Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Semua Gaya


__ADS_3

Tempat tidur big size yang berantakan di dalam sebuah kamar penuh dengan rasa cinta dan kemesraan, bertebaran di mana-mana memenuhi sudut ruangan.


" Sayang kapan kita pulang?" Nisa membenamkan wajahnya di dada telanjang Stevent.


" Mmmm, aku tidak mau pulang" suara Stevent yang masih mengantuk dan lelah, ia mengeratkan pelukannya.


" Aku kesulitan bernapas" Nisa menepuk dada Stevent dengan lembut.


" Benarkah " Stevent melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nisa yang mengangguk manja sehingga sangat menggoda.


" Aku akan memberikan nafas buatan" Stevent segera ******* bibir istrinya di pagi hari yang masih dingin.


" Ah, Selalu ada alasan Untuk mencium bibirku " gumam Nisa dalam hati dan pasrah dengan ciuman Stevent.


" Ah , kenapa bibir mu sangat manis membuat diriku kecanduan" Stevent melepaskan ciumannya dan menyentuh pipi Nisa dengan telapak tangannya.


" Benarkah, bagaimana jika kamu berkerja?" tanya Nisa.


" Aku akan pulang untuk mendapatkan ciuman kamu" Stevent kembali memeluk tubuh istrinya.


"Jika aku yang bekerja?" tanya Nisa lagi


"Aku akan ke rumah sakit untuk mengambil ciuman ku" Stevent gemas dengan pertanyaan istrinya.


" Sayang, ayo kita pulang" jari - jari Nisa memainkan otot-otot dada dan perut Stevent.


" Cuti kamu masih panjang" tangan Stevent mulai bergerilya memainkan sesuatu yang empuk di bagian depan Nisa.


" ih," Nisa menarik jari Stevent dan menggigitnya.


" Jangan menggodaku, aku akan menggigit ini" bulat kecil dari bagian empuk di sentuh Stevent.


" Baiklah, aku menyerah, ayo kita bersihkan diri " Nisa memindahkan tangannya di leher Stevent.


" Kita bercinta di kamar mandi, di bawah shower dan di bathtub, bagaimana?" wajah menggoda Stevent terlihat jelas.


" Tenaga kamu nggak ada habisnya" Nisa menggoyangkan pipi Stevent dengan kedua tangannya.


" Bukan habis sayang, itu namanya di charger, kamu manambah tenaga dan semangat kepada diriku " Stevent tersenyum dan mencium dahi Nisa.


Nisa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya menuju kamar mandi, ia lupa tubuh Stevent terbuka tanpa ada sehelai benang pun yang menempel.


Stevent menarik selimut dari tubuh Nisa, namun Nisa menegang erat selimut.


" Sayang kamu tidak boleh bertelanjang" Nisa menahan tawa melihat Stevent seperti seorang bayi.

__ADS_1


Stevent menarik kuat selimut hingga Nisa terhempas ke pelukannya.


" Siapa yang membuat tubuhku telanjang kamu harus bertanggung jawab" Stevent mengendong Nisa Menuju kamar mandi.


Mereka berdua berada di kamar mandi tanpa ada sehelai benangpun melekat tubuhnya.


Stevent membuka keran air membasahi tubuh dirinya dan Nisa dengan air hangat.


Ia memeluk tubuh Nisa di bawah guyuran air, Stevent kembali menggendong Nisa dan meletakkan di dalam bathtub dengan perlahan, ia mengisi air dan memberikan cairan aroma bunga dalam bathtub.


Nisa hanya memperhatikan tingkah laku Stevent dan menahan senyum, Stevent benar-benar mencoba dan menikmati semua gaya dalam bercinta.


" Sayang kita akan bercinta di sini dan nanti siang kita akan mencoba di kolam renang belakang" Stevent segera masuk ke dalam bathtub dan memulai serangannya kepada Nisa yang dengan mudah di buat Stevent bergairah.


Stevent benar-benar ahlinya dalam bercinta, memberikan kepuasan dan kenikmatan bagi istrinya.


Entah berapa kali dalam sehari semalam mereka bercinta, karena di pulau hanya milik berdua tidak ada yang menggangu, kapanpun dimanapun mereka bebas melakukannya.


Kebahagiaan dan kepuasan yang hakiki untuk dinikmati berdua.


" Sayang, semua gaya telah kamu coba, aku benar-benar tidak bisa berjalan lagi" Nisa menyentuh telinga Stevent.


" Aku akan menggendong dirimu dan aku akan memasak untuk kamu " Stevent Kembali memakan Nisa tanpa rasa kenyang, menikmati setiap sudut tubuh Nisa.


Setelah membersihkan dan mensucikan diri, mereka sholat subuh bersama.


Ia segera membantu Nisa merapikan mukena dan sajadah, mengendong Nisa menuruni tangga Menuju dapur.


Stevent menarik kursi dan membantu Nisa duduk.


" Maafkan aku" Stevent berbisik di telinga Nisa dan memberikan sedikit tiupan yang menggelikan.


" Duduk yang cantik, aku akan membuatkan sarapan untuk Ratu Nisa" Stevent memberi hormat layaknya pelayan kepada tuannya dan segera menggunakan celemek menutupi dada bidang yang bertelanjang.


Nisa hanya tersenyum menahan tawanya. Ia tidak percaya Stevent yang sedingin es bisa bertingkah lucu dan menggemaskan.


" Masakan secukupnya jangan berlebihan" ucap Nisa dan meneguk susu kotak yang telah Stevent letakkan di atas meja.


" Aku kangen Abi dan Umi" gumam Nisa tanpa terdengar Stevent.


Nisa melamun, ia tidak memperhatikan tangan lincah dan menata makanan di atas meja.


" Sudah siap Ratuku" Stevent membuyarkan lamunan Nisa, membuka celemek dan meletakkan di gantungan dapur.


" Masya Allah" Nisa kaget ada banyak makanan di atas meja.

__ADS_1


Stevent berjalan mendekati Nisa, ia memegang pundak Nisa.


" Sayang, cobalah masakan ku, kamu orang pertama yang punya keistimewaan dapat menikmati masakan ku" Stevent mencium pipi Nisa.


" Duduklah, kita makan bersama" Nisa menarik lembut tangan Stevent agar duduk tepat di samping dirinya.


Mereka membaca doa bersama, Stevent akan mengambil makanan untuk dirinya namun di cegah Nisa.


" Aku akan menyuapi dirimu dari piringku" Nisa mengambil makanan dengan jari indahnya tanpa sendok dan menyuapi Stevent, sisa makanan dari mulut Stevent di tangan Nisa di makan Nisa.


Stevent menatap istrinya yang terus menyuapkan makanan secara bergiliran, dari mulut Stevent kemudian ke mulut Nisa dan kembali lagi ke mulut Stevent, dari piring dan tangan yang sama hingga makanan habis tidak bersisa.


Nisa dan Stevent menyelesaikan sarapan mereka, Stevent merapikan meja makan dan membersihkan peralatan makan, ia melarang Nisa membantunya.


Mereka berdua berjalan menuju perkarangan depan rumah, duduk bersama dalam pelukan.


" Sayang berapa lama kamu cuti?" tanya Stevent membuka percakapan serius


" 3 Minggu " jawab Nisa singkat merebahkan kepalanya di dada bidang Stevent.


Tangan Stevent mengelus rambut lembut Nisa.


" Sebelum kembali ke rumah sakit kamu ikut aku ke kantor ya?" pinta Stevent.


" Bagaimana dengan belajar meracik obat dengan Dokter Aisyah?" tanya Nisa mendongak ke atas melihat wajah tampan Stevent.


" Kamu berhenti saja dari rumah sakit, kita buka praktik di rumah" Stevent tersenyum merasa idenya cemerlang.


" Sayang, aku bukan Dokter umum yang bisa buka praktik dimana saja, aku Dokter bedah dan tidak bisa bekerja sendiri, kita adalah Tim, dan tugas kita adalah di atas meja operasi" jelas Nisa, Stevent hanya terdiam ia memikirkan Nathan yang bisa datang kapan saja untuk mengambil Nisa darinya.


" Sebelum masuk kerja, aku akan belajar bersama Dokter Aisyah" Nisa menatap wajah Stevent yang terlihat khawatir.


" Kamu kenapa?" tanya Nisa.


" Aku khawatir dengan Nathan yang akan menggangu kamu" Stevent memasang wajah emosi, nama pria itu seakan bisa merubah suasa hati yang baik menjadi buruk


Nisa hanya terdiam, ia pun belum tahu bagaimana cara menghadapi Nathan yang bukan Nathan seperti dulu lagi.


Pria itu benar-benar berusaha menjadi orang lain yang tidak memiliki perasaan.


Nisa memeluk Stevent, ia tidak tahu harus berbicara apa tentang Nathan.


Angin pantai berhembus kencang, memberikan rasa dingin pada sekujur tubuh, Matahari mulai menaiki puncak langit seakan membakar isi Dunia.


Dinginnya angin dan hangatnya Matahari pagi, memberikan kenikmatannya alam yang menggoda.

__ADS_1


Menemani sepasang kekasih halal bertemankan dengan Alam, tanpa ada manusia lain selain mereka berdua.


Sungguh Surga Dunia yang hanya bisa di nikmati sepasang suami istri.


__ADS_2