengantin baru.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum cantik pada para pelayan.


“Apa kalian berpikir mereka pasangan?” tanya seornag pelayan pada rekannya.


“Wanita itu juga sangat cantik dan imut seperti remaja, lebih pantas menjadi adik untuk pria itu.” Para pelayan tertawa bersama dan memandang Nathan dari kejauhan.


“Sayang, apa kamu benar-benar mau pulang?” Nathan membersihkan mulut Afifah dengan tisu.


“Aku mau berada di laboratorium kamu.” Afifah tersenyum.


“Ya Tuhan, dia lebih tertarik belajar daripada bercinta dengan diriku.” Nathan berbicara di dalam hatinya dan memandang wajah cantik yang tersenyum manis memperlihatkan gigi gisul.


“Ada lagi yang lain?” Nathan tersenyum manja.


“Aku akan memikirkannya.” Afifah beranjak dari kursi dan keluar dari restoran, seorang wanita menabraknya hingga jatuh ke pasir.


“Sayang.” Nathan berlari dan membantu Afifah berdiri.


“Maafkan saya telah menabrak adik anda.” Wanita dengan pakaian pantai memperlihatkan hampir seluruh bagian tubunya tersenyum menggoda pada Nathan.


“Dia istriku.” Nathan menatap tajam pada wanita itu, ia sangat kesal jika ada yang berkata Afifah adalah adikknya.


“Apa? Maafkan saya Tuan, ia lebih pantas jadi adik anda.” Wanita itu tersenyum sinis pada Afifah.


“Plak.” Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus wanita itu memberikan bekas merah dan rasa perih.


“Nathan, apa yang kamu lakukan?” Afifah mencengkram tangan Nathan.

__ADS_1


“Dia, istriku dan jangan berpikir aku akan tergoda pada dirimu!” Nathan mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke pasir.


“Kau!” Wanita itu memgang pipinya dan menatap Nathan, ia tidak menyangka pria tampan itu sangat kasar pada wanita.


“Nathan, sudahlah.” Afifah menatap Nathan dengan lembut.


“Maafkan suami saya Nona,” Afifah membantu wanita itu berdiri.


“Ayo kita tinggalkan pulau ini.” Nathan menarik tangan Afifah kmbali ke kamar.


“Nathan, kamu sudah berjanji untuk tidak memukul orang, apalagi seorang wanita.” Afifah kesulitan mengikuti langkah kaki Nathan yang panjang.


“Apa wajahku sangat tua sehigga aku tidak pantas menjadi suamimu?” Nathan menghentikan langkah kakinya, menarik tangan Afifah hingga wanita itu berdiri tepat di depannya.


“Tidak, kamu sangat tampan mungkin karena tubuhku yang kecil.” Afifah tersenyum berusaha menghibur Nathan.


“Apanya yang kecil bahkan kamu memiliki dua buah benda empuk dan cukup besar untuk aku nikmati.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Apa? Apa yang kamu pikirkan?” Afifah berjalan cepat meninggalkan Nathan.


“Pria ini, apa hanya itu yang ia pikirkan? Apa dia tidak tahu seluruh tubuhku sakit semua?” Afifah menggerutu dan masuk ke kalam kamar, ia segera mengemasi pakaian mereka.


“Sayang, kita pergi ke satu tempat lagi, bagaimana?” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Kamu mau kemana?” tanya Afifah lembut.


“Sebuah pulau pribadi dengan pantai yang sangat indah.” Nathan mencium leher Afifah yang terlindungi hijab.


“Apa kamu punya pulau pribadi.” Afifah membuka pelukan Nathan.


“Kenapa kamu menolakku?” Nathan kembali mengunci jari-jarinya di pingga Afifah.


“Kapan aku akan selesai merapikan pakaian kita.” Afifah menarik napas panjang.


“Baiklah, aku tidak akan menggangu, berikan aku ciuman.” Nathan memutar tubuh Afifah hingga menghadap dirinya.


“Apa kamu tidak melihat bibirku telah bengkak?” Afifah memancungkan bibirnya dan langsung disambar oleh bibir Nathan, pria itu terus bermain dengan lidahnya.


“Aku akan terus menambahkan bengkak ini.” Nathan mengecup bibir Afifah dan melepaskan pelukannya, berbaring di sofa memperhatikan Afifah yang melanjutkan kembali pekerjaannya.


***Love You All***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady di Dream"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2