Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
ASI Pertama


__ADS_3

Tubuh Nisa sangat lemah, ia merasakan nyeri di perut dan sakit seluruh tubuhnya.


Stevent menggenggam tangan Nisa, ia tertidur dengan nyenyak.


"Selamat pagi Nisa." Dokter Nada tersenyum kepada Nisa.


"Pagi, bagaimana keadaan putra dan putri kami." Nisa bertanya dengan lembut, ia tidak mau membangunkan Stevent.


"Mereka sangat sehat, tampan dan cantik." Dokter Nada tersenyum.


"Apa kamu tahu, ruangan bayi di jaga ketat oleh anak buah suami kamu, tidak semua orang boleh masuk ke dalam ruangan." Dokter Nada berbisik di telinga Nisa.


"Kapan Aku bisa bertemu dengan anak-anak ku." Nisa menatap Dokter Nada.


"Kondisi kamu sangat lemah, kamu bahkan tidak bisa menggendong mereka." Dokter Nada memperhatikan Nisa yang terlihat sedih.


"Kamu mengalami pendarahan, sehingga membuat kamu tidak sadarkan diri." Dokter Nada mengusap kepala Nisa.


"Terimakasih, bolehkah orang lain yang mengendong anak-anak ku dan bawa kepada diriku, aku mau melihat mereka." Nisa menyentuh tangan Dokter Nada.


"Tentu saja, kamu juga bisa memberikan ASI kami yang melimpah itu." Dokter Nada tersenyum.


Stevent melepaskan genggaman tangannya dan melihat Dokter Nada sekilas.


"Sayang." Stevent menatap Nisa penuh dengan cinta..


"Maafkan aku membangunkan dirimu." Nisa mengusap kepala Stevent.


"Apa kamu mau bertemu dengan anak kita?" Stevent mengusap pipi Nisa.


"Ya." Nisa tersenyum.


"Aku akan membawa anak kita kemari." Stevent beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan bayi.


Nisa melihat Dokter Nada yang tersenyum dan melihat Stevent yang telah menghilang dari balik pintu.


"Stevent sangat mencintai dirimu." Dokter Nada tersenyum.


"Terimakasih, tetapi ia terlihat rapuh tanpa diriku karena rasa cintanya." Nisa menatap pintu ruang bayi.


Stevent mendorong tempat tidur bayi di temani Aisyah dan Jhonny.


Nisa berusaha untuk duduk, ia mau melihat dan menggendong putra dan putri mereka.


Dokter Nada menaikkan tempat tidur Nisa agar ia bisa duduk.


"Selamat Nisa, kamu sudah menjadi seorang ibu dari bayi yang cantik dan tampan." Dokter Aisyah memberikan bayi laki-laki di gendongan Nisa.


"Dokter Aisyah, aku mau memberi ASI untuk putra ku." Nisa tersenyum dan melirik Jhonny.


"Baiklah." Aisyah tersenyum ia menarik tangan Jhonny untuk keluar dari ruangan Nisa.


"Aku juga akan keluar agar kalian bisa bersama." Dokter Nada tersenyum dan meninggalkan keluarga Nisa.


"Sayang, apa kamu bisa melakukannya?" Stevent khawatir.

__ADS_1


"Tentu saja." Nisa tersenyum, ia membuka Zipper bagian depan gamisnya dan memberi ASI pertama kepada putranya.


Air mata Nisa menetes, ia sangat bahagia menjadi ibu seutuhnya.


"Sayang, apakah sakit?" Stevent mengusap air mata Nisa.


"Aku bahagia Sayang." Nisa tersenyum, ia memandang wajah tampan putranya yang tenang meneguk setiap tetesan ASI dari ibunya.


"Putra kita sangat tampan." Stevent mencium dahi Nisa.


"Dia setampan dirimu." Nisa tersenyum.


Terdengar tangisan dari bayi perempuan yang berada di dalam tempat tidur.


"Ah, kata Jhonny yang perempuan sangat cerewet." Stevent menatap bayi kecil di dalam keranjang bayi.


"Sayang, apa kamu telah menyiapkan nama untuk anak kita?" Nisa tersenyum dan Stevent menggelengkan kepalanya.


"Aku akan mencarinya dengan teliti." Stevent tersenyum.


"Baiklah, sekarang gantian putri kita yang mendapatkan ASI." Nisa mencium pipi dan dahi putranya lalu memberikan kepada Stevent.


Stevent menggendong putra mereka, mencium dahi dan meletakkan di dalam tempat tidur bayi.


Putra mereka benar-benar sangat tenang tidur dalam senyuman.


Stevent mengambil putri cantik mereka dan memberikan kepada Nisa.


Bayi cantik terdiam menikmati hubungan batin dengan ibunya melalui aliran air susu dari tubuh Nisa.


Tertidur pulas dengan perut yang sudah kenyang.


Nisa tersenyum mencium dahi dan pipi putrinya memberikan kepada Stevent agar diletakkan di tempat tidur bayi.


Stevent menutup kelambu tempat tidur, ia melihat Nisa merapikan gamisnya.


"Apa aku bisa mendapatkan ciumanku?" Stevent mendekatkan wajahnya kepada Nisa.


"Apa kamu cemburu?" Nisa tersenyum.


"Aku juga mau mendapatkan yang kamu berikan kepada putra dan putri kita." Stevent mencium dahi, pipi dan bertahan lama dibibir Nisa.


"Setelah mencium mereka kamu harus mencium diriku." Stevent kembali mencium bibir Nisa.


"Sayang, kamu akan selalu mendapatkan cinta dan ciuman dari putra putri kita dan diriku." Stevent memeluk Nisa.


"Ya, Terimakasih telah mencintai dirimu." Nisa mengeratkan pelukannya.


"Terimakasih telah menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita." Stevent mengusap kepala Nisa yang terus tertutup hijab.


***


Papa Alexander dan Mama Veronika berjalan cepat menuju ruangan Nisa.


Mata papa Alexander terlihat marah, semua rencananya gagal, penjagaan untuk rumah sakit dan kamar Nisa berlebihan sehingga ia tidak bisa menyelipkan orangnya.

__ADS_1


"Jhonny dimana cucu kami?" Mama Veronika berdiri di depan pintu uang di jaga empat orang bodyguard.


"Maaf Nyonya tidak ada yang boleh masuk ruangan Nyonya Nisa." Jhonny menunduk.


"Aku adalah Mama Stevent." Mama Veronika kesal.


"Maaf Nyonya, Nisa sedang tidak sehat jadi ia tidak bisa di jenguk." Aisyah berdiri di samping Jhonny dan tersenyum.


"Kami hanya mau melihat cucu kami." Papa Alexander meninggikan suaranya.


"Maaf Tuan, sekarang cucu Anda bersama Tuan Stevent dan Nyonya Nisa." Jhonny menunduk.


"Shit, anak Stevent adalah keturunan Alexander." Papa Alexander memegang kerah baju Jhonny.


"Aku berhak bertemu dengan cucuku." Papa Alexander melotot kepada Jhonny yang tidak bereaksi.


"Saya hanya menjalankan perintah Tuan Stevent, tidak ada yang boleh bertemu dengan bayi kembar." Jhonny menatap tajam kepada Papa Alexander.


Mama Veronika menangis sedih, ia tidak tahu kenapa Stevent begitu menjaga anak dan istrinya sehingga ibunya sendiri tidak boleh masuk.


"Jhonny, bagaimana keadaan cucu kami?" Mama Veronika tidak berharap bisa masuk.


"Anda memiliki sepasang cucu kembar yang cantik dan tampan serta sangat sehat." Jhonny menunduk.


"Apakah kamu memiliki foto cucu kami?" Mama Veronika memegang tangan Jhonny.


"Maaf Nyonya, Tuan Stevent melarang mengambil gambar anak mereka," ucap Jhonny datar.


"Kenapa Stevent seperti ini?" Mama Veronika duduk di kursi tunggu.


"Maaf Nyonya, Stevent sangat mengkhawatirkan keselamatan anak mereka." Aisyah duduk di samping Mama Veronika.


"Stevent memiliki banyak musuh, sehingga hidupnya tidak tenang." Papa menatap tajam kepada Jhonny.


"Stevent hanya perlu berhati-hati, karena ada banyak orang jahat yang mau menghancurkan dirinya melalui anak SMA istrinya." Jhonny membalas tatapan papa Alexander.


"Sebaiknya kita pulang." Papa Alexander menarik tangan Mama.


"Jhonny kapan kami bisa melihat cucu kami?" Mama Veronika menahan tangan Papa.


"Jika Nyonya Nisa telah pulih." Jhonny memberi hormat.


"Tolong kabari kami, Jhonny apa kamu tahu dimana Viona?" Mama Veronika memperhatikan Jhonny.


"Maaf Nyonya, Stevent yang tahu dimana Nona Viona." Jhonny tetap dengan wajah datarnya.


"Terimakasih." Wajah Mama Veronika semakin sedih.


Papa segera menarik tangan Mama Veronika dan meninggalkan rumah sakit.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Unforgettable Lady"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2