
Dua pria tampan sedang fokus bekerja untuk mengembalikan kerugian yang telah terjadi akibat kebakaran. Fauzan dan kelima saudaranya adalah pria yang gila bekerja dengan sehingga mereka benar-benar menguasai semua bisnis di dunia.
“Terimakasih untuk waktumu, kakak sudah sehat dan pergi jalan-jalan, jaga diri, bekerjalah dengan professional, kakak menyayangi dirimu.” Sebuah pesan muncul di layar ponsel Asraf, ia segera menghubungi nomor ponsel Afifah tetapi tidak aktif.
Asraf terlihat gelisah, ia tidak fokus dengan pekerjaanya yang ada dalam pikirannya adalah Afifah pergi bersama Nathan dan meninggalkan dirinya. Fauzan memperhatikan tingkah Asraf.
“Ada apa dengan dirimu?” tanya Fauzan.
“Aku menerima pesan dari Afifah.” Asraf menyerahkan ponselnya kepada Fauzan.
“Apa kamu telah menghubungi dirinya?” Fauzan menatap Asraf.
“Ponselnya tidak aktif.” Asraf mengusap wajahnya.
“Aku tidak mau membuat Asraf khawatir pada Afifah yang mungkin bersama Nathan.” Fauzan berbicara di dalam hatinya, ia merasa bersalah kepada Asraf.
“Tunggulah, dia pasti akan menghubungi dirimu.” Fauzan menepuk pundak Asraf.
“Anda benar Tuan, terimakasih.” Asraf berusaha tersenyum.
Ponsel Fauzan berdering panggilan dari Stevent, ia segera menggeser icon hijau untuk manjawab panggilan.
“Assalamualikum.” Fauzan menerima panggilan.
“Waalaikumsalam, apa anda sedang sibuk?” tanya Stevent.
“Ya, aku sedang memperbaiki kerugian akibat kebakaran dan imbasnya pada perusahaan lainnya.” Fauzan berbicara sangat serius.
“Perusahaaan cabang mengalami banyak kerugian,” ucap Stevent.
“Tenanglah, semua pasti dapat diselesaikan dengan mudah.” Fauzan tersenyum.
“Aku butuh bantuan anda.” Suara Stevent terdengar serius.
“Apa itu?” tanya Fauzan heran.
“Apa kita bisa bertemu?” tanya Stevent.
“Aku berada di pabrik ruangan paling atas,” ucap Fauzan.
“Aku akan segera datang.” Stevent memutuskan panggilan.
“Ada apa Tuan?” tanya Asraf.
“Stevent akan datang ke pabrik dan dia butuh bantuan.” Fauzan tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Tidak butuh waktu lama mobil sport berwarna hitam telah memasuki tempat parkir, seorang pria dengan tubuh tinggi berjalan memasuki perusahaan “Kesya”. Wajah tampan yang selalu jadi pusat perhatian kaum hawa, berbeda dengan Fauzan yang lebih sering menggunakan masker ketika dia keluar dari ruangan.
Stevent memasuki lift yang mengantarkan ia langsung menuju ruangan Fauzan , yaitu lantai paling atas gedung perusahaan yang menyatu dengan pabrik. Pintu lift terbuka, tanpa menyapa sekretaris yang berada di samping pintu pria itu langsung masuk ke dalam ruangan Fauzan.
“Assalamualaikum.” Stevent mengulurkan tangannya kepada Fauzan.
“Waalaikumsalam.” Fauzan berdiri dan berjabat tangan dengan Stevent.
“Silahkan duduk Tuan.” Asraf berjabat tangan dengan Stevent setelah Fauzan.
“Terimakasih, maaf telah mengganggu waktu kalian.” Stevent tersenyum.
“Tak apa, aku hanya mau menyelesaikan masalah ini sebelum Kenzo dan Ayesha kembali.” Fauzan tersenyum.
“Katakan apa yang bisa aku bantu?” Fauzan melihat Stevent.
“Silakan Tuan.” Asraf meletakkan air mineral di atas meja.
“Terimakasih, Aku mau menyerahkan masalah perusahaan cabang kepada Viona.” Stevent terlihat serius tetapi Fauzan tertawa dan Asraf menatap Stevent.
“Kenapa anda tertawa?” Stevent mengernyitkan alisnya.
“Viona belum menyelesaikan kuliahnya di jurusan bisnis.” Fauzan menyenderkan tubuhnya di sofa.
“Aku tahu, aku hanya mau ia mulai belajar dari sekarang, papa Alexander akan menyerang Viona.” Fauzan meneguk air mineral.
“Apakah kamu sudah mendapatkan persetujuan dirinya?” Fauzan menatap Stevent.
“Malam ini aku akan berbicara dengan Viona.” Fauzan meletakkan botol minuman di atas meja.
“Jika dia tidak mau jangan paksakan kehendak kamu karena itu tidak akan berhasil.” Fauzan menyerahkan berkas kepada Stevent.
“Apa ini?” Stevent membuka berkas di tangannnya.
“Itu adalah cabang perusahaan kecil yang paling banyak mengalami kerugian dan telah memecat beberapa karyawan akibat kebakaran.” Fauzan menatap tajam pada Stevent.
__ADS_1
“Katakan pada Viona, jika dia bisa menyelesaikan masalah dan memperkerjakan kembali para karyawan, ia pasti menjadi wanita sukses dan mandiri dikemudian hari.” Fauzan menyilangkan kakinya dan tersenyum.
“Anda langsung memberikan pelajaran berat.” Stevent tersenyum.
“Jika dia gagal, jangan pernah paksakan adik kamu dalam dunia bisnis yang kejam.” Fauzan tersenyum.
“Aku akan berbicara dengan Viona, berapa waktu yang dibutuhkan?” Fauzan mengambil berkas.
“Secepatnya.” Fauzan tersenyum.
“Baiklah, terimakasih.” Stevent beranjak dari kursinya.
“Apa kamu akan pergi?” tanya Fauzan.
“Ya, aku tidak mau mengganggu waktu kalian yang sedang sibuk bekerja.” Stevent tersenyum.
“Jika Viona butuh bantuan, dia bisa datang langsung kepada diriku.” Fauzan melihat kepergian Stevent.
“Terimakasih.” Stevent melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan.
“Apa anda serius mau menjadi mentor Nona Viona?” tanya Asraf.
“Aku punya asisten hebat.” Fauzan tersenyum melihat Asraf.
“Baiklah Tuan.” Asraf kembali fokus bekerja.
***
Dua buah mobil mewah beriringan masuk ke garasi, Stevent dan Jhonny keluar dari dalam mobil sport. Istri cantik dan sholeha mereka berdua telah menunggu di depan pintu menyambut suami tercinta dengan senyuman terindah.
“Asslamualaikum.” Nisa menyalami dan mencium tangan Stevent.
“Waalaikumsalam sayang.” Stevent mencium dahi istrinya.
Berbeda dengan Aisyah yang berjalan mendekati Jhonnya, ia memeluk dan mencium bibir suaminya begitu mesra.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam.” Nisa menarik tangan Stevent dan tersenyum melihat kemesraan Jhonny dan Aisyah.
“Benar-benar tidak tahu malu.” Stevent menggerutu, ia berjalan bersama istrinya.
“Sayang, pergilah mandi dan ganti pakaian sebelum menemui Azzam dan Azzura.” Nisa mendorong tubuh suaminya menuju kamar mereka.
“Dimana putra dan putri kita?” tanya Stevent menarik tangan Nisa dan melingkarkan dilehernya.
“Apakah robot-robot itu bisa menjaga bayi kita?” Stevent menatap wajah cantik Nisa.
“Papa telah membuat program otomatis melindungi, menjaga dan merawat baby twins.” Nisa membuka kancing kemeja Stevent.
“Benarkah, apa kamu bisa mempercayai robot-robot itu?” Stevent mencium dahi Nisa.
“Kedua robot mendeteksi suhu dan kesehatan baby kita, mereka tahu jika Azzam dan Azura tidak sehat, bahkan seekor semut tidak berani mendekat.” Nisa menyentuh dada bidang dan kekar Stevent.
“Apa kamu menginginkannya?” Stevent mencium bibir Nisa.
“Ya, nanti.” Nisa mencubit hidung Stevent.
“Kapan?” tanya Stevent manja.
“Aku akan memintanya.” Nisa tersenyum dan mendorong tubuh Stevent masuk kamar mandi mewah.
“Apa kamu benar-benar akan memintanya?” Stevent kembali mencium bibir istrinya.
“Ya sayang, bersihkan dirimu, setelah itu temui putra dan putri kita.” Nisa berjalan menuju lemari untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya.
Nisa duduk di kursi depan meja rias menunggu suaminya, pintu kamar mandi terbuka, pria tampan dengan tubuh atletis yang hanya menggunakan handuk berwarna putih berjalan dan memeluk istrinya dari belakang. Wanita itu mendongakkan kepala, air dari rambut Stevent menetes di wajahnya.
“Hmm, suamiku sangat harum dan segar.” Nisa beranjak dari kursi.
“Duduklah sayang.” Nisa mengeringkan rambut Stevent dan membantu berpakaian.
“Sayang, aku mencintai kamu.” Stevent memeluk Nisa.
“Aku mencintai kamu sayang.” Nisa mengeratkan pelukannya.
“Aku sangat merindukan kalian.” Stevent melepaskan pelukannya.
“Ayo temui baby twins.” Nisa menarik tangan Stevent dengan lembut keluar dari kamar dan berjalan bersama menuju taman belakang rumah.
Viona terlihat santai di ayunan melihat foto-foto Fauzan pada hari pembukaan kampus, ia tersenyum sendirian.
“Apa yang membuat kamu bahagia?” Suara Stevent mengejutkan Viona hingga ponselnya terjatuh.
__ADS_1
“Tidak ada.” Viona mau mengambil ponselnya yang tergeletak di atas rumput tetapi tangan Stevent lebih cepat.
“Apa kamu terus melihat foto Fauzan setiap waktu?” Stevent melihat foto Fauzan pada layar ponsel Viona.
“Dia pria yang sempurna dan semua wanita di dunia ini mengagumi dirinya.” Viona menunduk.
“Kamu sudah bertemu dengan dirinya, apa itu tidak cukup?” Stevent menyerahkan ponsel Viona dan berjalan mendekati Azzam dan Azzura.
“Apa kakak pernah merasa cukup dengan Kak Nisa?” Viona melihat kearah Stevent yang menghentikan langkah kakinya.
“Kamu mencintai atau mengagumi Fauzan?” Stevent menatap tajam pada Viona, Nisa hanya memperhatikan dua saudara yang sedang berbicara.
“Rasa kagum telah berubah menjadi cinta.” Viona kembali menunduk.
“Pantaskan dulu dirimu!” Stevent menggendong Azzura dan menciumnya.
“Maksud kakak?” Viona turun dari ayunan dan berjalan mendekati Stevent.
“Selesai makan malam kita akan berbicara di ruang kerja.” Stevent membaringkan kembali Azzura dan menggendong serta mencium Azzam.
“Baiklah.” Viona tersenyum.
Robot pengasuh terus waspada menjaga cucu dari Tuan Mark, mereka bahkan tidak mengalihkan pandangan dari Stevent yang menggendong Azzam dan Azzura sedangkan Salsa sedang menyiram tanaman.
“Sayang, aku merasa diawasi dengan tatapan tajam dari sepasang robot ini.” Stevent melihat Robot pengasuh.
“Mereka hanya menjaga Azzam dan Azzura agar tetap aman dan nyaman sayang.” Nisa tersenyum.
“Aku akan kembali ke kamar.” Viona berlari meninggalkan keluarga kecil Stevent.
“Sayang, aku mau Viona memulai bisnisnya.” Stevent membaringkan Azzam dalam keranjang bayi.
“Kamu tahu yang terbaik untuk Viona.” Nisa tersenyum.
“Aku khawatir Papa Alexander akan berusaha mengambil perusahaan atas nama Viona.” Stevent menarik tangan Nisa dan duduk di ayunan.
“Apa Papa akan melakukan hal seperti itu?” tanya Nisa.
“Papa bisa melakukan apapun yang untuk mencapai keinginannya.” Stevent mengusap kepala Nisa.
“Sayang, apa yang menyebabkan permusuhan diantara kamu dan papa, awal aku datang kalian terlihat baik-baik saja, sekarang Viona bahkan tidak bisa tinggal bersama Papa dan Mama.” Nisa menyentuh pipi Stevent.
“Aku melepaskan bisnis illegal milik Papa Alexander.” Stevent menatap Nisa.
“Apakah papa mengalami kerugian?” tanya Nisa.
“Tentu saja sayang, begitu juga dengan diriku karena itu aku kembali meminta bantuan Fauzan.” Stevent tersenyum.
“Bagaimana sekarang, apakah sudah baik-baik saja?” Nisa menatap Stevent khawatir.
“Jangan khawatir sayang, kebangkrutan perusahaan tidak berarti apapun selama kamu terus bersama diriku.” Stevent memeluk Nisa.
***
Aisyah dan Jhonny berada di kamar mereka dan bersiap untuk mandi bersama. Aisyah sengaja belum mandi sore karena ia mengunggu suaminya.
“Apa kamu belum mandi?” Jhonny menatap Aisyah yang sedang membuka pakaiannya.
“Aku menunggu dirimu.” Aisyah mendekati suaminya dan membantu membuka pakaian Jhonny.
“Kamu akan membantu diriku mandi?” Jhonny menatap wajah cantik Aisyah.
“Ya.” Aisyah menarik tangan Jhonny mneuju kamar mandi.
“Aku harap dia tidak menggodaku.” Jhonny berbicara dalam hati.
“Sayang, apa kamu takut pada diriku?” Aisyah tersenyum menggoda.
“Aku bukan takut pada dirimu tetapi takut kita tidak bisa menyelesaikan mandi hingga waktu makan malam.” Jhonny mencium bibir Aisyah dengan kuat.
“Baiklah aku mandi duluan.” Aisyah mendorong tubuh Jhonny keluar dari kamar mandi danmengunci pintu.
“Ahh.” Jhonny mengusap wajahnya dan duduk di tempat tidur. Aisyah benar-benar suka menggoda dan menganggu dirinya.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Love You so much, Muuach.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.