
Rumah Sakit.
Stevent tersenyum melihat Nisa yang sedang membaca Alquran dalam pejamnya dan duduk di atas tempat tidurnya, menunggu kepulangan suaminya dari sholat berjamaah di Masjid terdekat.
“Assalamualaikum istriku.” Stevent berjalan mendekati wanita yan lembut dan pernuh kesabaran menjalani cobaa kehidupan.
“Waalaikumsalam, suamiku.” Senyuman kebahagiaan terlihat jelas di wajah Nisa ketika melihat keadangan Stevent.
Nisa merentangkan tanganya untuk memeluk tubuh pria yang selalu ia rindukan setiap tarikan napasnya. Stevent memeluk dan mencium kepala Nisa dengan penuh cinta kasih dan sayang.
“Sayang, kenapa kamu belum tidur?” Stevent mencium dahi istrinya.
“Aku mau tidur dalam pelukan suamiku.” Nisa mengeratkan pelukannya.
“Apakah kamu sudah makan?” Stevent menyentuh pipi Nisa yang mengangguk manja mendongak kepalanya mentap Stevent
“Aku akan tidur ketika suamiku memelukku.” Suara manja Nisa begitu menggoda Stevent.
“Berikan aku ciuman.” Stevent mendekatkan wajahnya dan Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent. Mendaratkan ciuman hangat dan mesra pada bibir Stevent.
"Apa kita bisa bercinta?" Stevent berbisik lembut di telinga Nisa.
"Kamu mau bercinta di mana? di rumah sakit?" Nisa mencubit pipi Stevent.
"Apa boleh?" tanya Stevent lagi penuh harap dan Nisa mengangguk.
Stevent memperhatikan ruangan, ia melihat sekeliling dan setiap inci bagian dinding.
"Sayang, kamu mencari apa?" Nisa bingung melihat Stevent meneliti kamar tidurnya.
Ruangan Nisa lebih mirip rumah pribadi, tidak seperti ruangan perawatan.
"Aku mau bercinta dengan istriku tetapi aku harus yakin ruangan ini aman." Stevent tersenyum melihat Nisa.
Stevent berkeliling, ia melihat setiap ruangan, tidak ada yang terlewatkan.
Sebuah kamar berbeda ternyata telah di siapkan oleh rumah sakit, khusus pasangan suami istri.
"Amazing." Stevent tersenyum, ia harus membalas penghinaan Jhonny.
"Sayang kemarilah." Stevent mengambil impuls dan menggendong Nisa ke sebuah kamar yang ada di ruangan Nisa.
"Sayang, apa boleh di sini?" Nisa melihat sekeliling.
"Tentu saja, selama kamu mengizinkan diriku." bisik Stevent, ia berjalan keluar untuk mengunci semua pintu dan kembali kepada Nisa.
Nisa telah mencabut jarum impuls dari lengannya, karena itu hanya berisi cairan vitamin dan memudahkan menyuntikkan formula.
"Sayang, kenapa di cabut?" Stevent khawatir.
"Aku tidak sakit, itu hanya vitamin." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.
"Kamu selalu menggodaku." Stevent melepaskan tangan Nisa dan membuka pakaiannya.
"Sayang, Jhonny sudah MP." Stevent tersenyum dan menahan tawa.
"Sayang, kamu tidak boleh menanyakan sesuatu yang pribadi kepada Jhonny, apalagi urusan ranjang." Nisa mencubit pipi Stevent.
"Kamu benar Sayang, semua yang aku tanyakan ia jawab dengan jujur." Stevent tertawa.
"Aku bisa menebak itu, Jhonny selalu menuruti perintah kamu." Nisa tersenyum.
"Apa kamu tahu, Jhonny menghancurkan bantal, guling dan kasur." Stevent kembali tertawa.
"Apa Dokter Aisyah sangat ganas seperti macam betina." Stevent tersenyum dan ia tidak menyadari Nisa memelototi dirinya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Nisa mencubit perut Stevent.
"Aw, Sayang maafkan aku." Stevent memeluk Nisa.
"Apa kamu menginginkan istri yang ganas seperti macan betina?" Nisa tersenyum.
"Tidak Sayang ku, aku hanya menginginkan satu wanita di dunia ini Istriku Anisa Salsabila." Stevent mencium dahi Nisa.
Mencium dan meniupkan kepala Nisa membaca sebuah doa memulai ritual bercinta.
"Sayang, apa abu boleh minta sesuatu?" Suara Stevent manja.
"Tentu saja Sayangku." Nisa mengecup bibir Stevent.
__ADS_1
"Berikan tanda cinta!" Stevent menunjukkan lehernya.
"Ih, itu memalukan." Nisa mencubit hidung Stevent.
"Apa memalukan, kenapa Jhonny dan Aisyah tidak memikirkan hal itu?" Stevent berpikir.
"Kemarilah, aku akan memberikan tanda di sini." Nisa menyentuh dada Stevent.
"Kenapa di sini?" Stevent menatap Nisa.
"Agar hanya aku dan dirimu yang bisa melihatnya dan tidak orang lain." Nisa mulai membuat tanda cinta di dada Stevent.
Stevent berhasrat, melewati malam bersama dan bercinta setelah sekian lama tidak mereka lakukan.
Mandi bersama dan bercanda, Stevent membersihkan perut Nisa yang terus membesar.
"Sebentar lagi anak papa keluar, jangan rebut Mama dari papa ya." Stevent berbicara dengan perut Nisa yang terbuka.
Nisa tertawa, ia merasa lucu dengan omongan Stevent.
"Sayang, anak laki-laki akan langsung jatuh cinta kepada ibunya." Stevent mengusap perut Nisa.
"Dan anak perempuan akan jatuh cinta kepada papanya." Nisa mengusap kepala Stevent.
"Baiklah, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang." Stevent mencium perut Nisa dan menyelesaikan mandi mereka.
Stevent menggantikan pakaian dan mengeringkan rambut Nisa.
Tidur bersama di atas tempat tidur yang empuk dan berpelukan.
Stevent terus mengusap perut Nisa, mencium rambut yang wangi dengan aroma bunga menyegarkan.
***
Jhonny bersemangat kembali ke rumah, melihat wajah cantik Aisyah dengan senyuman yang menggoda.
Para pelayan menatap heran pada Jhonny yang tersenyum sendirian dari sejak keluar dari mobilnya.
Senyuman Jhonny sangat mahal, bahkan selama para pelayan melayani Jhonny, ini pertama kalinya mereka melihat Jhonny tersenyum.
"Assalamualaikum Suamiku." Aisyah berlari menuruni tangga dan memeluk Jhonny.
"Kenapa kamu tidak menjawab salam ku?" Aisyah melotot.
Jhonny menarik tangan Aisyah dan menaiki tangga menuju kamar dengan tergesa-gesa.
"Jhonny, ada apa? kamu membuat aku khawatir." Aisyah mengikuti langkah kaki Jhonny.
Jhonny membuka pintu kamar dan masuk bersama Aisyah yang kebingungan.
"Ada apa?" tanya Aisyah bingung.
Jhonny mengangkat hijab Aisyah dan melihat leher yang putih bersih.
"Apa yang kamu lakukan?" Aisyah menarik tangan Jhonny.
"Aku akan membuatkan tanda merah di leher kamu malam nanti." Jhonny kembali menuruni tangga dan masuk ke ruang kerjanya.
"Apa? Apa yang dia pikirkan?" Aisyah memegang kepalanya.
"Beginilah rasanya menjadi istri robot." Aisyah tersenyum sendirian dan duduk di tepi tempat tidur.
Jhonny melewati kamar Aisyah menuju kamarnya, ia harus mandi dan ganti pakaian.
Aisyah menyusul Jhonny, ketika membuka pintu kamar Jhonny di kunci.
"Jhonny." Aisyah mengetuk pintu, tidak ada jawaban sama sekali.
"Kenapa dia harus mengunci pintu? Jhonny." Aisyah kembali mengetuk pintu.
Jhonny duduk di tepi tempat tidur membuka pakaiannya, ia melihat kearah pintu.
"Aku tidak mau kamu masuk, karena kamu sangat menggoda." Jhonny masuk kamar mandi meninggalkan Aisyah yang masih mengetuk pintu.
"Aku akan menggigit habis Aisyah." Jhonny berbicara sendirian di bawah pancuran shower.
"Ada apa dengan Jhonny, aku belum menyiapkan baju gantinya." Aisyah kembali ke kamarnya.
"Pria aneh, aku ini istrinya." Aisyah kesal dengan sikap Jhonny.
__ADS_1
Aisyah keluar dari kamarnya dan melihat kamar Jhonny masih tertutup rapat dan turun ke ruang tengah.
Duduk di depan televisi menunggu waktu berbuka puasa.
Jhonny berjalan perlahan menuruni tangga ia melirik Aisyah yang cemberut.
"Kenapa ia memancungkan bibirnya?" Jhonny bertanya di dalam hatinya.
Aisyah melihat Jhonny yang mengalihkan pandangan dan langsung berjalan menuju ruang makan.
"Jhonny." Aisyah berteriak di dalam hatinya.
"Dasar Robot, tidak berperasaan." Aisyah mengepalkan tangannya.
Aisyah berjalan ke ruang makan dan duduk di depan Jhonny yang diam dan tidak melihat Aisyah.
Terdengar adzan Maghrib, mereka berbuka dengan kurma dan bubur.
Melaksanakan shalat Magrib bersama dan Jhonny langsung pergi ke masjid, ia terus menghindari Aisyah.
"Jhonny." Aisyah berteriak melihat mobil Jhonny meninggalkan dirinya.
"Apa yang terjadi padanya?" Aisyah kebingungan melihat tingkah Jhonny.
Aisyah berjalan sendirian menuju masjid terdekat, Jhonny tidak tahu jika Aisyah mau ikut sholat.
Jhonny pulang lebih cepat, ia segera berlari ke kamar Aisyah tetapi tidak melihat Aisyah di kamar.
Jhonny kembali berlari ke kamarnya dan ruangan bioskop, ia tidak menemukan Aisyah.
"Pak Ron." Jhonny berteriak dan khawatir.
"Dimana Aisyah?" Jhonny menatap tajam kepada pria paruh baya yang telah bersama Jhonny sejak lama.
"Nyonya pergi sholat tarawih dengan berjalan kaki Tuan." Pak Ron menunduk.
"Apa! Kenapa dia tidak ikut denganku?" Bentak Jhonny.
"Anda meninggalkan Nyonya." Pak Ron tetap menunduk.
"Bodoh." Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengambil kunci mobil dan kembali mengendarai mobilnya mencari Aisyah.
Aisyah kesal dengan sikap Jhonny, ia sengaja bergabung dengan ibu - ibu pengajian ikut mengaji bersama.
Jhonny memperhatikan sekeliling jalanan, ia sangat khawatir, takut kehilangan Aisyah, takut Aisyah akan pergi meninggalkan dirinya.
Aisyah berjalan bersama ibu - ibu pengajian pulang bersama.
"Aisyah." Jhonny segera menghentikan mobilnya dan berlari ke arah Aisyah.
"Jangan tinggalkan aku." Jhonny memeluk Aisyah di depan semua orang.
Seketika ibu - ibu menjadi ramai melihat pria tampan dan gagah memeluk Aisyah.
"Apa yang kamu lakukan?" Aisyah malu dilihat banyak orang.
Jhonny menarik tangan Aisyah dan masuk ke mobil.
"Ada apa dengan dirimu, bertingkah." kalimat Aisyah terputus, mulutnya telah di tutup oleh bibir Jhonny.
Ciuman hangat penuh kemesraan yang tidak bisa Aisyah tolak.
"Kita lanjut di rumah." Jhonny melepaskan ciumannya dan menjalankan mobilnya hingga sampai ke rumah.
Aisyah mau keluar dari mobil tetapi ditahan oleh Jhonny yang kembali menikmati ciuman bibir istrinya, tidak ingin melepaskan Aisyah.
Tidak mau menunggu hingga kamar, ia tidak sabar lagi ingin bercinta, tidak perduli walaupun harus di dalam mobil jika memungkinkan.
*** baca juga Novel baru Author
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)->Novel baru Author
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), dan Putih Abu - Abu (Sohibul Iksan) Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1