Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Viona


__ADS_3

Viona bermalas-malasan di atas tempat tidurnya, ia merasa sangat bosan, ia rindu dengan teman barunya, sudah lama ia tidak berjumpa, Nisa sangat sibuk, hanya punya waktu di hari Minggu, itupun ia masih tetap bekerja melayani masyarakat dengan suka rela.


Viona telah mengirim pesan kepada Nisa tetapi belum mendapatkan balasan.


"Nisa adalah wanita penuh dengan rasa cinta, andai aku punya saudara seperti dia pasti sangat menyenangkan." Viona tersenyum dalam khayalannya.


Ia tak sadar seseorang memperhatikannya dari pintu yang terbuka.


"Kenapa dia tersenyum sendirian, apa ia sedang Jatuh cinta?" pikir Stevent dalam hati berjalan masuk ke kamar dan memperhatikan wajah adiknya dari dekat, sehingga mengagetkan Viona.


"Kakak" Viona kaget dan langsung duduk, ia melihat sudut bibir kakaknya terluka.


"Kenapa dengan bibir kakak?" tanya Viona.


"Rebutan wanita." Stevent tersenyum menyentuh bibirnya, membuat Viona tertawa terpingkal-pingkal hampir jatuh dari tempat tidur.


Seorang Stevent, pria paling di cari sebagai suami idaman wanita, bahkan banyak wanita yang rela menyerahkan dirinya kepada Stevent.


"Kakak bercanda." Viona masih tertawa dan terdiam ketika mendapat tatapan tajam kakaknya.


"Lupakan, kenapa dirimu senyum - senyum sendiri?" Stevent menyelidiki.


"Aku sudah punya teman." Viona tersenyum.


"Pria?" Stevent duduk di kursi rias.


"Wanita, dia sangat cantik dan baik." Viona membayangkan Nisa dalam ingatannya.


"Mungkin dia berteman dengan mu hanya mau mendapatkan diriku." Stevent beranjak dari kursi.


"Dia tidak mengenali kakak." Viona sedikit berteriak melihat kakaknya berlalu.


Viona mengambil kotak obat dan berlari mengejar Stevent, ia mau mengobati bibir kakaknya dan masih penasaran apa benar kakaknya berkelahi karena wanita, jika benar Viona sangat senang berarti kakaknya normal dan Sudan jatuh cinta.


"Kak , tunggu." Viona berlari mengikuti langkah kaki Stevent menuruni tangga hingga sampai lantai.


"Siapa wanita yang membuat kakak berkelahi?" tanya Viona penasaran ia menarik tangan Stevent untuk duduk di sofa.


"Wanita yang cantik, unik dan sombong." Stevent mengikuti Viona, yang sudah membuka kotak obat membersihkan luka dan memberikan obat tetes.


"Siapa yang menang?" Viona menahan tawa.


"Apa kamu meledekku." Stevent menatap Viona.


"Ti tidak " jawab Viona gugup.


"Tidak ada yang kalah, aku akan mendapatkan semua yang aku mau" senyum miring menyungging dari bibir Stevent dan itu mampu membuat Viona merasa takut.


Ia takut karena kakaknya bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan semua yang ia inginkan.


Andai Viona mengenali wanita itu, ia akan meminta untuk menyerah saja, jangan pernah melawan Stevent.


Suara ponsel Viona membuyarkan lamunannya, Sebuah pesan muncul di layar ponselnya.


"Datanglah ke rumah sakit, orang tua ku sedang di rawat, kita bisa bertemu di Kantin, aku sedang kosong"


Viona tersenyum Bahagia membaca pesan dari Nisa lengkap dengan peta lokasi rumah sakit, Stevent menarik salah satu alisnya memperhatikan Viona penuh curiga.


"Kak, aku boleh pergi kerumah sakit?" pinta Viona sedikit memelas namun khawatir kakak tidak mengizinkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau ke rumah sakit?" tanya Stevent, Viona memberikan ponselnya kepada Stevent dan membacanya.


"Pergilah." Stevent tersenyum membaca pesan di layar ponsel Viona.


"Aku boleh pake mobil sendiri?" tanya Viona gugup, dan mendapatkan anggukan dari Stevent.


"Terimakasih." Viona berlari menaiki tangga menuju kamarnya, untuk mengganti pakaian.


Stevent memanggil Jhonny, yang selalu siap sedia dimana pun berada.


"Awasi Viona, aku mau beristirahat!" perintah Stevent, Jhonny langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada anak buahnya.


"Baik Tuan." Jhony menundukkan kepalanya.


"Bagus." Stevent menaiki tangga menuju kamarnya, membuka jas, dasi dan kemeja yang melekat ditubuhnya, terlihat bentuk tubuh atletis dengan sobekan roti yang seksi.


Stevent menyentuh perutnya dan mengingat tendangan dari Nisa, ia tersenyum, Nisa tidak menendang dengan sekuat tenaga, ia hanya mau membuat Stevent terkejut dan melepaskan tangannya.


"Kamu mau lari dariku." Stevent merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.


"Ke ujung dunia pun, akan aku kejar." senyuman yang mengerikan dari wajah tampan seorang yang mematikan.


"Nathan, aku akan menghancurkan dirimu bersama dengan Nayla." Stevent mengepalkan tangannya.


***


Viona berjalan penuh semangat dan hampir bertabrakan dengan Jhonny.


"Jhonny aku mau keluar, jangan mengikuti aku!" Viona membulatkan matanya kepada Jhonny berwajah datar tanpa ekspresi.


"Mobil sudah disiapkan Nona." Jhonny memberikan kunci mobil.


Jhonny tersenyum melihat Viona, karena ia tahu Viona akan menjadi umpan kakaknya.


***


Nisa dan Kenzo masuk bersama ke ruangan Umi dan Abi yang baru saja selesai operasi. Nisa sengaja meminta kepada pihak rumah sakit agar Umi dan Abi bisa satu kamar di ruangan VIP.


Abi sangat bahagia melihat Kenzo, Dulu Kenzo adalah anak kecil pintar tapi nakal, dia tidak bisa diam, selalu ada saja yang dilakukannya, tapi dia sangat menyayangi Nisa, mereka terpaut usia 5 tahun.


Kenzo selalu memberikan apapun yang Nisa mau. Dia akan menghajar anak-anak yang membuat Nisa menangis.


Kenzo memeluk Abi, perlahan takut mengenai dada Abi yang baru selesai operasi.


"Nisa kapan kita pulang ke rumah?" umi mulai bosan di rumah Sakit padahal baru 1 hari.


"Sabar Umi, nunggu Umi dan Abi pulih, sekarang Umi harus Istirahat." Nisa membantu merebahkan Umi di tempat tidur lalu berjalan mendekati Abi.


"Abi juga harus tidur." ucap Nisa.


"Anak Abi cerewet sekali." Abi di bantu Kenzo untuk rebahan di tempat tidur menahan tawa.


"Baiklah kak Kenzo juga harus istirahat, cepat keluar!" perintah Nisa yang diikuti Kenzo dengan bingung.


"Assalamu'alaikum, Umi, Abi." Nisa menutup pintu, mereka berdua berjalan menuju ruangan Nisa.


Nisa membuka pintu, di dalam ada Dini, Nisa memperkenalkan Kenzo kepada Dini.


"Dokter Nisa memang sangat beruntung, di kelilingi pria tampan." Gumam Dini dalam hati dan tersenyum melihat Kenzo.

__ADS_1


"Kak, mau menginap dimana?" tanya Nisa duduk di sofa berhadapan dengan Kenzo.


"Apakah kakak boleh tidur di pesantren?" Kenzo menatap Nisa.


"Tentu saja, di kamar pengajar." Nisa tersenyum.


"Di kamar Nisa gimana?" Kenzo menggoda Nisa.


"Boleh, tapi kita balik ke masa kecil lagi." Mereka tertawa bersama, bahkan Dini ikut tertawa.


Ponsel Nisa bergetar. sebuah pesan muncul di layar ponsel.


"Aku sudah di kantin, boleh pesan makanan?"


Nisa tersenyum membaca pesan dari Viona membalasnya.


"Kamu bahkan boleh menghabiskan isi Kantin" balas Nisa.


"Teganya dirimu, kemarilah aku bosan sendirian" Viona.


"Baiklah, tunggu sebentar." Nisa.


"Siapa?" tanya Kenzo heran melihat Nisa asik berbalas pesan.


"Teman, dia sudah menunggu di kantin." jawab Nisa beranjak dari kursi.


"Pria?" tanya Kenzo curiga.


"Kita temui dia." Nisa berjalan diikuti Kenzo.


Viona duduk sendiri disudut kantin dekat dengan pintu masuk dari jalan raya. Ia tidak menyadari beberapa Anka buah Jhonny telah mengawasinya.


Nisa bersama Kenzo berjalan mendekati Viona.


"Selamat siang," sapa Nisa


"Hai " Viona langsung memeluk Nisa, membuat Nisa kaget.


Entah mengapa sejak berteman dengan Nisa Viona merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan.


"Kenalkan ini kakak ku." Nisa memperkenalkan Kenzo kepada Viona.


"Kenzo." Kenzo mengulurkan tangannya.


"Viona." Viona membalas uluran tangan Kenzo, ia menatap wajah tampan dan lembut pria tinggi di depannya.


"Vion, kamu sudah memesan makanan." Nisa menyadarkan Viona, ia tahu Kenzo mulai tak nyaman di pandang wanita terlalu lama.


"Belum." Viona tersenyum kepada Nisa.


"Kak, kita langsung makan siang saja," ucap Nisa


"Iya , terserah Nisa saja." Kenzo tersenyum manis.


Mereka memesan makanan dan makan bersama.


🤗 Thanks for reading ♥️


♥️ Love you readers 😍

__ADS_1


__ADS_2