Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Maukah Jadi Kekasihku?


__ADS_3

Stevent dan Viona sampai di rumah sakit N&N, pria itu terlihat berjalan santai dan Viona hanya bisa mengikuti langkah kaki kakaknya, ia tidak berani mendahului Stevent.


“Papa di ruangan mana?” tanya Stevent dan menghentikan langkah kakinya.


“Ruang VIP 1.” Viona melihat kearah Fauzan.


“Oh.” Stevent melanjutkan langkah kakinya dan mereka sampai pada sebuah ruanan yang lebih mirip Vila mewah dengan taman indah dan tertata rapi. Stevent membuka pintu ruangan yan melihat seornag Dokter yang sedang memeriksa Alexander.


“Viona.” Mama Veronika memeluk putrinya.


“Ma, bagaimana dengan Papa?” tanya Viona.


“Mama tidak mengerti.” Mama melihat Papa yang terbaring tidak berdaya di tempat tidur.


“Halo Tuan Fauzan dan Hai Viona.” Dokter muda dan tampan tersenyum pada Viona.


“Valentino.” Stevent dan Viona kompak menyebutkan nama pria itu.


“Ya, Apa kabar Tuan Stevent?” Valentino mengulurkan tangannya.


“Aku baik, lama tidak berjumpa dengan dirimu.” Stevent berjabat tangan dengan Valentino.


“Bagaimana keadaan Papa, Alexander?” tanya Stevent melirik Papanya sekilas.


“Mari kita berbicara di ruangan saya.” Valentono tersenyum.


“Ah Viona, apa kamu punya waktu untuk berbicara dengan diriku? Sudah lama kita tidak bertemu dan aku tidak bisa menghubungi dirimu.” Valentino tersenyum.


“Aku akan memberikan kesempatan untuk dirimu berbicara dengan Viona.” Stevent tersenyum.


“Terimakasih Tuan.” Valentino dan Stevent berjalan keluar dari ruang perawatan.


“Tidak perlu, kamu telah menyelamatkan diriku dan istriku.” Stevent sangat menyukai Valentino dari sejak pertama kali mereka bertemu.


“Itu adalah tugas saya.” Valentino membuka pintu ruangannya.


“Silahkan duduk Tuan.” Valentino menarik kursi untuk Stevent.


“Bagaimana kamu bisa bekerja di rumah sakit Nathan?” Stevent duduk di kursi tepat depan Valentino.


“Karena aku seorang dokter dan ahli pengobatan sehingga sangat cocok dengan rumah sakit ini, aku dan Nathan akan bekerja sama dalam proyek back to Nature.” Valentino tersenyum.


“Karena ini pula saya bertanggung jawab atas Tuan Alexander.” Valentino memberikan selembar kertas pada Stevent.


“Tuan Alexander di racuni dan racun ini belum pernah saya temui.”Valentino melihat kearah Stevent.


“Apakah bisa diobati?” tanya Stevent.


“Racun ini sangat hebat, ia membuat kelumpuhan pada Tuan Alexander tetapi melindungi tubuh itu sehingga kebal terhadap luka dan virus lainya.” Valentino terlihat serius.


“Aku akan mengambil darah Tuan Alexander untuk melakukan penelitian tetapi kami harus menunggu Nathan, dia adalah dewa racun dan obat.” Valentino tersenyum.


“Dia baru saja menikah dan sedang bulan madu.” Stevent ikut tersenyum, pernikahan Nathan adalah kebahagian dirinya karena Nisa telah terlepas dari pria berbahaya itu.


“Tuan Nathan telah kembali, besok ia akan membawa istrinya berkeliling.” Valentino tersenyum.


“Kenapa dia kembali dengan cepat?” Stevent meletakkan kertas di atas meja.


“Istrinya memiliki hobby sama dengan Nathan bermain dengan formula, jadi dia mau kuliah dan belajar lagi.” Valentino beranjak dari kursinya.


“Afifah masih sangat muda, dia benat-benar wanita yang tepat untuk Nathan.” Stevent berdiri.

__ADS_1


“Apa, aku boleh berbicara dengan Viona?” tanya Valentino dan tersenyum.


“Kamu bahkan boleh menikahinya.” Stevent menepuk pundak Valentino.


“Benarkah? Tetapi Viona tidak menyukai diriku.” Valentino tersenyum.


“Kamu harus berusaha, tunggulah di sini.” Stevent berjalan kembali ke ruangan Papa Alexander dan menemui Mama.


“Viona, Valentino menunggu dirimu di depan.” Stevent melihat Viona.


“Ma, aku keluar dulu.” Viona memluk mamanya.


“Iya Sayang.” Mama mencium dahi Viona.


Gadis itu berjalankeluar dari ruangan, ia melihat Valentino dengan jas putihnya duduk di kursi bawah pohon bugenfil yang sedang berbunga lebat tanpa daun dengan warna merah, pink dan putih menjadi satu.


“Dia terlihat dewasa.” Viona tersenyum dan berjalan mendekati Valentino.


“Hai.” Viona tersenyum pada Valentino.


“Hai, apa kabar kamu?” Valentino bergeser agar Viona bisa duduk.


“Aku baik, bagaimana dengan dirimu? Kamu terlihat berbeda.” Viona tersenyum cantik.


“Aku pikir kamu tidak akan suka dengan diriku yang terus berpertualang di dalam hutan, seakan tidak ada tujuan hidup.” Valetino tersenyum memperlihatkan gigi rapid an putih bersih.


“Tidak, itu sangat keren.” Viona tersenyum.


“Benarkah? Keren dulu atau sekarang?” Valenetino menatap Viona dengan serius.


“Ah, sekarang semakin keren, bahkan aku hampir tidak mengenali dirimu.” Viona tersenyum memandang wajah tampan Valentino.


“Aku hanya berpakaian seperti ini ketika berada di rumah sakit, ketika aku keluar aku akan menjadi diriku yang dulu.” Valentino tersenyum.


“Aku tetap sama yang masih menyukai dan mencintai dirimu, aku sangat sibuk mengurus status Dokter dan ahli kimiaku sehingga tidak punya waktu mencari dirimu.” Valentino menatap Viona yang terdiam.


“Maafkan aku.” Valentino menyentuh tangan Viona.


“Aku yang harus minta maaf, ponselku rusak.” Viona menarik tangannya.


“Apakah kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Valentino yang melihat Viona menyembunyikan tangannya.


“Ah tidak.” Viona tersipu, ia bahkan selalu gagal dalam mengejar cinta pria yang ia sukai.


“Bagaimana dengan diriku? Apa kamu mau jadi kekasihku? Aku menjadi Dokter tetap agar dapat menjanjikan kehidupan yang layak untuk dirimu dengan jerih payah aku sendiri tanpa bantuan orang tuaku.” Valentino menatap Viona.


“Aku juga berharap bisa mandiri tetapi aku harus bagaimana, aku ditakdirkan manjadi pewaris perusahaan Alexander?” Viona menunduk.


“Kamu tetap bisa mandiri dengan bekerja keras membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi dan mendapatkan keuntungan lebih besar, kamu juga harus mengembangkan perusahaan agar memiliki anak cabang di setiap kota atau provinsi.” Valentino tersenyum.


“Kamu benar, aku akan mempersiapkan rencana kedepan untuk pengembangan perusahaan dan bekerjasama dengan banyak pemegang saham dunia.” Viona bersemangat dan tersenyum pada Valentino, wajah mereka berdekatan dengan mata saling bertatapan dan hidung mancung yang hampir bersentuhan. Pria itu menikmati wajah cantik gadis di depannya.


“Terimakasih.” Viona mundur perlahan, jantungnya berdetak kencang mengingatkan dirinya ketika mereka berada di bukit, pria itu pernah menggendong dirinya, ia bisa merasakan otot-otot kekar dan melihat tubuh seksi Valentino.


“Untuk apa?” tanya Valentino tersenyum.


“Untuk semangat yang kamu berikan.” Viona tersenyum dan tersipu.


“Apa kamu tidak akan memberikan nomor ponsel baru kepada diriku?” Valentino mengeluarkan ponselnya.


“Aku hampir lupa.” Viona mengambil ponsel Valentino dan mengetik nomornya.

__ADS_1


“Terimakasih, apa aku boleh menemui dirimu setelah ini?” tanya Valentino dan menyimpan nomor ponsel Viona.


“Tentu saja, aku hampir menyelesaikan kuliahku.” Viona tersenyum.


“Baguslah, kamu akan menjadi wanita dewasa.” Valentino mengusap kepala Viona yang terdiam membeku, dua orang pria yang pernah menggendong dirinya adalah Valentino dan Fauzan tetapi pengalaman luar biasa yang ia alami di Bukit desa Terpencil bersama pria di depannya.


“Viona, apa kamu akan memikirkan menjadi kekasihku?” Valentino menatap Viona dengan lembut.


“Aku akan sabar menunggu jawaban kamu, tidak usah terburu-buru.” Pria itu tersenyum tampan.


“Baiklah.” Viona menunduk.


“Aku sudah mendapatkan restu dan dukungan dari kakak kamu.” Valentino tersenyum lebar.


“Apa?” Viona kaget, wajar saja Stevent menyukai Valentino karena pria itu telah menyelamatkan dua orang yang saling mencintai dan tidak terpisahkan.


“Kenapa kamu terkejut seperti ini?” tanya Valentino tetap dengan senyuman mempesonanya.


“Tidak, selama ini kakak melarang aku dekat-dekat dengan pria.” Viona tersenyum.


“Aku sedang beruntung.” Valentino menyenderkan tubuhnya pada kursi, ia melihat bunga bugenfil berwarna merah terang.


“Kamu pria yang baik, pasti kakakku menyukai itu.” Viona mendongak, ia meliha Valentino berdiri di kursi dan mematahkan setangkai kecil bunga anggrek yang melekat di batang Bugenfil dan tidak terlihat.


“Bunga ini sangat cantik secantik dirimu.” Valentino menyelipkan bunga anggrek berwarna Fanta di lipatan hijab Viona pada pundaknya.


“Terimakasih.” Viona melihat bunga indah terselip di hijabnya.


“Apa kalian sudah selesai berbicara?” tanya Stevent.


“Sudah Tuan, terimakasih atas izinnya.” Valentino tersenyum.


“Tolong jaga Papa Alexander, kabari saya secepatnya.” Stevent melirik Viona.


“Tentu saja Tuan.” Valentino beranjak dari kursi,


“Ada banyak hal yang harus kita bahah tentang racun ini.” Valentino berucap pelan di telinga Stevent.


“Kami permisi.” Stevent berjabat tangan dengan Valentino.


“Aku akan pamit pada Mama.” Viona kembali keruangan Papa.


“Racun ini tidak mematikan tetapi semua anggota tubuh Tuan Alexander tidak dapat digerakan dan dirasakan olehnya.” Valentino kembali duduk di kursi.


“Apa motif orang memberikan racun ini kepada papa Alexander?” tanya Stevent pada dirinya.


“Kita harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, besok ketika Tuan Nathan sudah punya waktu saya akan membentuk Tim Ahli kimia bersamanya.” Valentino tersenyum.


“Terimakasih.” Stevent pamit pulang begitu juga dengan Viona. Valentino cukup bisa menggetarkan hati para wanita dengan pesona ketampanan dan seorang Dokter muda.


Setiap racun pasti ada penawarnya dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Ketika ada yang memberikan luka pada hatimu maka akan Tuhan kirimkan orang lain yang mampu menyembuhkan luka itu.


Hidup ini diciptakan dengan berpasangan dan saling melengkapi. Jangan larut dalam luka karena akan ada waktunya dirimu bahagia. Kunci kesuksesan hidup adalah kesabaran tanpa batas, selalu berusaha dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.


***Love You All***


Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Innovel.


Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2