
Ayesha bermain ayunan di perkarangan pesantren, menghitung hari kembali ke Arab, setelah proyek kerjasama Stevent dan Kenzo stabil.
Kenzo memandang dari kejauhan, wanita becadar dengan hijab dan gamis melayang – layang lembut tertiup angin dengan seorang anak laki – laki yang menberikan dorongan sekuat tenaga agar Ayesha terbang tinggi di angkasa.
Suara tawa mereka bebas bahagia bersama, semua menyukai Ayesha seperti mereka menyukai Nisa yang selalu di rindukan dan disebutkan dalam doa setelah selesai sholat agar Nisa selalu sehat dan mendapatkan perlindungan dari Tuhan.
Kenzo berjalan mendekati anak – anak dan melihat Ayesha dengan senyuma tampannya, ayunan berhenti karena anak laki – laki telah berlari kepelukan Kenzo.
Ayesha menundukan pandangnya dan menghentikan tawanya, agar suara lembut dan manja tidak menggoda pria di depannya.
Walaupun hanya melihat kibaran hijab dan gamis yang tertium angin cukup menggoda Kenzo untuk mendekat dan melihat sekilat mata biru yang indah milik Ayesha.
Ayesha merapikan hijab dan cadarnya, Kenzo dapat melihat kilauan cincin berlian yang ia berikan kepada Ayesha terpasang cantik di jari manis yang indah.
Kenzo tersenyum, itu adalah bukti bahwa lamaran dan pernyataan cintanya di terima Ayesha dan hanya menunggu restu dari orang tua Ayesha.
“Aku akan kembali ke kantor, apa kamu akan ikut?” tanya Kenzo menurunkan anak laki – laki dari gendongannya.
“Tidak, aku akan bermain bersama anak – anak.” Ayunan kembali melambung ke angkasa dan hampir membuat Ayesha terjatuh karena ia belum siap ketika anak laki – laki tadi kembali mendorong ayunan.
“Hati – hati.” Kenzo berteiak khawatir melihat Ayesha yang dengan sigap memegang tali ayunan yang tidak stabil.
Kenzo telah siap untuk menangkap Ayesha di bawah ayunan yang telah melambung tinggi di angkasa.
“Aku baik – baik saja, kamu bisa pergi.” Ayesha tersenyum dari balik cadarnya.
“Baiklah, assalamualaikum.” Kenzo memandang Ayesha dengan tatapan lembut.
“Walaikumsalam.” Terdengar suara lembut Ayesha.
Kenzo berjalan menuju mobil hitam miliknya dengan ban besar yang tinggi terlihat begitu gagah sesuai dengan dirinya.
Mobil Kenzo meninggalkan perkarangan rumah Abi membelah jalanan menuju pusat perkantoran dan pabrik.
Ayesha turun dari ayunan ketika melihat Fauzan yang berjalan mendekati mobilnya.
“Kakak mau kemana?” tanya Ayesha berjalan mendekati Fauzan.
“Aku harus segera menyelesaikan proyek Kenzo dan Stevent agar kita segera pulang.” Fauzan membuka pintu mobilnya.
“Apa Kenzo akan ikut?” tanya Ayesha.
“Jika dia mau melamar dirimu langsung kepada Raja dan Ratu tentu saja ia harus ikut atau dia merelakan kamu menikah dengan putra Sultan Brunei.” Fauzan tersenyum dan menyalakan mesin mobilnya.
“Semalam Kenzo melamarku dan memberikan cincin ini.” Ayesha memperlihatkan jari manisnya pada Fauzan.
__ADS_1
“Cantik.” Fauzan tersenyum.
“Apa kamu menyukai Kenzo.” Fauzan mematikan kembali mesin mobilya.
“Aku hanya mau menikah dengan pria yang telah menyentuhku.” Ayesha menunduk.
“Suka dan cinta akan tumbuh ketika pasangan hidup bersama dalam ikatan halal.” Ayesha tersenyum.
“Adik pintar.” Fauzan mengusap kepala Ayesha.
“Aku pergi sekarang, jangan keluar sendirian.” Fauzan kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan Ayesha yang melambaikan tanganya.
Fauzan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang bahkan lebih santai, ia memperhatikan jalanan yang belum sempat ia lihat selama ini.
Keindahan kota dengan hirup pikuk keramaian manusia yang sibuk dengan aktivitas masing – masing untuk memnuhi kebutuhan hidup mereka.
“Ayesha benar, Negara ini sangat kaya tetapi kenapa rakyatnya miskin?” Fauzan berbicara sendirian dengan mata yang terus memperhatikan sekeliling.
Fuazan sengaja memilih jalanan yang berbeda untuk sampai ke pabrik Kenzo, ia mau melihat sisi lain kehidupan yang belum pernah ia lihat.
“Ah, sepertinya aku salah jalan, ini adalah perumahan elit.” Fauzan melihat rumah mewah dengan pilar – pilar raksasa.
“Mungkin aku bisa menemukan jalan keluar di depan sana.” Fauzan terusu melaju mobilnya dengan santai.
“Astaqfirullah.” Fazuan membuka pintu dan keluar dari mobilnya dan melihat kebelakang, sebuah monil berwarna kuning menabrak mobil Fauzan.
“Maaf Tuan.” Lola keluar dari mobil, ia terkejut ketika melihat seorang pria tampan berdiri di depannya, wajah yang tidak asing bahkan pernah beberapa kali tampil di layar kaca.
Mereka hanya bisa mengagumi Fauzan dari jauh dan tidak pernah berharap dapat bertemu lagsung seperti yang Lola alami saat ini.
“Apa kalian baik – baik saja.” Fauzan melihat mobilnya yang tidak tergores sedikitpun.
Lola terdiam yang dan menatap wajah tampan Fauzan yang biasa hanya di lihat di layar televise dan IG kini menjadi nyata di depannya.
“Lola, ada apa?” teriak Naylan dan keluar dari mobil dengan sempoyongan karena baru bangun tidur.
“Aaaah, Pangeran Fauzan, tunggu dulu apa aku bermimpi?” Nayla berjalan mendekati Fauzan, ia memegang kerah baju Fauzan dan memperhatikan wajah tampan yang menatap tajam pada Nayla.
“Oh My God, kamu sangat mirip dengan seorang idola wanita Putra Raja Arab Pangeran Fauzan.” Nayla akan menyentuh wajah Fauzan tetapi tanganya di tahan Nathan.
“Maafkan adik saya.” Nathan memegang tangan Nayla.
“Tidak apa, aku hanya berkeliling, mereka menabrak mobilku dari belakang.” Fauzan kembali ke mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Nathan, apa yang kamu lakukan?” Nayla berteriak.
__ADS_1
“Apa kamu tahu siapa pria tadi?” Nathan melepaskan tanganya.
“Aku tidak tahu tetapi wajahnya sangat mirip pangeran Arab yang sering muncul di televisi.” Nayla mengusap wajahnya.
“Dia memang pangeran Arab.” Nathan masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju villa pribadinya.
“Apa?” Nayla berteriak dan Lola hanya terdiam membayangkan wajah tampan yang begitu dekat dengan dirinya.
“Hey Lola, apa kamu lihat pria tampan tadi?’ Nayla mengguncangkan tubuh Lola yang masih membeku.
“Ya, dia adalah pangeran Arab idola wanita di seluruh dunia.” Lola terus memandangi mobil Fauzan yang semakin menjauh.
“Cepatlah masuk mobil, kita harus menanyakan ini pada Nathan.” Nayla menarik tangan Lola masuk ke mobil dan mengendarainya masuk ke perkarangan rumah mewah.
Nayla tidak melihat mobil Nathan di garasi yang berarti dia berada di Villa pribadinya, mobil Nayla menuju villa Nathan dan berhenti tepat di depat pintu utama villa Nathan.
Nayla berlari masuk ke rumah Nathan meninggalkan Lola sendirian di dalam mobil,yang berusaha menenangkan diri setelah bertemu dengan Fauzan.
Nathan dan Roy duduk di ruang tengah sedang membicarakan bisnis meleka yang telah vakum selama Nathan sibuk memikirkan Nisa.
“Nathan, apakah pria tadi adalah Fauzan , pengeran Arab? Nayla duduk di depan Nathan.
“Ya,” jawab Nathan tanpa melihat Nayla, ia dan Roy melihat layar computer.
“Dimana dia menginap? Apa yang dilakukan di sini?” tanya Nayla penuh semangat, melihat Fauzan dapam membuat Nayla melupakan Stevent.
“Hotel Stars 5, ia sedang melakukan kerjasama dengan Stevent.” Nathan melihat Nayla.
“Terimakasih kakakku, aku telah menemukan pengganti Stevent di hatiku.” Nayla berjalan keluar dari villa Nathan.
“Saudara kembar ini sama – sama memiliki selera yang sangat tinggi.” Roy berbicara di dalam hatinya dan melirik Nayla sekilas.
***
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)->Novel baru Author
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), dan Putih Abu - Abu (Sohibul Iksan) Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
Love You All and Thanks For Reading.
__ADS_1