
(😘Love, Like, komentar, Vote n Bintang 5 😘)
Ruangan perawatan kelas VIP, seorang wanita dengan wajah pucat dan sembab, air mata yang terus mengalir baik ketika ia sadar ataupun tidak.
Valentino setiap menemani Aisyah, yang sakit karena beban pikiran dan perasaan yang terlalu berat.
Rasa bersalah pada diri Aisyah membuat ia terpuruk dan jatuh sakit.
Tidak ada yang memberikan kekuatan kepada Aisyah. Valentino yang masih muda dan belum berpengalaman hanya bisa diam melihat ketidakberdayaan Aisyah.
Ponsel Dokter Aisyah berdering, Valentino melihat Dokter Aisyah yang memejamkan mata dan tidak perduli dengan panggilan dari ponselnya.
Valentino beranjak dari kursi dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Dokter Nisa" gumam Valentino melirik Dokter Aisyah.
Valentino sangat yakin hanya Dokter Nisa yang bisa membantu Dokter Aisyah bangkit dari keterpurukannya.
Pikiran tentang Stevent yang melarang semua orang memberitahukan keadaan Dokter Aisyah dan Jhonny membuat Valentino ragu untuk menerima panggilan.
"Aku harus memberitahu Dokter Nisa, hanya dia yang bisa membantu Dokter Aisyah" Valentino menggeser kan icon hijau.
"Assalamualaikum, Dokter Aisyah" suara lembut Nisa menggetarkan hati Valentino dan tanpa sadar ia menjawab salam Nisa.
"Waalaikumsalam" suara lembut seorang pria membuat Nisa terdiam beberapa saat.
"Dokter, saya Valentino" lanjut Valentino.
"Oh Valen, apa kabar?" tanya Nisa ramah.
"Aku baik" jawab Valentino.
"Maaf Valen, apa aku bisa berbicara dengan Dokter Aisyah?" tanya Nisa, ia ingin menanyakan tentang Jhonny.
"Dokter Aisyah sedang Sakit" Jawab Valentino pelan.
"Ya Allah, Dimana Dokter Aisyah?" tanya Nisa khawatir, ia harus merawat Dokter Aisyah untuk membalas budi.
Valentino mengatakan nama rumah sakit dan kamar Dokter Aisyah.
Nisa segera mematikan ponselnya dan keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa hingga ia menabrak Samuel.
"Dokter Nisa, apa Anda tidak apa - apa?" Samuel menahan tubuh Nisa yang hampir jatuh.
Dengan sigap Nisa menjauh dari Samuel yang terkejut.
"Terimakasih dan maafkan saya, Permisi" Nisa segera pergi meninggalkan Samuel dan mencari Stevent yang terlihat sibuk menerima panggilan telepon.
Nisa sangat hapal dengan ruangan di setiap rumah sakit. Ia duduk di kursi tunggu tidak jauh dari ruangan Dokter Nada dan menghubungi Stevent.
Setelah menerima panggilan telepon ketika di ruangan Dokter Nada, Stevent meminta izin keluar dan tidak kembali lagi.
Stevent melakukan pertemuan mendadak di restoran depan rumah sakit.
Stevent tidak menjawab panggilan Nisa, ia benar-benar sibuk, kantor telah di tinggal selama dua hari oleh dirinya dan Jhonny.
Nisa menghubungi Stevent berkali-kali, akhirnya Nisa menyerah, ia hanya bisa mengirim pesan.
"Assalamualaikum Sayang, aku mengunjungi Dokter Aisyah, Kita berhutang nyawa padanya, ini adalah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan dan pengorbanan Dokter Aisyah, aku menunggu dirimu di ruangan VIP Flower"
Setelah mengirimkan pesan Nisa berjalan menuju ruang perawatan Aisyah, dan melewati ruangan intensif Jhonny.
Nisa berhenti tepat di depan ruangan berdinding kaca tembus pandang, dan teringat dengan percakapan yang ia dengar dari ruangan meeting melalui ponselnya.
Nisa menoleh perlahan ke ruangan intensif dan melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri.
Walaupun Jhonny sempat sadar pengaruh obat yang diberikan oleh Valentino dan Nisa, tetapi cedera pada kepala yang tidak bisa di tangani di klinik Dokter Aisyah membuat pembekuan darah yang tidak terdeteksi.
Beberapa syaraf pada otak Jhonny tidak bekerja dengan benar sehingga ia tidak bisa merasakan organ tubuh tertentu.
Harus melakukan bedah otak dengan resiko yang sangat berbahaya.
Butuh seorang yang sangat ahli dan penuh dengan perhitungan.
Nisa berjalan mendekati ruangan dan dengan refleks ia membuka pintu, berjalan mendekati pria tanpa pakaian, hanya peralatan medis yang melekat di tubuhnya.
Kepala yang terbungkus perban, selang hampir di seluruh tubuhnya.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun, apa yang terjadi pada Jhonny?" Nisa memperhatikan kondisi tubuh Jhonny.
Sebuah catatan kesehatan tergeletak di atas meja samping tempat tidur Jhonny.
__ADS_1
Nisa membaca catatan dengan, sebagai seorang Dokter ahli bedah, Nisa paham benar dengan kondisi Jhonny.
Jhonny dalam kondisi dua pilihan berbahaya.
Pertama Jhonny harus segera di operasi untuk pengangkatan darah beku Karena berpengaruh pada kerja syaraf otot.
Kedua jika terjadi kesalahan atau kegagalan operasi maka Jhonny akan mengalami kelumpuhan total.
Kondisi Jhonny di perparah dengan patah tulang lengan dan luka tembakan pada tangan yang sama.
"Bagaimana Jhonny bisa seperti ini?" Nisa berpikir keras.
"Ini buka sebuah kecelakaan, tapi lebih pada pembunuhan atau perkelahian" Nisa meneliti setiap luka yang ada di tubuh Jhonny.
"Kenapa Jhonny belum di operasi, ia mulai masuk rumah sakit kemarin, seharusnya semalam sudah selesai di Operasi" ada banyak pertanyaan di kepala Nisa
Pengalaman sebagai seorang Dokter bedah dan kecerdasan yang luar biasa membuat Nisa menjadi Dokter yang selalu berhasil melakukan operasi.
Namun, apa yang Nisa lakukan adalah dengan izin dan kehendak Tuhan.
Nisa keluar dari ruangan Jhonny, beberapa perawat dan Dokter mengintip Nisa dari balik dinding.
Mereka sangat berharga Nisa sendiri yang akan datang untuk melakukan operasi pada Jhonny.
Nisa berjalan dengan tenang menuju ruangan Dokter Aisyah. Ia mengetuk dan membuka pintu.
Nisa masuk ke dalam ruangan dan Valentino baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
"Dokter Nisa" Valentino terkejut.
Nisa tersenyum dan berjalan mendekati Dokter Aisyah, ia melihat wajah wanita yang ceria terlihat lemah tidak berdaya.
Tangan lembut Nisa menyentuh pipi lembut Dokter Aisyah.
"Apa yang terjadi?" tanya Nisa tanpa melihat Valentino yang sedang mengeringkan rambutnya.
Valentino menarik nafas panjang dan membuangnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan darimana.
"Dokter Aisyah kehilangan sahabat kecilnya yang bernama Jordan" ucap Valentino.
"Maksudnya?" Nisa melihat Valentino sekilas.
"Dokter Aisyah bangunlah, aku Nisa" Nisa berbisik di telinga Dokter Aisyah.
Nisa membisikkan ayat-ayat Alquran, beristighfar dan bersyahadat di telinga Dokter Aisyah.
Perlahan mata Dokter Aisyah terbuka dan butiran bening kembali mengalir di wajah uang masih basah.
"Nisa" Dokter Aisyah beranjak dari tempat tidurnya dan memeluk Nisa dengan erat, menumpahkan kesedihannya.
Memeluk Nisa adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan Aisyah, memberikan ketenangan dan kenyamanan.
Valentino keluar dari ruangan, ia mengerti Dokter Aisyah membutuhkan waktu bersama Dokter Nisa.
"Nisa, aku telah membunuh Jordan, aku membunuh Jordan, aku pembunuh, aku orang jahat " Dokter Aisyah mulai meracau dan sedikit berteriak, ia menggoncang kan tubuh Nisa.
Nisa memeluk erat tubuh Dokter Aisyah, ia tahu Dokter Aisyah sedang hancur.
"Istighfar Dokter Aisyah, istighfar ingatlah pada Allah" ucap Nisa lembut dan mengusap punggung Dokter Aisyah.
Dokter Aisyah menangis sesenggukan di dalam pelukan Nisa membuat jilbab Nisa basah.
Ia berusaha beristighfar dengan sesegukan, dan terus menangis.
Nisa mengusap wajah basah Aisyah, dengan tisu yang ada di atas meja di samping tempat tidur.
"Nisa, Jordan telah meninggal dan itu adalah kesalahan diriku" ucap Aisyah sesegukan.
"Kematian adalah kehendak Allah, tidak ada manusia yang bisa menghindari kematian" Nisa memegang pipi Dokter Aisyah dengan kedua tangannya yang lembut.
"Jika aku tidak lari dari Jordan, semua ini tidak akan terjadi" ucap Dokter Aisyah mencurahkan isi hatinya.
"Lari atau tidak, jika ini adalah takdir Allah, maka semuanya akan tetap terjadi hanya saja kejadian ini akan terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda, dan kematian tetap dengan cara yang sama" jelas Nisa menenangkan Dokter Aisyah.
Dokter Aisyah terdiam dan berusaha mencerna kalimat Nisa.
"Yang telah pergi, ia akan tenang di sana, kita yang masih hidup harus terus berjuang untuk hidup dan berharap meninggal dalam keadaan baik" Nisa merapikan jilbab Dokter Aisyah.
"Apa Dokter tahu keadaan Jhonny saat ini?" tanya Nisa dan Dokter Aisyah menggelengkan kepalanya.
Dokter Aisyah sibuk menyalakan dirinya sendiri atas kematian Jordan hingga ia lupa dengan kondisi Jhonny.
__ADS_1
"Kamu harus bangkit, kita harus menolong Jhonny" Nisa memegang bahu Dokter Aisyah.
"Apa yang terjadi pada Jhonny?" Dokter Aisyah memegang tangan Nisa.
"Kamu harus sembuh dulu, aku tidak akan mengatakannya" Nisa mengambil makanan yang tidak tersentuh sama sekali.
"Makanlah" Nisa menyuapkan sesendok bubur ke mulut Dokter Aisyah.
Bibir pucat dan pecah - pecah membuka perlahan. Menerima suapan demi suapan dari Nisa hingga satu mangkuk bubur habis tidak bersisa.
Nisa memberikan segelas air putih kepada Dokter Aisyah dan membantu memegang gelas.
"Sayangi tubuh kita dengan selalu menjaga kesehatan adalah bukti kita menyusuri nikmat yang Allah berikan" Nisa mengambil tisu dan membersihkan mulut Dokter Aisyah.
Dokter Aisyah kembali memeluk Nisa.
"Maafkan diriku yang rapuh ini, aku sangat malu" Dokter Aisyah kembali menangis.
"Semua manusia adalah makhluk yang lemah hanya keimanan kita kepada Allah lah yang membuat kita menjadi kuat" Nisa tersenyum dan kembali mengeringkan air mata Dokter Aisyah yang berusaha tersenyum.
"Mulai sekarang makan yang banyak dan kembali menjadi Dokter Aisyah yang cerita" Nisa tersenyum menggenggam tangan Dokter Aisyah yang mengangguk.
Di luar Ruangan, Stevent menatap tajam pada Valentino.
" Apa kamu yang memberitahukan keadaan Dokter Aisyah kepada Nisa?" Stevent menarik kerah baju Valentino.
"Dokter Nisa menghubungi nomor Dokter Aisyah dan Aku hanya mengatakan bahwa Dokter Aisyah sakit" tegas Valentino.
"Aku tidak mau membuat Nisa khawatir" bentak Stevent.
"Kamulah yang terlalu khawatir, Dokter Nisa baik - baik saja" ucap Valentino.
"Apa yang kamu ketahui tentang istriku?" Stevent semakin emosi.
"Dokter Aisyah membutuhkan Dokter Nisa untuk mengembalikan semangatnya" Valentino menarik tangan Stevent dari lehernya.
"Kamu terlalu egois dan mementingkan diri sendiri" bentak Valentino menahan kesal mengingat tidak berdayanya Dokter Aisyah sebelum bertemu Dokter Nisa.
Valentino tahu Dokter Aisyah membutuhkan pundak dan pelukan penyemangat yang hanya bisa diberikan oleh Dokter Nisa.
"Aku tidak perduli dengan orang lain, yang aku perdulikan adalah melindungi istriku" mata Stevent memerah.
"Bug" pukulan mendarat di perut Valentino hingga ia tersungkur ke kursi membuat kursi bergeser dan menimbulkan suara nyaring.
Nisa dan Dokter Aisyah dapat mendengarkan keributan dari dalam ruangan.
"Tunggulah di sini, makan buah-buahan itu dan minum ini" Nisa mengambilkan minuman impuls yang ada di dalam tasnya.
Nisa membuka pintu dan melihat Stevent yang akan kembali memukul Valentino.
"Berhenti" Nisa berteriak dan menatap tajam pada Stevent.
"Sayang" Stevent melepaskan tangannya dari baju Valentino.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" pertanyaan yang sangat menusuk dan Stevent tidak siap untuk menjawabnya.
"Sayang, aku tidak mau membuat dirimu khawatir" Stevent berjalan mendekati dan memeluk Nisa.
"Maafkan aku Sayang, aku tidak mau pikiran kamu terganggu" Stevent mencium kepala Nisa.
Nisa melepaskan pelukan Stevent dan menarik tangannya masuk ke ruangan Dokter Aisyah.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Mohon dukungannya selalu Tinggalkan Like, komentar, Vote dan Bintang 5 😘
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 🤗
__ADS_1