
Jhonny memberikan satu orang satu computer dan satu berkas berisi tentang informasi perusahaan yang akan diserahkan kepada Viona. Stevent duduk pada kursi paling depan bersama Viona. Gadis itu memperhatikan satu persatu wajah para pengusaha muda yang terlihat tenang bahkan David yang dari tadi bercanda kini tampak serius.
“Silakan pelajari berkas dan file yang ada pada computer.” Stevent mengaktifkan computer. Ponsel Viona bergetar ia melihat sebuah pesan dari Ayumi.
“Santailah, jangan gugup, buktikan pada Fauzan bahwa kamu wanita dewasa yang mampu bersaing dengan mereka semua, agar pria itu tidak menganggap dirimu gadis kecil lagi.” Sebuah pesan yang menjadi kekuatan unutk Viona dan membuat ia sedikit tersenyum, menarik napas dengan lembut.
Viona mengaktifkan computer miliknya dan memperlajari berkas yang ada di tangannya. Gadis itu sangat cerdas ia hanya tidak percaya diri diantara orang-orang hebat seperti Fauzan dan seorang wanita luar biasa yang tidak lain Ayesha.
“Viona adalah pemilik saham Alexander ketika ia bisa menyelesaikan sekolahnya.” David melihat serius pada Viona.
“Ya, secara hukum, Viona bisa mengambil satu perusahaan milik Tuan Alexnder.” Fauzan meletakkan berkas di atas meja.
“Ya, Viona harus mempersiapkan dirinya.” Suara lembut Ayesha membuat Fauzan dan Kenzo tesenyum bersama.
“Kamu pasti bisa, karena kamu adik Stevent.” Kenzo melihat kearah Viona yang tersenyum penuh semangat.
“Tentu saja, dan aku akan membantu kamu.” David mengedipkan matanya.
“Cobalah untuk berusaha sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.” Fauzan melihat kearah Viona.
“Tentu saja Tuan Fauzan, terimakasih.” Viona tersenyum penuh semangat, ia sangat senang mendapatkan banyak dukungan.
“Bagus, kakak akan menyerahkan perusahaan Manufaktur yang dipegang Om Robet dan telah bekerjasama dengan Perusahaan Kenzo yang akan di pegang David.” Stevent mengambil sebuah berkas dari tangan Jhonny.
“Kalian semua yang ada di sini akan menjadi saksi serah terima perusahaan.” Stevent menatap tajam pada Viona yang terkejut karena Perusahaan Manufaktur adalah perusahaan yang diminta Papa Alexaner.
“Viona, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak menginginkan persahaan ini?” tangan Stevent memegang berkas yang harus ditanda tangani Viona.
“Apa, kenapa perusahan Manufaktur?” Viona menatap berkas di tangan kakaknya.
“Perusahaan itu sangat menentukan keberhasilan perusahaan lainnya dan kamu harus bekerjakeras.” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Kamu pasti bisa.” Ayesha tersenyum pada Viona.
“Aku bukan tidak sanggup tetapi ancaman Papa Alexander untuk mendapatkan perusahaan ini.” Viona berbicara dalam hati dan menunduk.
“Apa kamu belum siap?” Stevent meninggikan suaranya.
“Apa yang harus aku lakukan, jika aku menolak, Fauzan akan berpikir bahwa aku tidak mampu, Ayumi benar aku harus tenang.” Viona mengepalkan tangannya.
“Aku siap.” Viona mengangkat kepala dan menatap Stevent.
“Bagus.” Stevent tersenyum dan menepuk pundak Viona dengan lembut.
“Tanda tangan di sini.” Stevent mengambil pena dan memberikan kepada Viona. Melihat gadis itu menandatangani surat serah terima perusahaan, semua memberikan tepuk tangan yang meriah.
“Perusahaan Utama jatuh pada tangan Viona, dan itu yang Alexander inginkan, menghancurkan Stevent melalui adikknya.” Ayumi tersenyum dari balik jendela kaca.
“Tuan Alexander sangat pintar, meletakkan nama Viona pada perusahaan Manufaktur.” Ayumi mematikan komputernya, ia telah selesai mengikuti rapat dari jauh.
Gadis cantik itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata untuk menenagkan diri. Matanya kembali terbuka ketika mendengarkan deringan dari ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Ayumi beranjak dengan cepat dan dengan gesit meloncat langsung di depan meja.
“Ada apa?” Ayumi menerima panggilan.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” Suara Pria yang tidak asing di telinga Ayumi.
“Ya Pa, aku baik.” Ayumi menarik napasnya dengan lembut.
“Sebaiknya kamu kembali ke Markas Jepang sebelum para pengawal kekaisaran menjemput paksa.” Suara pria itu terdengar pelan.
__ADS_1
“Mereka telah memberikan aku kepada Papa, kenapa aku harus kembali?” Ayumi merebahkan tubuhnya.
“Aku hanya orang tua angkat kamu.” Pria itu sangat menyayangi Ayumi.
“Aku akan kembali setelah menyelesaikan misi.” Ayumi memutuskan panggilan.
“Aku akan membalas dendam kehancuran keluarga Papa.” Ayumi menatap wajah cantiknya di depan cermin dan keluar dari kamar, ia berlari menuruni tangga dan hampir menabrak Fauzan.
“Kenapa kamu tergesa-gesa.” Tanpa sadar Fauzan memegang tangan Ayumi.
“Maaf, aku ada urusan dan harus minta izin Tuan Stevent.” Ayumi melihat tangannya dipegang Fauzan.
“Ah, Maaf aku tidak sengaja.” Fauzan segera melepaskan genggamannya
“Permisi.” Ayumi berjalan menuju ruang kerja Stevent. Viona yang berjalan bersama David mlihat kearas Fauzan yang masih menatap jemarinya yang telah memegang tangan Ayumi.
“Kak, kita akan ke pabrik sekarang bersama Viona.” Ayesha memegang tangan Fauzan.
“Baiklah.” Fauzan tersenyum dan menyentuh tangan lembut Ayesha.
“Viona, kamu akan ikut mobil siapa?” tanya Ayesha lembut.
“Cantik, kamu ikut mobil Kak David saja.” David menarik tangan Viona keluar dari ruangan.
“Kak, aku akan mengajak Ayumi.” Viona kebingungan karena pegangan David sangat kuat.
“Aku akan menjadi sopir pribadi kamu.” David membuka pintu mobil sport miliknya untuk Viona.
“Silahkan masuk Tuan Putri.” Davd membungkukkan badannya di depan Viona.
“Kak, apa yang kakak lakukan?” Viona kebingungan, David adalah pria yang berani, ia tidak perduli dengan tatapan tajam Stevent.
“Baiklah.” Viona masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi.
Fauzan memperhatikan perlakuan David pada Viona dari kejauhan, ia melihat Ayesha yang tidak pernah di sentuh siapanpun, bahkan orang pertama yang memeganga tangan adikknya adalah Kenzo pria yang akhirnya menjadi suami Ayesha.
“Kenzo, sepertinya kamu harus mengajarkan tatakrama pada teman kamu.” Fauzan masuk kedalam mobil.
“Baiklah.” Kenzo tersenyum melihat kearah istrinya.
“Jangan salah paham. Kakakku memang begitu, ia tidak mau melihat wanita di lecehkan.” Ayesha tersenyum.
“Salah paham apa, sayang?” Kenzo membuka pintu untuk Ayesha.
“Mungkin kamu akan berpikir kakakku cemburu atau perhatian berlebihan tetapi itu ia lakuakan pada semua orang.” Ayesha tersenyum.
“Tentu saja, itu akan membuat wanita salah paham.” Kenzo memasang sabuk pengaman dan mencium dahi Ayesha.
“Terimakasih.” David menutup pintu dan memutari mobilnya, ia duduk di kursi pengemudi.
“Apa kakak tahu perusahaan Manufaktur?” tanya Viona memasang sabuk pengaman.
“Tidak. Kita akan mengikuti mobil Kenzo.” David tersenyum.
“Ayumi.” Viona keluar dari mobil dan berlari mendekati Ayumi yang berjalan menuju motornya.
“Ayumi, kamu mau kemana?” Viona memegang tangan Ayumi.
“Perusahaan Anda.” Ayumi tersenyum.
__ADS_1
“Apa kamu akan mengendarai motor?” tanya Viona.
“Yak karena anda pergi bersama Tuan David.” Viona menggunakan helmnya.
“Viona, ayolah kita akan terlambat.” David berteriak.
“Sampai ketemu di perusahaan.” Viona berjalan kembali ke mobil.
Tiga mobil telah melaju meninggalkan perkarangan rumah Stevent melaju menuju Perusahaan Manufaktur milik Viona. Stevent dan Nisa berdiri di depan pintu melihat kepergian para tamu.
“Dimana Jhonny?” Stevent melihat sekeliling.
“Di kamar mereka.” Nisa melingkarkan tangannya di pinggang Stevent.
“Kita juga ke kamar.” Stevent menggendong Nisa menuju kamar mereka.
“Sayang, kamu tidak pergi menemani Viona?” Nisa menatap Stevent.
“Sebentar saja.” Stevent membaringkan tubuh Nisa di atas tempat tidur.
“Sayang, besok aku kembali bekerja.” Nisa tersenyum.
“Cepat sekali.” Stevent menatap tajam pada istrinya.
“Aku hanya akn pergi ketika ada jadwal operasi saja, Samuel memberikan kelonggaran.” Nisa mencium hidung Stevent.
“Ayumi akan kembali ke Jepang, siapa yang akan menemani dirimu?” Stevent beranjak daritempat tidur.
“Sayang, aku bisa jaga diri.” Nisa memeluk tubuh suaminya dari belakang.
“Tidak Sayang, kamu tidak boleh berkelahi ataupun melakukan sesuatu yang berbahaya, kondisi tubuh kamu tidak seperti dulu lagi.” Stevent memutar tubuhnya.
“Sayang.” Kalimat Nisa terhenti, Stevent mencium lembut bibir istrinya.
“Dengar, jangan membantah, kamu harus menghindari perkelahian demi aku dan anak-anak kita, berjanjilah.” Stevent menatap sendu pada mata Nisa.
“Baiklah, aku berjanji.” Nisa memeluk Stevent.
“Akan ada pengawal tersembunyi yang selalu mengikuti dirimu dan aku harap Ayumi tidak akan pergi lama.” Stevent melepaskan pelukan Nisa.
“Sepertinya kamu sangat mempercayai Ayumi.” Nisa menatap wajah tampan suaminya.
“Aku tidak tahu, dia bisa melindungi Viona dengan nyawanya dan aku mau ia juga melakukan itu untuk dirimu.” Stevent mencium dahi Nisa.
“Kamu adalah napasku.” Stevent memeluk erat tubuh Nisa.
"Kamu adalah kehidupan ku, suamiku." Nisa memeluk suaminya merebahkan wajahnya pada dada bidang dan menghirup aroma maskulin dari tubuh Stevent.
"Aku mau kita terus bersama hingga ajal bahkan tidak mampu memisahkan kita." Stevent mencium kepala Nisa.
***Love You All***
Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Dream/ Innovel.
Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1