Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Keterpurukan


__ADS_3

Nathan melihat Roy yang sedang serius menghadap layar komputernya, mereka berdua terlihat khawatir, Roy hampir kehilangan konsentrasinya memikirkan keselamatan Afifah, ia percaya wanita itu tidak akan meninggalkan Nathan.


Rekaman Video dari kamera cctv yang ada di hotel, mencari sosok wanita dengan gaun cantik berwarna putih yang berjalan menuju kamar mandi.


“Afifah.” Nathan mendekatkan dirinya memperhatikan Afifah yang benar-benar masuk kamar mandi di susul oleh seorang wanita yang masuk ke dalam dan seorang pria menunggu di depan pintu.


“Apa yang mereka lakukan pada Afifah?” Nathan memperhatikan gerakan yang terjadi di dalam rekaman.


Pria yang menunggu di depan pintu segera masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan menggedong Afifah yang tidak sadarkan diri diikuti seorang wanita.


“Beraninya kamu menyentuh Afifah, akan aku pisahkan semua bagian tubuh kamu.” Nathan mengepalkan tangannya.


“Selidiki, panggilan telepon pada ponselku.” Nathan menyerahkan ponselnya pada Roy.


“Bagaimana dengan ponsel Nona Afifah?” tanya Roy.


“Iya tidak membawa apapun.” Nathan mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kenapa?” Roy segera menyambungkan ponsel Nathan pada komputernya.


“Karena kami hanya turun untuk makan malam.” Nathan kesal.


“Tuan tenangkan diri anda, agar bisa berpikiran jernih.” Roy berhasil menyelidiki lokasi terakhir pengguna telepon.


Ponsel Nathan berdering dari nomor yang sama, dengan cepat pria itu menerima panggilan, ia yakin penelpon pasti memberikan kabar tentang Afifah.


“Dimana Afifah?” Nathan berteriak.


“Sabar Nathan, aku tidak akan menyakiti bidadari kecil ini.” Suara pria itu mengejek Nathan.


“Kembalikan Afifah!” Nathan semakin emosi.


“Apa kamu menjadi bodoh setelah kehilangan wanitamu?” Pria itu menekankan suaranya, ada rasa benci di dalam hatinya.


“Apa yang kamu inginkan?” Nathan mengepalkan tangannya.


“Kehancuran dirimu dan keluargamu.” Suara berat terdengar dari balik ponsel.


“Itu tidak akan pernah terjadi.” Nathan menenangkan dirinya.


“Nathan apa kamu tidak merasa kejadian ini sangat familiar, pasangan yang hampir menikah kamu pisahkan.” Suara pria itu tekekeh.


“Stevent tidak akan melakukan ini.” Nathan menekankan suaranya.


“Hahaha.” Pria itu tertawa keras memekakkan telinga.


“Apakah kamu berpikir Stevent akan membiarkan kamu begitu saja?” Pria itu semakin menekankan suaranya.


Roy terus melacak lokasi penelpon dengan kemampuan dan kecanggihan teknologi melalui computer miliknya. Pria itu memberikan kode bahwa lokasi telah terkunci, penelpon berada tidak jauh dari alamat rumah orang tua Afifah. Sebuah menara yang dijadikan tempat penginapan unik dan mahal.


“Nathan, apa kamu berpikir tidak ada yang menyimpan dendam pada dirimu dengan semua yang telah kamu lakukan?” Pria itu kembali tertawa.


“Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, begitu juga dengan dirimu.” Pria itu terus tertawa, ia sangat puas menciptakan rasa khawatir pada Nathan.


“Terimakasih atas pujiannya, tolong jaga Afifah hingga aku menjemputknya.” Nathan tersenyum, ia tahu pria yang menculik Afifah hanya mau membuat dirinya lemah.

__ADS_1


"Aku akan menjaga dirinya untuk diriku, sangat menyenangkan kita mencintai wanita yang sama." Pria itu kembali tertawa.


"Jangan sentuh Afifah!" Nathan berteriak.


"Aku akan segera menikahi dirinya." Pria itu memutuskan panggilan.


"Shit!" Nathan mengepalkan tangannya.


“Hubungi semua kenalan yang ada di kota ini dan segera kepung lokasi Afifah!” Nathan menatap Roy.


“Sudah saya lakukan Tuan.” Roy menatap Nathan, ia bergerak cepat karena sangat mengkhawatirkan Afifah.


“Aku akan membunuh pria itu.” Nathan menatap layar computer.


“Tuan, apakah Tuan Stevent ikut campur dalam penculikan ini?” tanya Roy melihat kearah Nathan.


“Aku tidak tahu, aku tidak memikirkan dia dan Nisa, aku berusaha tidak berurusan lagi dengan mereka.” Nathan duduk di tempat tidur Afifah dan merebahkan tubuhnya, memcium aroma bunga yang tertinggal di atas tempat tidur.


“Roy, kembalilah ke kamar dirimu.” Nathan memejamkan matanya menikmati kenangan dari Afifah.


“Baik Tuan lima manit lagi hellikopter mendarat di atap dan bersiap berangkat.” Roy membereskan barang-barang miliknya dan meninggalkan Nathan sendirian.


“Aku tahu kamu tidak akan meninggalkan diriku.” Nathan memeluk dan mencium guling Afifah menunggu kedatangan hellikopter.


***


Sebuah kamar dengan cahaya yang cukup terang berada di puncak menara, seorang wanita tidur pulas dengan tenang, pria bertopeng duduk disampingnya, menatap wajah cantik dengan gaun dan hijab putih bersih.


“Kamu semakin cantik, tidak ada yang berubah dari dirimu menjalani hari tanpa beban.” Pria bertopeng tersenyum.


Perlahan mata indah terbuka memperlihatkan bola bening berkilau, menatap pada wajah pria bertopeng yang tersenyum memperlihatkan gigi putih bersih tersusun rapi.


“Nathan.” Suara lembut menyebutkan nama pria terakhir yang ia ingat.


“Apa kamu hanya mengingat dirinya?” Pria bertopeng tidak suka mendengar nama itu.


“Kamu bukan Nathan, pukul berapa sekarang, aku harus minum obat.” Afifah memegang kepalanya.


“Obat, apa yang kamu minum?” tanya pria itu.


“Obat yang akan menyembuhkan panyakitku yang dibuatkan Nathan untuk diriku.” Afifah berusaha menyadarkan dirinya seutuhnya.


“Siapa kamu? dimana ini?” Afifah memperhatikan ruangan yang terlihat asing.


“Aku akan membantu dirimu lepas dari Nathan, kita akan meninggalkan kota ini secepatnya.” Pria bertopeng berdiri.


“Tidak, aku harus menemui orang tuaku.” Afifah duduk, ia melihat kakinya terikat oleh kain.


“Kenapa kamu menculik diriku?” Afifah menarik kakinya.


“Apa kamu jatuh cinta pada pria jahat itu?” Pria bertopeng menatap tajam pada Afifah.


“Aku tidak jatuh cinta pada siapapun tetapi aku tahu balas budi pada orang yang mau membantu diriku dan kenapa kamu mengatakan dia pria jahat?” Afifah menatap tajam pada pria bertopeng.


“Dia membantu kamu karena ingin memilikimu dan Nathan adalah seorang pembunuh.” Pria bertopeng menekankan suaranya.

__ADS_1


“Apa kamu punya bukti bahwa Nathan adalah pria jahat dan seorang pembunuh?” Afifah menunduk, ia merasakan kekecewaan di hatinya.


“Tentu saja.” Pria itu meletakkan amplop di samping Afifah dengan tangan gemetar Afifah membuka amplop coklat.


Amplop berisi berkas tentang data diri Nathan, kemampuan dan bisnis yang ia jalankan selain sebagai pemilik rumah sakit dan pengusaha, pria itu juga menjalankan bisnis illegal jual beli organ tubuh dan formula rahasia.


Walaupun dari berkas tidak membuktikan Nathan terlibat langsung tetapi ada banyak kemungkinan yang menunjukan berkas itu benar, semua sesuai dengan karakter Nathan.


“Apakah dia sejahat itu?” Afifah menunduk matanya mulai berkaca-kaca, ia baru saja akan membuka hatinya untuk Nathan karena berharap pria itu dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan penyakitnya dan hidup bersama menerima kekurangan dirinya.


“Apa kamu kecewa?” tanya pria bertopeng.


“Entahlah, aku merasa dipermainkan takdir.” Afifah merasakan dadanya sesak, berpura-pura kuat menjalani kehidupan hingga harus berada ditangan seorang penjahat.


“Afifah, kamu tidak pernah menangis tetapi kenapa menangis karena pria jahat itu?” pria bertopeng mencengkram lengan Afifah.


“Aku bukan menangisi dia tetapi nasibku yang sangat tragis, apa Tuhan tidak mengizinkan aku bahagia?” Afifah berteriak, air mata telah membasahi wajahnya.


“Afifah, kamu adalah wanita yang kuat.” Pria bertopeng gugup.


“Dari kecil aku terus berusaha untuk kuat dan tidak boleh menangis, dadaku sesak, aku dipermainkan oleh takdir, kenapa Tuhan pertemukan aku dengan kalian semua.” Afifah terus berteriak histeris.


Wanita itu terjatuh sangat dalam, kekuatan yang ia pertahankan selama ini hancur dalam kekesalan luar biasa, ia hanya berharap hidup damai tanpa ada gangguan.


“Afifah, tenangkan dirimu.” Pria bertopeng memegang lengan Afifah.


“Aku terus tenang tetapi kalian semua datang dan mengacaukan hidupku, kalian semua jahat.” Afifah berteriak histeris dengan wajah basah dan mata sembab, ia pingsan tidak sadarkan diri.


“Afifah bangun.” Pria bertopeng mengguncang tubuh Afifah.


“Tuan, nona Afifah dalam proses penyembuhan, ia harus tenang dan tidak boleh mendapatkan tekanan ataupun goncangan jiwa, akan menyebabkan kerusakan memory dan kehilangan ingatan serta efek obat tidak ada artinya.” Seorang wanita berada di samping pria bertopeng.


“Apa yang akan terjadi ketika dia terbangun?” Pria bertopeng mengusap wajah Afifah dengan tisu.


“Tidak ada yang tahu Tuan, bukankah anda juga seornag ahli kimia.” Wanita itu tersenyum.


“Tapi aku bukan seorang psikolog, suntikan dia formula penetral racun dan obat.” Pria bertopeng menatap Afifah.


“Baik Tuan.” Wanita itu mengambil jarum dan menyuntikkan pada tangan Afifah.


“Aku berharap dia akan melupakan Nathan setelah bangun.” Pria bertopeng tersenyum.


Tubuh Afifah berkeringat, ia terus bermimpi dalam ingatan yang kacau dan berantakan, kesakitan dari siksaan orang tuanya ketika masih kecil, kebersamaan dengan Asraf, pertermuan dengan Nathan, kembalinya Asraf bersama Fauzan, makan malam romantic dan penculikan dirinya.


Memory yang berusaha terkumpul kembali terpecah dan hilang dari ingatan, mimpi kebahagiaan yang berubah jadi penderitaan, semua orang datang silih berganti tanpa meninggalkan kesan bahkan terlihat asing.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2