Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Racun Lola untuk Nathan


__ADS_3

Nathan menatap foto – foto Nisa yang terpajang di kamar rahasianya, ia melihat senyuman dari wanita yang sangat ia cintai.


“Permisi Tuan.” Roy masuk ke dalam kamar dan melihat Nathan tanpa pakaian hanya mengunakan celana panjang berwarna hitam.


“Ada kabar apa?” tanya Nathan.


“Ini adalah sketsa wajah Tuan Putri Ayesha, berdasarkan hasil penelitian beberapa Agen yang penasaran dengan kecantikannya.” Roy menyerahkan Sketsa wajah dan bahkan telah dalam bentuk foto.


“Cantik sekali, kemajuan teknologi luar biasa, sempurna.” Nathan beranjak dari kursinya mendekatkan foto Ayesha dengan foto Nisa.


“Kecantikan yang bebeda.” Nathan tersenyum, wajah pada Sketsa hampir seratus persen mirip wajah asli Ayesha ketika ia melihat sekilas di Restoran.


“Tentu saja Tuan, Putri Ayesha adalah keturunan campuran dari 3 negara.” Roy tersenyum, ia sendiri sangat terpesona dengan kecantikan Ayesha.


“Kemana Ayesha, aku tidak melihatnya untuk beberapa hari ini?” Nathan menatap gambar di tanganya.


“Putri Ayesha kembali ke Arab bersama Fauzan dan Kenzo.” Suara Roy semakin pelan.


"Kenapa Kenzo ikut serta?" tanya Nathan.


"Kenzo akan melamar Ayesha." Roy memperhatikan wajah Nathan.


“Kenapa mereka selalu merebut wanita yang aku suka, apa aku terlalu lembut? haruskah aku menculik dan mengurung wanita yang aku cintai dan menjadikan mereka pajangan di kamar ini.” Nathan tersenyum.


“Tuan, anda hampir mencelakai Nona Nisa.” Roy mengingatkan Nathan.


“Itu karena Loly, wanita gila.” Nathan mengepalkan tangannya.


“Lola adalah Loly, apa yang akan anda lakukan?” Roy menatap Nathan.


“Biarkan dia bersenang – senang." Nathan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Bagaimana kabar Nisa?” Nathan memejamkan matanya.


“Nona Nisa kembali dirawat untuk mendapatkan suntikan formula,” jelas Roy.


“Apa dia baik – baik saja?” tanya Nathan.


“Ya Tuan,” jawab Roy.


“Aku tidak bisa menghapus rasa sayangku kepada Nisa, ia terlalu baik untuk dibenci atau disakiti.” Nathan menarik napas dalam dan membuangnya.


“Nona Nisa adalah orang baik.” Roy menatap Nathan, ia tidak mengerti apa yang Nathan pikirkan dan rasakan pada Nisa dan Ayesha.


Ponsel Nathan berdering, ia melihat panggilan dari Nayla dan teriakan dari lantai bawah, memanggil Nathan.


“Saudara kembar anda Tuan.” Roy beranjak dari kursi.


Nathan beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar menuruni tangga, melihat Nayla dan Lola duduk di ruang tengah.


Lola terkejut melihat tubuh seksi Nathan tanpa ditutupi sehelai benang pun, otot – otor terbentuk indah dan sangat menawan.


“Ada apa Nayla?” Nathan melirik Lola sekilas yang menatap dirinya dan duduk di depan Nayla.


“Aku tidak akan mengganggu Stevent dan Nisa lagi, jika kamu berhasil mendekatkan diriku dengan pangeran Fauzan.” Nayla tesenyum.


“Apa kamu tahu, Fauzan lebih dingin dan cuek dari Stevent?” Nathan menatap Nayla.


“Kak, hanya Fauzan yang bisa menyaingi ketampanan dan kesempurnaan Stevent, tidak ada pria lain lagi di dunia ini.” Nayla membuka ponselnya melihat foto – foto Fauzan di Instagram.


“Bagaimana dengan Kenzo?” Nathan tersenyum, ia mau Nayla memisahkan Kenzo dari Ayesha.


“Tidak – tidak, dia hanya pria miskin yang beruntung, sehingga terlahir tampan menjadi sukses, berbeda dengan Fauzan yang terlahir dengan kesempurnaan dan jadi dambaan wanita di seluruh dunia.” Nayla mengibaskan tangannya.


Lola terus mempehatikan tubuh seksi Nathan yang sangat menggoda hingga matanya tidak mau berkedip, selama mengikuti Nathan ini pertama kalinya ia bisa melihat Nathan bertelanjang dada.


“Kenzo juga tidak akan mau wanita bar – bar seperti dirimu.” Nathan tersenyum.


“Tidak ada pria yang mampu menolak pesona wanita cantik.” Nayla memainkan rambutnya.


“Nayla, seburuk – buruknya pria pasti menginginkan wanita terbaik.” Nathan melirik Lola.


“Aku adalah seorang Mafia organ tubuh tetapi aku tidak pernah tertarik pada wanita nakal, bahkan belum ada wanita yang mendapatkan ciuman pertamaku.” Nathan menyentuh bibirnya.


“Apa aku wanita yang buruk?” Nayla berteriak.


“Kamu tahu itu, dan kakak tidak perlu mengatakan kepada dirimu.” Nathan beranjak dari Sofa dan menaiki tangga menuju kamarnya diikuti Roy.


“Lola, apa kamu tidak pernah melihat tubuh seksi seorang pria?” Nayla menatap tajam kepada Lola.


“Melihat tubuh pria yang kita cintai akan berbeda dengan pria – pria lainnya.” Lola menelan ludahnya.


“Apa yang kamu pikirkan, apa kamu tidak dengar bahkan kakak ku masih menjaga ciuman pertamanya.” Nayla tersenyum.


“Aku sangat menginginkan kakak kamu, apa aku boleh melakukan sesuatu untuk mendapatkan Nathan?” Lola tersenyum kepada Nayla.


“Jangan coba – coba menyakiti kakakku!” Nayla memelototi Lola.


“Baiklah, aku tidak berani.” Lola mengangkat bahunya.


“Aku sudah cukup sabar menunggu Nathan untuk melihat diriku.” Lola berbicara dalam hatinya.


“Kita akan menginap di sini, karena papa dan mama tidak ada di rumah, Herry telah menghilang, padahal aku merindukannya.” Nayla beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar paling ujung di lantai bawah.


“Ah, Tuhan sangat baik memberikan aku kesempatan yang bagus.” Lola tersenyum, sebuah rencana licik terpikirkan diotaknya.


“Lola, kamu tidur di kamar sebelah sana.” Nayla menunjukan sebuah kamar di samping kamarnya.


“Untuk apa Nathan membuat banyak kamar di Villa ini?” Lola memerhatikan pintu – pintu kamar yang terkunci.


“Entahlah, aku tidak mengerti kakakku.” Nayla membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


Lola masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, ia sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Nathan.


“Nathan, kamu telah menghina diriku, apa pun caranya aku harus mendpatkan dirimu, tidak cintamu tubuhmu cukup untukku.” Lola tersenyum sendirian di dalam kamar.


Lola mengeluarkan beberapa Ampul kaca yang berisi cairan bening dari tas kecilnya, ia tersenyum puas melihat hasil penelitian yang ia lakukan selama bersama Nathan.

__ADS_1


“Aku rela melakukan apa saja untuk bisa bersama dirimu, tetapi kamu tidak pernah menganggap aku ada, ini tidak akan menyakiti dirimu Sayangku Nathan.” Lola tersenyum memasukan Ampul kaca ke dalam saku celananya.


Lola keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Nayla, ia mau menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


“Nayla, buka pintunya.” Lola memegang gagang pintu.


“Ada apa? Aku mau tidur.” Nayla membuka pintu.


“Apa aku boleh memasak?” tanya Lola.


“Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan, tetapi jangan pernah naik ke lantai atas.” Nayla kembali menutup pintunya.


“Baiklah.” Lola tersenyum, ia berjalan menuju dapur, tidak banyak pelayan di sana hanya ada tiga orang paruh wanita paruh baya.


“Selamat sore Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayan.


“Tidak, aku hanya merasa bosan berada di dalam kamar.” Lola tersenyum.


“Baiklah, silahkan duduk Nona.” Pelayan kembali melanjutkan pekerjaanya mempersiapkan menu makan malam.


“Apakah Tuan Nathan memiliki makanan kesukaan?” tanya Lola duduk di kursi.


“Tuan Nathan sangat suka makanan laut.” Pelayan wanita tersenyum.


“Apa saya boleh membantu?” Lola mendekati para pelayan.


“Itu akan merepotkan anda.” Pelayan tersenyum.


“Tidak apa, aku tidak tahu harus melakukan apa jadi lebih baik aku ikut memasak.” Lola mengambil celemek dan segera memakainya.


Lola benar – benar memasak bersama para pelayan, ia memperhatikan setiap menu yang dimasak oleh para pelayan, Lola mau mengetahui makanan khusus untuk Nathan.


Makanan telah tertata rapi di atas meja makan, Lola sudah tahu kursi khusus Nathan ketika makan bersama Roy. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Nathan dan Roy turun dari tangga mereka berdua menggunkan pakaian olah raga kaos tanpa lengan dan celana sebatas lutut.


“Kalian mau kemana?” Nayla melihat Nathan dan Roy berjalan bersama.


“Lari sore,” jawab Nathan dan Roy hanya melirik kearah Lola dan Nayla, ia mengikuti langkah kaki Nathan.


“Apakah Roy itu bisu?” Lola melihat punggung Nathan dan Roy yang semakin menjauh.


“Dia adalah pria pendiam dan sangat setia kepada kakaku.” Nayla memakan anggur yang ada di atas meja.


“Apa kamu tidak puasa?” Lola menatap Nayla.


“Keluargaku tidak pernah berpuasa, apa kamu tidak lihat patung naga besar itu? Itu adalah symbol keluarga kerajaan, kami tidak punya kepercayaan.” Nayla tersenyum.


“Bukankah Nathan beragama Islam?” tanya Lola.


“Tentu saja hanya sebagai identitas diri dan Nathan memeluk agama Islam karena ia jatuh cinta kepada Nisa.” Nayla menikmati anggur hitam di tangannya.


“Ah, hanya karena cinta, bagaimana dengan Roy?” tanya Lola lagi.


“Roy beragama islam, ia cukup taat walaupun bekerja dengan seorang Mafia.” Nayla tersenyum.


Lola menyenderkan tubuhnya di sofa, ia tersenyum malam ini akan menjadi malam yang indah untuk dirinya dan kekasih yang sangat ia cintai.


“Bukan cuma wanita yang menggoda ternyata tubuh seksi pria juga sangat menggoda.” Lola mengintip dari balik jendela kaca.


“Wanita aneh.” Nayla melirik Lola dan menggelengkan kepalanya.


***


Makan malam telah tiba, Roy duduk di depan Nathan dan Nayla berhadapan dengan Lola berada di samping kiri dan kanan meja makan.


Makan malam tanpa suara selesai dengan senyuman puas diwajah Lola bisa makan bersama Nathan dan tidur di rumah Nathan.


Nathan dan Roy duduk di ruang tamu, mereka tidak mau bergabung dengan Nayla dan Lola yang berada di ruang tengah.


“Kak, kenapa kamu menghindari diriku?” Nayla berjalan mendekati Nathan.


“Aku tidak suka melihat wajah palsu teman kamu yang mirip dengan Nisa.” Nathan melirik Lola dengan tatapan kebencian.


“Lola sebaikanya kamu kembali ke kamar kamu!” Nayla melihat kearah Lola.


“Baiklah, aku permisi.” Lola berjalan menuju kamarnya dengan membawa sakit hati, ia sengaja operasi wajah mirip Nisa agar Nathan mau melihat dirinya tetapi yang ia dapatkan adalah tatapan kebencian dari Nathan.


“Malam ini kamu akan menjadi milikku pria sombong.” Lola masuk ke kamar dan mengunci pintu.


“Kak, kenapa kamu tidak suka pada Lola?” Nayla melirik Roy yang sibuk dengan laptopnya entah apa yang dikerjakannya menghabiskan waktu di depan layar computer sepanjang hari.


“Aku tidak suka dengan wajah palsu yang tidak pantas ada pada dirinya.” Nathan melihat layar ponselnya.


“Bagaimana apa kamu bisa mempertemukan aku dengan pangeran Fauzan?” Nayla menarik tangan Nathan.


“Fauzan sudah kembali ke negaranya.” Nathan melihat Nayla.


“Tuan, saya kembali ke kamar, saya merasa sangat lelah.” Roy menutup layar komputernya.


“Pergilah!” Nathan melihat Roy.


“Mungkin Roy lelah karena berpuasa seharian.” Nayla tersenyum.


“Aku akan kembali ke kamarku.” Nayla berjalan menuju kamarnya ia juga merasa lelah dan mengantuk.


Nathan beranjak dari sofa dan berjalan ke luar rumah untuk menikmati angin malam yang menyejukkan, ia merasa gerah.


“Aku merasa tidak nyaman.” Nathan membuka kemejanya.


“Kenapa kepalaku pusing dan seakan berhalusinasi, sial.” Nathan mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.


Nathan menghubungi nomor ponsel Roy berkali – kali tetapi tidak ada jawaban, Nathan berusaha melangkahkan kakinya menuju laboratorium kecil di belakang Villa.


Roy yang cerdas dapat menyadari kondisi tubuhnya yang berbeda dari biasanya, rasa lelah dan mengantuk berlebihan, ia segera mencari penawar yang ada di laci kamar Nathan dan meminumnya tetapi ia butuh beberapa waktu untuk menstabilkan dirinya menunggu reaksi penawar pada racun yang ada pada tubuhnya.


“Tunggu aku sebentar Tuan Nathan.” Roy merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Nathan, ia hanya bisa mendengar dering ponsel khusus panggilan dari Nathan.

__ADS_1


Nathan kesulitan mengontrol dirinya obat perangsang bersatu dengan halusinasi wajah wanita yang dicintainya yaitu Nisa dan Ayesha seakan tersenyum menggoda kepada diriya.


“Shit.” Nathan berteriak ia menyadari ada yang tidak beres pada dirinya.


"Ini pasti ulah Loli." Nathan berusaha menjaga kesadarannya.


Lola dengan pakaian seksi tersenyum melihat Nathan yang terduduk di lantai pinggir Villa dan kesulitan untuk mengontrol dirinya.


“Nathan sayang, berikan ciumanmu untuk diriku.” Lola meraba dada bidang Nathan yang tidak tertutup sehelai benang pun, senjata Nathan telah berdiri.


Nathan benar – benar kesulitan, Lola telah memberikan obat perangsang yang dicampur dengan ramuan halusinasi sehingga Nathan tidak bisa mengenali orang yang ada dihadapanya, yang ia lihat adalah wanita yang ia inginkan.


“Nisa ah tidak kamu Ayesha.” Pikiran Nathan kacau dua bayangan wanita cukup mengacaukan halusinasinya.


“Apa, dia menyukai dua wanita sekaligus dan itu membuat Nathan tidak fokus pada halusinasinya.” Lola kesal.


“Nathan kemarilah.” Lola menyentuh wajah dan bibi , ia benar – benar tergoda pada tubuh Nathan.


Tubuh Nathan telah berkeringat menahan reaksi dari obat perangsang dan berusaha menyadarkan dirinya, Lola memeluk tubuh Nathan dan merasakan otot – otot keras.


“Malam ini kamu adalah miliku.” Lola mencium bibir Nathan dengan lembut, ia tidak perduli akan bercinta di luar ruangan.


Tangan Lola terus meraba – raba tubuh Nathan tidak ada yang terlewatkan, ia benar – benar menikmatinya mencium wajah Nathan seakan tidak sadarkan diri dan tidak memperdulikan lingkungan sekitar, sudah lama ia menantikan kesempatan ini.


Roy berlari mencari Nathan melalui gps di ponselnya dan melihat seorang wanita dengan pakaian seksi sedang berciuman dengan Nathan dengan bergairahnya.


Roy menarik tubuh Lola dengan kasar dan mendorongnya jauh dari Nathan.


“Aarg.” Lola merasakan tubuhnya sakit.


Tanpa sepatah kata Roy segera menyuntikan obat penawar pada tubuh Nathan, yang ada dalam pikiran dan perkiraannya Nathan pasti diberi obat perangsang oleh Lola.


Roy memberikan dua kali suntikan agar Nathan segera sadar, ia yakin Nathan dengan mudah bisa memulihkan diri.


“Roy, bagaimana kamu bisa sadarkan diri?” Lola terkejut melihat Roy yang baik – baik saja bahkan ia belum sempat melakukan seseuatu yang ia inginkan pada tubuh Nathan.


“Aku rasa kamu akan bertemu dengan kematian.” Roy menyuntikan jarum lain pada lengan Lola.


“Apa, apa yang kamu suntikan pada diriku?” Lola terlihat khawatir.


“Kamu akan tahu setelah merasakan reaksi racun itu.” Roy tersenyum.


“Tidak, aku tidak tahu , katakan kepadaku!” Lola berteriak, ia merasakan matanya semakin berat dan mengantuk.


Lola tidak sadarkan diri terbaring di atas rumput hijau dengan pakaian berantakan.


“Roy, apa yang terjadi?” Nathan memegang kepalanya.


“Maafkan saya Tuan, saya sedikit terlambat sehingga Lola menyentuh tubuh dan mengambil ciuman anda.” Roy menunduk.


Mata Nathan memerah, ia melihat tubuh wanita tergeletak tidak sadarkan diri dengan pakaian seksi dan berantakan.


“Wanita rendahan, beraninya kamu menyentuh diriku.” Nathan berusaha berdiri, ia menjambak rambut Lola dengan kasar penuh emosi.


“Apa yang kamu berikan padanya?” Nathan memperhatikan wajah Lola yang tertidur dengan tenang.


“Hanya obat penenang, anda lebih berhak atas wanita itu.” Roy tersenyum.


“Apa kamu membawa semua formula yang ada di kamar?” Nathan menatap Roy.


“Tentu saja Tuan.” Roy mengeluarkan empat botol kaca berisikan cairan dengan empat warna.


“Bagus, kita pergi ke penjara bawah tanah sekarang, siapkan bekal.” Nathan menarik rambut Lola tanpa perasaan seperti boneka manekin.


Roy kembali ke rumah untuk mengambil bekal makanan untuk perjalanan dan selama berada di penjara bawah tanah.


Mobil Nathan melaju dengan kecepatan tinggi menuju hutan belantara yang jauh dari pusat kota, terlihat sebuah gedung tua yang tersembunyi di balik semak – semak.


Dari luar gedung seperti tidak terawat dan tidak berpenghuni tetapi setelah masuk ke dalam ada banyak penjaga yang siap siaga.


Roy terus melaju mobil hingga memasuki parkiran bawah tanah dan keluar bersama Nathan yang menarik Lola keluar dari mobil.


“Aku tidak percaya akan diperkosa oleh seorang wanita.” Nathan tersenyum dan terus menarik rambut Lola hingga sampai di penjara kotor dan berbau amis darah.


Nathan melempar tubuh Lola masuk ke dalam penjara dengan kasar bagaikan melepar sampah yang telah busuk.


“Gantungkan tubuhnya!” perintah Nathan pada dua orang penjaga yang berada di depan pintu penjara.


“Baik Tuan.” Dua orang pria mengangkat tubuh Lola memasangkan borgol ditangan dan kaki sehingga ia tergantung di dinding.


“Biarkan dia sadar dengan sendirinya.” Nathan dikuti Roy meninggalkan Lola tegantung di penjara.


“Sebaiknya kita istirahat.” Nathan berjalan menuju kamarnya yang selalu terawat oleh para pelayannya.


“Baik Tuan.” Roy membuka pintu kamar untuk Nathan.


“Roy, terimakasih.” Nathan memegang bahu Roy.


“Itu sudah menjadi kewajiban saya.” Roy tersenyum.


“Istrirahatlah!” Nathan masuk ke dalam kamar, ia harus membersihkan diri.


“Baik Tuan.” Roy menutup pintu kamar Nathan dan masuk ke kamarnya, ia duduk di atas tempat tidurnya, memikirkan kejadian yang telah ia alami bersama Nathan.


Cinta telah membutakan manusia karena tidak memiliki iman yang kuat sehingga menghancurkan logika.


Kecerdasan hilang begitu saja yang ada hanya nafsu dan obsesi untuk memiliki tanpa menyadari benar dan salah dari perbuatan mereka.


Godaan Setan semakin kuat untuk menjerumuskan manusia dalam jurang kesesatan yang memberikan nikmat sesaat.


***Baca Novel Baru Author***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih


Baca juga Author “Arsitek Cantik”

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2