Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Gagal Bercinta


__ADS_3

Senja telah memberikan warna yang Indah di ufuk barat, menandakan Magrib akan segera datang.


Stevent dan Nisa pamit kepada Abi dan Umi, begitu juga Viona, Nisa hanya bisa pamit dengan senyuman pada Kenzo dan Samuel.


Senyuman yang sangat Indah begitu lembut tanpa ada keinginan untuk menggoda.


Sejak menikah dengan Stevent Nisa tidak pernah lagi berjabat tangan dengan pria lain.


Ia hanya menundukkan kepala dan mencakup kan tangannya di depan dadanya.


Kenzo sangat bahagia bisa melihat senyum Nisa, senyum yang sangat ia rindukan.


Samuel juga ikut mencuri pandang untuk melihat Nisa, sebenarnya bukan hanya kecantikan wajah Nisa yang menjadi daya tarik dirinya.


Kebaikan dan kelembutan hatinya lah yang lebih menjadi magnet ketertarikan kaum Adam pada dirinya.


Stevent berjabat tangan dengan dua pria rivalnya dan tersenyum penuh dengan kemenangan.


Mobil sport dan mobil Viona bergerak meninggalkan perkarangan rumah Abi, Samuel juga bersiap untuk pulang.


Angel terlihat sangat betah di pesantren, ia merasakan pertemanan yang tulus dari anak-anak pesantren.


Tidak ada perbedaan dan kasta, semua berlaku sama, meskipun mereka tahu Angel adalah orang kaya tapi mereka bisa berteman tanpa memandang status Angel.


Samuel berjabat tangan dengan Semua orang dan pamit pulang, begitu juga dengan Oma dan Angel.


"Pa, setiap Minggu Angel mau bermain di sini" ucap Angel bersemangat.


"Jika Papa punya waktu Sayang" ucap Samuel mencubit pipi Putrinya.


"Angel bisa pergi bersama Oma dan sopir, emmm atau Angel sekolah di sini saja" ucap Angel yang mengejutkan Semua orang.


Angel bukan beragam Islam, tidak mungkin ia bersekolah di pesantren, sedangkan ia bersekolah di sekolah pilihan khusus orang kaya dan sesuai dengan Agama yang ia anut.


"Sayang, kamu tidak bisa sekolah di sini" ucap Oma.


"Kenapa? Angel juga bisa pakai Jilbab seperti teman-teman di sini" ucap Angel polos.


Semua orang kebingungan dan saling bertatapan.


Kenzo mendekati Angel dan berjongkok di hadapan Angel.


"Angel, sekolah ini khusus untuk anak-anak beragam Islam, dan belajar tentang Agama Islam" Kenzo tersenyum manis.


"Apa aku tidak boleh belajar Islam?" tanya Angel lagi.


"Boleh, Angel bicarakan dulu dengan Papa dan Oma di rumah, jika sudah pasti dan yakin Angel bisa datang lagi kemari" Kenzo meletakkan tangannya di pipi kecil Angel dan tersenyum.


"Baiklah, Terima kasih Om" Ucap Angel tersenyum.


Samuel, Oma dan Angel segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pesantren.


Kegundahan yang dibuat Angel membuat Oma dan Samuel bisu dan sunyi di dalam mobil, sedangkan Angel terlelap dalam tidurnya di pangkuan Oma.


***


Rumah Utama Stevent


Seperti biasa Stevent selalu membukakan sabuk pengaman dan pintu mobil untuk Nisa.


"Kapan aku akan diperlakukan manis seperti Kak Nisa" Viona memandang Stevent dan Nisa, ia tersenyum membayangkan Kenzo akan jauh lebih lembut dari Stevent.


"Aku sangat yakin, Kenzo jauh lebih lembut dan manis" Viona tertawa sendiri dalam Khayalannya dan berlari ke kamar.


Ia ingin segera menghubungi Kenzo dengan mencoba berkirim pesan atau chat berharap Kenzo akan membalasnya.


"Sayang, baju kamu yang di pinjam Aisyah sudah di kembalikan?" tanya Stevent menggandeng tangan Nisa.


"Aku berikan kepada Aisyah" Nisa tersenyum manja, Senyuman yang hanya diberikan kepada suaminya.


"Sayang, malam kita main ya" Stevent berbisik di telinga Nisa yang tersenyum dan mengangguk.


Terdengar adzan magrib Stevent dan Nisa Sholat berjamaah, selesai sholat mereka membaca Alquran bersama.


Nisa sangat kagum dengan Stevent yang dengan mudah bisa membaca Alquran karena mempelajari banyak bahasa Dunia.


Bahkan Stevent bisa menterjemahkan bahasa Al-Qur'an.

__ADS_1


Tuhan memberikan kemudahan untuk Nisa dan Stevent dalam menjalankan perintah Agama.


Nisa membaringkan kepalanya di pangkuan Stevent, mereka berdua masih duduk di ruangan Sholat menunggu waktu Isya.


"Sayang, jika usia kandungan aku sudah 5 atau 6 bulan, bagaimana jika kita pergi ke tanah suci" Nisa mengusap tangan kekar suaminya yang ia letakkan di pipinya.


"Ke tanah suci?" Stevent bertanya.


"Kita melaksanakan ibadah umroh bersama, jika kamu punya waktu" Nisa tersenyum kepada suaminya.


"Apakah kamu sudah pernah pergi ke sana?" tanya Stevent dan Nisa mengangguk.


"Bersama siapa?" tanya Stevent lagi.


"Abi, Umi dan ......" Nisa tidak jadi menyebutkan nama yang akan membuat Stevent cemburu.


"Dan Kenzo" ucap Stevent menatap Nisa yang tersenyum.


"Kapan kamu sudah siap dan kuat kita akan segera berangkat" Ucap Stevent membungkukkan badannya dan mencium dahi Nisa.


Mereka telah melaksanakan sholat Isya dan berjalan bersama menuju meja makan untuk makan malam bersama.


Viona telah duduk di kursi, dan terus menatap layar ponselnya.


Stevent mengangkat salah satu alisnya ketika melihat kegalauan Viona.


"Singkirkan ponsel dari meja makan atau kamu akan kehilangan ponsel itu" tegas Stevent.


Viona segera beranjak dari kursi dan meletakkan ponselnya jauh dari meja makan.


Nisa tersenyum melihat tingkah Viona yang takut dan menurut kepada Stevent.


Mereka makan malam bersama, selesai makan Nisa dan Viona duduk di ruang tengah.


Stevent berjalan menuju ruang kerja miliknya, untuk menghubungi Jhonny dan orang-orang kepercayaannya.


Perusahaan Stevent harus dalam kondisi siap siaga, musuh dari dalam lebih berbahaya dan sulit untuk dihadapi.


Apalagi Stevent sudah tahu, kesalahan Dokumen kerjasama dengan Papa Mark adalah perbuatan Papa Alexander yang dilakukan oleh Om Robert.


Stevent larut dalam kerjaan, hingga ia lupa dirinya mau bercinta.


Laporan tentang Papa Alexander yang sedang membangun kembali perusahaan dan mencari relasi baru membuat Stevent harus berhati-hati.


Stevent harus mulai memisahkan orang kepercayaan dirinya dan Papa Alexander.


Nisa dan Viona asyik berbincang di ruang tengah.


"Kak, sepertinya Kak Stevent sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Bagaimana kamu tahu?" Nisa tersenyum.


"Lihatlah, pintu ruang kerja yang terkunci" Viona menarik tangan Nisa dan mengintip ke arah ruangan Stevent.


"Mungkin karena tidak ada Jhonny jadi Kakak mu punya banyak pekerjaan" Nisa tersenyum melihat Viona.


"Bagaimana jika kita ke kamar ku saja?" tanya Viona dan menggandeng tangan Nisa menaiki tangga menuju kamar Viona.


"Aku kembali ke kamar dulu untuk menggosok gigi" Nisa berjalan ke kamar paling ujung, kamar khusus pengantin baru.


Viona mengangguk dan masuk ke kamarnya, ia juga segera menggosok gigi dan mencuci muka dengan bersih.


Nisa mengetuk dan membuka pintu kamar Viona.


Mereka berbaring di atas tempat tidur Viona yang mulai bercerita tentang pria yang ia suka tidak ada yang lain selain Kenzo.


Viona mengeluh kenapa sulit sekali untuk mendekati Kenzo, seakan pria itu mengunci rapat pintu hatinya dan tidak mengizinkan orang lain untuk masuk.


Nisa tidak tahu harus mengatakan apa kepada Viona, Kenzo pernah berkata kepadanya, bahwa Kenzo tidak akan pernah menghapus rasa cinta yang telah ia jaga untuk Nisa.


Kenzo mencintai Nisa sejak ia melihat Nisa hadir di antara Abi dan Umi.


Nisa hanya bisa tersenyum mendengar keluhan Viona.


"Kak Nisa, katakan kepada ku" rengek Viona.


"Apa yang harus aku katakan, berusaha dan berdoa, jika kak Kenzo adalah jodoh dirimu, maka Allah akan dekatkan kalian dan bersatu dalam ikatan pernikahan" jelas Nisa.

__ADS_1


"Kenapa Kak Kenzo tidak mau melihat diriku, apakah aku sangat jelek?" Kesal Viona.


"Kak Kenzo adalah muslim yang taat ,ia sedang menundukkan pandangannya, agar tidak tergoda oleh kecantikan wanita" jelas Nisa lagi yang mulai mengantuk.


Viona masih mengoceh tentang perasaannya kepada Kenzo, ia tidak tahu jika Nisa telah berada di alam mimpi.


"Kak Nisa kenapa diam?" Viona beranjak dari tempat tidur dan melihat Nisa yang telah tertidur.


"Ya Tuhan, apakah Kak Stevent akan marah, Kak Nisa tidur di kamarku" Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Viona Berlari menuruni tangga dan melihat pintu ruang kerja yang masih tertutup rapat. Ia kembali berlari ke kamarnya, ia tidak berani mengganggu Stevent yang sedang bekerja.


Karena kelelahan dan juga sudah mengantuk, Viona segera mengambil bantal dan selimut, membawanya ke sofa panjang, ia tidak mau tidur di dekat Nisa, ia takut Stevent akan cemburu dan marah.


Viona juga tidak mengunci pintu kamarnya, agar Stevent bisa segera menemukan Nisa tanpa membuat kegaduhan.


Memejamkan mata dalam damai dan bertemu dengan pemilik mimpi.


Stevent masih sibuk dengan pekerjaannya, ia tidak sadar malam telah sangat larut, Stevent melihat jam berwarna hitam di tangan kirinya dan terkejut, hampir pukul 00.00.


"Oh shit" Stevent segera mematikan layar komputernya dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Stevent membuka pintu perlahan tetapi ia tidak menemukan Nisa.


"Dimana istriku?" Stevent berpikir sejenak.


"Ah, Viona telah menculiknya" gumam Stevent dan segera membuka pintu kamar Viona yang tidak dikunci.


Stevent melihat Viona tidur di Sofa dan Nisa tidur di tempat tidur Viona.


"Anak pintar" Stevent mengusap kepala Viona dan tersenyum.


Jika Viona yang di tempat tidur dan Nisa di Sofa, maka Viona akan kehilangan tempat tidurnya untuk selamanya.


"Oh maafkan aku Sayang" Stevent menggendong Nisa yang terasa semakin bertambah berat.


Dengan perlahan Stevent membawa Nisa ke kamar dan membaringkan di atas tempat tidur.


"Sayang, apakah malam ini kita gagal bercinta?" bisik Stevent di telinga Nisa.


"Ah, juniorku telah bangun" bisik Stevent lagi berharap Nisa akan membuka matanya.


"Sayang" Stevent mencium telinga Nisa dan meniupnya lembut.


Nisa mengusap telinganya yang geli dengan jari indahnya.


Nisa kelelahan dari pesantren dan malam sudah sangat larut.


"Ah, ini kesalahan diriku yang selalu lupa waktu ketika bekerja" Stevent memarahi dirinya.


Stevent menggosok gigi dan membersihkan wajahnya, membuka pakaiannya, ia hanya menggunakan boxer dan memeluk Nisa.


"Aaah, Sayang Junior tidak tahan lagi" Stevent berbisik di telinga Nisa.Tidak ada jawaban dari Nisa.


"Baiklah, kita akan bermain di pagi hari setelah subuh" Stevent mengeratkan pelukannya dan mencium leher Nisa.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


**thanks for Reading


Selalu Dukung Author dengan tinggalkan Like, Komentar dan Vote yang banyak 🤗😘


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin.


Love You Readers, muuach 😘**

__ADS_1


__ADS_2