Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Berbuka Bersama


__ADS_3

Rumah Rahasia


Viona sangat senang akhirnya ia mengetahui rumah Stevent dan Nisa.


"Aaah, rumah yang sangat Indah." Viona berlari berkeliling rumah Unik dan indah.


"Salsa." teriak Nisa.


"Siapa Salsa?" tanya Viona.


"Selamat datang Tuan Putri." Salsa memberi hormat.


"Aaah, apakah ini Robot?" Viona mencubit pipi Salsa.


"Ya hadiah dari Papa Mark." Nisa tersenyum dan berjalan menuju dapur.


"Dia sangat cantik, apa yang bisa dia lakukan?" Viona bersemangat.


"Semuanya." ucap Nisa dan Salsa mengikuti Nisa.


"Kamu benar-benar luar biasa kak Nisa, hidupmu di kelilingi orang-orang yang mencintai dirimu." Viona memeluk Nisa dari belakang.


"Alhamdulilah, jika kita memberikan cinta yang tulus kepada orang lain maka cinta itu akan kembali kepada kita dengan cara yang indah." Nisa menyentuh pipi Viona.


"Sebaiknya kita mempersiapkan menu berbuka puasa," ucap Aisyah.


"Salsa siap membantu." ucap Salsa mengikuti Nisa.


"Tentu saja Salsa." Nisa mengusap kepala Salsa.


"Apakah Salsa menuruti semua yang kita ucapkan?" Viona mencubit pipi Salsa yang lembut.


"Jangan cubit Salsa." tegas Salsa.


"Hahaha." Viona tertawa lepas dan Nisa tersenyum.


"Dia hanya menuruti ucapan ku." Nisa membuka lemari penyimpanan makanan.


"Bagaimana dengan ucapan Kak Stevent?" tanya Viona.


"Salsa suka membantah Stevent." Nisa tertawa.


"Bangus, akhirnya ada yang membantah kakakku." Viona tersenyum.


Masih banyak bahan makanan yang bisa digunakan, padahal mereka sudah lama meninggal rumah.


"Salsa, buang sayuran dan buah-buahan yang tidak layak lagi!" perintah Nisa.


"Baik Tuan Putri." Salsa berjalan mendekati lemari penyimpanan.


"Wah, dia benar-benar hebat." Viona memperhatikan Salsa yang sedang memilah sayuran dan buah-buahan dengan laser matanya.


"Papa ku yang hebat telah menciptakan Salsa." Nisa tersenyum ia mulai memasak.


"Kak, katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Viona.


"Kamu bisa memotong sayuran dan mencuci buah-buahan," ucap Nisa.


"Semuanya sayuran dan buah-buahan, tidak ada ikan, ayam dan daging?" Viona heran.


"Stevent tidak suka, ia hanya mau makan sayuran dan buah-buahan, sejak aku hamil." Nisa cekatan memasak.


"Apa, berarti kak Stevent sudah lama tidak makan seafood dan daging?" tanya Viona.


"Hampir delapan bulan." Nisa tersenyum.


"Bagaimana dengan dirimu?" tanya Nisa seperti seorang wartawan.


"Aku makan makanan restoran." Nisa tersenyum manis.


"Wah, kalian benar-benar crazy couple." Viona melirik Salsa yang telah selesai membersihkan lemari penyimpanan.


"Siapa yang berbelanja?" tanya Viona.


"Kakak mu." Nisa duduk di kursi ia merasa lelah lama berdiri.


"Duduklah, aku akan menyelesaikannya." Viona bergegas merapikan meja makan.


"Tuan putri, Salsa selesai." Salsa menutup lemari penyimpanan.


"Salsa nyalakan lampu!" perintah Nisa.


Secara otomatis semua lampu di ruangan menyala.


"Viona, kamu bisa menggunakan kamar ujung." Nisa menunjukkan jarinya.


"Rumah ini benar-benar indah yang unik." Viona berjalan ke samping dapur.


"Ini hasil desain Stevent." Nisa tersenyum, ia sangat bangga pada Stevent.


Viona menuju kamar yang ada di samping taman. Ia segera mandi dan menggantikan pakaiannya dengan pakaian Nisa.


***


"Kak, aku akan dimarah kak Stevent." Viona duduk di samping Nisa yang berbaring di atas Sofa panjang dan mengusap perutnya.


"Baju itu belum pernah aku pakai, Stevent tidak akan tahu." Nisa tersenyum.


"Aku tidak yakin." Viona berbaring di sofa samping Nisa.


Pintu terbuka otomatis dan Stevent masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." ucap Stevent dan langsung menuju Nisa.


"Waalaikumsalam Sayang." Nisa tersenyum dan Stevent mencium dahi Nisa.

__ADS_1


"Aku akan jadi nyamuk." Viona membelakangi Stevent dan Nisa.


"Sayang mandilah, aku akan menyiapkan pakaian untuk dirimu." Nisa berusaha untuk duduk.


"Tidak Sayang, Aku bisa melakukannya, kamu istirahat saja." Stevent membaringkan tubuh Nisa.


Stevent berjalan menaiki tangga dan Viona mengikuti Stevent.


"Ada apa?" Stevent menatap tajam.


"Bisakah kita berbicara sebentar." Viona menunduk.


"Tentang apa?" tanya Stevent.


"Aku sudah lama ingin mengatakan ini dari malam sebelum kita bertamu ke keluarga Tuan Kim." ucap Viona pelan.


"Katakan!" tegas Stevent.


"Sepertinya Papa sedang berencana jahat untuk kak Nisa." ucap Viona gugup.


"Aku sudah tahu itu," ucap Stevent.


"Benarkah, aku sangat mengkhawatirkan kak Nisa dan ponakan ku." ucap Viona lembut.


"Kamu jaga saja Nisa, aku akan mengawasi gerak-gerik Papa." Stevent masuk ke kamar dan menutup pintu.


"Kak." Viona menyapa Stevent dengan suara yang kecil sehingga Stevent tidak bisa mendengarkannya.


"Aku mau bertanya tentang Pangeran Fauzan." gumam Viona dan kembali turun menuju Nisa yang membaca Alquran dalam hatinya dan memejamkan matanya.


Nisa merasa sangat lelah, berpuasa dalam keadaan hamil dan kondisi tubuh yang belum stabil.


Setelah sholat tarawih Nisa harus pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan formula.


"Apakah kak Nisa tidur?" Viona memperhatikan Nisa yang terlihat tenang berbaring di atas sofa.


"Sebaiknya aku kembali menunggu di ruang makan, sebentar lagi akan ada pertunjukan Romantisan." Viona tersenyum dan berjalan ke dapur.


Viona duduk sendirian di dapur dan memainkan ponselnya, mencari berita tentang Pangeran Fauzan.


"Ah, tatapan matanya lebih tajam dari Kak Nisa Stevent." Viona tersenyum.


Viona mencari Ig miliki Fauzan yang menampilkan kegiatan sehari-hari Fauzan di luar jam kerjanya.


"Dia benar-benar sempurna dan masih sendiri bahkan tidak pernah berpacaran, aku rasa para wanita takut mendekati dirinya." Viona tersenyum sendirian di dapur.


Stevent berjalan menuruni tangga, ia melihat Nisa terpejam dan masih berbaring di atas sofa.


Rasa khawatir telah menghantui Stevent, ia segera berlari mendekati dan menyentuh tangan Nisa.


"Sayang." Nisa tersenyum dan mengusap wajah tampan suaminya.


"Sayang, apa kamu tidur?" Stevent mencium tangan Nisa.


Stevent meletakkan telinganya di atas perut Nisa.


"Pasti kalian sangat lapar." Stevent menatap wajah Nisa yang terlihat pucat.


"Tentu saja Papa, tetapi masih tahan menunggu waktu berbuka." Nisa mencubit hidung Stevent.


"Sayang, kamu harus menjaga kesehatan." Stevent khawatir.


"Aku baik-baik saja, Sayang." Nisa menarik leher Stevent dengan kedua tangannya dan mencium pipi Stevent.


Terdengar adzan Magrib tanda waktu berbuka telah tiba.


"Alhamdulilah." Stevent membantu Nisa beranjak dari Sofa.


Viona telah mempersiapkan makanan dan minuman di atas meja.


Stevent dan Nisa berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju ruang makan.


Stevent menarik kursi untuk Nisa dan ia duduk di samping Nisa.


Berbuka dengan cemilan manis buah kurma, dan minum jus kurma. Melaksanakan solat magrib berjamaah. Dan menikmati makan malam bersama.


***


Berbuka di Pesantren.


Sebuah aula dengan meja panjang dan banyak kursi.


Ayesha bersama Umi, pengajar wanita dan karyawan pesantren menyiapkan makanan di atas meja sesuai jumlah santri dan santriwati.


Ruang makan Santri dan santriwati terpisah meja saja.


Ayesha tersenyum bahagia, melihat anak-anak duduk rapi dan tenang di kursi masing-masing menunggu waktu berbuka.


Fauzan berjalan mendekati Ayesha dan melihat wajah bahagia dari balik cadarnya.


Beberapa pengajar wanita segera menundukkan pandangan setelah melihat sekilas wajah tampan Stevent.


"Kakak, pergi ke meja sebelah sini." Ayesha mendorong tubuh Fauzan dan beberapa pengajar pria melihat Ayesha sekilas.


Mata yang indah dan senyuman tulus dari balik cadar terpancar dengan sendirinya dan tidak dapat di sembunyikan.


Terdengar adzan Magrib, mereka segera berbuka dengan yang manis dan melaksanakan shalat berjamaah di Aula.


Selama Ramadhan, mereka melaksanakan shalat di aula dengan Abi sebagai iman.


Kali ini Abi meminta Fauzan menjadi iman sholat magrib, Isya dan tarawih.


Fauzan tidak menolak sama sekali dengan senang hati ia menuruti permintaan Abi, ia bahkan mengumandangkan adzan Magrib.


Suara merdu Fauzan dengan bacaan yang fasih menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkannya.

__ADS_1


Tidak akan ada yang percaya, ia adalah seorang pria yang dingin karena suaranya menghangatkan hati dan melembutkan jiwa.


***


Jhonny dan Aisyah


Sepasang pengantin baru duduk berhadapan menikmati makan malam setelah Jhonny pulang dari melaksanakan shalat tarawih di masjid terdekat.


Jhonny dan Aisyah menghabiskan makan malam mereka dan berjalan bersama menuju ruang tengah.


Aisyah masih terdiam, ia tahu tatapan Jhonny butuh penjelasan tentang kejadian di pagi hari.


"Apa kamu masih marah?" Aisyah memecahkan keheningan dengan pertanyaan.


"Kenapa kamu membohongi diriku?" Jhonny menatap Aisyah.


"Maafkan aku, aku hanya bercanda." Aisyah memasang wajah serius.


Jhonny hanya diam ia menyalakan televisi dan tidak memperdulikan Aisyah.


Ada banyak pertanyaan di kepala Jhonny tetapi ia tidak tahu cara mengungkapkannya.


Aisyah memperhatikan Jhonny yang fokus menonton film di layar televisi.


"Apa dia marah?" gumam Aisyah.


"Kenapa aku yang merasa canggung setelah menikah, dan dia tetap bersikap sama." kesal Aisyah.


"Inilah resiko menikah dengan Robot." Aisyah mengomel sendirian.


Aisyah merasa kesal dengan sikap Jhonny yang seakan tidak terjadi apa-apa.


"Jhonny, jika kamu marah katakan kepadaku!" Aisyah berdiri di depan Jhonny menutupi layar televisi.


Jhonny menatap Aisyah penuh kebingungan.


"Marah kenapa?" tanya Jhonny.


"Kamu tidak marah?" tanya Aisyah dan Jhonny hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku mau tidur." Aisyah kesal ia berjalan cepat menuju tangga.


"Kamu tidur dimana?" tanya Jhonny.


"Di kamar ku." jawab Aisyah dan berlari menaiki tangga.


"Kenapa ia tidak tidur di kamarku?" gumam Jhonny melihat Aisyah memasuki kamarnya.


Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kapan Aisyah akan tidur satu kamar dengan diriku?" tanya Jhonny pada dirinya sendiri.


Jhonny mematikan televisi dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Ia berhenti di depan pintu kamar Aisyah, memegang gagang pintu.


"Apakah dia sudah tidur?" tanya Jhonny pada dirinya sendiri.


Pintu tidak terkunci dan Jhonny mendorong pelan daun pintu.


Mata Jhonny melotot, ia melihat Aisyah tanpa hijabnya dengan rambut panjang berwarna hitam pekat tergerai indah.


Aisyah membuka gamisnya dan menggantikan dengan piyama tidur.


Jhonny segera menutup pintu dan berjalan cepat menuju kamarnya, ia tidak berani melihat Aisyah.


Jantung Jhonny berdetak kencang, ini pertama kalinya ia melihat Aisyah tanpa hijab dan melihat sekilas tubuh indah yang kini telah menjadi istrinya.


"Kenapa ia tidak mengunci pintu?" Jhonny mengusap wajahnya.


"Bagaimana jika ada orang lain yang melihat dirinya?" Jhonny mondar-mandir di dalam kamarnya.


Jhonny membuka pakaiannya dan hanya menggunakan celana panjang hitam, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Memejamkan mata membayangkan wajah cantik Aisyah.


Jhonny gelisah, ia ingin melihat Aisyah sekali lagi, melihat wajah tanpa penutup kepala.


"Apa Aku boleh masuk ke kamar Aisyah?" tanya Jhonny dan duduk di tepi tempat tidur.


Jhonny beranjak dari tempat tidur dan mengintip dari balik pintu.


"Apa Aisyah sudah mengunci pintunya?" Jhonny terus berbicara sendiri.


"Kenapa Jhonny tidak kemari, padahal aku tidak mengunci pintu." Aisyah melihat daun pintu kamarnya yang tertutup rapat.


"Apa dia tidak mau tidur dengan diriku?" Aisyah berbicara sendiri.


" Pria aneh." Aisyah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Apa yang terjadi pada pasangan baru menikah ini?


Setiap pasangan sangat penting untuk berkomunikasi dengan baik menyampaikan apa yang diinginkan agar saling mengerti dan memahami.


Jangan berharap pasang kamu bisa menebak apa yang kamu inginkan tanpa mengungkapkannya.


***


Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2